
16 Oktober 2019
Penulis: Tito’
Meski mayoritas Dewan Penasihat menginginkan untuk mempertahankan tambang. Mereka tetap tak bisa berbuat apa-apa. Pemilik kekuasaan dalam keluarga adalah Hakim. Satu-satunya jalan adalah menaklukkannya.
Namun, posisi Hakim sangat kuat. Dia tidak bisa ditaklukkan dengan mudah. Dia juga memiliki dukungan dari pejabat tinggi daerah.
Segala bujukan telah diupayakan agar Hakim mengubah keputusannya. Karena kehabisan ide, pelaku pencurian sejarah kini menyasar generasi penerus berikutnya, Ari dan Ali.
Astaga..
Mereka bahkan melibatkan dua anak itu?
Meski tegas, Hakim memiliki sisi yang lembut. Apalagi terhadap anak-anak. Semua anggota keluarga tahu hal ini. Semua anak yang ditemuinya mengaku sangat menyukai Hakim dan ingin selalu menghabiskan waktu dengannya.
Ari dan Ali adalah generasi penerus yang masih dianggap anak-anak olehnya. Hakim sangat menyayangi mereka dan selalu menghabiskan waktu luangnya bersama.
Bahkan, dialah yang banyak membimbing anak itu agar layak melanjutkan estafet kepemimpinan keluarga.
Pelaku pencuri sejarah ingin melemahkan Hakim melalui kedua anak ini. Mereka berfikir, jika orang dewasa tidak mempan menaklukkan Hakim, maka seharusnya anak-anak bisa melakukannya.
Namun di luar dugaan, kedua anak itu menolak untuk bekerja sama. Pendirian mereka kokoh untuk selalu mendukung Hakim meski segala bujuk rayu dilakukan.
Bagaimana bisa anak-anak memiliki pendirian seperti itu? Bahkan orang dewasa sekalipun terkadang bahkan sering termakan oleh bujuk rayuan.
Aku sontak tertawa yang membuat buku-buku memandang heran ke arahku. Aku jadi rindu pada kedua anak itu. Seperti halnya Tito’, aku dan Hakim pun selalu terpesona dengan kecerdasan keduanya, terutama Ali.
Pelaku pencuri sejarah akhirnya tak punya pilihan lain.
Hakim harus dibuatkan kasus..
Kasus apa?
__ADS_1
Sayangnya Tito’ tidak melanjutkan kisahnya. Aku melirik ke arah si Buku Kecil berharap mendapatkan informasi tambahan. Tapi aku tahu itu sia-sia.
Namun, di luar dugaan si Buku Kecil balas menatapku dengan penuh selidik. Raut mukanya berubah seakan menginginkan sesuatu dariku.
Ada apa dengannya?
Tito’ meninggalkan ruangan setelah mencetak tulisannya dan menyerahkannya padaku. Seperti biasanya, si Buku Kecil diletakkannya di atas meja dan meninggalkan ruangannya dalam keadaan terkunci.
“Apa kamu si Buku Agung yang dicuri itu?” Si Buku Kecil tanpa diduga mengawali pembicaraan.
Dia kembali memandangiku dengan penuh selidik. Semua buku sontak menoleh ke arahku dengan penasaran.
“Buku Agung?” Ilmu Politik terlihat bingung. Sepertinya dia belum pernah mendengar tentangku.
“Buku Agung perekam sejarah?” Surat ikut menanggapi. Melihat ekspresinya, dia sepertinya tahu sesuatu.
“Perekam sejarah?” Ilmu Politik semakin bingung.
Fungsinya adalah merekam jejak keluarga tersebut dari generasi ke generasi, terutama soal tugas khusus yang diberikan oleh pemerintah.” Seperti dugaan, Surat tahu sesuatu.
“Tugas khususnya seperti apa?” Ilmu Politik antusias.
“Seperti mengelola tambang yang diberikan kepada Keluarga Husain. Mengelola pariwisata oleh Keluarga Yusran, dan beberapa tugas khusus lainnya yang dikerjakan keluarga tertentu.”
“Loh, bukannya pemerintah yang harus mengelola sendiri ya?” Ilmu Politik protes tidak percaya. Aku tersenyum melihatnya.
Jelas, menurut informasi yang dikandung oleh buku ilmu politik manapun yang pernah kutemui mengatakan bahwa, sektor vital seperti tambang dan periwisata adalah tanggung jawab pemerintah termasuk pengelolaannya.
“Idealnya seperti itu. Tapi, orang-orang pemerintahan selalu mengatakan bahwa mereka belum punya kesanggupan untuk mengelola sendiri. Meski menurutku, mereka hanya ingin menghindari tanggung jawab.
Soal kesanggupan, aku yakin mereka sanggup. Pemerintah jelas memiliki banyak fasilitas dibandingkan para keluarga itu.” Kata Surat.
Aku setuju dengannya.
__ADS_1
“Mengapa kamu berpikir bahwa Cuek adalah salah satu Buku Agung?” Tanya Surat pada Buku Kecil.
“Dari penampilannya dan juga informasi yang diberikan Tito’ padanya.” Kata Buku Kecil sambil memandangiku berharap dugaannya benar.
Memang benar, namun aku tak mengatakan apapun.
“Cuek, apa kamu salah satu dari Buku Agung?” Ilmu Politik mendesak tak sabar.
Akhirnya, aku mengangguk dengan terpaksa.
“Benarkah? Kamu Buku Agung Keluarga Husain yang dicuri itu?” Si Buku Kecil di luar dugaan menjadi sangat antusias. Mukanya yang selalu muram kini terlihat bahagia. Aku kembali mengangguk.
Buku yang lain terpana memandangiku.
“Pantas saja, Tito’ sangat memanjakanmu.” Surat bergurau dengan memperlihatkan ekspresi cemberut. Kami tertawa melihatnya.
“Kupikir, kamu benar-benar dimusnahkan.” Kata Buku Kecil. Dia terdengar sangat lega.
“Tito’ menyelamatkanku dari tempat pemusnahan. Aku juga tidak menyangka akan diselamatkan waktu itu.”
“Apa yang membuatmu sangat muram selama ini?” Tanyaku penasaran pada si Buku Kecil.
“Kupikir, Tito’ benar-benar telah berubah.” Katanya tersenyum.
“Selama aku bersamanya, aku tahu dia orang baik. Tapi aku mulai khawatir saat dia menerima usulan kerja sama pencurian sejarah. Sebagai orang yang ditunjuk untuk bergabung dalam Dewan Penasihat Keluarga Husain,
dia jelas rentan diajak untuk terlibat. Dia tidak pernah melibatkan diri dalam aksi kejahatan yang diorganisir pihak pemerintahan yang tak bertanggung jawab sebelumnya.” Buku Kecil sedih.
“Tapi setelah tahu dia menyelamatkanmu. Aku merasa sangat bersyukur. Aku sekarang tahu, mengapa dia ikut terlibat. Tanpa melibatkan diri, dia tidak mungkin bisa menyelamatkanmu.” Tambahnya berseri-seri.
“Tunggu.. Kejahatan yang diorganisir pemerintah?” Ilmu Politik tidak percaya.
Si Surat terlihat biasa saja.
__ADS_1