Saksi Bisu

Saksi Bisu
Musnahkan!!!


__ADS_3

“Tapi tak ada satupun yang melihatmu melakukannya kan?” Terdengar percakapan samar-samar dari luar ruangan.


Suara yang sangat kukenal. Jantungku akan berdegup kencang jika saja aku punya jantung.


Aku berharap salah orang.


“Aku sangat yakin, tidak ada yang melihatku.” Jawab seseorang bersamanya yang kutahu itu suara Zen.


“Untung saja, sejak sepuluh tahun yang lalu. Isi buku agung harus diubah dalam bentuk ketikan. Karena itu, kita bisa menggantinya dengan mudah.”


Pintu perlahan dibuka dan muncullah dua orang itu. Salah satunya Zen.


Satunya lagi.. 


Oh..


Ternyata aku tidak salah orang..!


Mengapa dia berada di sini?


Aku tidak pernah berharap dia menjadi bagian dari pengkhianat keluarga Husain.


Mungkinkah dia otak dari seluruh kejadian ini? Jika memang dia pelaku utamanya, maka tidak heran semua yang direncanakannya berhasil hingga sejauh ini.


Mereka berjalan ke arahku.


“Cepat singkirkan buku ini!” Perintahnya pada Zen.

__ADS_1


Oh, tidak!


Apakah ini akhir perjalananku?


“Pastikan semua buku yang senada dengannya juga disingkirkan dari publik.”


“Aku percayakan tugas ini padamu. Kamu bisa kerja sama dengan orang yang kamu percayai. Ingat, jika sampai semua ini terbongkar maka yang muncul sebagai pelaku adalah kamu. Jadi, jangan sampai gagal!” Katanya sambil berbalik meninggalkan ruangan.


“Hm.. Sial.” Gumam Zen yang mulai memindahkanku ke dalam kardus.


Sepertinya, dia pun terpaksa melakukannya.


Satu-persatu bagian diriku masuk ke dalam kardus. Perasaanku menjadi tidak karuan.


Kemana lagi aku akan dibawa?


Siapakah yang akan mengungkapkannya pada publik?


“Sekali lagi, maafkan aku. Aku tidak seharusnya menggantikan posisimu.” Kata buku penggantiku dengan sangat menyesal.


Aku hanya memandang nanar ke arahnya. Aku sangat tahu bahwa semua ini bukan salahnya.


Zen kembali memanggulku ke suatu tempat. Entah dimana tempat penyingkiran buku yang dimaksud itu.


Aku dibawa menuju sebuah mobil pick up. Dari bunyi derumannya, aku tahu itu mobil yang sama saat aku dibawa ke tempat ini.


Mobil ini kembali membawaku jauh ke bagian belakang perusahaan tambang. Tempat limbah perusahaan dibuang.

__ADS_1


Aku semakin sadar bahwa karirku sebagai buku agung yang dimuliakan telah berakhir. Dibawanya aku ke tempat inilah buktinya.


Zen membawaku ke tempat khusus pemusnahan buku-buku bekas yang sudah tak layak pakai.


Buku-buku yang rusak atau salah cetakan semua berakhir di sini untuk dimusnahkan. Kini giliranku yang tak pernah kusangka akhirnya tiba.


“Pak Kasim!” Teriak Zen pada satu-satunya petugas yang ada di sana saat kami tiba. Dengan tergopoh-gopoh Pak Kasim menghampiri kami.


“Tolong dimusnahkan!” Perintah Zen pada Pak Kasim sambil menunjuk ke arahku.


Pak Kasim terlihat bingung saat memandangku. “Yakin, mau dimusnahkan?” Tanyanya tidak percaya.


“Iya, tolong secepatnya!”


“Tapi.. Buku ini kelihatannya terbuat dari emas murni. Kenapa tidak diolah saja kembali?” Tanyanya dengan nada bingung sambil mengangkat salah satu bagian diriku yang terasa berat.


“Perintah bos adalah.. di-mus-nah-kan!” Kata Zen sambil memberikan penekanan dengan kesal.


“Baiklah.”


Pak Kasim hendak membawaku ke dalam ruangan tempat berbagai buku rusak menunggu waktu pemusnahan, tapi dicegah oleh Zen.


“Saya ingin pemusnahannya dilakukan sekarang!”


“Apa yang kau lakukan di sini, Zen?” Tanya seseorang yang baru saja keluar dari ruangan buku rusak.


Dia?

__ADS_1


Ngapain pula dia di sini?


__ADS_2