Saksi Bisu

Saksi Bisu
Si Cuek


__ADS_3

Tito’ termenung setelah menuliskan kisahnya. Dia tidak lantas mencetak tulisan itu. Aku melihat ada kebimbangan pada dirinya. Dengan cemas dia membacanya berulang-ulang. Aku tidak tahu kenapa dia bersikap demikian.


Saat kuperhatikan dengan teliti, ternyata dia banyak meninjau ulang tulisan yang berisi pengakuan dirinya tentang keterlibatannya pada peristiwa pencurian diriku.


Memang berat mengakui kejahatan sendiri. Apalagi jika mengingat risiko yang ditimbulkannya. Tapi mengakuinya mungkin akan lebih baik.


Mengakui kejahatan dapat menciptakan keadilan sekaligus menghilangkan rasa bersalah yang terus menghantui para pelakunya.


“Hhh.. Sudah kuputuskan untuk tidak berbohong.” Katanya pada akhirnya untuk meyakinkan diri sendiri.


Dia mencetak tulisannya dan mengembalikan kertas berisikan tulisan itu padaku.


***


“Hei, sebenarnya kamu ini buku apa?” Tanya buku dengan judul Ilmu Politik padaku.


“Aku buku seperti kalian.” Jawabku enggan. Baru kali ini aku terlibat percakapan dengan penghuni ruangan ini.


“Sepertinya kamu berbeda.” Celetuk yang lain.


“Sejak kamu berada di sini. Aku melihat wajah Tito’ selalu tertekan.” Ilmu Politik berkata lagi dan dibenarkan yang lain.


“Aku sama dengan kalian.. Perbedaan kita hanyalah.. Penampilan fisik.” Aku berusaha meyakinkan namun terdengar ragu.

__ADS_1


“Iya, kita sama-sama buku. Masing-masing menyimpan informasi sesuai tujuan. Tapi, sepertinya ada yang membedakan kita. Mungkin kedudukan?” Ilmu Politik bertanya dengan penasaran.


Aku diam, enggan menanggapi. Dulu, setiap teman-teman buku yang kujumpai bertanya padaku tentang fungsi dan kedudukan.


Aku selalu menjawab dengan lancar dan bangga, “Aku adalah Buku yang diagungkan di keluarga Husain yang terhormat. Mereka bahkan memanggilku dengan julukan ‘Buku Agung’”.


Sekarang, aku bingung jika mendapat pertanyaan serupa. Bahkan, aku tidak tahu lagi harus menjawab apa.


“Kamu menyimpan informasi apa?” Rasa penasaran Ilmu Politik semakin menjadi akibat pertanyaannya yang kuabaikan. Yang lain memandangiku menunggu jawaban dengan ekspresi penasaran yang sama.


“Informasi yang mengguncang dunia.” Jawabku asal.


Mereka merenggut tidak puas.


Aku tidak peduli.


“Kamu ini cuek sekali!” Salah satu dari mereka berkata dengan kesal. Yang lain mengiyakan.


“Kami tidak tahu namamu. Semua yang ada di sini memiliki nama sesuai informasi yang dibawanya. Kami bahkan tidak tahu informasi apa yang kamu bawa.”


Hhh.. Mereka berisik sekali. Jika namaku yang ingin mereka tahu, bukankah sudah ada pada sampulku? Tapi aku akui, tulisan yang berada di sampulku tidaklah memberi informasi cukup tentang apa yang terkandung di dalamnya.


Diriku yang telah berjumlah dua belas hanya berjudul ‘Generasi I’, ‘Generasi II’ dan seterusnya hingga ‘Generasi XII’.

__ADS_1


“Panggil saja aku si Generasi!” Jawabku ketus.


Mereka terpana.


“Nggak, kurasa kamu punya panggilan yang paling cocok.” Si Ilmu Politik berseloroh.


“Si Cuek.” Lanjutnya.


Lainnya tertawa mengiyakan. Sudah kuduga, perubahan sikapku yang tidak peduli membuatku mendapatkan julukan baru. Julukan yang selalu kuhindari selama ini.


Diriku yang dulunya kesepian membawaku bersikap supel. Aku ingin mempunyai banyak teman. Tapi kondisi terakhir membuatku menarik diri. Entah mengapa aku ingin kesepian.


***


“Aku berani bertaruh, Tito’ datang malam ini hanya untuk si Cuek.” Si Ilmu Politik bergurau saat Tito’ memasuki ruangan malam ini.


“Iya, aku sekarang benar-benar diabaikan.. Hiks..” Si surat dalam kardus ikut bergurau dengan suara memelas.


“Iya, padahal dulunya kamu itu kekasayangan Tito’.” Yang lainnya berempati.


Tawa lepas dari buku akhirnya memenuhi ruangan itu. Aku ikut tertawa kecil ketika akhirnya Tito’ benar-benar hanya memfokuskan dirinya padaku. Akhirnya satu-satunya yang tidak tertawa hanyalah Tito’.


Tentu saja, dia tidak mendengar apapun. Hari ini sepertinya dia tertekan. Entah peristiwa apa yang terjadi padanya.

__ADS_1


Tito’ kembali menuliskan kisah untukku malam ini.


Aku menjadi tidak sabar..


__ADS_2