Saksi Bisu

Saksi Bisu
Cerita Ari


__ADS_3

Aku tidak tahu, apa yang membuat


Ari bersikap aneh seperti ini.


Dia terus mendekapku sambil


celinguk sana sini. Sangat jelas bahwa dia tidak ingin ketahuan. Dia bahkan


tidak meminta izin pada Ali saat memutuskan untuk membawaku. Apakah mungkin,


orang yang paling ingin dihindarinya adalah Ali? Tapi kenapa?


Ari membawaku ke kamar yang


disediakan untuknya di rumah dinas.


Setelah memperhatikan sekitar dia


bergumam pelan, “Aman!”


Sikapnya yang demikian


mengingatkanku pada Tito’.


Ah.. semua ini semakin rumit. Peran


seperti apa yang akan diambil Ari kali ini??


Ari masuk ke dalam kamar dan


menguncinya.


“Tumben dikunci. Biasanya juga,


bahkan pintunya tidak ditutup.” Celetuk salah satu penghuni kamar ini yang


berhasil memancingku untuk mengedarkan pandangan mencari asal suara.


Sebuah buku tebal ekonomi sedang


tergeletak di atas meja dekat tempat tidur bagian kiri. Buku itu memandang


heran ke arah kami.


“Hai.. Apa yang terjadi? Kenapa Ari


bersikap aneh?” Tanyanya penasaran padaku.


Raut mukanya menunjukkan bahwa dia


mengenalku.


“Aku juga tidak tahu. Justru itu


pula yang ingin kutanyakan padamu.” Jawabku jujur.


Buku ekonomi adalah buku wajib yang


selalu menyertai anggota keluarga Husain, terlebih jika anggota keluarga itu


adalah generasi penerus. Aku yakin, buku ekonomi itu tahu sesuatu.


“Apakah sebelumnya, Ari bersikap


aneh seperti ini?” Tanyaku.


Dia terlihat berpikir lalu


menjawab, “Tidak pernah!”


Ari meletakkanku di meja


bersebelahan dengan buku ekonomi itu. Setelah itu, Ari menghempaskan dirinya di


kursi dekat meja dan menghembuskan napas berat. Dia terlihat berpikir keras


dengan alis yang hampir bertaut satu sama lain.


“Aku tidak tahu apa yang terjadi


padanya. Tapi dia sudah seperti ini sejak tadi malam.” Kata Buku Ekonomi dengan


ekspresi bingung.


“Ali juga bersikap aneh hari ini.”


Aku bergumam.


“Apa yang terjadi pada Ali?”


Tanyanya penasaran, dia mendengar gumamanku.


“Aku tidak tahu..” Kataku lesu.


Buku Ekonomi tidak bertanya lebih


lanjut. Aku yakin, dia telah tahu semua yang terjadi akhir-akhir ini di


keluarga Husain.


Tanpa menghiraukan kebingungan kami


(tentu saja), Ari perlahan mengambil kertas kosong Buku Agung yang ikut bersamaku


serta pulpen yang berada di atas meja.


Apa yang akan dilakukannya? Tidak


mungkin dia akan menulis untukku bukan? Apalagi tanpa sepengetahuan Ali!


Tapi dugaanku benar..


Ari menulis untukku.


*


7 Desember 2019


Penulis: Ari


Mungkin kurang ajar jika aku menulis untuk Buku Agung atas inisiatif


sendiri. Sebagai wakil generasi penerus, aku memang telah diberi wewenang untuk


ikut menulis di Buku Agung. Aku dan Ali biasanya menulis bersama.


Maafkan aku, Ali. Kali ini, aku akan menceritakan sendiri kisahku..


Mungkin memang benar, kalau wakil tidak seharusnya disertakan dalam

__ADS_1


penulisan untuk Buku Agung. Konflik bisa saja terjadi karenanya. Ali, sekarang


aku paham maksudmu saat itu. Saat pertama kali kita bertemu dengan Buku Agung


di ruang rahasia.


Aku memang egois kali ini. Aku mohon, maafkan aku.


Tapi aku tidak bisa kau bujuk untuk berhenti kali ini..!!!


*


Ari menghela napas berat..


Aku bingung dan terkejut dengan


tulisannya. Aku berharap dia melanjutkan tulisan dan mengungkap rencananya.


Tapi sepertinya, aku harus kembali berlapangdada untuk menerima


ketidaktahuanku.


Ari bergegas menyimpanku di lemari


pakaiannya dan mengunci lemari itu. Setelah itu, langkahnya terdengar menjauhi


ruangan.


“Hai.. Apa terjadi sesuatu dengan


Ali dan Ari hari ini?” Tanya Buku Ekonomi padaku dengan nada tinggi saat Ari


telah pergi.


“Keduanya memang bersikap aneh hari


ini.” Jawabku lesu.


Masalah keluarga ini, sampai kapan


akan terus berlanjut???


“Mereka tidak bertengkar, bukan?”


Tanyanya lagi dengan nada takut.


“Mereka terlihat baik-baik saja.”


Jawabku berusaha menenangkan.


Tapi aku sendiri tidak tenang. Aku


larut dalam pikiranku sampai tidak memperhatikan sekitar lagi. Buku Ekonomi


itu, aku tidak tahu apakah dia kembali berbicara padaku atau malah ikut diam


bersamaku dengan pikiran kami masing-masing.


***


Ruangan Ali


Sekitar 30 menit sejak dia pamit


menuju kamar kecil, Ali akhirnya kembali ke dalam ruangan dengan muka ceria.


“Ari..” Panggilnya sambil


mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. Namun, yang dipanggil tidak menjawab


karena memang telah pergi meninggalkan ruangan.


“Ali dan Ari kenapa ya, Emas?”


Tanyaku pada Buku Agung penggantiku. Aku memilih memanggilnya Emas untuk


menghargainya.


“Jangan memanggilku seperti itu.”


Jawabnya lemah. “Panggilan itu hanya cocok untukmu.”


“Lalu.. Aku harus memanggilmu apa?”


“Plagiat?!” Jawabnya sambil tertawa


kecil. Dia bercanda. Namun tak dapat dipungkiri, ada nada getir dalam suaranya.


“Heii.. Itu semua bukan


keinginanmu..!” Aku mencoba menghibur.


“Aku hanya bercanda, Emas.” Katanya


tulus. “Panggil aku Teman. Meski aku mengambil posisimu, tapi aku ingin kita


akur layaknya teman.” Lanjutnya getir.


“Tapi kalau kamu tidak mau, aku..”


Lanjutnya terburu-buru bahkan sebelum aku sempat menjawab.


“Baik, aku akan memanggilmu teman.”


Jawabku tulus.


“Ali dan Ari kenapa ya, Teman?” Aku


mengingat kembali pertanyaan awalku.


“Aku juga bingung. Kalau sikap Ali,


mungkin dia seperti itu akibat pembicaraannya tadi malam. Tapi kalau Ari, aku


tidak tahu.” Jawabnya lemah.


Ali memilih duduk dan melamun. Sebenarnya,


itu hal yang tidak biasa dia lakukan saat tidak menemukan Ari di ruangannya.


Wajah cerianya berubah menjadi datar. Terlihat jelas bahwa dia sedang berpikir


keras.


Aku sangat khawatir. Jika keadaan


generasi penerus seperti ini, bagaimana mereka menghadapi masalah yang menimpa?


Masalah berat yang kini mereka hadapi belum tentu dapat mereka selesaikan

__ADS_1


dengan mudah meski mereka kerja sama.


Tapi ini???


Mereka bahkan memilih untuk saling


merahasiakan masalah satu sama lain!


Ali tidak kunjung bergerak dan


melakukan apapun. Tatapannya kosong. Hingga berlalu 30 menit berikutnya, dia


tetap seperti itu. Dia bahkan tidak heran dengan ketidakhadiran Ari di


ruangannya yang cukup lama saat jam kerja. Biasanya, mereka selalu menghabiskan


waktu bersama kecuali mereka telah tertidur pulas di malam hari.


“Ke..kenapa dengan, Ali?” Suara


Teman terdengar gagap membuatku sangat penasaran.


“Ada apa, Teman?”


“Tangan Ali terluka.” Jawabnya tercekat.


Aku mengikuti arah pandangannya.


Aku ikut kaget dan cemas.


Apa yang terjadi???


“Permisi, Tuan..” Ari muncul dengan


suara riang khasnya.


Sikapnya telah kembali seperti


biasa.


Waah.. Pintar sekali dia berakting.


“Kenapa baru datang?” Sahut Ali


ketus. Namun, dia terdengar senang.


“Hmm.. Tuan sudah sangat hebat meski


seorang diri. Bahkan tanpa perlu bantuanku. Aku mungkin hanya akan menggang..”


ucapan jahil Ari terhenti seketika. Bagaimana tidak, Ali sedang melotot marah


ke arahnya.


Sejurus kemudian, Ari terpingkal


dibuatnya.


“Hei.. Bukankah sudah kukatakan?


Kalau kamu membuatku takut.” Kata Ari berusaha keras untuk terlihat biasa.


“Jangan panggil aku ‘Tuan’!”


Katanya gemas.


Ari menanggapi dengan tertawa


keras. Ali ikut tertawa kecil karenanya.


“Tanganmu.. Kenapa?” Tanya Ari


penasaran sekaligus cemas. Dia berusaha meraih tangan Ali namun refleks ditepis


oleh Ali dengan keras.


Ari semakin bingung. Ali justru


terlihat gelagapan.


“Ahh.. Ini..” Ali panik dan


bingung. Dia terlihat berpikir keras untuk mencari jawaban. “Tadi.. Tersiram


air panas.” Katanya pada akhirnya.


Ali menyunggingkan senyum, “Aku


memang ceroboh sekali hari ini. Hehe.” Dia terlihat riang.


Ari menatap tidak percaya. Namun,


dia memilih diam. Tatapannya menyiratkan bahwa dia tidak bisa dibohongi semudah


itu.


Memangnya, siapa yang percaya jika


luka itu akibat tersiram air panas? Jelas sekali bahwa tangan itu baru saja


meninju sesuatu dengan keras. Tidak ada ciri-ciri luka akibat tersiram air


panas di tangan itu.


Mungkinkah Ali meninju dinding kamar mandi sepuasnya hingga berakhir


seperti ini? Pikiran liarku mengembara mencoba berspekulasi atas penyebab


luka di tangan Ali.


“Hei.. Aku tidak apa-apa.” Ali


berusaha seriang mungkin untuk menenangkan Ari yang masih terlihat cemas.


“Obati lukamu itu.” Ari menjawab


datar.


Ali bergegas keluar ruangan demi


menghindari tatapan menusuk dari Ari. Dia tahu, Ari tidak mempercayainya kali


ini. Dia memilih menghindar, alih-alih memberikan penjelasan.


Ari menyandarkan punggungnya ke


sofa sambil menatap kepergian Ali yang terlihat jelas ingin menghindarinya.


Huftt..

__ADS_1


__ADS_2