Saksi Bisu

Saksi Bisu
Mengunjungi Hakim (1)


__ADS_3

Di ruangan Tito’


Tidak seperti biasanya, Tito’ pulang lebih awal hari ini. Dia bahkan mendatangi ruang  kerjanya ketika jam di ruangan menunjukkan pukul satu siang.


“Ada apa dengan Tito’?” Ilmu Politik bertanya dengan heran.


Kami tidak tahu. Melihat Tito’ yang terburu-buru membuat kami semua menatapnya dengan bingung.


Ada apa dengannya kali ini?


Tanpa melakukan aktivitas apapun, Tito’ langsung menuju ke arahku. Dengan terburu-buru, dia langsung menyambar dan memasukkanku ke dalam tas yang dibawanya.


“Hei!!!”


Teriakan panik teman-teman buku mengiringi langkahnya ke luar ruangan. Tentu saja, itu teriakan yang sia-sia.


Aku tidak tahu akan dibawa kemana. Tapi aku sangat yakin, perjalanan Tito’ saat ini pasti ada hubungannya denganku.


Mungkinkah dia akan membawaku ke bos pelaku kejahatan untuk meminta maaf yang sebesar-besarnya atas keteledoran yang dilakukannya?


Bos yang dekat dengan keluarga Hakim, tapi aku sama sekali tidak tahu siapa orangnya.


Ah..


Tidak mungkin!


Tito’ bukan orang yang seperti itu.


Perjalanan Tito’ kali ini membutuhkan waktu sekitar lima belas menit menggunakan mobil. Kami akhirnya berhenti di suatu tempat, entah dimana. Aku merasakan Tito’ membawaku menuju suatu tempat hanya dengan beberapa langkah.


“Identitas?” Tanya seseorang pada Tito’ dengan tegas. Suaranya mengingatkanku pada sekuriti yang bertugas di

__ADS_1


depan perpustakaan umum Keluarga Husain.


Tito’ membuka tas dan mengambil sesuatu di sana.


“Silakan.” Kata orang itu datar. Aku menduga, dia sejenis satpam di tempat ini.


Tito’ kembali berjalan beberapa langkah yang kemudian berhenti.


Aku sekarang berada di mana?


***


“Ali, aku bosan. Ke Ayah yok.” Kata Ari merajuk. Gaya bicaranya membuatku tersenyum geli. Benar-benar masih seorang anak kecil.


“Baiklah, aku juga bosan di sini. Tidak ada pekerjaan yang bisa kita lakukan.” Sahut Ali.


“Aku heran. Padahal, saat ayah menjabat dia terlihat sangat sibuk.”


Ari tertawa keras, “Kalian itu masih anak kecil. Masih ingusan! Kalian tidak tahu bagaimana mengelola pemerintahan!” Suaranya terdengar berusaha meniru suara orang dewasa.


Keduanya tertawa keras.


“Tapi, aku tahu kenapa mereka tidak mengajak kita diskusi.” Kata Ari setelah tawa mereka reda.


“Kenapa?”


“Karena kamu.” Ari berhenti sejenak. “Ali, sebagai pemimpin kamu tidak boleh seenaknya mengambil keputusan.


Kamu harus mempertimbangkan pendapat orang lain. Setidaknya, dengarkan pendapat Dewan Penasihat.” Katanya sok menggurui dengan kembali menirukan suara orang dewasa.


“Aku? Seenaknya?” Ali meladeni candaan Ari. “Sebagai pemimpin aku berhak mengambil keputusan terbaik

__ADS_1


menurutku. Kalian hanyalah pemberi masukan bagiku. Aturan memberi kebebasan untukku apakah akan menerapkannya atau tidak.”


“Tapi, kamu masih kurang pengalaman. Kami lebih tahu tentang pemerintahan.”


Ali mendengus, “Pengalaman?” Nada suaranya terdengar mengejek. “Dengan mendiskriminasi posisi wakil? Menganggapnya hanya sebagai pesuruh tanpa hak untuk bertanya ataupun protes?” Dia terdengar marah.


“Mencuri Buku Agung dan mengubah isinya? Memenjarakan seseorang dengan tuduhan palsu?” lanjutnya. “Apa


semua itu berasal dari pengalaman?”


“Ali, kau marah padaku?” Tanya Ari polos.


Hening sejenak, lalu keduanya kembali tertawa keras. Aku dan Buku Kecil saling melirik dan tersenyum. Pantas saja mereka santai.


Keputusan melibatkan wakil dalam pengambilan keputusan memang benar-benar reformasi aturan yang berani. Aku menduga, bahkan pimpinan keluarga kali ini pun akan diabaikan dalam perumusan keputusan dalam Dewan Penasihat.


“Sudahlah. Ayok, kita ke Paman Hakim.”


“Oke.” Ari menyahut dengan ceria.


Candaan mereka yang meniru suara orang dewasa akhirnya terhenti. Keduanya pergi meninggalkan ruangan.


Langkah kaki mereka terdengar semakin jauh.


***


“Selamat siang, Pak.” Sapa Tito’ pada seseorang.


“Siang.” Sahut orang itu singkat.


Suaranya sontak membuatku sangat bahagia.

__ADS_1


Siapa sangka Tito’ membawaku kepadanya?


__ADS_2