Saksi Bisu

Saksi Bisu
Kunjungan Pak Arif


__ADS_3

Di ruangan Ali


“Tito’.” Kata Ali berbisik.


“Ada apa?” Tanya Ari penasaran.


“Seseorang menyelamatkan Buku Agung dan menulis informasi di sana.” Kata Ali sambil memperlihatkan tulisan Tito’ yang ada padaku.


Mata Ari membulat, “Jangan-jangan, dia yang mengirim Buku Agung kemari.” Tebaknya.


“Mungkin.”


“Hei.. Pak Arif datang!” Ari berseru tiba-tiba.


Keduanya seketika menjadi panik. Aku melihat seseorang berjalan di lorong menuju ruangan ini.


“Bisa kau menahannya sementara waktu? Aku harus menyembunyikan buku ini.” Kata Ali berbisik, tegas.


Ari mengangguk.Dia lantas berlari menuju lorong untuk menemui Pak Arif yang hampir tiba di pintu ruangan.


“Selamat pagi, Pak Arif.” Ari terdengar menyapa dengan sopan.


“Dimana Ali?” Tanya Pak Arif tanpa basa-basi.


Nada suaranya masih mengisyaratkan kalau dia berbicara dengan seorang anak kecil.


“Di ruangan. Beliau sedang mengerjakan sesuatu dan tidak ingin diganggu.” Jawab Ari tegas.


Jawabannya membuat Ali tertawa kecil.

__ADS_1


Aku dan Buku Kecil tersenyum.


“Ada hal penting yang ingin kudiskusikan dengannya. Hal penting apa yang sedang dilakukannya?” Pak Arif


terdengar tidak sabar.


Menolak untuk berdiskusi di saat jam kerja seperti ini memang di luar kebiasaan pemimpin keluarga pada


umumnya. Sekedar informasi, pemimpin keluarga bertugas untuk menampung berbagai saran di Rumah Dinas saat jam kerja.


Adapun pelaksanaan saran dan pengawasan dilakukan oleh wakil. Pemimpin memantau hasil pekerjaan melalui


wakil dan menuliskan hasilnya pada Buku Agung.


Ali segera memindahkan kami ke sebuah lemari yang berisi berkas-berkas rahasia dan menguncinya. Setelah itu, suara langkah kakinya terdengar menjauh.


“Ada yang bisa dibantu Pak?” Tanya Ali terdengar sayup.


“Tentu.”


Suara langkah kaki mereka semakin mendekat. Mereka terdengar menduduki kursi di ruangan ini.


“Loh, kenapa Buku Agung berada di sini?” Tanya Pak Arif terdengar heran.


Berarti Buku Agung penggantiku baru saja dipindahkan ke sini, pikirku.


“Menurutku, bukunya lebih baik di sini saja. Lebih mudah bagiku dan Ari untuk menulis kisah.” Jawab Ali santai.


“Bukan itu masalahnya!” Nada suaranya terdengar tinggi. “Buku ini tidak boleh diketahui siapa pun kecuali kamu dan dewan penasihat.”

__ADS_1


“Aku juga kan, Pak?” Tanya Ari santai.


Pak Arif tidak memberikan jawaban.


“Sebagai buku yang menyimpan peraturan, maka seharusnya dipublikasikan bukan?” Ali berargumentasi dengan santai. Benar juga.


PakArif tidak berkomentar apapun. Aku yakin, dia pasti marah.


“Lagipula, benarkah buku itu Buku Agung?” Tanya Ali lagi dengan santai. “Kata Paman Hakim, isinya sangat berbeda dengan yang asli.”


“Dia berbohong! Kamu tidak punya bukti untuk itu.” Pak Arif benar-benar marah.


“Beliau punya buktinya kok. Mau ditunjukkan?” Tanya Ari santai.


Mungkinkah buktinya itu, aku?


Suara sepasang langkah kaki bergerak dengan cepat menuju pintu. “Kamu akan menghancurkan keluarga dengan gaya kepemimpinanmu!” Ternyata langkah kaki Pak Arif.


Dia pasti sangat marah.


“Beliau..” Kata Ali dengan jengkel, “Bisakah kau berhenti menyebutku seperti itu?”katanya protes setelah Pak Arif pergi.


Ari tertawa keras, “kamu pantas dengan sebutan itu. kamu itu pimpinan keluarga, Tuan. Orang seperti Pak Arif sekalipun seharusnya menghormatimu.”


Keduanya tertawa keras. Aku dan Buku Kecil tersenyum.


“Eh.. Menurutmu, apa keperluan Pak Arif datang kemari?” Tanya Ari setelah tawa mereka reda.


“Paling masalah yang sama.” Jawab Ali serius. “Pokoknya, aku tidak mau mengikutinya!” Katanya tegas.

__ADS_1


Keduanya kembali tertawa.


Mendengar tawa mereka yang ceria membuatku sadar bahwa mereka memang masih anak kecil. Meski demikian, aku sangat senang. Mereka bisa diandalkan lebih dari yang kuduga, setidaknya seperti itulah yang kupikirkan.


__ADS_2