Saksi Bisu

Saksi Bisu
Selamat


__ADS_3

“Pak Kasim, tolong jangan musnahkan buku ini.” Pernyataan Tito’ yang tiba-tiba membuat percakapan kami terhenti.


Kami kaget dan bingung.


Aku jangan dimusnahkan?


Mengapa?


Apa pula yang direncanakan Tito’?


“Apa bapak tahu, ini buku apa?” Tanyanya pada Pak Kasim. Yang ditanya menggeleng bingung.


“Hm.. tentu saja bapak tidak tahu.” Gumamnya seakan ditujukan untuk dirinya sendiri.


“Kenapa bukunya tidak dimusnahkan pak? Zen bilang untuk dimusnahkan karena perintah dari bos.”


“Apa Pak kasim tahu, bos siapa yang dia maksud?” Tanyanya pada Pak Kasim sambil tersenyum.


“Bos.. Bos Hakim?” Pak Kasim menjawab sekenanya. Dia bingung.


“Hehe.. Akankah dia memerintahkan untuk memusnahkan buku tersayangnya?”


“Buku ini punya Pak Hakim?”


“Ya, beliau bahkan tidak tahu bukunya ini sekarang ada dimana.”


“Kalau buku tersayang harusnya dia menjaganya kan? Dan bakal dicari jika tak dia temukan.” Logika Pak Kasim.


“Iya, kecuali jika beliau tidak sadar kalau bukunya diganti.” Jawab Tito’ yang membuat Pak Kasim terlihat kaget.

__ADS_1


“Diganti? Memangnya buku ini, buku apa?”


“Buku sejarah keluarga.”


Jawaban singkat Tito’ membuatnya semakin kaget. Sepertinya dia tahu tentang buku sejarah keluarga. Hanya saja, baru kali ini dia melihatku. Dengan tangan gemetar, dia mulai meraih dan membaca salah satu bagian diriku.


“Buku sejarah keluarga yang dimaksud selama ini, ternyata ini.” Katanya terduduk lemas.


Tito’ mengangguk dan tersenyum.


“Buku ini memiliki rekam jejak keluarga. Harusnya tidak dimusnahkan. Lagipula bukunya tidak rusak.” Pak Kasim bergumam pelan.


“Karena itu, aku mohon Pak Kasim jangan memusnahkannya.”


“Tapi, kenapa bukunya diganti kalau masih bagus begini? Lagipula dengan bahan kuat seperti ini, bukunya tidak bakal rusak.” Pak Kasim bingung.


“Bukunya diganti,karena isinya juga sekalian diganti.”


“Apa mereka berencana menutupi sejarah keluarga?” Tanya Pak Kasim tidak percaya.


“Ya, sekalian membuat sejarah baru.”


Pak Kasim terperangah. Dia hanya duduk dan tidak mampu berkata apa-apa.


“Sejarah baru apa yang mereka buat?” Setelah sejenak berlalu, Pak Kasim akhirnya bertanya.


“Bapak amati sajalah. Biar generasi penerus yang mengungkapnya.”


Pak Kasim kecewa karena dilanda rasa penasaran. Sebenarnya,aku sangat ingin Tito’ mengungkap niat pencuriku.

__ADS_1


Bukankah dia juga terlibat? Setidaknya dia tahu lebih banyak.


“Mungkin sebaiknya aku beritahu Pak Hakim soal ini.” Setelah beberapa saat berlalu, Pak Kasim akhirnya angkat bicara.


“Jangan!” Cegah Tito’ hampir berteriak.


“Mengapa? Bukankah sebaiknya beliau tahu?”


“Jika beliau tahu, maka kondisinya akan semakin buruk.”


Pak Kasim hanya memandangi Tito’ dengan penuh pertanyaan. Aku pun tidak tahu, kondisi buruk apa yang akan terjadi jika Hakim tahu soal ini.


“Pak Kasim, bisakah kau percayakan padaku buku itu?” Kata Tito’ memohon.


Dia ingin mengambilku?


Untuk apa?


“Aku janji akan menjaganya dengan baik. Setidaknya sejarah yang benar tidak hilang begitu saja. Akan tiba saatnya kebenaran akan terungkap di tangan orang-orang yang pantas.”


“Apa yang akan kukatakan jika mereka bertanya padaku soal buku itu?” Tanya Pak Kasim dengan nada yang tak dapat menyembunyikan ketakutannya.


“Katakan saja kalau bapak telah memusnahkannya.”


“Kalau begitu.. Ambillah.” Kata Pak Kasim enggan setelah berpikir sejenak.


Tanpa membuang waktu, Tito’ kembali mengangkatku. Entah, aku akan dibawa kemana. Aku sepertinya bisa sedikit bernapas lega. Meski aku belum tahu nasibku ke depannya, setidaknya aku aman dari pemusnahan.


Tunggu..

__ADS_1


Salinanku tadi sepertinya ingin mengatakan sesuatu..


__ADS_2