Saksi Bisu

Saksi Bisu
Kisah Secarik Kertas


__ADS_3

Ari menarik napas berat. Hari ini,


dia telah melewati hari yang panjang saat bertemu dengan Tito’ di tempat Hakim.


Dia terlihat sangat lelah. Dia hanya melirik kertasku sekilas.


Aku tidak masalah jika dia tidak


menulis untukku malam ini. Toh, Tito’ sudah melakukannya. Informasi Tito’ sudah


lebih dari cukup bagiku untuk mengetahui kegiatannya hari ini.


Namun..


Sebelum beranjak tidur, Ari


mengambil diriku, Generasi XII dan menyelipkan secarik kertas padaku. Informasi


secarik kertas itu telah cukup menghilangkan rasa penasaranku akan keanehan Ari


dan Ali selama dua hari terakhir..


*


7 Desember 2019


Penulis: Ari


Jam 11.00 WIB, aku memutuskan untuk keluar dari kamar setelah satu jam


bergulingan di atas kasur dan tidak dapat memejamkan mata sedikit pun. Ali


pasti sudah tidur, pikirku. Akhirnya, kuseret langkahku untuk mencari udara


segar. Tujuanku adalah teras rumah.


“Ali.. Aku ingin kamu mempertahankan tambang. Biarkanlah pihak keluarga


yang mengelola tambang itu.”


Suara pelan terdengar jelas di telingaku yang berasal dari seseorang yang


sangat kuhormati selama ini sontak membuatku diam membeku di ambang pintu. Aku


sangat terkejut dengan apa yang baru saja kudengar. Aku sangat berharap bahwa


ini hanyalah mimpi.


Setelah beberapa saat, akhirnya aku dapat mengendalikan diriku. Aku


memutuskan untuk berdiri di belakang pintu dan mendengarkan semuanya. Aku


sangat yakin, kalimat tadi barulah awal dari diskusi panjang mereka kali ini.


Ali terdengar menghela napas berat.


“Apa perlu aku membangunkan Ari untuk kita diskusi bersama, Pak?”


Perkataan Ali tanpa sadar membuatku menerbitkan senyum di wajahku. Ali


sangat mempercayaiku, itu bukan omong kosong! Dia bahkan memberikan beberapa


keistimewaan padaku sejak menjabat.


Namun, yang membuatku heran, Ali mengganti panggilan untuk orang yang


sama-sama kami hormati ini. Kali ini, Ali terdengar memperlakukannya seperti


pejabat keluarga dan pemerintahan yang lain. Tidak ada lagi keistimewaan dalam


panggilan itu seperti biasanya.


Apa yang terjadi??


Ingin rasanya aku melangkahkan kaki untuk menghampiri keduanya. Namun,


perkataan orang itu kembali menahanku, bahkan membuatku memantapkan diri untuk


tidak akan pernah menemuinya lagi.


“Jangan libatkan dia kali ini, Ali. Kau sudah banyak memberikan


keistimewaan padanya. Apakah kau tidak takut jika suatu saat dia akan


menentangmu? Keistimewaan posisi yang kau berikan padanya berpotensi untuk


menentangmu suatu hari nanti!”


“Aku percaya padanya! Bahkan, jika dia ingin menggantikan posisiku


sebagai pemimpin saat ini juga, maka aku pastikan akan memberikan posisi itu


padanya!” Ali terdengar menahan amarah.


“Baiklah..” Orang itu terdengar mengalah. “Tapi.. Pembicaraan kali ini,


lebih baik dia jangan terlibat!” Katanya kembali dengan penekanan, tegas.


Memangnya kenapa? Aku kenapa? Aku bingung.


Aku baru sadar, kalau semua pujiannya padaku selama ini hanyalah


kebohongan. Kali ini, dia membuktikannya. Dia tidak mau aku terlibat dengan


sesuatu yang aku tidak tahu, sesuatu itu apa?


“Kenapa dengan Ari, Pak? Kenapa dia tidak boleh terlibat? Dia wakil


pimpinan yang kini memiliki posisi yang sama denganku dalam diskusi dan

__ADS_1


pengambilan keputusan!” Ali kembali terdengar menekan amarah.


“Itulah kesalahan fatalmu, Ali! Mengapa kamu memberikannya keistimewaan


seperti itu?!” Orang itu protes. Terdengar jelas dalam nada suaranya, kalau dia


menyalahkan dan kecewa pada Ali.


“Dia pantas mendapatkan keistimewaan itu, Pak! Tidak ada dalam keluarga


yang sangat mementingkan rakyat di atas kepentingan dirinya sendiri melebihi


dirinya!”


Ali berlebihan dalam memujiku. Justru dialah yang paling mementingkan


rakyat. Aku hanyalah pendukung yang berusaha berdiri kokoh di belakangnya. Jika


saja aku punya kesempatan, aku sangat ingin protes di hadapannya saat ini.


“Aku akan membangunkannya!” Ali berkata tegas dan mulai melangkah.


“Jika kau ingin dia selamat, maka jangan melakukannya!” Orang itu berkata


tegas namun dengan intonasi sepelan mungkin.


Sepertinya dia sangat berusaha agar aku tidak terbangun dan mendengar


semuanya. Tapi.. Kondisi saat ini jelas tidak mendukungnya. Aku mendengar


semuanya!


Ali sepertinya mengurungkan niatnya, “Apa yang akan terjadi pada Ari jika


aku memberitahukannya tentang pembicaraan di sini?”


Ali jelas marah dengan ancaman itu. Namun, terselip nada khawatir dalam


suaranya.


“Dia akan berakhir seperti Hakim!”


“Apa?!”


“Kau tahu, kan? Posisimu dan Ari di depan Dewan Penasihat sangat rentan.


Bahkan, banyak yang menentang keistimewaan yang didapatkan Ari. Mereka bisa


saja menyeretnya tanpa dapat kau cegah. Ingat, meski posisimu pemimpin


sekalipun, dengan berjibun keistimewaan posisi yang kau miliki, kau tetap bisa


dilengserkan!”


“Kenapa kalian tidak bisa mempercayai Ari?” Tanya Ali getir. Dia


“Dia seseorang yang tidak mudah dibujuk. Kelakuannya dapat mencelakakan


siapapun termasuk rakyat yang sangat diperhatikannya itu. Dia selalu melakukan


apa yang ingin dilakukannya, bahkan tanpa tahu tujuannya.” Menghela napas


berat. “Dia seperti Hakim!”


“Ari tidak pernah melakukan sesuatu tanpa pertimbangan. Dia bahkan banyak


membantuku mengambil keputusan berat. Dia selalu mendukung dan menyemangatiku.”


Kata Ali lemah.


“Karena itulah, kamu seperti kehilangan muka di depan Dewan Penasihat.”


Ali memilih diam.


“Pertahankanlah tambang di dalam keluarga, Ali. Terkait penyalahgunaan


hasil tambang, nantinya bisa kau pantau sendiri. Kamu punya posisi yang


memungkinkan untuk menghilangkan penyalahgunaan itu.”


Ali diam.


Sejujurnya, aku sangat ingin tahu, mengapa orang itu ingin sekali mempertahankan


tambang? Bukankah setiap kali kami bertemu, dia malah berdiri kokoh di depan


kami untuk mendukung keputusan menyerahkan tambang kepada pemerintah? Tapi ini?


Ingin rasanya aku melangkah mendekatinya dan bertanya alasannya, karena


Ali tidak kunjung bertanya soal itu. Yah.. Aku yakin, Ali pasti sudah tahu


jawabannya, bahkan sebelum diberitahukan padanya. Aku sangat bangga memiliki


sepupu sekaligus sahabat seperti dia. Apalagi, dia mempercayaiku untuk


membantunya selama ini.


“Hhh.. Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa aku sangat ingin kamu


mempertahankan tambang.” Menghela napas. “Kamu tahu kan, banyak sekali investor


asing yang ingin menguasai tambang itu. Mereka hanya menunggu sampai Keluarga


Husain mengembalikan tambang ke pemerintah..”


“..Jika tambang kembali ke pemerintah, kamu pasti tahu apa yang akan


terjadi bukan?”

__ADS_1


Ali tetap diam.


“Mereka akan mendapatkan kesempatan untuk menguasai milik rakyat. Mereka


hanya mementingkan keuntungan, mereka pasti akan mengambil semuanya secara


perlahan. Tidak ada lagi bagian untuk rakyat.”


Diluar dugaan, dia memaparkan sendiri alasannya. Aku tidak perlu lagi


untuk bertanya padanya dan menunjukkan diriku.


Namun, reaksi dari Ali terdengar ganjil. Dia tertawa setelah mendengar


alasan itu. Tawa itu mengandung ejekan.


Eh.. kenapa? Pikirku.


Jika aku yang berbicara dengan orang itu, maka aku pasti akan menyetujui


begitu saja. Tapi Ali? Apa yang dia ketahui?!!


Ali selalu saja menyimpan misteri. Membuatku selalu kesal, karena dia


terlalu pintar. Aku seperti pungguk merindukan bulan ketika ingin menggapainya.


“Ali..?”


Diluar dugaan, orang itu justru yang sekarang terdengar cemas.


“Baiklah.. Jika itu yang bapak inginkan. Aku akan melakukannya. Berikan


aku kesempatan, bagaimana aku membuat alasan untuk Ari dan juga kepada Dewan


Penasihat. Sepertinya Dewan Penasihat akan curiga jika aku tiba-tiba mengikuti


keinginan mereka.” Kata Ali dengan suara berat.


“Baaikk.” Orang itu gugup.


Aku hampir saja tertawa lepas. Namun, mengingat posisiku yang sedang


bersembunyi membuatku sekuat tenaga menahannya.


Ali memang ‘menyeramkan’. Dia bahkan mampu membuat seseorang yang kami


selalu tertunduk di depannya selama ini, sekarang bertingkah konyol.


“Ingat Pak..” Suaranya penuh penekanan. “Jika terjadi sesuatu pada Ari,


maka aku akan melakukan sesuatu yang pastinya, bapak tidak akan menyukainya.”


“Aku.. Lebih baik menghancurkan karir dan diriku sendiri daripada


melihatnya hancur!” Lanjutnya tegas.


“Baik, Bapak permisi.”


Orang itu pamit dengan terburu-buru.


Pembicaraan yang tegang itu akhirnya berakhir. Aku terburu-buru keluar


dari persembunyianku sebelum Ali menyadari keberadaanku.


Namun, langkahku kembali terhenti saat mendengar teriakan tertahan


disusul getaran di dinding. Aku kembali ke ambang pintu dan melihat sumber


suara. Aku ternganga dibuatnya.


Ali meninju dinding dengan keras. Dia bahkan melakukannya beberapa kali,


tidak peduli pada tangannya yang mulai berdarah. Gerakannya sesekali disertai


dengan teriakan kemarahan. Dia pasti mengira kalau aku sedang tidur sehingga


tidak perlu khawatir ketahuan olehku.


Ya.. Salah satu julukan Ali padaku adalah ‘seonggok mayat saat tidur’.


Saat tidur, aku tidak akan terganggu oleh suara keras sekalipun. Ali yang


jengkel saat membangunkanku terkadang harus mendorongku dari atas tempat tidur


agar terjatuh di lantai sehingga membuatku selalu sukses terbangun. Meski aku


akan bersungut-sungut kesal setelah itu, tapi dia selalu menanggapinya dengan


tawa keras.


Melihat Ali yang frustrasi seperti itu membuatku bertekad untuk melakukan


sesuatu. Aku tidak ingin, Ali mengambil keputusan yang tidak disukainya.


Apalagi jika aku yang menjadi pertimbangannya.


Meski kasihan, aku memilih meninggalkan Ali dalam kondisi itu. Jika aku


menampakkan diri saat ini, aku yakin akan membebaninya semakin jauh.


*


Aku kembali kesal saat sampai di


ujung informasi.


Ari tetap merahasiakan, siapa


‘orang itu’.

__ADS_1


__ADS_2