Saksi Bisu

Saksi Bisu
Alasan


__ADS_3

“Ya.. Memang ada padaku. Dia sempat memintanya, tapi tidak kuberikan.” Tito’ berusaha rileks.


“Kenapa kamu memiliki kertas Buku Agung?” Tanya Zen penuh selidik.


“Oh..” Tito’ tersenyum kaku.


Dia terlihat berusaha keras untuk mencari alasan yang tepat.


“Oh.. Kau ingat kan, waktu aku datang ke tempat pemusnahan.” Suaranya kini terdengar ceria.


“Waktu itu kamu datang membawa Buku Agung.” Tito’ berusaha mengingatkan.


Zen mengangguk.


“Saat itu kamu menawarkan diri untuk mengawasi pemusnahan Buku Agung.”


“Benar.”


“Kertas itu kamu ambil dari Buku Agung?” tanya Zen ingin memastikan dugaannya.


Tito’ mengangguk.


“Kupikir kamu memusnahkannya!” Zen menjadi marah.


“Tenang, kawan. Aku memang memusnahkannya. Aku hanya menyisakan kortas kosongnya sebagai kenang-kenangan.”


Hufft..


Sepertinya itu alasan masuk akal. Semoga saja Zen mempercayainya. Jika dia masih curiga, aku akan berada dalam keadaan terancam.


“Kamu benar-benar telah memusnahkan isinya kan?” Kali ini Zen yang terlihat takut.


“Sudah.” Tito’ tertawa dan menepuk pundak Zen, berusaha menenangkan.


“Kalau begitu, berikan aku juga kertasnya kak.” Adi kembali meminta.


Tito’ melotot ke arahnya.


“Aku


melihat beberapa di atas cetakan. Tidak masalah kan kalau aku memiliki satu atau dua saja?”


Tito’ kembali terlihat takut.


“Kamu mengambil semua kertas kosongnya?” tanya Zen.


“Iyyaa..” Tito’ tersenyum tanpa dosa.


Zen terlihat berpikir keras.

__ADS_1


“Sebaiknya jangan digunakan. Lebih baik sembunyikan. Jika terlihat, kita berdua akan berada dalam masalah.” Zen berkata pada akhirnya dengan nada takut.


“Karena itulah, aku tidak ingin membaginya dengan siapa pun.” Kata Tito’ sambil melirik Adi.


Adi mendengus sebal.


“Adi, aku mohon jangan ceritakan soal kertas itu pada siapa pun. Oke?” Zen memohon pada Adi.


Adi mengangguk enggan.


“Lagipula buat apa diambil untuk kenang-kenangan segala. Itu bisa menjadi bukti untuk memberatkan kita berdua.” Zen melotot, menyalahkan Tito’.


“Maaf, waktu itu aku benar-benar tidak mempertimbangkan konsekuensinya.” Tito’ memasang wajah menyesal.


Zen gelisah. Aku tahu, dialah yang bertanggung jawab penuh jika misi mereka gagal.


Jika mereka ketahuan, dialah yang pertama kali akan terseret. Sedangkan Tito’, sejak awal dia terlihat eggan untuk terlibat. Karena itulah, dia tidak diberikan peran yang signifikan.


Meski demikian, dia juga akan tetap terseret


hukum jika ketahuan.


Namun, fakta bahwa Tito’ menyelamatkanku dari pemusnahan, sebenarnya lebih dari cukup untuk menghindarkan dirinya dari kasus kejahatan mereka.


“Sekarang, simpan kertas itu di tempat yang aman. Pastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya.” Pinta Zen.


“Oh.. Jadi karena itulah, Kak Tito’ selalu mengunci ruangan?”


Tito’ mengangguk.


“Baiklah, sekarang simpan kertas itu dan pastikan hanya kita bertiga yang tahu.” Zen masih gelisah.


Tito’ melangkah dengan enggan menuju ruangan.


Jika Zen ikut dan menggeledah ruangan, habislah aku.


Untunglah, HP Zen berdering sehingga mencegahnya ikut pada kami. Untuk sesaat, dia menerima panggilan telepon.


“To’ aku balik dulu ya.” Zen pamit dan terlihat gelisah.


Pasti panggilan penting, pikirku.


“Hati-hati.” Adi menyahut.


Tito’ mengangguk lega.


Aku dibawa kembali ke dalam ruangan. Tito’ kembali meletakkanku di atas cetakan.


Adi mengikut ke dalam ruangan dengan bengong.

__ADS_1


Tito’ kemudian mondar-mandir dalam ruangan dan tampak berpikir keras. Kali ini, Adi tidak usil dan bertingkah aneh. Semua teman-teman buku terlihat cemas.


Sebenarnya aku sangat berharap, Tito’ menulis sesuatu untukku. Tapi itu tidak mungkin.


Tidak, karena Adi berada di ruangan ini.


“Ada apa Emas? Sepertinya situasinya sangat rumit.” Ilmu Politik bertanya prihatin.


“Pencuriku tahu keberadaanku.” Jawabku singkat dan lemah.


Teman-teman kaget dan terlihat semakin cemas.


“Kamu akan terancam jika terus berada di sini.” Surat terdengar takut.


Aku menanggapi dengan mengangguk lemah.


“Kak, jangan khawatir. Aku tidak akan mengatakan pada siapapun.” Adi berusaha menenangkan Tito’ yang masih terlihat sangat takut.


“Adi, kau tidak ngantuk? Besok, kau harus sekolah.”


“Aisshh.. Aku bukan anak kecil lagi, yang harus diingatkan soal sekolah.” Jawab Adi ketus.


“Tetap saja, ini sudah larut malam. Kau harus tidur.”


“Aku akan menemani kakak di sini.”


Tito’ melotot.


“Aku hanya tidak mau meninggalkan kakak dalam keadaan gelisah seperti itu.” Adi terdengar prihatin.


Tito’ yang sejak tadi mondar-mandir akhirnya berhenti.


“Aku baik-baik saja.”


Tito’ kembali melotot ke arah Adi.


“Baiklah, jika kakak butuh bantuanku, bilang saja.” Adi berkata lemah sambil melangkah pergi.


Tito’ tersenyum dan mengangguk.


“Kak, aku minta maaf. Aku membuat situasinya semakin rumit bukan?” Adi kembali menoleh dan terlihat sangat menyesal.


“Bukan salahmu.” Tito’ kembali tersenyum menenangkan.


Adi akhirnya melangkah pergi.


Tito’ menuju pintu dan menguncinya. Keputusan apa yang akan dilakukannya untukku?


Aku yakin, Zen kali ini tidak akan tinggal diam sampai dia mengecek kertas kosong diriku telah tersimpan dengan aman. Dia pasti akan kemari untuk memastikannya.

__ADS_1


Jika itu terjadi, bukan hanya kertas kosong diriku yang bakal ketahuan, tapi aku secara keseluruhan. Skenario terburuknya, aku akan berakhir di pemusnahan. Kali ini tidak ada lagi yang bisa menyelamatkanku.


__ADS_2