
Aku tidak tahu, apa yang membuat
Ari bersikap aneh seperti ini.
Dia terus mendekapku sambil
celinguk sana sini. Sangat jelas bahwa dia tidak ingin ketahuan. Dia bahkan
tidak meminta izin pada Ali saat memutuskan untuk membawaku. Apakah mungkin,
orang yang paling ingin dihindarinya adalah Ali? Tapi kenapa?
Ari membawaku ke kamar yang
disediakan untuknya di rumah dinas.
Setelah memperhatikan sekitar dia
bergumam pelan, “Aman!”
Sikapnya yang demikian
mengingatkanku pada Tito’.
Ah.. semua ini semakin rumit. Peran
seperti apa yang akan diambil Ari kali ini??
Ari masuk ke dalam kamar dan
menguncinya.
“Tumben dikunci. Biasanya juga,
bahkan pintunya tidak ditutup.” Celetuk salah satu penghuni kamar ini yang
berhasil memancingku untuk mengedarkan pandangan mencari asal suara.
Sebuah buku tebal ekonomi sedang
tergeletak di atas meja dekat tempat tidur bagian kiri. Buku itu memandang
heran ke arah kami.
“Hai.. Apa yang terjadi? Kenapa Ari
bersikap aneh?” Tanyanya penasaran padaku.
Raut mukanya menunjukkan bahwa dia
mengenalku.
“Aku juga tidak tahu. Justru itu
pula yang ingin kutanyakan padamu.” Jawabku jujur.
Buku ekonomi adalah buku wajib yang
selalu menyertai anggota keluarga Husain, terlebih jika anggota keluarga itu
adalah generasi penerus. Aku yakin, buku ekonomi itu tahu sesuatu.
“Apakah sebelumnya, Ari bersikap
aneh seperti ini?” Tanyaku.
Dia terlihat berpikir lalu
menjawab, “Tidak pernah!”
Ari meletakkanku di meja
bersebelahan dengan buku ekonomi itu. Setelah itu, Ari menghempaskan dirinya di
kursi dekat meja dan menghembuskan napas berat. Dia terlihat berpikir keras
dengan alis yang hampir bertaut satu sama lain.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi
padanya. Tapi dia sudah seperti ini sejak tadi malam.” Kata Buku Ekonomi dengan
ekspresi bingung.
“Ali juga bersikap aneh hari ini.”
Aku bergumam.
“Apa yang terjadi pada Ali?”
Tanyanya penasaran, dia mendengar gumamanku.
“Aku tidak tahu..” Kataku lesu.
Buku Ekonomi tidak bertanya lebih
lanjut. Aku yakin, dia telah tahu semua yang terjadi akhir-akhir ini di
keluarga Husain.
Tanpa menghiraukan kebingungan kami
(tentu saja), Ari perlahan mengambil kertas kosong Buku Agung yang ikut bersamaku
serta pulpen yang berada di atas meja.
Apa yang akan dilakukannya? Tidak
mungkin dia akan menulis untukku bukan? Apalagi tanpa sepengetahuan Ali!
Tapi dugaanku benar..
Ari menulis untukku.
*
7 Desember 2019
Penulis: Ari
Mungkin kurang ajar jika aku menulis untuk Buku Agung atas inisiatif
sendiri. Sebagai wakil generasi penerus, aku memang telah diberi wewenang untuk
ikut menulis di Buku Agung. Aku dan Ali biasanya menulis bersama.
Maafkan aku, Ali. Kali ini, aku akan menceritakan sendiri kisahku..
Mungkin memang benar, kalau wakil tidak seharusnya disertakan dalam
__ADS_1
penulisan untuk Buku Agung. Konflik bisa saja terjadi karenanya. Ali, sekarang
aku paham maksudmu saat itu. Saat pertama kali kita bertemu dengan Buku Agung
di ruang rahasia.
Aku memang egois kali ini. Aku mohon, maafkan aku.
Tapi aku tidak bisa kau bujuk untuk berhenti kali ini..!!!
*
Ari menghela napas berat..
Aku bingung dan terkejut dengan
tulisannya. Aku berharap dia melanjutkan tulisan dan mengungkap rencananya.
Tapi sepertinya, aku harus kembali berlapangdada untuk menerima
ketidaktahuanku.
Ari bergegas menyimpanku di lemari
pakaiannya dan mengunci lemari itu. Setelah itu, langkahnya terdengar menjauhi
ruangan.
“Hai.. Apa terjadi sesuatu dengan
Ali dan Ari hari ini?” Tanya Buku Ekonomi padaku dengan nada tinggi saat Ari
telah pergi.
“Keduanya memang bersikap aneh hari
ini.” Jawabku lesu.
Masalah keluarga ini, sampai kapan
akan terus berlanjut???
“Mereka tidak bertengkar, bukan?”
Tanyanya lagi dengan nada takut.
“Mereka terlihat baik-baik saja.”
Jawabku berusaha menenangkan.
Tapi aku sendiri tidak tenang. Aku
larut dalam pikiranku sampai tidak memperhatikan sekitar lagi. Buku Ekonomi
itu, aku tidak tahu apakah dia kembali berbicara padaku atau malah ikut diam
bersamaku dengan pikiran kami masing-masing.
***
Ruangan Ali
Sekitar 30 menit sejak dia pamit
menuju kamar kecil, Ali akhirnya kembali ke dalam ruangan dengan muka ceria.
“Ari..” Panggilnya sambil
mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. Namun, yang dipanggil tidak menjawab
karena memang telah pergi meninggalkan ruangan.
“Ali dan Ari kenapa ya, Emas?”
Tanyaku pada Buku Agung penggantiku. Aku memilih memanggilnya Emas untuk
menghargainya.
“Jangan memanggilku seperti itu.”
Jawabnya lemah. “Panggilan itu hanya cocok untukmu.”
“Lalu.. Aku harus memanggilmu apa?”
“Plagiat?!” Jawabnya sambil tertawa
kecil. Dia bercanda. Namun tak dapat dipungkiri, ada nada getir dalam suaranya.
“Heii.. Itu semua bukan
keinginanmu..!” Aku mencoba menghibur.
“Aku hanya bercanda, Emas.” Katanya
tulus. “Panggil aku Teman. Meski aku mengambil posisimu, tapi aku ingin kita
akur layaknya teman.” Lanjutnya getir.
“Tapi kalau kamu tidak mau, aku..”
Lanjutnya terburu-buru bahkan sebelum aku sempat menjawab.
“Baik, aku akan memanggilmu teman.”
Jawabku tulus.
“Ali dan Ari kenapa ya, Teman?” Aku
mengingat kembali pertanyaan awalku.
“Aku juga bingung. Kalau sikap Ali,
mungkin dia seperti itu akibat pembicaraannya tadi malam. Tapi kalau Ari, aku
tidak tahu.” Jawabnya lemah.
Ali memilih duduk dan melamun. Sebenarnya,
itu hal yang tidak biasa dia lakukan saat tidak menemukan Ari di ruangannya.
Wajah cerianya berubah menjadi datar. Terlihat jelas bahwa dia sedang berpikir
keras.
Aku sangat khawatir. Jika keadaan
generasi penerus seperti ini, bagaimana mereka menghadapi masalah yang menimpa?
Masalah berat yang kini mereka hadapi belum tentu dapat mereka selesaikan
__ADS_1
dengan mudah meski mereka kerja sama.
Tapi ini???
Mereka bahkan memilih untuk saling
merahasiakan masalah satu sama lain!
Ali tidak kunjung bergerak dan
melakukan apapun. Tatapannya kosong. Hingga berlalu 30 menit berikutnya, dia
tetap seperti itu. Dia bahkan tidak heran dengan ketidakhadiran Ari di
ruangannya yang cukup lama saat jam kerja. Biasanya, mereka selalu menghabiskan
waktu bersama kecuali mereka telah tertidur pulas di malam hari.
“Ke..kenapa dengan, Ali?” Suara
Teman terdengar gagap membuatku sangat penasaran.
“Ada apa, Teman?”
“Tangan Ali terluka.” Jawabnya tercekat.
Aku mengikuti arah pandangannya.
Aku ikut kaget dan cemas.
Apa yang terjadi???
“Permisi, Tuan..” Ari muncul dengan
suara riang khasnya.
Sikapnya telah kembali seperti
biasa.
Waah.. Pintar sekali dia berakting.
“Kenapa baru datang?” Sahut Ali
ketus. Namun, dia terdengar senang.
“Hmm.. Tuan sudah sangat hebat meski
seorang diri. Bahkan tanpa perlu bantuanku. Aku mungkin hanya akan menggang..”
ucapan jahil Ari terhenti seketika. Bagaimana tidak, Ali sedang melotot marah
ke arahnya.
Sejurus kemudian, Ari terpingkal
dibuatnya.
“Hei.. Bukankah sudah kukatakan?
Kalau kamu membuatku takut.” Kata Ari berusaha keras untuk terlihat biasa.
“Jangan panggil aku ‘Tuan’!”
Katanya gemas.
Ari menanggapi dengan tertawa
keras. Ali ikut tertawa kecil karenanya.
“Tanganmu.. Kenapa?” Tanya Ari
penasaran sekaligus cemas. Dia berusaha meraih tangan Ali namun refleks ditepis
oleh Ali dengan keras.
Ari semakin bingung. Ali justru
terlihat gelagapan.
“Ahh.. Ini..” Ali panik dan
bingung. Dia terlihat berpikir keras untuk mencari jawaban. “Tadi.. Tersiram
air panas.” Katanya pada akhirnya.
Ali menyunggingkan senyum, “Aku
memang ceroboh sekali hari ini. Hehe.” Dia terlihat riang.
Ari menatap tidak percaya. Namun,
dia memilih diam. Tatapannya menyiratkan bahwa dia tidak bisa dibohongi semudah
itu.
Memangnya, siapa yang percaya jika
luka itu akibat tersiram air panas? Jelas sekali bahwa tangan itu baru saja
meninju sesuatu dengan keras. Tidak ada ciri-ciri luka akibat tersiram air
panas di tangan itu.
Mungkinkah Ali meninju dinding kamar mandi sepuasnya hingga berakhir
seperti ini? Pikiran liarku mengembara mencoba berspekulasi atas penyebab
luka di tangan Ali.
“Hei.. Aku tidak apa-apa.” Ali
berusaha seriang mungkin untuk menenangkan Ari yang masih terlihat cemas.
“Obati lukamu itu.” Ari menjawab
datar.
Ali bergegas keluar ruangan demi
menghindari tatapan menusuk dari Ari. Dia tahu, Ari tidak mempercayainya kali
ini. Dia memilih menghindar, alih-alih memberikan penjelasan.
Ari menyandarkan punggungnya ke
sofa sambil menatap kepergian Ali yang terlihat jelas ingin menghindarinya.
Huftt..
__ADS_1