
8 Desember 2019
Pagi ini adalah akhir pekan. Aku memutuskan untuk melewatinya #dirumahaja. Peristiwa yang menimpa Keluarga Husain akhir-akhir
ini selalu menyeretku untuk keluar rumah. Aku memang telah menjadi bagian dari
peristiwa itu. karena itulah, tidak ada alasan bagiku untuk berleha-leha.
Namun, pagi ini aku memilih untuk bersantai sambil membaca buku di ruang
kerjaku. Kuraih sebuah novel yang baru saja kubeli dua hari yang lalu. Aku
hampir saja lupa kalau aku memiliki sebuah novel. Aku menemukannya saat
berencana untuk membereskan isi tasku.
Baru beberapa saat aku membacanya sambil tersenyum seperti orang bodoh,
sebuah pesan masuk di HP-ku. Aku segera meraih dan membacanya.
Pesannya singkat.
“Kak, aku ingin membicarakan hal penting. Bisakah kakak menemuiku di
tempat Pak Hakim?”
Aku menjawab singkat, “Baik.”
Aku yakin, itu pesan Ali.
Aku segera bergegas setelahnya. Berganti pakaian secepatnya lantas
menyambar tasku yang hanya berisi buku kecil harianku dan sebuah pulpen. HP
kuselipkan di saku celana dan langsung melangkah pergi.
Pikiranku bergerak liar mengiringi langkah cepatku.
Satu hal yang sangat kuharapkan..
Aku ingin berguna kali ini..!
Aku melewati perjalanan yang terasa panjang karena dihantui oleh rasa
penasaran. Kini, aku telah berdiri di depan ruangan tempat bertemunya aku
dengan anak pengirim SMS. Setelah menghela napas pelan, aku mulai membuka pintu
dan melangkah masuk.
“Permisi..” Sapaku sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
Langkahku sejenak terhenti dan memandang lurus ke depan dengan heran.
Loh?!
“Kak Tito’, masuk.” Sapa anak itu dengan riang.
“Ari? Di mana Ali?” Tanyaku bingung sambil mengedarkan pandangan sekali
lagi, menatap setiap sudut ruangan.
“Ahh.. Ali sedang sibuk. Jadi tidak bisa datang.” Jawab Ari sambil
tersenyum.
Alasan apa itu?!
Kami semua tahu, mereka berdua adalah pasangan pemimpin yang sangat sulit
dipisahkan. Sampai-sampai Dewan Penasihat dan pelaku kejahatan dibuat
frustrasi.
Tapi ini?
Kesibukan apa yang membuat Ali tidak mengunjungi Hakim? Dan kenapa Ari
justru tidak membantunya dan memilih untuk menemuiku di sini?
“Duduklah kak.” Kata Ari.
Sikap riangnya kini berubah menjadi serius.
“Ada apa?” Tanyaku padanya setelah duduk tepat di hadapannya.
“Eh Tito’, kau sudah datang?” Pak Hakim yang baru saja keluar dari kamar
kecil menghampiri kami.
Aku berdiri untuk menyambut dan menyalaminya. Sejujurnya, aku sangat
penasaran dengan kondisi saat ini.
Apa yang sedang terjadi?
Apa yang ingin dibicarakan Ari denganku?
Bagaimana hubungan Ari dan Ali saat ini?
Dimana posisi Pak Hakim jika keduanya berseteru?
Pikiran-pikiran liar kembali menghantuiku. Rasa penasaran akan semua
pertanyaan itu ingin segera kutuntaskan. Dan hal yang sangat menggangguku saat
ini adalah, peran seperti apa yang akan aku lalui setelah ini?
“Sesuatu telah terjadi, Kak Tito’.” Kalimat pembuka dari Ari dengan
ekspresi sendu berhasil membuatku cemas.
“Lalu.. Apakah aku pantas untuk mengetahui semua itu?” Tanyaku hati-hati.
__ADS_1
Diberikan kepercayaan besar seperti ini oleh petinggi Keluarga Husain
membuatku tidak nyaman. Apa keistimewaanku diantara para Dewan Penasihat?
“Aku mempercayai Kak Tito’.” Kata Ari sambil memandang lurus ke arahku.
“Ada apa?” Aku seketika menjadi canggung.
Pantaskah aku mendapatkan kepercayaan setelah ikut terlibat dalam
kejahatan terhadap keluarganya?
“Seseorang mengancam Ali kak.”
Perkataannya sukses membuatku terkejut. Aku menjadi sangat cemas.
Mungkinkah Ali mengalami hal yang telah kualami?
“Si..siapa?” Tanyaku tergagap.
Aku berharap, pengancamnya bukan orang yang sedang kupikirkan. Jika
benar, aku khawatir, bahkan Ali pun tidak bisa mengatasinya.
Ari menjawab persis seperti yang kutakutkan.
“Ya.. Tuhan.”
Aku sampai menundukkan kepala dan menutup wajah dengan kedua tanganku
karena frustrasi mendengarnya. Untuk beberapa saat, aku tidak dapat berkata
apa-apa.
“Ali tidak tahu kalau aku mengetahui ancaman itu, Kak.” Ari ikut
tertunduk dan berkata lemah, “Ancamannya ada hubungannya denganku.”
Sudah kuduga!
“Aku tidak ingin membebani Ali lebih jauh. Aku ingin membantunya, Kak.”
Katanya lagi sambil memandang lurus ke arahku.
“Lalu.. Kamu membutuhkan bantuanku?” Tanyaku berusaha memahami apa yang
dipikirkannya.
Ari mengangguk.
Sejujurnya, aku sendiri bahkan tidak tahu, bantuan apa yang bisa
dilakukan oleh orang sepertiku.
“Apa yang harus kulakukan?” Tanyaku hati-hati.
“Melihat karakter Ali, aku yakin dia akan memilih untuk menyelamatkanku,
Kak.” Katanya lemah, “Dia pasti akan
Ari terlihat jelas menahan air matanya.
Posisi Ali pasti sangat sulit. Aku tahu, karena aku juga berada di posisi
yang sama dengannya. Aku dan Ali sedang dihadapkan pada pilihan sulit, pilih
orang dekat atau menyerah pada pelaku!
“Lalu.. Apa yang akan kamu lakukan?” Tanyaku penuh selidik.
Mungkinkah dia akan menentang Ali?
“Aku ingin bertahan pada pendapat awal.” Menghela napas, “Aku ingin
tambang tetap dikembalikan kepada pemerintah, Kak.”
“Ali diancam agar mempertahankan tambang dalam keluarga?” Tanyaku ingin
memastikan. Meski aku tahu, jawabannya pasti iya.
“Iya, Kak.”
Astaga!!
Jika tambang tetap berada di tangan Keluarga Husain, para pelaku akan
dengan mudah untuk mengeksploitasi tambang itu. Pada akhirnya, tidak ada lagi
yang tersisa untuk rakyat, pemilik sah tambang itu!
Beberapa waktu terakhir, aku sedikit bernapas lega. Aku percaya, Ali dan
Ari mampu untuk melindungi milik rakyat. Tapi siapa sangka, Ali justru ikut
menjadi korban ancaman. Posisinya sekarang sangat sulit.
“Jadi.. Apa rencanamu?” Tanyaku.
“Bisakah kakak mendukungku dalam rapat keluarga nanti?”
Permintaannya sontak membuatku terkejut. Itu permintaan yang sulit. Aku
sudah dianggap pelaku sebagai ancaman. Akhir-akhir ini, aku berusaha keras
untuk menjaga sikapku.
Tapi kali ini, aku diminta untuk menentang mereka secara langsung?!
Apa yang harus kulakukan?
“Aku tahu kak, itu keputusan yang sulit.” Ari kembali berkata lemah. Dia
sepertinya memahami kebimbanganku.
__ADS_1
“Kak Tito’ diancam juga kan?”
“Kak Adi dalam bahaya kan?”
Perkataannya membuatku tertunduk semakin dalam. Itu semua benar. Hal
itulah yang sangat kutakutkan. Jika saja aku mengambil risiko untuk diriku
sendiri. Maka aku akan mengambil keputusan untuk mendukungnya tanpa ragu.
“Yaa.. Seperti halnya Ali yang mencemaskanku.” Menghela napas berat.
“Akulah yang berada dalam posisi bahaya jika Ali memilih untuk menentang
mereka.”
“Tunggu.. Darimana kamu tahu soal Adi?” Tanyaku
penasaran.
Ari tertawa kecil.
“Pertemuan yang tidak disengaja, Kak.”
Ari mulai menerawang, “Waktu itu, Kak Adi mendatangi
perpustakaan keluarga. Sebenarnya, aku heran kenapa Kak Adi berada di sana.
Saat itu hari Ahad, perpustakaan sedang tidak menerima pengunjung karena harus
dibersihkan.”
“Meski Hari Ahad, aku dan Ali tetap harus masuk kelas
yang membosankan di bawah bimbingan Pak Guru Agung.” Ari tertawa, “Karena
mengantuk, aku izin ke kamar kecil. Bukannya ke kamar kecil, aku malah
keluyuran.”
Sorot mata Ari kini menjadi serius, “Saat itu, aku
melihat gelagat aneh dari Kak Adi.”
“Aneh kenapa?” Entah kenapa, aku menjadi cemas.
“Dia terlihat celingak-celinguk sana sini seperti
tidak ingin ketahuan. Dan aku melihatnya mengambil buku-buku sejarah keluarga.”
Aku sampai ternganga karena sangat terkejut. Jadi, Adi
bahkan sudah ketahuan oleh wakil pimpinan keluarga ini?
Aku meremas tanganku dengan gelisah.
“Tenang saja Kak Tito’.” Ari tertawa kecil melihat
tingkahku. “Sejak saat itu, aku dan Kak Adi mulai saling bertukar informasi.
Aku berjanji padanya untuk tidak menceritakan tindakannya pada siapapun.”
“Kami memutuskan untuk berteman.” Lanjutnya tersenyum.
Aku memandang Ari dengan penuh selidik. Mencoba
mencari kebohongan di sana. Tapi aku tidak menemukannya. Dia berkata jujur.
“Kak Adi tahu kalau Kak Tito’ diancam.”
Aku kaget. Benarkah?
Bayangan wajah Adi seketika terlintas di benakku.
Ingin rasanya aku meremas wajah itu. berani sekali dia berurusan dengan Zen dan
bosnya. Yaa.. Sebenarnya bosku juga sih..
Tapi mendengar dia berhubungan baik dengan Ari
membuatku sontak menarik bibir dan tersenyum. Setidaknya, dia berusaha menebus
kesalahannya dengan cara yang lebih baik.
“Tito’, dukungan darimu untuk Ari sangat berarti
baginya. Suara dia sebagai wakil pimpinan setara dengan Ali. Jika kamu
membantunya dari pihak pemerintahan, maka pendapat kalian pasti akan dapat
dipertimbangkan.”
Pak Hakim yang hanya diam sejak tadi mulai angkat
bicara. Sepertinya, dia memang sengaja menyediakan ruang bagi Ari untuk
mengungkapkan keinginannya padaku.
Aku akui, dukungan yang kuberikan untuk Ari pasti akan
memberikan pengaruh yang besar.
“Aku tidak ingin memaksa Kak Tito’. Aku tahu, Kak
Tito’ berada dalam posisi yang sulit.” Ari tersenyum.
“Pikirkanlah, Kak. Sebaiknya bicarakan juga dengan Kak
Adi.”
Aku tersenyum kikuk.
Pertemuan itu selesai, bahkan sebelum aku mengambil
__ADS_1
keputusan. Aku tahu, Ari tidak bermaksud memaksaku.
Kini, aku punya kesempatan untuk memilih.