Saksi Bisu

Saksi Bisu
Hakim Marah


__ADS_3

“Kak Tito’.. Kak Zen datang!” Seorang anak remaja berseru dari ambang pintu pagi ini saat Tito’ tengah bersiap-siap untuk keluar.


Pagi ini adalah hari ke dua saya berada di rumah Tito’.


“Iya.” Jawab Tito’ sambil bergegas keluar.


Pintu ruangan dikunci dengan hati-hati.


“Tumben, pintunya dikunci.” Suara khas Zen dengan cepat kukenali.


“Oh.. Biasa kok.” Jawab Tito’ dengan nada kikuk.


“Eh, bagaimana kemarin? Beres kan?”


“Apaan?” Tito’ santai pura-pura tak mengerti.


“Pemusnahan Buku Agung..” Zen terdengar gemas.


“Beres kok. Cek aja ke pemusnahan.”


“Hhh.. Aku percaya padamu. Lagipula aku sangat sibuk.” Zen terdengar lemas.


Tito’ tertawa kecil. Mengejek.


“Bagaimana pencarian bukumu?” Tanya Tito’ mengingat tugas baru yang diterima Zen.


“Aaaahh...” Teriakan mengeluh lemah dari Zen membuatku tersenyum. Kasihan sekali dia, pikirku.


“Sabarlah, aku yakin.. Kamu akan semakin pintar.” Tito’ tertawa.


“Pintar apanya? Yang ada, aku stres.” Kata Zen ketus.


“Orang-orang yang selalu bersama buku memang pintar tau.” Tito semakin mengejek.


“Haha.. Iya, kalau serius bacanya.”


“Jadi, apa agenda hari ini?” Tanya Tito’ sayup-sayup.


Mereka telah jauh meninggalkan ruangan. Aku sudah tidak dapat mendengar percakapan mereka.


***


Malam harinya, Tito’ kembali ke ruangan ini. Saat dia mulai akan duduk, lelaki remaja yang tadi pagi memanggilnya muncul lagi. Sepertinya adiknya, pikirku.


“Kak, nggak ikut keluar bersama teman-teman?” Tanyanya.

__ADS_1


“Nggak. Ada yang harus kakak kerjakan.”


“Lagi sibuk yah?” Tanyanya penuh selidik.


Tito’ hanya tersenyum.


Tito’ melangkah perlahan menuju pintu dan menguncinya saat adiknya telah berlalu. Melihat tingkahnya yang terlihat sangat hati-hati membuatku tertawa kecil.


Tingkahnya membuatku teringat pada sikap siaga semua generasi penerus Keluarga Husain setiap kali mereka datang menemuiku.


Tawaku yang tiba-tiba membuat semua buku di ruangan memandang heran padaku. Aku bersikap cuek. Biasanya aku selalu bersikap ramah pada semua buku yang kutemui.


Karena aku tidak suka kesepian. Tapi dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini membuatku memilih diam dan menarik diri.


Tito’ menghampiri meja kerjanya dan menghidupkan komputer di sana. Aku mengamati dia melalui kertas kosong diriku yang dengan sabar masih bertengger di atas print sejak diletakkan semalam oleh Tito’.


Di komputer dia membuka file yang bernama Buku Agung. File yang dibuatnya semalam saat menulis untukku. Sepertinya dia juga berniat untuk menulis sesuatu yang baru kali ini.


Anehnya, aku menjadi tidak sabar..


6 Oktober 2019


Penulis: Tito’


Hari ini, Rapat bulanan keluarga dilaksanakan. Rapat ini adalah aktivitas rutin yang dilakukan tiap bulan di keluarga Husain. Pelaksanaannya dihadiri oleh pemimpin generasi penerus dan Dewan Penasihat keluarga.


Aku termasuk dari tiga orang utusan pemerintah untuk agenda ini sejak sepuluh bulan yang lalu.


Hakim mendatangi rapat bulanan Keluarga Husain dengan berang. Dia memasuki ruang rapat dengan cepat dan diiringi bantingan pintu di belakangnya.


Saat berada di dekat meja besar bundar tempat kami duduk berkeliling di sekitarnya, dia langsung melemparkan kertas di tangannya yang membuatnya berserakan di sekitar kami. Perbuatannya sontak membuat kami semua berdiri karena kaget.


“Apa maksud semua ini?” Katanya dengan sangat marah.


Kami saling memandang satu sama lain dengan bingung. Satu persatu mulai memungut kertas yang berserakan itu dan membacanya. Ekspresi kebingungan dari dewan keluarga semakin menjadi.


Tentu saja, sebagian besar dari mereka tidak menyangka hal ini. Hanya ada empat orang diantara kami yang paham betul duduk persoalannya.


“Kalian mengirimku ke Jepang untuk menghadiri acara ulang tahun? Acara yang biasanya hanya diikuti anggota keluarga yang ditunjuk, tapi kali ini menyuruh kepala keluarga langsung. Ternyata ini yang kalian rencanakan di belakangku?” Emosi Hakim semakin menjadi.


Selama lima hari terakhir, Hakim berada di Jepang untuk menghadiri ulang tahun pimpinan negara itu. Acara yang tidak pernah dihadiri pimpinan keluarga. Pejabat tertinggi dari keluarga yang selama ini selalu menghadiri acara hanya sampai pada level wakil pimpinan.


Hakim adalah pimpinan pertama keluarga yang datang ke acara itu. Awalnya, Hakim menolak. Tapi dengan dorongan dari Dewan Penasihat untuk mempererat persaudaraan membuatnya luluh. Peristiwa pencurian buku terjadi saat dia masih berada di sana.


Pantas saja, selama dua hari sebelum pencurian, Hakim tidak pernah menemuiku.

__ADS_1


“Ini.. apa, Hakim?” Salah satu dewan keluarga bertanya karena tidak percaya dengan yang dilihatnya. Ekspresi yang lainnya menunjukkan wajah dengan pertanyaan yang sama.


“Kalian tidak tahu? Apakah kalian sedang berpura-pura?”


“Ini seperti salinan Buku Agung. Hanya.. Isinya sedikit berbeda dengan yang selama ini kita lihat.”


“Ini bukan salinan Buku Agung kan?” Seorang lagi bertanya dengan cemas.


“Tentu saja itu salinannya. Aku tidak menyangka isinya bisa berubah.” Jawaban Hakim sontak membuat mereka kembali terduduk dengan lemas.


Keterkejutan mereka dan kemarahan Hakim tentu saja sangat wajar. Buku Agung sebagai saksi keluarga yang sangat dirahasiakan telah ternodai.


Selama perjalanan sejarah keluarga, keberadaan buku ini hanya diketahui oleh pimpinan dan Dewan Penasihat


keluarga tiap generasi penerus. Mereka semua telah bersumpah untuk menjaganya sebagai rahasia.


Kenyataan bahwa buku keluarga berubah menunjukkan dua kemungkinan bagi Hakim. Pertama, rahasia keluarga telah bocor sehingga memancing orang-orang tak bertanggung jawab melakukan kejahatan besar berupa penggantian sejarah.


Kedua, ada diantara dewan yang bertindak sebagai pelaku. Kemungkinan manapun yang terjadi, Dewan Penasihat pasti terlibat. Mata Hakim mulai bergerak liar memandangi kami.


Dia mencari pelakunya...


“Siapa yang menggantinya?” Tanya Hakim dengan marah.


Tidak seorang pun merespon. Tentu saja, kejahatan besar seperti itu tidak akan pernah ada yang mau mengakuinya, baik dari pihak pelaku apalagi bagi mereka yang memang tidak terlibat. Kemarahan Hakim semakin memuncak akibat diamnya kami.


“Duduklah.. Hakim.” Pak Arif selaku ketua dewan penasihat akhirnya berbicara.


Hakim tidak bergeming.


“Segala sesuatunya akan lebih baik jika dimusyawarahkan, bukan?” Kata Pak Arif dengan bijak.


Hakim akhirnya duduk dengan berat hati. Pembicaraan alot tentang pelaku pengubah Buku Agung akhirnya menjadi tema utama rapat. Tema yang melenceng dari rencana.


Hingga pembicaraan usai, Tak satu pun yang mengaku bertanggung jawab atas penggantian buku sejarah. Hakim meninggalkan ruang rapat masih dalam keadaan marah.


Memahami karakternya, kami semua dari Dewan Penasihat tahu bahwa Hakim tidak akan pernah melepaskan peristiwa ini begitu saja. Dia pasti akan mencari pelakunya.


Hakim berbahaya, pikir para pelaku termasuk diriku. Namun, entah mengapa aku merasa tidak bersalah. Sejak awal aku memilih terlibat dalam peristiwa karena aku punya misi tersendiri, menyelamatkan sejarah.


Meski demikian, aku memang telah melakukan kejahatan.


Pertemuan darurat di antara para pelaku terjadi seusai rapat dengan sembunyi-sembunyi. Dalam pertemuan diputuskan kesepakatan bersama, Hakim harus dibujuk untuk bekerja sama.


Kami tahu itu sulit, mungkin saja mustahil.

__ADS_1


Jika Hakim bersikukuh menolak, dia harus disingkirkan!


__ADS_2