
“Tunggu.. Kejahatan yang diorganisir pemerintah?” Ilmu Politik tidak percaya.
Si Surat terlihat biasa saja.
“Iya.” Buku Kecil berkata dengan yakin.
Jawaban yang sama sekali tidak kuharapkan. Kuyakin Ilmu Politik sepakat denganku.
“Tidak mungkin!” Kami semua jelas tak percaya.
“Bukannya pemerintah bertugas untuk mencegah dan menghukum para pelaku kejahatan?” Ilmu Sosial ikut berkomentar.
“Idealnya seperti itu.” Surat yang tadinya diam akhirnya angkat bicara.
Kami melongo.
“Apa kamu ingin katakan bahwa pemerintah selalu melakukan kejahatan?” Ilmu Politik masih tidak terima.
“Tidak juga. Ada banyak hal baik yang mereka lakukan. Hanya, jika dikatakan bahwa semua orang dalam pemerintahan bebas dari kejahatan,maka itu juga tidak benar.” Kata Surat.
“Aku tidak percaya. Lagipula aku tidak pernah mendengar mereka melakukan kejahatan.” Tegas Ilmu Politik.
Buku Kecil dan Surat tersenyum.
“Siapa yang mengekspos kejahatan?” Buku Kecil bertanya retoris.
Kita semua jelas tahu, pemerintah punya otoritas terhadap media penyebar informasi.
__ADS_1
“Yap, mereka tidak pernah mengekspos kejahatan sendiri. Hanya orang yang berjiwa besarlah yang berani melakukannya.” Kata Buku Kecil.
Percakapan dengan tema kejahatan akhirnya bergulir di antara kami. Tanpa kusadari, hubungan beku yang selama ini kujalin akhirnya mencair. Si Buku Kecil ikut terlibat dalam suasana.
Entah mengapa, aku merasa sangat bahagia. Terlepas dari masalah yang ada, aku merasa telah kembali ke diriku yang dulu.
***
Buku Kecil kini selalu ceria. Wajah bahagia saat pertama kali bersama Tito’ telah kembali.
Namun, entah mengapa malam ini dia kembali dengan wajah yang muram persis seperti yang diperlihatkannya pada kami saat pertama kali dia bergabung di ruangan ini. Kami semua jelas merasa penasaran.
“Ada apa Buku Kecil?” Tanyaku hati-hati.
Dia diam.
Dia tetap diam.
Aku kesal, kebiasaannya telah kembali.
Tito’ masuk ke dalam ruangan. Aku berharap dialah yang akan berbagi informasi denganku kali ini. Mengharap dari Buku Kecil sepertinya sia-sia. Setelah celingak-celinguk sana-sini dekat pintu, dengan cepat dia menutup pintu dan
menguncinya.
Sejujurnya, aku selalu ingin tertawa tiap kali melihatnya demikian. Dia terlihat lucu saat melakukannya. Biasanya, teman-teman buku selalu menatap heran ke arahnya, tapi kali ini mereka tertawa terbahak-bahak.
Saat ini mereka sudah tahu penyebab Tito’ bertingkah aneh seperti itu, yakni kehadiranku yang dirahasiakan Tito’ bahkan dari keluarganya sendiri. Tapi aku justru berpikir, tingkahnya yang demikian justru semakin memancing keluarganya untuk mencari tahu.
__ADS_1
Harapanku tercapai, Tito’ menghampiri komputer, membuka file atas namaku dan menulis di sana.
18 Oktober 2019
Penulis: Tito’
Akhirnya, satu lagi penghambat keserakahan dibungkam. Dengan proses yang singkat tanpa tedeng aling-aling, Hakim kini telah mendekam di penjara. Pikiran idealis-nya telah terbungkam.
Pelopor pencuri sejarah kini dapat bernapas lega. Tidak ada lagi hambatan yang berarti baginya untuk melanjutkan rencana busuknya.
Tulisan yang singkat namun cukup membuatku terkejut dan marah. Mungkin inilah penyebab si Buku Kecil terlihat tertekan.
“Buku Kecil, tolong ceritakan padaku apa yang terjadi? Aku tidak percaya Hakim dipenjara. Tidak ada satu pun kasus yang membuatnya dapat terseret ke penjara.” Aku memohon penjelasan.
Aku berharap si Buku Kecil meninggalkan kebiasaan cueknya dan menjelaskan padaku.
“Satu hal yang harus kamu tahu, Tuan. Daerah ini kejam. Setiap kali kamu menjadi hambatan penguasa, kamu akan berakhir dengan pembungkaman. Hakim tentu harus bersyukur, bentuk pembungkamannya hanyalah penjara.” Surat menanggapi dengan simpati.
Tunggu.. ‘Tuan’? apa yang dia maksud adalah aku???
Jika kondisinya berbeda dan aku seorang manusia, maka sudah kujitak kepalanya.
Informasi terakhir tentang kedudukanku yang terbongkar otomatis membuat teman-teman buku di ruangan ini
bersikap aneh. Mereka menjadi lebih ‘sopan’ padaku.
“Jika saja aku dapat berbuat sesuatu, maka aku akan menyampaikan kebenarannya.. Hiks..” Si Buku Kecil akhirnya berbicara, namun diiringi dengan tangisan.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?” Tanyaku hati-hati.