Saksi Bisu

Saksi Bisu
Rapat Keluarga


__ADS_3

Ali memasuki ruangannya hari ini


dengan wajah tegang. Baru kali ini, wajah polosnya terlihat setegang itu.


Terdapat raut kesal sekaligus cemas di wajah itu.


Mungkinkah karena Rapat Keluarga


hari ini?


Ahh..


Bagaimana dengan Ari?


Berhasilkah dia dengan rencananya


bersama Tito’?


Tanpa melepas penat, Ali berjalan


menuju meja kerjanya dan mulai mengaktifkan komputer. Di antara semua generasi


penerus, dialah yang paling disiplin soal penulisan sejarah. Dia tidak pernah


membuatku menunggu dan harap-harap cemas, apakah akan berbagi informasi


denganku atau tidak.


Ali mulai mengetik..


*


9 Desember 2019


Penulis: Ali


Hari ini, Rapat Keluarga kembali berlangsung. Rapat lanjutan untuk


mengambil keputusan penting. Keputusan untuk mempertahankan tambang untuk


dikelola keluarga atau dikembalikan kepada pemerintah.


Aku merasakan beban berat di pundakku saat melangkah memasuki ruang


rapat. Aku sangat berharap, rapat kali ini dapat berlangsung lancar dan sesuai


keinginanku. Sebagai pengambil keputusan, aku tahu, aku tidak boleh egois.


Tapi..


Aku justru sudah berniat egois bahkan sebelum kedua kakiku sempurna


memasuki ruang rapat itu.


Ari menyambut kedatanganku dengan senyum lebar. Kali ini, dia datang


lebih awal. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, tapi dia memilih untuk


berangkat lebih cepat dariku.


Melihat senyum dan wajah riangnya membuatku merasa sangat bersalah. Tapi


aku sedang dihadapkan pada dilema yang sangat sulit. Di wajahku menampakkan


senyum hangat untuknya, meski dalam hatiku aku menangis dan ingin sekali


mengucap kata, maaf.


Rapat dibuka secara formal seperti biasanya. Semua anggota Dewan


Penasihat memberikan masukan dengan antusias. Kupandangi semua wajah-wajah


Dewan Penasihat dalam diam. Mereka semua terlihat bersemangat tanpa beban.


Aku yakin, mereka pasti sudah tahu bahwa keputusan rapat kali ini akan


mendukung keinginan mereka. Memikirkan hal itu membuatku tanpa sadar menggeram


kesal.


Semua Dewan Penasihat pihak keluarga telah memberi masukan. Seperti yang


diduga, keputusan mereka sama, ingin mempertahankan tambang di pihak keluarga.


Kini, giliran Dewan Penasihat pihak pemerintah angkat bicara. Jika


ketiganya setuju untuk mendukung keluarga, maka keputusan akhir hanya berada di


tanganku dan Ari. Jika aku setuju untuk mempertahankan, maka itulah keputusan


final tanpa dapat digugat lagi.


Namun, jika satu saja dari pihak pemerintah meminta untuk mengembalikan

__ADS_1


tambang. Maka itu sudah cukup untuk membuat rapat kembali berjalan alot hingga


seorang itu setuju dengan pendapat mayoritas atau sebaliknya.


Perlu diingat, suara dari pihak pemerintah sangat berpengaruh. Jatah


suara untuk mereka dalam aturan lama sebanyak 20%, Dewan Penasihat pihak


keluarga 20% dan pemimpin keluarga 60%.


Namun, aku membuat aturan baru terkait jatah suara. Aku memberikan 30%


jatahku untuk Ari sebagai wakilku. Banyak yang protes keras dengan keputusanku


itu. Tapi, aku memilih untuk bertahan.


35% suara di daerah kami sudah cukup untuk menjadi pertimbangan. Meski


tidak bisa dimenangkan karena jumlahnya bahkan tidak mencapai ½ dari suara.


Namun, mereka berhak untuk menyampaikan alasannya secara terperinci. Jika,


alasannya masuk akal dan lebih bermanfaat daripada suara mayoritas, maka tidak


menutup kemungkinan untuk diambil menjadi keputusan final.


Yaa.. Daerah kami bukan daerah demokrasi yang mencomot pendapat mayoritas


begitu saja tanpa melihat maslahat.


Namun, suara pemimpin di daerah kami adalah suara mutlak. Pemimpin


memiliki keistimewaan tersendiri. Tidak ada yang boleh membantah saat pemimpin


sudah mengambil keputusan. Karena itu, seorang yang menjadi pemimpin haruslah


benar-benar dapat dipercaya dan tidak memiliki ambisi untuk dirinya sendiri.


Yang terpenting..


Di daerah kami..


Pemimpin diktator sebisa mungkin untuk dihindari.


Ya.. Suara 60% sangat mengistimewakan seorang pemimpin.


Hingga aku datang mengubah aturan itu..!


Dua Dewan Penasihat dari pihak pemerintah berpendapat yang sama,


sudah memprediksi hal ini. Melihat hal itu membuatku tanpa sadar menerbitkan


senyum.


Sejauh ini, rapat berjalan sesuai keinginanku..


Namun, senyumku langsung pudar saat pandanganku tertuju pada Ari. Ari


juga sedang menatapku. Entah sejak kapan dia melakukan itu. Sorot matanya


datar. Dia sepertinya mengerti apa yang sedang kupikirkan. Menyadari hal itu


membuatku kembali merasa bersalah.


Kini, giliran Kak Tito’ menyampaikan pendapat. Aku belum dapat


memprediksi pendapat Kak Tito’. Dia memang terlihat mendukung kami selama ini.


Namun, tidak dapat dipungkiri dia juga ikut terlibat dalam pencurian Buku


Agung. Jika dia ingin selamat, maka seharusnya dia berpendapat sama dengan


Dewan Penasihat yang lain.


Hanya Ari yang aku yakin akan menentangku. Seperti itulah semangatnya, selalu


kokoh dengan pendapat yang menurutnya membawa maslahat untuk rakyat.


Aku tahu, aku tidak perlu mengkhawatirkan Ari. Dia tidak akan bisa


menentangku dengan suara 30% miliknya. Suara 30% belum cukup untuk dijadikan


pertimbangan. Kecuali, jika Kak Tito’ membantunya.


“Terima kasih banyak atas kesempatan yang telah diberikan kepadaku.”


Kalimat pembuka dari Kak Tito’.


Semua pandangan Dewan Penasihat yang lain sempurna tertuju ke arahnya.


Mereka semua tahu, suara Kak Tito’ adalah penentu kali ini. Karena mereka sudah


tahu kalau aku sudah di setting, aku

__ADS_1


pasti akan memilih untuk mendukung mereka. Memikirkan hal itu membuatku kembali kesal.


“Aku sangat menghargai pendapat seluruh Dewan Penasihat.” Kak Tito’


mengedarkan pandangannya kepada seluruh peserta rapat. Pandangan itu dibalas


dengan senyum lebar oleh seluruh Dewan Penasihat.


“Aku yakin, Dewan Penasihat pasti berusaha keras untuk memberikan


pendapat yang akan membawa maslahat untuk rakyat.”


Senyum lebar Dewan Penasihat berubah menjadi kecut.


Hahaha..


Tawa keras Ari membuatku terkejut. Suasana mencekam bagi Dewan Penasihat


teralihkan olehnya. Aku refleks memukul pahanya di bawah meja.


Dia ini!


Selalu saja lupa kalau kita sedang berada di ‘ruang suci’.


“Adapun pendapat dariku..” Tatapannya sekali lagi menyapu seluruh


peserta, “Aku ingin tambang dikembalikan kepada pemerintah.”


Apa?!


Protes keras membahana memenuhi langit-langit ruangan. Banyak dari Dewan


Penasihat yang bahkan refreks berdiri karena terkejut. Semua ini di luar dugaan


mereka.


Harus kuakui, aku ikut cemas dan takut. Sekilas kulirik wajah Ari yang


terlihat senang. Dia sedang puas.


Apakah dia tahu bahaya yang akan mengancamnya jika dia ikut menentang?


Pendapat Kak Tito’ benar-benar di luar dugaanku. Satu sisi, aku salut


pada keputusannya. Namun, di sisi lain, aku takut akan bahaya yang akan


ditimpakan padanya. Dan itu pasti akan terjadi!


Kini, aku tidak hanya mencemaskan Ari..


Tapi Kak Tito’ juga..


“Kenapa, To’?” Kak Zen tidak dapat menguasai amarahnya. Dia protes.


Sebagai sahabat Kak Tito’, dia juga terlihat cemas.


Namun, Kak Tito’ hanya membalas dengan tersenyum lebar. Sama sekali tidak


berniat untuk mengubah pendapatnya.


Kini giliran Ari.


Senyum dari semua Dewan Penasihat telah memudar sejak tadi. Mereka tahu,


Ari pasti akan ikut menentang.


Benar saja..


Ari berpendapat sama dengan Kak Tito’. Dia bahkan sama sekali tidak cemas


dengan dirinya. Lihatlah, dia menyampaikan pendapatnya dengan wajah riangnya


seperti biasa.


Aku meremas kedua lututku dengan pasrah. Aku telah gagal melindungi Ari.


Pendapat Ari dan Kak Tito’ cukup untuk dijadikan pertimbangan. Alasan


yang mereka kemukakan juga sangat masuk akal.


Dewan Penasihat dan bahkan aku sekalipun tidak berkutik untuk menampik


pendapat keduanya.


Tentu saja aku tidak bisa membantah keduanya. Toh, pendapat mereka berdua


sebenarnya sama dengan pendapatku.


Kalau saja aku tidak diancam..


Rapat akhirnya berjalan alot dan berakhir tanpa keputusan..


*

__ADS_1


Hufftt..


__ADS_2