
Kami berdiam diri di tempat yang belum kami kenali hingga pagi. Pelaku yang membawa kami tidak menyerahkan kami kepada siapapun. Aku takut, kalau aku ditemukan oleh orang yang memang bertujuan untuk menghancurkanku.
Sebenarnya aku sangat penasaran, di pihak siapa pelaku yang membawaku dari rumah Tito’?
“Apa ini?” Suara seseorang yang kukenal terdengar mendekat.
“Ada apa, Ari?” Seorang lagi terdengar muncul.
Aku tahu, itu Ali.
Mendengar suara mereka membuatku sangat senang. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan mereka lagi. Sekarang, semua bebanku terasa sirna. Rasa kesalku terhadap orang misterius semalam terhapus sudah. Aku justru sangat ingin berterima kasih padanya.
“Ada sebuah paket.” Kata Ari.
“Siapa yang membawanya?”
“Aku tidak tahu. Paket ini sudah ada saat aku membuka pintu.”
Aku merasa dus tempat diriku berada sedang diraba oleh sepasang tangan kecil, “Tidak ada pesan apapun.”
“Kira-kira isinya apa ya?” Ari terdengar penasaran.
“Entahlah. Bawa masuk saja dulu.” Kata Ali.
Kurasakan dua pasang tangan kecil mulai mengangkat kami.
“Berat ya.” Kata Ari yang napasnya mulai terdengar memburu.
Aku tersenyum mendengarnya.
“Iya. Ayo letakkan saja di lantai sebelah sana.”
“Paketnya unik ya.” Kata Ari dengan napas memburu setelah meletakkan kami di lantai.
__ADS_1
“Iya, kenapa mesti pakai penutup kain segala?”
“Entahlah, coba dibuka.”
“Hm.. Aku yakin, paket ini dari seorang penggemarmu.” Canda Ari.
“Penggemar apaan?” Ali ketus.
Ari menanggapi dengan tawa.
“Kainnya lumayan tebal.” Kata Ali yang mulai melepaskan perekat pada kain itu.
“Kenapa mesti pakai kain ya?” Ari terdengar penasaran, “paket biasanya pakai kertas kado.”
Kain yang menutupi pandanganku mulai terangkat. Aku melihat sepasang pandangan mata terkejut saat kain itu telah berpindah tempat.
“Kenapa, Ali?” Ari yang terdengar heran bertanya, “Apa isinya?”
Ali tidak berkata apapun. Dia masih memperlihatkan raut wajah terkejut. Didorong rasa penasaran, Ari menghampiri kami. Raut wajah riang yang ditunjukkannya sebelum melihatku berubah seketika. Selang beberapa saat, dia tidak mampu berkata apapun.
Aku melihat Buku Kecil yang sejak dini hari tadi diam saja. Dia balas menatapku dengan tersenyum lemah, “Kali ini, kamu tidak perlu khawatir lagi.” Buku Kecil menunduk sedih, ”kamu telah kembali kepada pemilikmu yang sah.”
Aku mengangguk. Aku tahu penyebab Buku Kecil terlihat sedih. Peristiwa ini membuatnya kehilangan fungsi utamanya. Aku yakin, dia pasti merindukan Tito’ seperti halnya saat aku merindukan Hakim ketika aku dicuri.
Kedua generasi penerus keluarga itu celingukan ke arah luar. Aku yakin, mereka mencari pengirim paket yang berisi diriku. Dari reaksi mereka, aku yakin mereka mengenalku.
Ekspresi terkejut bercampur bingung menghiasi wajah keduanya.
“Ayo kita periksa di ruang kerja.” Ajak Ali.
Keduanya kembali mengangkatku menuju sebuah ruangan.
Pelaku yang membawaku dari rumah Tito’ meletakkanku di depan rumah dinas pemimpin keluarga.
__ADS_1
Menurut peraturan keluarga yang tertulis pada diriku, yang dibuat oleh pemimpin generasi pertama mengatakan bahwa, pemimpin keluarga menempati rumah khusus yang bertujuan untuk memudahkan seluruh pelaksanaan tugasnya.
Telah berlalu dua belas orang pemimpin keluarga yang telah menempati rumah itu. Ali adalah pemimpin yang ke tiga belas yang sekarang menempati rumah khusus.
Peraturan tersebut sekali lagi meremehkan posisi wakil. Peraturan keluarga hanya memberikan sebuah ruang kerja bagi wakil pimpinan keluarga. Letaknya berada di gedung yang sama dengan perpustakaan umum. Tepat di sebelah barat rumah dinas pimpinan.
Letak yang dapat dianggap sebagai bentuk diskriminasi dan terlihat kurang penting jika melihat posisinya yang jauh dari pusat pemerintahan keluarga.
Kekuasaan tertinggi dalam keluarga adalah Rapat Dewan Penasihat. Ruang rapat Dewan Penasihat berdekatan dengan rumah dinas pimpinan, sebelah timur.
Keputusan Rapat Dewan Penasihat adalah peraturan mutlak. Karena itulah, ruang Rapat Dewan Penasihat sering disebut sebagai pusat pemerintahan keluarga.
Keberadaan Ari di rumah dinas ini membuatku kembali menyadari satu hal, peraturan keluarga yang mendiskriminasi wakil telah terhapus.
Aku memandang sosok keduanya yang tengah memindahkan kami ke ruangan dengan bangga. Meski dengan tubuh yang kecil serta fisik yang masih lemah, mereka bukanlah anak yang bisa diremehkan.
“Mereka membuatnya benar-benar mirip ya?” Ali melihat kepadaku dan Buku Agung yang baru dengan seksama.
“BukuAgung penggantimu berada di sini?” Buku Kecil terlihat heran.
Aku pun tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini.
“Bukankah Buku Agung itu dirahasiakan?” Tanyanya lagi.
“Iya.” Jawabku singkat.
Aku pun tidak tahu alasannya. Kehadiran Buku Agung di ruangan yang selalu dijadikan tempat pertemuan penting dengan pimpinan keluarga seakan-akan mengisyaratkan sesuatu,
Buku Agung dipamerkan.
Mungkinkah?
“Coba diperiksa.” Kata Ari.
__ADS_1
Mereka mengambil dan membaca informasiku.