Saksi Bisu

Saksi Bisu
Tempat Baru


__ADS_3

“Apa yang Hakim tidak ketahui? Niat baik apa yang pencuriku rencanakan?” Tanyaku pada salinanku dengan penasaran.


“Kini,kau sudah aman. Sepertinya lebih baik kau mencari tahu sendiri.” Jawabnya sambil tersenyum.


Sebenarnya aku benci dengan semua teka-teki, semua ketidaktahuan. Aku ingin tahu jawabannya. Meski demikian, aku tahu bahwa kami tidak punya waktu untuk berbicara lebih lama lagi.


Aku dibawa Tito’ jauh meninggalkan tambang dengan mengendarai mobil pribadi. Kini kami memasuki kompleks perumahan Keluarga Husain.


Mungkinkah Tito’ berasal dari keluarga ini? Sepertinya bukan. Kendaraan Tito’ tetap melaju kencang meninggalkan kompleks perumahan itu.


“Akankah dia membawaku ke istana?” Pikirku saat kami melaju dengan cepat menuju sebuah gedung mewah dengan tulisan “ISTANA DAERAH” di bagian depan gedung itu.


Saat mendekati istana, kendaraan Tito’ tetap melaju dengan cepat meninggalkannya. Tito’ membawaku menuju sebelah kanan istana. Di sana terdapat kompleks perumahan dengan tulisan yang terpampang jelas di gerbangnya “Kompleks Perumahan Pejabat”.


“Tito’ adalah pejabat pemerintah?” Tanyaku pada diri sendiri sambil melirik ke arahnya.


Apa pemerintah juga terlibat dengan semua ini?

__ADS_1


Aku dibawa ke salah satu rumah mewah yang ada di kompleks itu. Sepertinya rumah Tito’. Setelah memarkir kendaraannya di garasi, Tito’ kemudian membawaku ke sebuah ruangan di rumah itu.


Saat memasuki ruangan, aku mengedarkan pandanganku kesekeliling ruangan itu, hal alami yang dilakukan siapa


saja saat berada di tempat asing.


Di sana terdapat tiga rak yang dipenuhi buku yang tersusun dengan rapi, yang masing-masing diletakkan bersandar pada tembok ruangan. Pada sisi ruangan tanpa rak terdapat meja dan kursi yang letaknya berada si dekat jendela. Di atasnya terdapat seperangkat komputer. Terdapat mesin cetak di dekat meja tersebut.


Ini ruang kerja, pikirku.


Stempelnya persis sama dengan stempel yang sering dibubuhi pada draft tulisan generasi penerus keluarga Husain. Stempel yang menandakan persetujuan dari pihak pemerintah sebelum draft tulisan itu dipindahkan padaku.


Apa jabatan Tito’ dalam pemerintahan?


Tumpukan surat itu dikeluarkan Tito’ dari laci. Setelah kosong, Tito’ meletakkanku dengan hati-hati di laci itu. Tumpukan surat tadi mengambil alih posisiku di dalam kardus. Laci tempatku berada kemudian dikunci oleh Tito’.


“Bukankah kita semua berkas penting? Mengapa kita dipindahkan ke kardus?” Aku mendengar gerutuan dari salah satu surat itu yang sepertinya dibenarkan yang lain.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum mendengarkan. Tito’ sepertinya beranjak meninggalkan ruangan ini. Aku hanya bisa mendengarkan bisikan-bisikan buku di ruangan yang penasaran tentangku. Aku bisa saja menanggapi mereka. Tapi aku memilih diam.


Peristiwa apa yang menungguku selanjutnya?


Pertanyaan itulah yang membuatku khawatir.


Aku tidak tahu berapa lama aku terdiam di dalam laci hingga Tito’ kembali ke ruangan ini menemuiku. Saat membuka laci tempatku, sejenak dia terlihat tertegun sebelum akhirnya mengambil bagian diriku yang berisi sejarah generasi penerus saat ini, Hakim.


Dia kemudian menyandarkan dirinya di kursi sambil mengamatiku. Perlahan dia membuka dan membaca informasi di dalamku dengan cepat hingga tiba pada tulisan terakhir Hakim.


2 Oktober 2019


Sesuai perjanjian, tahun ini merupakan tahun terakhir keluarga Husain berkewajiban mengelola tambang. Tiga bulan dari sekarang, tambang sudah harus kembali kepada pemiliknya. Pemerintah harus mengambil alih kembali milik masyarakat untuk dikelola.


Sebagai generasi penerus keluarga, aku (Hakim) akan memastikan tambang itu kembali kepada pemiliknya.


“Hhh...” Hembusan napasnya terdengar berat setelah membaca tulisan itu.

__ADS_1


__ADS_2