
Ali memasuki ruangannya hari ini
dengan wajah tegang. Baru kali ini, wajah polosnya terlihat setegang itu.
Terdapat raut kesal sekaligus cemas di wajah itu.
Mungkinkah karena Rapat Keluarga
hari ini?
Ahh..
Bagaimana dengan Ari?
Berhasilkah dia dengan rencananya
bersama Tito’?
Tanpa melepas penat, Ali berjalan
menuju meja kerjanya dan mulai mengaktifkan komputer. Di antara semua generasi
penerus, dialah yang paling disiplin soal penulisan sejarah. Dia tidak pernah
membuatku menunggu dan harap-harap cemas, apakah akan berbagi informasi
denganku atau tidak.
Ali mulai mengetik..
*
9 Desember 2019
Penulis: Ali
Hari ini, Rapat Keluarga kembali berlangsung. Rapat lanjutan untuk
mengambil keputusan penting. Keputusan untuk mempertahankan tambang untuk
dikelola keluarga atau dikembalikan kepada pemerintah.
Aku merasakan beban berat di pundakku saat melangkah memasuki ruang
rapat. Aku sangat berharap, rapat kali ini dapat berlangsung lancar dan sesuai
keinginanku. Sebagai pengambil keputusan, aku tahu, aku tidak boleh egois.
Tapi..
Aku justru sudah berniat egois bahkan sebelum kedua kakiku sempurna
memasuki ruang rapat itu.
Ari menyambut kedatanganku dengan senyum lebar. Kali ini, dia datang
lebih awal. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, tapi dia memilih untuk
berangkat lebih cepat dariku.
Melihat senyum dan wajah riangnya membuatku merasa sangat bersalah. Tapi
aku sedang dihadapkan pada dilema yang sangat sulit. Di wajahku menampakkan
senyum hangat untuknya, meski dalam hatiku aku menangis dan ingin sekali
mengucap kata, maaf.
Rapat dibuka secara formal seperti biasanya. Semua anggota Dewan
Penasihat memberikan masukan dengan antusias. Kupandangi semua wajah-wajah
Dewan Penasihat dalam diam. Mereka semua terlihat bersemangat tanpa beban.
Aku yakin, mereka pasti sudah tahu bahwa keputusan rapat kali ini akan
mendukung keinginan mereka. Memikirkan hal itu membuatku tanpa sadar menggeram
kesal.
Semua Dewan Penasihat pihak keluarga telah memberi masukan. Seperti yang
diduga, keputusan mereka sama, ingin mempertahankan tambang di pihak keluarga.
Kini, giliran Dewan Penasihat pihak pemerintah angkat bicara. Jika
ketiganya setuju untuk mendukung keluarga, maka keputusan akhir hanya berada di
tanganku dan Ari. Jika aku setuju untuk mempertahankan, maka itulah keputusan
final tanpa dapat digugat lagi.
Namun, jika satu saja dari pihak pemerintah meminta untuk mengembalikan
__ADS_1
tambang. Maka itu sudah cukup untuk membuat rapat kembali berjalan alot hingga
seorang itu setuju dengan pendapat mayoritas atau sebaliknya.
Perlu diingat, suara dari pihak pemerintah sangat berpengaruh. Jatah
suara untuk mereka dalam aturan lama sebanyak 20%, Dewan Penasihat pihak
keluarga 20% dan pemimpin keluarga 60%.
Namun, aku membuat aturan baru terkait jatah suara. Aku memberikan 30%
jatahku untuk Ari sebagai wakilku. Banyak yang protes keras dengan keputusanku
itu. Tapi, aku memilih untuk bertahan.
35% suara di daerah kami sudah cukup untuk menjadi pertimbangan. Meski
tidak bisa dimenangkan karena jumlahnya bahkan tidak mencapai ½ dari suara.
Namun, mereka berhak untuk menyampaikan alasannya secara terperinci. Jika,
alasannya masuk akal dan lebih bermanfaat daripada suara mayoritas, maka tidak
menutup kemungkinan untuk diambil menjadi keputusan final.
Yaa.. Daerah kami bukan daerah demokrasi yang mencomot pendapat mayoritas
begitu saja tanpa melihat maslahat.
Namun, suara pemimpin di daerah kami adalah suara mutlak. Pemimpin
memiliki keistimewaan tersendiri. Tidak ada yang boleh membantah saat pemimpin
sudah mengambil keputusan. Karena itu, seorang yang menjadi pemimpin haruslah
benar-benar dapat dipercaya dan tidak memiliki ambisi untuk dirinya sendiri.
Yang terpenting..
Di daerah kami..
Pemimpin diktator sebisa mungkin untuk dihindari.
Ya.. Suara 60% sangat mengistimewakan seorang pemimpin.
Hingga aku datang mengubah aturan itu..!
Dua Dewan Penasihat dari pihak pemerintah berpendapat yang sama,
sudah memprediksi hal ini. Melihat hal itu membuatku tanpa sadar menerbitkan
senyum.
Sejauh ini, rapat berjalan sesuai keinginanku..
Namun, senyumku langsung pudar saat pandanganku tertuju pada Ari. Ari
juga sedang menatapku. Entah sejak kapan dia melakukan itu. Sorot matanya
datar. Dia sepertinya mengerti apa yang sedang kupikirkan. Menyadari hal itu
membuatku kembali merasa bersalah.
Kini, giliran Kak Tito’ menyampaikan pendapat. Aku belum dapat
memprediksi pendapat Kak Tito’. Dia memang terlihat mendukung kami selama ini.
Namun, tidak dapat dipungkiri dia juga ikut terlibat dalam pencurian Buku
Agung. Jika dia ingin selamat, maka seharusnya dia berpendapat sama dengan
Dewan Penasihat yang lain.
Hanya Ari yang aku yakin akan menentangku. Seperti itulah semangatnya, selalu
kokoh dengan pendapat yang menurutnya membawa maslahat untuk rakyat.
Aku tahu, aku tidak perlu mengkhawatirkan Ari. Dia tidak akan bisa
menentangku dengan suara 30% miliknya. Suara 30% belum cukup untuk dijadikan
pertimbangan. Kecuali, jika Kak Tito’ membantunya.
“Terima kasih banyak atas kesempatan yang telah diberikan kepadaku.”
Kalimat pembuka dari Kak Tito’.
Semua pandangan Dewan Penasihat yang lain sempurna tertuju ke arahnya.
Mereka semua tahu, suara Kak Tito’ adalah penentu kali ini. Karena mereka sudah
tahu kalau aku sudah di setting, aku
__ADS_1
pasti akan memilih untuk mendukung mereka. Memikirkan hal itu membuatku kembali kesal.
“Aku sangat menghargai pendapat seluruh Dewan Penasihat.” Kak Tito’
mengedarkan pandangannya kepada seluruh peserta rapat. Pandangan itu dibalas
dengan senyum lebar oleh seluruh Dewan Penasihat.
“Aku yakin, Dewan Penasihat pasti berusaha keras untuk memberikan
pendapat yang akan membawa maslahat untuk rakyat.”
Senyum lebar Dewan Penasihat berubah menjadi kecut.
Hahaha..
Tawa keras Ari membuatku terkejut. Suasana mencekam bagi Dewan Penasihat
teralihkan olehnya. Aku refleks memukul pahanya di bawah meja.
Dia ini!
Selalu saja lupa kalau kita sedang berada di ‘ruang suci’.
“Adapun pendapat dariku..” Tatapannya sekali lagi menyapu seluruh
peserta, “Aku ingin tambang dikembalikan kepada pemerintah.”
Apa?!
Protes keras membahana memenuhi langit-langit ruangan. Banyak dari Dewan
Penasihat yang bahkan refreks berdiri karena terkejut. Semua ini di luar dugaan
mereka.
Harus kuakui, aku ikut cemas dan takut. Sekilas kulirik wajah Ari yang
terlihat senang. Dia sedang puas.
Apakah dia tahu bahaya yang akan mengancamnya jika dia ikut menentang?
Pendapat Kak Tito’ benar-benar di luar dugaanku. Satu sisi, aku salut
pada keputusannya. Namun, di sisi lain, aku takut akan bahaya yang akan
ditimpakan padanya. Dan itu pasti akan terjadi!
Kini, aku tidak hanya mencemaskan Ari..
Tapi Kak Tito’ juga..
“Kenapa, To’?” Kak Zen tidak dapat menguasai amarahnya. Dia protes.
Sebagai sahabat Kak Tito’, dia juga terlihat cemas.
Namun, Kak Tito’ hanya membalas dengan tersenyum lebar. Sama sekali tidak
berniat untuk mengubah pendapatnya.
Kini giliran Ari.
Senyum dari semua Dewan Penasihat telah memudar sejak tadi. Mereka tahu,
Ari pasti akan ikut menentang.
Benar saja..
Ari berpendapat sama dengan Kak Tito’. Dia bahkan sama sekali tidak cemas
dengan dirinya. Lihatlah, dia menyampaikan pendapatnya dengan wajah riangnya
seperti biasa.
Aku meremas kedua lututku dengan pasrah. Aku telah gagal melindungi Ari.
Pendapat Ari dan Kak Tito’ cukup untuk dijadikan pertimbangan. Alasan
yang mereka kemukakan juga sangat masuk akal.
Dewan Penasihat dan bahkan aku sekalipun tidak berkutik untuk menampik
pendapat keduanya.
Tentu saja aku tidak bisa membantah keduanya. Toh, pendapat mereka berdua
sebenarnya sama dengan pendapatku.
Kalau saja aku tidak diancam..
Rapat akhirnya berjalan alot dan berakhir tanpa keputusan..
*
__ADS_1
Hufftt..