Saksi Bisu

Saksi Bisu
Curhatan Buku


__ADS_3

Malam ini Tito’ mendatangi ruangan dengan wajah ceria. Buku Kecil yang baru saja dikeluarkan dari tas juga memperlihatkan keceriaan yang sama. Tentu saja kami penasaran.


Aku menjadi tidak sabar menunggu Tito’ memberikan informasi baru untukku.


“Ada apa Buku Kecil?” tanya Ilmu Politik yang juga terlihat penasaran.


“Rahasia.” Jawabnya menjengkelkan.


“Ayolah.. tidak biasanya kamu datang dengan wajah bahagia seperti itu.” Ilmu Politik mendesak.


Kami semua mengangguk membenarkan.


“Kebahagiaan itu mestinya dibagi. Agar tercipta hubungan yang harmonis di antara kita.” Buku Motivasi ikut nimbrung dengan nada pidato.


Kami semua refleks tertawa karenanya.


“Katakan itu pada manusia. Supaya mereka tidak lagi bertengkar akibat ambisi mementingkan diri sendiri.” Buku Kecil membela diri.


“Kalau saja aku bisa berbicara langsung, maka aku akan melakukannya. Sayangnya, nasihat dariku hanya didapatkan jika mereka mau duduk dan menyediakan waktu untukku dengan membaca.”


“Curhat ya.” Aku menggodanya.


“Kita semua juga hanya bisa seperti itu kok.” Ilmu Politik membela.


Aku mengangguk. Sebagai buku, kontribusi kami baru terlihat saat dibaca dan dipraktekkan. Tentu saja kami akan sangat sedih saat kami diabaikan dan hanya dibiarkan berada di sudut meja atau ruangan dalam keadaan berdebu.


Bahkan meskipun kami disimpan di rak indah dan mewah sekalipun, akan menyakitkan kami jika tidak pernah disentuh apalagi dibaca.


“Kenapa suasananya jadi sedih sih?” Buku Kecil membuyarkan suasana sedih yang tiba-tiba itu.

__ADS_1


“Kamu sih, tidak mau berbagi kebahagiaan.” Motivasi protes.


“Sabar. Biar Tito’ yang melakukannya.” Katanya tersenyum sambil melirikku.


Aku melihat Tito’ tengah bersiap-siap untuk menyalakan perangkat komputer. Aku tersenyum karenanya. Aku yakin dia akan memberi informasi untukku.


“Eh, ternyata kakak di sini. Tumben tidak dikunci?”


Kedatangan Adi yang tiba-tiba membuatku kecewa. Tito’ refleks menonaktifkan komputer. Tingkahnya yang terlihat panik dapat menimbulkan kecurigaan.


“Ada apa?” Tanya Tito’ gagap.


“Kakak kenapa?” tanya Adi penuh selidik.


“Tidak,, tidak apa-apa.” Jawabnya sambil berusaha keras untuk terlihat santai.


“Aku tidak percaya.” Adi kembali bertingkah menyebalkan seperti waktu itu.


Adi berjalan mengitari meja berharap menemukan sesuatu. Saat melihat si Buku Kecil, dia langsung menyambar dan membukanya. Tito’ tidak mampu untuk merebutnya karena terhalang oleh meja.


Gawat!!!


“Ali dan Ari tidak mau bekerja sama..” Adi membaca sepotong tulisan di sana sebelum akhirnya direbut Tito’ darinya.


Aku yakin, itu informasi baru. Saat mendengarnya, aku menjadi senang. Sekarang aku tahu alasan Tito’ dan Buku Kecil mendatangi ruangan dengan wajah ceria. Sayangnya, akibat keceriaan itu dia melupakan satu hal, mengunci pintu.


“Mereka itu pimpinan baru keluarga Husain bukan?” tanya Adi ingin memastikan.


“Iya.” Jawab Tito’ singkat.

__ADS_1


“Mereka tidak mau bekerja sama dengan siapa?” tanya Adi kembali.


Dia terlihat penasaran.


“Dewan Penasihat.” Jawabnya kembali dengan singkat.


Dia terlihat pasrah.


“Haha,, sudah kuduga..” Adi tertawa.


Mungkinkah dia tahu permasalahannya? Tebakku.


“Dua anak itu tidak mau mengerjakan tugasnya ya..” Lanjutnya.


Tito’ diam saja.


“Makanya, jangan angkat anak kecil jadi pemimpin. Kau hanya akan berakhir dengan menangani anak yang rewel.” Katanya lagi menggebu-gebu.


Jika kami para buku punya jidat, maka kami akan tepuk jidat karenanya. Ternyata dia tidak tahu permasalahannya.


“Jadi,, apa keputusan dewan penasihat? Memecat mereka?” tanyanya.


“Entahlah..” Jawab Tito’ sambil tersenyum geli.


“Pecat aja. Apa yang bisa diharapkan dari dua orang anak kecil? Mereka belum sepantasnya memimpin.” Kata Adi memprovokasi.


“Tidak bisa semudah itu.” Jawab Tito’ sambil menahan geli.


“Buat apa dipertahankan? Pekerjaan keluarga akan terbengkalai!” Sahutnya lagi dengan nada tinggi.

__ADS_1


Tito’ memilih diam.


__ADS_2