Saksi Bisu

Saksi Bisu
Buku Kecil


__ADS_3

Sebuah buku catatan kecil diletakkan di atas meja malam ini oleh Tito’. Tito’ langsung meninggalkan ruangan setelahnya.


Sepertinya dia tidak akan menuliskan kisah untukku kali ini.


“Tumben Tito’ tidak ‘menyapamu’, Cuek.” Ilmu Politik masih saja iseng.


“Sepertinya sudah ada penggantimu.” Surat memanasi sambil melirik ke arah buku catatan kecil.


Buku catatan kecil hanya diam tak menanggapi.


Aku tersenyum, satu lagi pendatang baru generasi ‘cuek’. Mukanya muram seperti dirundung masalah. Aku menjadi penasaran dengan informasinya.


“Hai..” Pertama kalinya aku menyapa di ruangan.


Si Buku Kecil diam.


Aku menjadi kesal.


“Bagaimana kedudukanmu di mata Tito’?” Pertanyaanku membuat raut mukanya semakin sedih.


Dia tetap diam.


Aku menjadi gemas.


“Ada masalah apa?” Tanyaku tidak menyerah.


Diam.


Tawa keras memenuhi ruangan. Tawa ejekan yang ditujukan sebagai pembalasan untukku.

__ADS_1


Aku menjadi sadar, bagaimana rasanya diabaikan.


“Sepertinya kamu sudah punya teman, ‘Cuek’.” Seloroh Ilmu Politik yang terdengar seperti ejekan.


“Ya, teman diam-diaman.” Tambah si Surat yang membuat mereka kembali tertawa keras.


“Jika mereka berteman, aku penasaran bagaimana mereka berkomunikasi.” Ilmu Politik kembali memancing.


Aku baru sadar, dia ternyata sangat cerewet. Sangat berbeda dengan informasi yang ditampungnya. Informasi yang senantiasa berwibawa itu.


“Cukup dengan saling memandang. Melihat raut muka masing-masing lalu di dalam hati berkata ‘aku sudah tahu’ sambil mengangguk-angguk.” Komentar Ilmu Sosial sambil memeragakan membuat tawa semakin keras di ruangan itu.


Buku kecil tetap diam.


Aku seperti melihat cerminan diriku beberapa hari terakhir. Meski dia cuek, entah mengapa aku tidak ingin mengabaikannya.


“Kamu kenapa?” Tanyaku simpati.


“Apa Tito’ sedang ada masalah?” Aku terus berusaha.


“Apa dia mengabaikanmu?”


Aku berusaha memancingnya dengan pertanyaan yang jika ditujukan padaku, aku yakin akan menjawabnya.


Namun..


Dia tetap diam.


Aku menjadi kesal.

__ADS_1


Bagaimana menghibur seseorang yang punya masalah jika dia sendiri tidak ingin berbagi masalah?


“Aku baru tahu kalau kau sangat peduli, Cuek.” Ilmu Politik terdengar bersimpati.


“Sudahlah, dia pasti cerita jika dia mau.” Surat ikut berkomentar.


Semoga, harapku.


***


Si Buku Kecil selalu menyertai perjalanan Tito’. Tito’ selalu membawanya kemana pun dia pergi. Sudah tiga hari berlalu Tito’ tidak menuliskan apapun padaku.


Tentu saja aku sangat penasaran.


Apa yang dilakukannya di luar sana?


Meski tak pernah menulis untukku, Tito tetap mendatangi ruangan setiap hari, menyimpan si Buku Kecil.


Aku selalu bertanya kepada si Buku Kecil tentang Tito’ tiap kali dia pulang dan ditempatkan oleh Tito’ di meja.


Namun seperti biasanya, dia tetap diam. Raut mukanya tetap memperlihatkan kesedihan. Entah bagaimana aku berkomunikasi dengannya?


***


Malam ini, Tito’ menghampiri komputer dan membuka file yang ditujukan untukku. Setelah beberapa hari berlalu akhirnya ia memiliki informasi untukku. Dia menulis untukku dengan bantuan si Buku Kecil.


Dugaanku benar, si Buku Kecil berisi catatan harian Tito’. Dialah yang merekam banyak informasi di luar sana.


Sungguh, aku sangat ingin akrab dengannya. Aku ingin mengetahui perkembangan setiap waktu.

__ADS_1


Namun, hingga hari ini aku belum menemukan cara untuk dekat dengannya. Sepertinya, dia juga memiliki masalah yang rumit.


Menilik sikapnya yang sebelas dua belas denganku. Aku yakin, dia tidak akan pernah bercerita tentang dirinya. Membayangkan hal itu membuatku semakin gemas karena penasaran tentangnya.


__ADS_2