Saksi Bisu

Saksi Bisu
Pencurian Buku Agung


__ADS_3

“Apa yang terjadi, Emas?”


Salah satu temanku dari rak kuno berteriak padaku dengan sangat panik. Pertanyaan yang sama juga terlontar dari teman-temanku yang lain. Aku bisa merasakan kepanikan yang melanda seluruh teman-temanku di ruangan ini.


Tapi aku tidak bisa menjawab apa-apa. Aku pun tidak tahu apa yang sedang terjadi. Aku hanya bisa pasrah dengan semua yang terjadi padaku dan memang hanya itulah yang dapat kulakukan.


Orang ini membawaku semakin jauh meninggalkan ruang umum perpustakaan keluarga. Teman-temanku yang ribut karena panik kini hanya sayup-sayup terdengar.


Aku sepertinya dibawa ke lorong yang sunyi. Di kejauhan terdengar suara deruman mobil yang kurasakan semakin dekat.


“Berhasil?” Tanya seseorang dari arah mobil itu nyaris seperti bisikan saat kami telah sampai ke tempatnya.


“Tentu saja. Ini pekerjaan yang sangat gampang.” Kata orang yang memanggulku dengan santai meski tetap menjaga intonasi suaranya.


Jelas saja, ada yang mereka rencanakan dan tidak ingin ketahuan.


Aku dilemparkan begitu saja ke dalam mobil yang belakangan aku tahu ternyata mobil pick up. Aku merasakan sekujur tubuhku sakit karena benturan.


Baru kali ini aku diperlakukan sangat tidak hormat. Untung saja tubuhku terbuat dari bahan yang kuat. Kalau tidak, mungkin saja aku sudah lecet disana-sini.


“Sekarang cepat ganti Buku Agung dengan buku super ini Zen, hehe..” Perintah orang di mobil terdengar mengejek, yang aku tahu itu bentuk ejekan pada lawan yang kalah.


Karena tidak ada satu pun dari keluarga Husain yang aku kenal dari dua suara ini, maka aku mengambil kesimpulan bahwa ejekan itu ditujukan padaku.


“Ok, saatnya era baru dalam Keluarga Husain yang terhormat dimulai.” Kata laki-laki yang tadi mencuriku dengan nada riang yang ternyata namanya Zen.


Nama yang menurutku aneh, seaneh orangnya.


Tunggu.. 

__ADS_1


Buku super?


Pengganti Buku Agung?


Era baru keluarga?


Apa maksudnya orang-orang ini?


Aku mendengar Zen mengangkat beban lain dan bergerak menjauh. Sepertinya memang benar, bahwa ada buku lain yang akan menggantikan posisiku.


Oh.. persoalan ini terasa semakin rumit dan aku tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Bahkan, aku pun belum tahu masalah utamanya.


Apa yang akan terjadi padaku selanjutnya? 


Jika ada yang menggantikanku, maka aku akan berakhir dimana?


Akankah aku dihancurkan?


“Kita berhasil kawan.” Kata Zen yang telah kembali setelah beberapa saat berlalu dengan pongah.


“Good. Mari kita pergi dari sini.”


Akhirnya, aku meninggalkan tempatku yang selama kurang lebih dua abad itu menuju ke tempat asing.


Akankah aku diperlakukan dengan hormat disana?


Aku tahu itu tidak mungkin.


Satu hal yang sangat menggangguku saat ini adalah, apa yang terjadi pada Hakim?

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan berkelok, sepertinya kami telah tiba di tempat tujuan. Aku kembali dipanggul dan dibawa ke suatu tempat.


Karung yang menghalangi pandanganku sejak tadi akhirnya dilepaskan. Kini, aku bisa menyapukan pandanganku dengan bebas ke seluruh ruangan.


Astaga..


Di sini kan..


“Siapa yang telah berkhianat di keluarga ini?” Batinku.


“Hai.. Kamu siapa?”


Aku kembali menyapukan pandanganku ke seisi ruangan mencari sumber suara. Tidak ada satu pun manusia di ruangan itu.


Dua orang yang tadi membawaku langsung pergi setelah meletakkanku di atas lantai di sudut ruangan.


Bisa kupastikan suara itu bukan suara manusia.


“Hai.. Aku di atas sini.”


Aku melihat ke atas dari arah sumber suara. Di dalam lemari berukir indah dengan penutup yang terbuat dari kaca transparan, aku melihat sumber suara itu.


Aku sangat terkejut. Jika saja aku manusia, mungkin saja aku sudah jatuh dan terduduk lemas karenanya.


“Kita sangat mirip bukan?”


Buku itu kembali berbicara yang sekali lagi tidak kurespon karena aku tidak dapat berkata apa-apa.


“Apa yang terjadi? Kamu sepertinya buku yang diagungkan juga bukan? Kamu terlihat sepertiku. Kamu saksi sejarah dari keluarga mana?”

__ADS_1


 “Keluarga Husain.” Jawabku pendek.


__ADS_2