
Hakim sepertinya tidak menghiraukan pertanyaan Ali.
“Kalau ayah menginginkan kita untuk mempelajari buku-buku ekonomi kuno, maka sebaiknya ayah menyerah saja. Ari tidak mau. Sudah cukup kami dipusingkan oleh buku-buku ekonomi yang ada sekarang!”
Tanpa menghiraukan protes dari dua wajah polos itu, Hakim menuju ke rak buku ekonomi kuno generasi pertama keluarga.
Meski heran, keduanya tetap mengikuti langkah pemimpin keluarga itu. Setahu mereka, tidak ada satupun dari keluarga yang tertarik untuk menuju ke tempat ini.
Karena di tempat inilah buku-buku kuno yang tidak menarik dan berbahasa asing dikumpulkan.
Meski telah mendapatkan perhatian dan perawatan terbaik dari pengurus perpustakan, buku-buku tersebut tetap terlihat usang dimakan waktu.
Pada rak dengan panjang 30 meter dan tinggi 5 meter itu, Hakim mengambil sebuah buku tebal yang terletak tepat di tengah-tengah rak.
“Ayah, belajar ekonomi menggunakan bahasa Indonesia saja kami tidak mengerti. Apalagi menggunakan bahasa cacing seperti itu!”
“Hahaha.. Bahasa cacing? Itu sebutan yang terlalu kasar Ari. Ini bahasa Jepang.” Hakim tertawa kecil.
“Lalu kami harus belajar ekonomi menggunakan bahasa Jepang, Ayah?”
__ADS_1
Sekali lagi Hakim bersikap cuek. Dia kemudian meraba tempat buku tersebut diletakkan sebelumnya.
Tiba-tiba rak buku bergerak sendiri ke arah kiri sepanjang 1 meter. Di samping kanan rak tersebut terlihat sebuah pintu yang menuju ke sebuah ruangan.
“Ayo masuk.” Ajak Hakim.
“Waah… Aku tidak tahu kalau ada ruangan rahasia seperti ini.” Ali berdecak kagum.
“Hampir tiap hari kami berada di sini. Tapi baru kali ini aku melihat ada ruangan di sini.” Ari turut berkomentar sambil melangkah masuk ke ruangan tersebut.
“Ini adalah ruangan rahasia. Hanya yang ditetapkan sebagai generasi penerus yang tahu tentang tempat ini.”
Hakim hanya memandang keduanya sambil tersenyum. Dia lalu melangkah menuju lemari terkunci tempatku berada dan membukanya.
Kini, sejak sebulan yang lalu aku akhirnya dapat melihat kembali sekeliling ruangan ini. Selama sebulan terakhir, aku hanya bisa melihat ruangan sempit lemari yang gelap.
Aku kini merasakan dua tatapan mata kagum tersorot ke arahku.
“Aayah.. Ini buku apa?” Tanya Ari dengan kagum tanpa mengalihkan pandangannya dariku.
__ADS_1
“Baru kali ini aku melihat buku yang berkilauan seperti emas.” Ali turut menimpali dengan kagum.
“Sampul buku itu memang terbuat dari emas. Lembaran isinya terbuat dari perak dan kayu terbaik.”
Hakim melangkah kepadaku dan mengambil bagian diriku yang berjudul generasi pertama.
Saat ini, diriku telah berjumlah dua belas. Itu artinya, telah berlalu sebelas generasi penerus keluarga yang telah selesai menorehkan sejarahnya padaku.
Diriku yang ke dua belas saat ini masih setia mendampingi perjalanan generasi penerus keluarga yang sedang menjabat, yakni Hakim dan wakilnya Hari.
“Hari ini, aku membawa kalian kesini untuk memberi tahu tugas kalian kedepannya.”
Hakim berjalan menuju meja satu-satunya di ruangan ini dan meletakkanku di sana. Dia kemudian memandang kedua bocah cilik itu dengan serius.
“Tugas kami ke depannya? Apa itu paman?”
“Kami punya tugas apa lagi, Ayah? Cukuplah belajar ekonomi dulu. Itu saja sudah sangat memusingkan.” Ari terus mengeluh seperti yang biasa dilakukannya setiap kali diberi tugas.
“Ari, ini tugas masa depan, bukan tugas yang harus dikerjakan sekarang. Ayah hanya ingin memberi tahu kalian lebih awal agar kalian bersiap.”
__ADS_1