
Ari menarik napas berat. Hari ini,
dia telah melewati hari yang panjang saat bertemu dengan Tito’ di tempat Hakim.
Dia terlihat sangat lelah. Dia hanya melirik kertasku sekilas.
Aku tidak masalah jika dia tidak
menulis untukku malam ini. Toh, Tito’ sudah melakukannya. Informasi Tito’ sudah
lebih dari cukup bagiku untuk mengetahui kegiatannya hari ini.
Namun..
Sebelum beranjak tidur, Ari
mengambil diriku, Generasi XII dan menyelipkan secarik kertas padaku. Informasi
secarik kertas itu telah cukup menghilangkan rasa penasaranku akan keanehan Ari
dan Ali selama dua hari terakhir..
*
7 Desember 2019
Penulis: Ari
Jam 11.00 WIB, aku memutuskan untuk keluar dari kamar setelah satu jam
bergulingan di atas kasur dan tidak dapat memejamkan mata sedikit pun. Ali
pasti sudah tidur, pikirku. Akhirnya, kuseret langkahku untuk mencari udara
segar. Tujuanku adalah teras rumah.
“Ali.. Aku ingin kamu mempertahankan tambang. Biarkanlah pihak keluarga
yang mengelola tambang itu.”
Suara pelan terdengar jelas di telingaku yang berasal dari seseorang yang
sangat kuhormati selama ini sontak membuatku diam membeku di ambang pintu. Aku
sangat terkejut dengan apa yang baru saja kudengar. Aku sangat berharap bahwa
ini hanyalah mimpi.
Setelah beberapa saat, akhirnya aku dapat mengendalikan diriku. Aku
memutuskan untuk berdiri di belakang pintu dan mendengarkan semuanya. Aku
sangat yakin, kalimat tadi barulah awal dari diskusi panjang mereka kali ini.
Ali terdengar menghela napas berat.
“Apa perlu aku membangunkan Ari untuk kita diskusi bersama, Pak?”
Perkataan Ali tanpa sadar membuatku menerbitkan senyum di wajahku. Ali
sangat mempercayaiku, itu bukan omong kosong! Dia bahkan memberikan beberapa
keistimewaan padaku sejak menjabat.
Namun, yang membuatku heran, Ali mengganti panggilan untuk orang yang
sama-sama kami hormati ini. Kali ini, Ali terdengar memperlakukannya seperti
pejabat keluarga dan pemerintahan yang lain. Tidak ada lagi keistimewaan dalam
panggilan itu seperti biasanya.
Apa yang terjadi??
Ingin rasanya aku melangkahkan kaki untuk menghampiri keduanya. Namun,
perkataan orang itu kembali menahanku, bahkan membuatku memantapkan diri untuk
tidak akan pernah menemuinya lagi.
“Jangan libatkan dia kali ini, Ali. Kau sudah banyak memberikan
keistimewaan padanya. Apakah kau tidak takut jika suatu saat dia akan
menentangmu? Keistimewaan posisi yang kau berikan padanya berpotensi untuk
menentangmu suatu hari nanti!”
“Aku percaya padanya! Bahkan, jika dia ingin menggantikan posisiku
sebagai pemimpin saat ini juga, maka aku pastikan akan memberikan posisi itu
padanya!” Ali terdengar menahan amarah.
“Baiklah..” Orang itu terdengar mengalah. “Tapi.. Pembicaraan kali ini,
lebih baik dia jangan terlibat!” Katanya kembali dengan penekanan, tegas.
Memangnya kenapa? Aku kenapa? Aku bingung.
Aku baru sadar, kalau semua pujiannya padaku selama ini hanyalah
kebohongan. Kali ini, dia membuktikannya. Dia tidak mau aku terlibat dengan
sesuatu yang aku tidak tahu, sesuatu itu apa?
“Kenapa dengan Ari, Pak? Kenapa dia tidak boleh terlibat? Dia wakil
pimpinan yang kini memiliki posisi yang sama denganku dalam diskusi dan
__ADS_1
pengambilan keputusan!” Ali kembali terdengar menekan amarah.
“Itulah kesalahan fatalmu, Ali! Mengapa kamu memberikannya keistimewaan
seperti itu?!” Orang itu protes. Terdengar jelas dalam nada suaranya, kalau dia
menyalahkan dan kecewa pada Ali.
“Dia pantas mendapatkan keistimewaan itu, Pak! Tidak ada dalam keluarga
yang sangat mementingkan rakyat di atas kepentingan dirinya sendiri melebihi
dirinya!”
Ali berlebihan dalam memujiku. Justru dialah yang paling mementingkan
rakyat. Aku hanyalah pendukung yang berusaha berdiri kokoh di belakangnya. Jika
saja aku punya kesempatan, aku sangat ingin protes di hadapannya saat ini.
“Aku akan membangunkannya!” Ali berkata tegas dan mulai melangkah.
“Jika kau ingin dia selamat, maka jangan melakukannya!” Orang itu berkata
tegas namun dengan intonasi sepelan mungkin.
Sepertinya dia sangat berusaha agar aku tidak terbangun dan mendengar
semuanya. Tapi.. Kondisi saat ini jelas tidak mendukungnya. Aku mendengar
semuanya!
Ali sepertinya mengurungkan niatnya, “Apa yang akan terjadi pada Ari jika
aku memberitahukannya tentang pembicaraan di sini?”
Ali jelas marah dengan ancaman itu. Namun, terselip nada khawatir dalam
suaranya.
“Dia akan berakhir seperti Hakim!”
“Apa?!”
“Kau tahu, kan? Posisimu dan Ari di depan Dewan Penasihat sangat rentan.
Bahkan, banyak yang menentang keistimewaan yang didapatkan Ari. Mereka bisa
saja menyeretnya tanpa dapat kau cegah. Ingat, meski posisimu pemimpin
sekalipun, dengan berjibun keistimewaan posisi yang kau miliki, kau tetap bisa
dilengserkan!”
“Kenapa kalian tidak bisa mempercayai Ari?” Tanya Ali getir. Dia
“Dia seseorang yang tidak mudah dibujuk. Kelakuannya dapat mencelakakan
siapapun termasuk rakyat yang sangat diperhatikannya itu. Dia selalu melakukan
apa yang ingin dilakukannya, bahkan tanpa tahu tujuannya.” Menghela napas
berat. “Dia seperti Hakim!”
“Ari tidak pernah melakukan sesuatu tanpa pertimbangan. Dia bahkan banyak
membantuku mengambil keputusan berat. Dia selalu mendukung dan menyemangatiku.”
Kata Ali lemah.
“Karena itulah, kamu seperti kehilangan muka di depan Dewan Penasihat.”
Ali memilih diam.
“Pertahankanlah tambang di dalam keluarga, Ali. Terkait penyalahgunaan
hasil tambang, nantinya bisa kau pantau sendiri. Kamu punya posisi yang
memungkinkan untuk menghilangkan penyalahgunaan itu.”
Ali diam.
Sejujurnya, aku sangat ingin tahu, mengapa orang itu ingin sekali mempertahankan
tambang? Bukankah setiap kali kami bertemu, dia malah berdiri kokoh di depan
kami untuk mendukung keputusan menyerahkan tambang kepada pemerintah? Tapi ini?
Ingin rasanya aku melangkah mendekatinya dan bertanya alasannya, karena
Ali tidak kunjung bertanya soal itu. Yah.. Aku yakin, Ali pasti sudah tahu
jawabannya, bahkan sebelum diberitahukan padanya. Aku sangat bangga memiliki
sepupu sekaligus sahabat seperti dia. Apalagi, dia mempercayaiku untuk
membantunya selama ini.
“Hhh.. Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa aku sangat ingin kamu
mempertahankan tambang.” Menghela napas. “Kamu tahu kan, banyak sekali investor
asing yang ingin menguasai tambang itu. Mereka hanya menunggu sampai Keluarga
Husain mengembalikan tambang ke pemerintah..”
“..Jika tambang kembali ke pemerintah, kamu pasti tahu apa yang akan
terjadi bukan?”
__ADS_1
Ali tetap diam.
“Mereka akan mendapatkan kesempatan untuk menguasai milik rakyat. Mereka
hanya mementingkan keuntungan, mereka pasti akan mengambil semuanya secara
perlahan. Tidak ada lagi bagian untuk rakyat.”
Diluar dugaan, dia memaparkan sendiri alasannya. Aku tidak perlu lagi
untuk bertanya padanya dan menunjukkan diriku.
Namun, reaksi dari Ali terdengar ganjil. Dia tertawa setelah mendengar
alasan itu. Tawa itu mengandung ejekan.
Eh.. kenapa? Pikirku.
Jika aku yang berbicara dengan orang itu, maka aku pasti akan menyetujui
begitu saja. Tapi Ali? Apa yang dia ketahui?!!
Ali selalu saja menyimpan misteri. Membuatku selalu kesal, karena dia
terlalu pintar. Aku seperti pungguk merindukan bulan ketika ingin menggapainya.
“Ali..?”
Diluar dugaan, orang itu justru yang sekarang terdengar cemas.
“Baiklah.. Jika itu yang bapak inginkan. Aku akan melakukannya. Berikan
aku kesempatan, bagaimana aku membuat alasan untuk Ari dan juga kepada Dewan
Penasihat. Sepertinya Dewan Penasihat akan curiga jika aku tiba-tiba mengikuti
keinginan mereka.” Kata Ali dengan suara berat.
“Baaikk.” Orang itu gugup.
Aku hampir saja tertawa lepas. Namun, mengingat posisiku yang sedang
bersembunyi membuatku sekuat tenaga menahannya.
Ali memang ‘menyeramkan’. Dia bahkan mampu membuat seseorang yang kami
selalu tertunduk di depannya selama ini, sekarang bertingkah konyol.
“Ingat Pak..” Suaranya penuh penekanan. “Jika terjadi sesuatu pada Ari,
maka aku akan melakukan sesuatu yang pastinya, bapak tidak akan menyukainya.”
“Aku.. Lebih baik menghancurkan karir dan diriku sendiri daripada
melihatnya hancur!” Lanjutnya tegas.
“Baik, Bapak permisi.”
Orang itu pamit dengan terburu-buru.
Pembicaraan yang tegang itu akhirnya berakhir. Aku terburu-buru keluar
dari persembunyianku sebelum Ali menyadari keberadaanku.
Namun, langkahku kembali terhenti saat mendengar teriakan tertahan
disusul getaran di dinding. Aku kembali ke ambang pintu dan melihat sumber
suara. Aku ternganga dibuatnya.
Ali meninju dinding dengan keras. Dia bahkan melakukannya beberapa kali,
tidak peduli pada tangannya yang mulai berdarah. Gerakannya sesekali disertai
dengan teriakan kemarahan. Dia pasti mengira kalau aku sedang tidur sehingga
tidak perlu khawatir ketahuan olehku.
Ya.. Salah satu julukan Ali padaku adalah ‘seonggok mayat saat tidur’.
Saat tidur, aku tidak akan terganggu oleh suara keras sekalipun. Ali yang
jengkel saat membangunkanku terkadang harus mendorongku dari atas tempat tidur
agar terjatuh di lantai sehingga membuatku selalu sukses terbangun. Meski aku
akan bersungut-sungut kesal setelah itu, tapi dia selalu menanggapinya dengan
tawa keras.
Melihat Ali yang frustrasi seperti itu membuatku bertekad untuk melakukan
sesuatu. Aku tidak ingin, Ali mengambil keputusan yang tidak disukainya.
Apalagi jika aku yang menjadi pertimbangannya.
Meski kasihan, aku memilih meninggalkan Ali dalam kondisi itu. Jika aku
menampakkan diri saat ini, aku yakin akan membebaninya semakin jauh.
*
Aku kembali kesal saat sampai di
ujung informasi.
Ari tetap merahasiakan, siapa
‘orang itu’.
__ADS_1