
Ruangan Tito’
Aku tiba di ruangan ini saat jam di ruangan telah menunjukkan pukul empat sore.
Acara ‘jalan-jalan’ yang tak terduga dengan Tito’ sungguh membuatku sangat bahagia. Aku tidak bisa menahan kegembiraanku sehingga tanpa sadar, aku malah tersenyum-senyum sendiri.
Semua teman-teman di ruangan memandangku heran, kecuali Buku Kecil yang pulang bersamaku. Tak seperti diriku, dia mengekspresikan kegembiraannya dalam diam. Sepanjang perjalanan pulang, dia tidak mengatakan apapun.
Tito’ pergi setelah meletakkanku dan Buku Kecil di atas meja.
“Sepertinya..” Sebuah buku baru memecah keheningan, “Ada yang sedang kasmaran.”
“Iya. Dari tadi aku berusaha keras untuk mengingat-ingat.” Ilmu Politik terlihat berpikir keras, “Emas sepertinya punya…”
“Punya Apa?” Ilmu Sosial tidak mampu menahan gelak tawa.
“Pacar, maksudmu?” Motivasi menebak.
“Nah,, Iya. Itu maksudku.” Ilmu Politik menggerutu, “Susah sekali mengingatnya.”
“Sering lupa pada sesuatu yang tidak berhubungan dengan kita. Itu sepertinya hal yang alami. Bukan hanya menusia, kita bahkan mengalaminya juga.” Buku baru itu kembali berkomentar.
Aku hanya diam, menunggu kesempatan berkomentar.
“Eh,, Novel, apa yang kamu maksud dengan kasmaran?” Tanya Motivasi pada buku baru itu yang ternyata buku novel.
“Tanyalah pada KBBI. Dia pasti bisa menjelaskannya dengan lebih baik.” Buku Novel mengalihkan tugasnya pada KBBI yang sejak tadi hanya diam.
“Kasmaran itu,,” KBBI akhirnya berbicara, “Bisa diartikan dengan mabuk berahi atau jatuh cinta.”
Kami semua melongo, kecuali Novel.
Maksudnya apa?
“A..Apa itu?” Ilmu Politik tidak kuasa menahan diri untuk bertanya.
Kami semua refleks memandang KBBI, menunggu penjelasan lanjutan.
“Mmm.. Aku sendiri tidak bisa menjelaskannya dengan baik pada kalian.”
Diluar dugaan, KBBI justru menyerah, “Pokoknya.. Hanya itu yang manusia tuliskan padaku. Soal, bagaimana yang dimaksud dengan mabuk berahi atau jatuh cinta.. Aku sendiri tidak tahu.”
Novel tertawa.
“Kamu sepertinya tahu, Novel?” Tanya Motivasi.
Perhatian kami kini teralihkan ke Novel, menunggu penjelasan.
“Tidak.. Aku juga tidak tahu.”
Kami kembali melongo.
“Sikapmu yang menertawaiku, seakan-akan tahu dengan jelas.” KBBI menggerutu.
“Makanya, aku menyerahkan tugas penjelasan padamu. Karena selama ini, aku sendiri tidak mengerti.”
“Lalu.. Kenapa kamu bisa mengatakan kata kasmaran? Darimana kamu menemukan kata itu?” Tanya Motivasi mewakili kami yang bingung.
“Yaa.. Kata itu banyak tertulis padaku.” Novel mengaku.
“Penulisku bahkan tersenyum-senyum saat menulis untukku.” Novel berkata lemah, “Kupikir, KBBI bisa menjelaskannya. Ternyata tidak.”
__ADS_1
“Ya.. Aku bisa memberi penjelasan sesuai kata yang dituliskan. Tapi jika membutuhkan penjelasan tentang perasaan itu.. Aku juga menyerah.” Sahut KBBI.
“Sepertinya.. Perasaan tentang itu bagai misteri yah.” Kata Ilmu Politik, “Kalau saja kita bisa berbicara langsung dengan manusia, mungkin kita bisa bertanya.”
“Atau kita memiliki perasaan seperti mereka.” Kata Motivasi, “Dengan begitu, kita bisa mengerti.”
Kami mengangguk membenarkan. Entah bagaimana perasaan ‘cinta’ itu, yang bahkan katanya pun sulit kami mengerti.
“Eh.. Ngomong-ngomong, sejak kapan Novel berada di sini?” Tanyaku.
“Aku penghuni lama tau!” Novel merenggut, “Seharusnya aku yang bertanya padamu, sejak kapan kamu berada di sini?”
“Dia kertas Buku Agung.” Ilmu Politik yang menjawab.
“Oh.. Jadi kamu bukunya.” Nevel terlihat mengerti.
Sepertinya teman-teman buku sudah banyak bercerita tentangku.
“Jadi kamu buku lama di sini?” Aku kikuk, merasa bersalah.
“Yaa.. Sekitar lima bulan yang lalu, Tito’ membeliku di toko buku.” Sahutnya, “Tapi tiga bulan terakhir, Adi meminjamku. Dia baru mengembalikanku siang tadi.”
“Oh.” Sahutku mengerti.
“Surat mengeluh padaku..” Novel melirik Surat, “Katanya, sejak kedatangan sebuah buku penting. Kedudukannya tersingkir.”
Surat tersenyum kikuk.
“Tapi aku ingin berterima kasih padamu..” Kata Novel lagi, “Sebelum kedatanganmu, Surat sangat penting dimata Tito’ lebih daripada kami semua. Hal itu membuatnya memandang remeh pada kami. Tapi lihatlah kondisinya sekarang.”
Novel tertawa.
Aku memandangi Surat yang memilih diam. Aku baru sadar, Surat ternyata masih tergeletak di lantai.
“Sudahlah, Emas. Kamu jangan merasa bersalah.” Surat mengerti maksud tatapanku, “Sebagai benda, ada kalanya kita membosankan. Kamu juga kan, Emas.
Mulai sekarang, kita semua harus belajar bersabar, sebagai persiapan menghadapi masa bosannya manusia pada kita.” Kata Surat, bijak.
Novel dan teman-teman tertawa.
“Dia sudah insyaf. Alhamdulillah.” Kata Buku Agama Islam.
Tawa teman-teman semakin keras. Aku dan Surat ikut tertawa.
Adi memasuki ruangan di sela-sela tawa kami yang keras. Adi yang berhasil masuk tanpa pintu yang terkunci kembali berbalik ke arah pintu.
Adi tersenyum, “Lupa dikunci atau sengaja?” Tanyanya pada diri sendiri.
“Sengaja!” Novel berteriak menjawabnya, “Buat apa juga Tito’ mengunci ruangan ini.”
Adi melenggang masuk, masih dengan wajah tersenyum.
Tentu saja dia tidak mendengar teriakan Novel.
“Mumpung tak dikunci. Kesempatan mencari sesuatu yang mungkin saja rahasia.” Adi kembali berkata pada diri sendiri sambil tersenyum.
“Aku bilang, Tito’ sengaja tidak menguncinya!” Novel kembali berteriak menegaskan, “Selama ini, Tito’ memang tidak pernah menguncinya, kan?”
Percuma, Adi hanya sibuk dengan dirinya sendiri.
Novel menjadi jengkel.
__ADS_1
Kami semua kembali tertawa karenanya.
“Adi tidak akan mendengarmu.” Kata Motivasi prihatin.
“Lagipula, kenapa dia senang sekali mendapati pintu tidak terkunci.” Novel terlihat heran, “Selama ini, memang tidak pernah dikunci kan?”
“Iya.. Sejak kamu bergabung dengan kita. Tito’ tidak pernah menguncinya.” Ilmu Politik berkata serius.
“Tapi.. Setiap kamu tidak berada di sini. Entah kenapa, dia selalu menutup dan mengunci pintu.” Ilmu Politik berkomentar sambil memandangi Novel, terlihat prihatin.
“Aku sih menduga..” Motivasi tidak mau kalah, “Tito’ sengaja supaya Novel diambil oleh siapapun yang berkunjung. Lihat saja.. Dia menghilang dari deretan buku, pun. Tito’ tidak peduli.”
Semua teman-teman buku terlihat serius.
Aku terpana.
Benarkah?
Padahal semua teman-teman buku sedang bercanda loh..
Akunya aja yang telmi alias telat mikir. Wkwkwk..
Tapi sepertinya Novel percaya dengan perkataan teman-teman.
“Apa kau memperhatikan, Emas.” Surat berkata padaku, “Sepertinya Tito’ tadi menyadari bahwa Novel sudah kembali. Karena itulah, dia pergi tanpa mengunci pintu.”
“Mungkin dia berharap ada orang yang berkunjung dan berbaik hati untuk mengambil Novel.”
KBBI ikut nimbrung, “Apa kau tahu Novel, Tito’ bahkan tidak peduli untuk mencarimu saat kau tidak ada.”
“Emangnya.. Tito’ menyadari kalau dia tidak ada?” Perkataan Ilmu Sosial sontak membuat kami semua tertawa.
Muka Novel terlihat kusut. “Apa iya?” tanyanya lemah.
Buku Kecil tertawa, dia terlihat prihatin memandang Novel.
“Tentu saja, tidak. Tito’ memperlakukan kalian semua sama, kok. Hanya karena kamu sudah dibaca olehnya-lah, sehingga dia membiarkanmu diambil agar bermanfaat buat orang lain.
Justru, kamu harus bersyukur. Tidak ada buku yang dibaca Tito’ kurang dari satu pekan selain dirimu.”
“Tapi.. Mereka bilang..” Wajah Novel tetap mengerut, tidak percaya.
“Mereka hanya cemburu padamu.” Sahut Buku Kecil santai. “Kau tahu, Novel. Tidak ada satupun buku yang ada di sini mampu membuat Tito’ tersenyum-senyum saat membaca, kecuali dirimu.
Rata-rata, muka Tito’ justru lebih banyak berkerut saat membaca mereka.
Aku berani bertaruh, mereka pasti dibaca oleh Tito’ selama berbulan-bulan.
Mungkin saja, ada yang tahunan. Tapi tetap saja tidak selesai-selesai.”
Perkataan Buku Kecil sontak membuat semuanya tertawa, tidak terkecuali Novel. Kini, dia terlihat bangga.
Adi sibuk menyusuri rak buku.
“Hhh.. Tidak ada novel baru.” Kata Adi bosan.
Perkataannya malah membuat Novel semakin terlihat bangga.
“Nggak usah bahagia begitu. Kamu jusru harus sedih. Karena kamu sudah memasuki tahap bosannya manusia padamu.” Motivasi mengingatkan.
“Kamu itu tidak seperti namamu. Harusnya kamu membesarkan hatiku.
__ADS_1
Lagipula, aku bangga karena buku seperti kami setidaknya lebih banyak dicari.” Novel membela diri.
Motivasi tersenyum, menghargai.