Saksi Bisu

Saksi Bisu
Ali Mengelabui Pelaku


__ADS_3

“Kak, kita keluar malam ini ya.” Terdengar suara Adi yang menghampiri ruangan tempat kami yang telah dikunci Tito’ seperti biasanya.


“Dikunci lagi?” kata Adi jengkel saat berusaha membuka pintu yang terkunci.


“Kak, ngapain sih di dalam?” Dia terdengar semakin jengkel.


Tito’ bergegas menyimpan informasi untukku dan meletakkan Buku Kecil di laci yang juga dikuncinya bersamaku. Setelah memastikan semuanya beres, dia kemudian menghampiri pintu dan membukanya.


“Ada apa?” Tanyanya santai.


Adi menerobos masuk dan memeriksa sekitar tanpa berkata apapun.


“Tidak ada siapa-siapa, lalu kenapa dikunci?” Tanyanya jengkel.


“Hanya terbiasa.” Jawab Tito’ nyengir.


“Kita keluar malam ini yok.”


“Kemana?” tanya Tito’ terlihat cemas.


Aku yakin, dia pasti mengkhawatirkan adiknya.


“Kak Zen datang. Katanya dia butuh hiburan.” Kata Adi sambil tertawa.


Tito’ terlihat semakin cemas. Jelas sekali dia tidak suka adiknya berhubungan dengan Zen.


“Apa sih yang terjadi hari ini di keluarga Husain? Sejak pulang dia terlihat jengkel.”

__ADS_1


“Tanya saja dia.” Tito’ tidak peduli sambil mengangkat bahu.


“Ayo.. Kita hibur dia.” Kata Adi sambil mendorong Tito’ keluar ruangan.


“Tunggu.” Tito’ kembali dan mengunci pintu.


“Kenapa mesti dikunci sih?” Adi kembali jengkel.


“Hanya terbiasa.” Jawab Tito’ tak acuh.


Langkah kaki mereka semakin menjauh dari ruangan.


Aku memandang Buku Kecil. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padanya.


“Apa isi map yang dibawa Ali? Kenapa Tito’ tidak menceritakannya padaku?” Sungguh, aku sangat penasaran.


“Draf tulisan Hakim yang telah dicap legal oleh dewan penasihat. Isi draf itu sudah ada pada dirimu yang asli.”


“Apa isinya?” Desakku.


“Isinya tentang keikutsertaan wakil pimpinan keluarga dalam rapat bulanan.”


“Oh..”


Aku kembali tertawa. Jadi karena itu, semua dewan penasihat bersikap canggung?


Aku jadi teringat saat Hakim menulis draf tulisan itu diruangan. Dia sengaja membuat dua rangkap. Salah satunya diberikan pada Ali. Saat itu Hakim menulisnya di depan mereka berdua. Sejak memperkenalkanku pada mereka berdua, Hakim menjadi sering mengajak mereka berdua ke ruangan.

__ADS_1


“Draf itu memang dibuat rangkap dua. Apa dewan penasihat lupa? Bukankah mereka sendiri yang memberikan cap legal pada draf itu?” aku masih tertawa.


“Aku yakin mereka ingat. Hanya saja, Zen yang diperintahkan untuk mencari semua draf tulisan untukmu itu mengatakan semuanya telah beres.”


“Lalu,, kenapa masih ada di tangan Ali?” tanyaku penasaran.


“Aku sangat yakin kalau Ali mengelabui Zen. Anak itu entah sejak kapan mengetahui pencurian sejarah keluarga. Dia juga sepertinya tahu bahwa semua draf tulisan pasti akan menjadi sasaran pencurian.”


Buku Kecil tersenyum.


”Saat menjadi sasaran kemarahan dewan penasihat, Zen membela diri dengan mengatakan bahwa dia telah mengumpulkan draf itu beserta rangkapnya yang berada di tangan Ali.


Namun, saat ditanya dimana dia menemukan draf itu, dia mengatakan menemukannya di perpustakaan umum tempat Ari dan Ali selalu menghabiskan waktu untuk mempelajari ekonomi.”


“Lalu,dia langsung saja mengambilnya?” tanyaku antusias.


“Tentu saja. Katanya dia sangat senang saat itu, karena dia tidak perlu repot-repot untuk menggeledah tempat Ali.”


“Haha.. dan ternyata draf yang ditemukannya itu palsu?” aku tak bisa menahan tawa.


“Iya.” Buku Kecil ikut tertawa.


“Dia tidak memeriksanya?” Tanyaku.


“Terkadang saat kita sangat senang, kita sering lupa ketelitian bukan?” jawab Buku Kecil sambil tersenyum.


Aku mengangguk membenarkan.

__ADS_1


__ADS_2