Saksi Bisu

Saksi Bisu
Keputusan Tito'


__ADS_3

Tito’ terlihat berpikir keras. Aku jelas tidak tahu apa yang dipikirkannya. Aku sangat penasaran, dia mendukung pihak mana, Hakim atau komplotan Zen?


Setelah beberapa saat, Tito’ mulai terlihat tenang. Dengan hati-hati dia mengambil salah satu kertas kosong yang ada padaku. Harus kalian tahu, aku berbentuk bundelan. Masih terdapat beberapa kertas kosong yang tersedia untuk menampung informasi bagi Hakim.


Mau diapakan kertas itu?


Pikirku dengan penuh selidik.


Dengan hati-hati Tito’ menempatkan kertasku pada mesin cetak kemudian beralih ke komputer dan menghidupkannya. Aku melihatnya membuka microsoft word dan mulai mengetik di sana.


5 Oktober 2019


Penulis: Tito’


Hari ini, terjadi peristiwa besar dalam Keluarga Husain. Orang-orang yang serakah mulai bergerak untuk mengambil alih tambang terbesar di daerah ini. Sayangnya, generasi penerus keluarga saat ini (Hakim) tidak menyadari bahaya besar yang terjadi di depannya.


Sejarah keluarga yang harusnya dijaga dan dihormati, hari ini telah dirusak. Buku sejarah Keluarga Husain telah dinodai karena telah diganti dengan sejarah palsu. Yang paling menakutkan adalah tidak ada yang dapat membendung arus keserakahan ini.

__ADS_1


Hakim sebagai generasi penerus sebenarnya sangat kuat untuk membela kebenaran. Hanya, jika seorang yang kuat tidak tahu apa yang telah terjadi maka kekuatan itu akan sia-sia.


Beberapa petinggi dari keluarga Husain sebenarnya tahu peristiwa hari ini. Bahkan mereka juga terlibat dalam pencurian sejarah.


Sayangnya, tidak satu pun dari mereka yang terlibat, mengetahui bahaya apa yang menanti mereka ke depannya. Mereka secara membabi buta mendukung orang-orang serakah itu.


Mereka tidak sadar, keterlibatannya semakin memudahkan langkah orang-orang serakah.


Aku (Tito’) mengakui juga terlibat dalam peristiwa hari ini. Jika suatu saat aku ikut terseret dalam masalah ini, maka itulah akibat dari pilihan yang kubuat. Aku telah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang akan menimpaku.


Karena itu, aku tidak bisa membela kebenaran. Aku hanya bisa mengambil jalan lemah, yaitu dengan menjadi pengamat semua peristiwa dan menuliskannya. Aku berharap, suatu saat nanti ada yang berani mengungkap semuanya. Aku hanya bisa menyediakan informasi melalui buku ini. 


Kepada Keluarga Besar Husain: Aku mohon maaf karena dengan lancang mengambil alih penulisan sejarah penting ini.


Aku hanya terpaku melihat semua yang ditulisnya. Tulisan itu kini dicetaknya dan dimasukkan kembali padaku. Meski dengan semua yang dituliskannya, aku masih belum tahu semua yang telah terjadi.


Aku sangat penasaran.

__ADS_1


Sepertinya dalam kisahku yang terbuang ini, Tito’-lah yang akan mengisiku dengan berbagai informasi. Meski aku tahu ini di luar prosedur, entah kenapa, aku sangat lega. Aku bisa merasakan, Tito’ adalah seorang yang baik dan aku berharap, itu benar adanya.


Aku senang, tugasku sebagai penampung informasi keluarga masih berfungsi. Yah.. Meski dari sudut pandang yang berbeda. Aku sendiri tidak sabar untuk mengetahui bagaimana kelanjutan kisah dari keluarga Husain melalui sudut pandang orang lain. Aku harap, ceritanya akan objektif. Sehingga tidak ada lagi hal yang perlu ditutup-tutupi demi menjaga reputasi keluarga.


Ahh..


Apa yang terjadi dengan Hakim?


Mengapa orang seperti dia harus kecolongan seperti ini?


Tunggu.. Tidak ada hal berbahaya yang menimpanya bukan?


Melihat karakternya yang tegas, dia tidak mungkin tinggal diam jika mengetahui bahwa aku tidak berada di tempat biasanya. Dia pasti akan kalang kabut mencariku. Jika itu terjadi, maka seharusnya sudah ada kabar dari Tito'.


Atau jangan-jangan.. Dia pun bernasib sama sepertiku..


Tidaakk!!!

__ADS_1


__ADS_2