
Tito’ meninggalkan ruangan dengan gusar. Dia terlihat sangat bingung. Dia tahu dengan pasti, semua rahasianya cepat atau lambat akan terbongkar. Keinginanku untuk mengetahui perkembangan terbaru, sirna sudah.
Sekarang, aku malah lebih takut terhadap peristiwa yang menantiku selanjutnya. Aku berharap, Tito’ dapat bertindak dengan tepat.
Aku ingin berguna lebih lama.
Menjelang dini hari, seseorang mendatangi ruangan. Aku tidak mengenalnya. Tentu saja, tidak ada satu pun dari kami yang dapat mengenali seseorang dalam gelap, meski orangnya kita kenal baik sekalipun.
Setiap meninggalkan ruangan ini, Tito’ terbiasa untuk memadamkan lampu. Yah, sejak aku berada di sini. Kebiasaan itu pulalah yang membuatku tidak dapat mengenali orang ini.
Berbekal senter kecil yang cukup untuk menyinari setiap langkahnya, dia mendekati meja kerja Tito’ dengan hati-hati. Senter kecilnya, diarahkan di setiap berkas di atas meja tersebut. Dari gerak-geriknya, aku simpulkan bahwa dia bukanlah Tito’.
Tapi, siapa dia?
Mengapa dia mengetahui ruangan ini?
Untunglah, sebelum meninggalkan ruangan, Tito’ menyempatkan diri untuk menyimpan Buku Kecil bersamaku di dalam laci meja yang ukurannya memang agak besar tersebut.
Namun, sisa kertas kosong diriku masih bertengger santai di atas cetakan. Aku mengetahui gerak-geriknya melalui kertas itu.
Aku tidak perlu mengkhawatirkan kertas kosongku jika ketahuan. Toh, sudah ada alasan Tito’ tentang keberadaannya. Yang perlu dikhawatirkan adalah diriku secara keseluruhan.
Hanya Tito’ seorang yang tahu tentangku. Namun, selama orang ini tidak memiliki kunci laci meja, maka aku akan aman. Sebuah keuntungan, kuncinya berada di tangan Tito’.
Senternya kini diarahkannya pada laci meja tempatku dan Buku Kecil berada. Selang beberapa saat, aku masih merasa aman.
Jika dia ingin melihatku, tentu saja dia butuh kunci. Jika dia ingin melihat secara paksa, maka laci ini harus dirusak.
Memilih pilihan terakhir sama saja dengan mengumumkan dirinya yang terlihat rahasia itu.
Tapi tunggu..
__ADS_1
Senternya diletakkannya di lantai. Untuk sesaat, hanya bunyi rabaan di tubuhnya yang terdengar.
Apa yang dilakukannya?
Dia kembali mengambil senternya dan mengarahkannya pada sesuatu yang berkilauan di tangannya akibat pantulan senter. Seketika aku kaget dan menggigil ngeri. Aku kembali teringat saat diriku dicuri pertama kalinya.
Darimana dia menemukan kunci itu?!!!
Dalam sekejap, laci meja berhasil terbuka dan menampakkan diriku dan Buku Kecil.
“AMPUUN..” Teriakku panik.
“Tolong.. Jangan hancurkan aku.” Pintaku pilu.
Tapi aku tahu, itu usaha meminta yang sia-sia.
Orang itu mengambil dus Surat dan menumpahkan isinya ke lantai. Setelah itu, aku dan Buku Kecil dengan cepat berpindah ke dalam dus. Teman-teman buku hanya bisa menangis pilu menyaksikannya.
Entah kemana kami akan dibawa pergi.
“Emas..” Panggilan keras dari teman-temanku yang tidak rela dengan kepergianku tetap tidak berpengaruh.
“Berhenti!”
“Jangan membawanya!”
“Tolong.. Jangan menghancurkannya!”
Tidak ada tanggapan. Tentu saja.
“Emas, aku berharap kita bisa bertemu lagi.” Teriakan sayu Ilmu Poltik hampir-hampir tak terdengar.
__ADS_1
Aku tidak mengatakan apapun. Teriakan mereka hanya dapat kubalas dengan tangisan.
Sungguh, aku bisa menerima diriku yang tersisih karena hadirnya pesaing.
Setidaknya, perasaan itulah yang kubangun beberapa hari terakhir.
Tapi aku sama sekali tidak bisa menerima diriku yang musnah.
Jika aku tersisih, masih ada harapan bagiku untuk menjadi pembanding pesaing. Aku masih merasa berguna meski seperti itu.
Tapi jika aku musnah, maka tidak ada harapan lagi untukku. Kehilangan fungsi sehingga harus dimusnahkan, sungguh sangat menyakitkan bagi kami para benda.
Saat berada di ruang tamu yang juga gelap. Orang asing ini sempat meletakkan kami di lantai dan meninggalkan kami begitu saja. Aku tidak tahu kemana dia akan pergi dan mengapa dia hanya meletakkan kami di sini.
Aku masih terisak sedih. Buku Kecil yang bersamaku hanya diam. Dia tidak menangis sepertiku. Aku penasaran, bagaimana dia menanggapi semua ini? Tapi aku terlalu lemah untuk sekedar bertanya.
Orang itu kembali menemui kami dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia kemudian berjongkok di dekat kami dan menghamparkan benda itu di atas kami.
Ternyata sebuah kain tebal. Akibatnya, aku tidak mampu melihat apapun. Bahkan nyala senter orang ini sekalipun sudah tidak terlihat lagi. Aku mendengar suara plester mengelilingi dus ini.
Akankah kami dikirim sebagai sebuah paket?
Aku merasakan diriku diangkat ke suatu tempat. Saat kurasakan getaran mesin, aku sadar bahwa aku telah berada di atas sebuah mobil. Mobil ini melaju entah kemana.
Setelah beberapa saat berlalu, mobil ini berhenti. Aku kembali merasa diangkat menuju suatu tempat. Setelah kami diletakkan, tidak ada lagi yang terjadi pada kami. Suasana di sekitar terasa sunyi. Aku maklum, saat ini masih dini hari.
Hanya langkah kaki orang tadi yang terdengar semakin menjauh.
Dimana kami?
Kepada siapa kami diserahkan?
__ADS_1
Yang paling penting, siapa orang tadi??