
Jelas aja Pak Arif menyetujui untuk bekerja sama. Tapi.. Mengapa Hakim tidak diberi tahu hal ini?
Menjaga tambang milik rakyat tentu lebih baik dilakukan oleh keluarga dibandingkan jika diserahkan kepada investor asing yang serakah.
“Tapi.. Bagaimana mereka mengambil tambang emas kalau Keluarga Husain akhirnya tidak menyerahkan tambang? Otomatis, hak pengelolaan akan tetap berada di tangan Keluarga Husain bukan?
Mengambilnya dari keluarga tentu lebih sulit.” Aku bingung.
Undang-undang daerah mengizinkan hak pengelolaan aset daerah hanya jika diizinkan oleh pemerintah daerah.
Jika hak pengelolaan itu masih berada di tangan swasta (Perorangan atau kelompok) maka aset tersebut harus dikembalikan terlebih dahulu kepada pemerintah sebelum hak pengelolaan diserahkan kepada pihak lain.
“Kita hanya belum tahu alur kelicikan mereka. Tapi menurutku, sebelum mengambil tambang emas mereka harus melemahkan terlebih dahulu pihak-pihak yang berpotensi menentang mereka…”
“…Hakim, Hari, dan Pak Arif adalah orang-orang berpengaruh keluarga yang pasti akan didengarkan aspirasinya oleh masyarakat luas. Jika demikian, keinginan mereka untuk mengambil tambang emas akan semakin sulit.
Pemerintah pun tidak bisa apa-apa jika rakyat yang menuntut.”
Yah.. Itu masuk akal, pikirku.
Tunggu.. Hari? Ayah Ali pun ikut terlibat? Fakta ini membuatku mengerti satu hal tentang Hari. Jadi karena itulah dia memerintahkan Zen untuk mencuriku dan semua buku yang mendukungku?
Dan karena itu pulalah dia mendatangi ruang rahasia tempatku berada saat Ari dan Ali diajak Hakim ke tempatku, supaya dia tahu mekanisme pembuka ruangan?
Kupikir, dia hanya memata-matai Hakim karena mengetahui tentang ketidakterlibatannya dalam buku sejarah.
“Lalu setelah Hakim dipenjara, bagaimana mereka mengambil alih tambang? Bukankah jika dipertahankan oleh Hari dan pak Arif akan lebih sulit lagi?” Tanyaku.
Aku bingung.. Hari dan Pak Arif adalah komplotan mereka dalam menjerumuskan Hakim.
__ADS_1
Dua orang ini pun tidak akan dengan mudah memberikan tambang begitu saja.
Lagipula mereka bekerja sama untuk menghindari tambang dimiliki oleh orang asing ataupun mereka yang ingin memonopoli aset rakyat.
Jika mereka akhirnya membuka keinginan sesungguhnya pada Hari dan Pak Arif, bukankah kejahatan mereka akan terbongkar? Hari dan Pak Arif tentu saja tidak akan diam saja.
“Hmm.. Jika Hari dan Pak Arif ikut menentang, maka harusnya kalian sudah bisa menebak langkah apa yang akan mereka lakukan.” Kata Buku Kecil sambil memandangi kami berharap dapat mendengar jawaban yang dia inginkan.
Namun, aku tidak bisa memberikan jawaban yang pasti.
“Jangan bilang.. Mereka akan dipenjara juga?” Ilmu Politik berargumen tak yakin.
“Persis.” Buku Kecil sekali lagi menjawab pasti.
“Tapi.. Bagaimana caranya?”
Aku tak punya gambaran apapun soal kasus apa yang dapat menjerat mereka berdua.
“Bukankah mencuri sejarah dan mengubahnya adalah kejahatan besar?” Tanya Buku Kecil retoris.
Dia terlihat kecewa karena kami tidak dapat menjawab pertanyaan yang jawabannya terpampang jelas.
Aku teringat kembali akan posisiku yang selalu dihormati. Jika aku seorang manusia maka aku akan diperlakukan bak raja yang disegani baik oleh kawan maupun lawan.
Padaku tersimpan informasi yang kekuatan hukumnya setara dengan konstitusi.
Bukankah akibat pelesetan informasi yang terkandung dalam buku sejarah palsu membuat Hakim dengan mudah akan diseret ke penjara?
“Tapi.. Mereka akan ikut terjerumus jika menggunakan kasus ini sebagai alasan. Bukankah mereka bekerja sama melakukannya?” Tanya Ilmu Politik.
__ADS_1
Kami mengangguk membenarkan.
Buku Kecil tersenyum.
“Iya, itu pasti.” Lagi-lagi Buku Kecil menjawab singkat.
Sepertinya dia sangat senang melihat kami kebingungan.
“Tidak mungkin!” Kami sontak menjawab tak percaya.
“Lalu, keinginan mereka untuk mengambil tambang emas akan sia-sia dong.” Jawabku yang diangguki teman-teman yang lain.
“Hhh.. Dengan menyesal kukatakan bahwa, pemerintah yang terlibat pun hanya pion bagi pelaku kejahatan sesungguhnya.” Kami semua kembali menatap Buku Kecil tak percaya.
Pemerintah sekalipun dimanfaatkan?
Pihak kuat mana yang berani melakukan semua itu?
“Pihak keluarga maupun pemerintah yang terlibat hanyalah bagian dari permainan pelaku.” Buku Kecil kembali menegaskan.
“Mengapa orang kuat seperti mereka mau saja dipermainkan?” Ilmu Sosial ikut berkomentar karena geram.
“Mereka yang idealis tidak punya pilihan. Tapi ada pula diantara mereka yang melakukannya karena kepentingan sesaat.”
“Apa yang membuat mereka tidak punya pilihan selain menuruti?” Tanyaku penasaran.
“Pelaku adalah orang yang memiliki kekuatan dan dukungan yang besar. Tanpa komitmen yang kuat dan pengorbanan yang besar, mustahil untuk mengalahkannya.”
“Memangnya, siapa pelakunya?” Ilmu Politik dan kami semua tentu saja penasaran.
__ADS_1
Setahu kami, yang terkuat adalah pemerintah daerah.