
Lantai perpustakaan terasa bergetar disebabkan oleh kaki-kaki mungil yang berlarian kesana kemari pagi ini.
Seperti biasanya, tiap pagi dua jagoan kecil keluarga Husain telah berada di perpustakaan untuk aktivitas rutin mereka.
Sebagai generasi yang nantinya akan menjadi penerus keluarga maka mereka diharuskan untuk mendapatkan pendidikan sejak dini.
Ali dan Ari saling berkejaran ketika terdengar suara langkah kaki yang pelan tapi pasti ke arah mereka. Aku bisa pastikan bahwa dia adalah Agung, guru mereka.
“Anak-anak, berhenti saling berkejaran dan kemarilah!”
Suara tegas guru Agung sepertinya sukses menghentikan mereka dari aktivitas menyenangkan yang selalu mereka lakukan layaknya anak-anak yang lain.
Aktivitas belajar mengajar akhirnya berlangsung. Guru Agung terdengar menjelaskan dengan tenang tentang konsep-konsep dasar ekonomi.
Aku dengan tenang mendengarkan proses pembelajaran di pagi itu. Seperti biasanya, aku menjadi saksi di setiap aktivitas belajar mengajar mereka, meski hanya sekedar menjadi pendengar setia.
Pelajaran yang selalu menjadi prioritas di keluarga ini adalah soal ekonomi. Siapapun generasi penerus keluarga yang memimpin akan memiliki tugas yang sama dari pendahulunya, yakni pengurusan ekonomi daerah.
__ADS_1
“Hoaaeemm...”
“Ari, fokus!”
Belajar ekonomi di usia kanak-kanak mereka jelas membuat mereka tidak fokus. Sudah menjadi hal yang alami bahwa kita hanya akan fokus pada yang disukai saja.
Tapi sungguh, nasib tidak pernah toleransi pada kita dengan memberikan hal yang kita sukai saja. Karena itu, pilihan satu-satunya bagi kita hanyalah menerima dan bertahan bagaimanapun sulitnya sambil mencoba untuk menyukainya dengan cara kita sendiri.
Di tengah-tengah proses belajar mengajar tersebut terdengar langkah kaki seseorang yang sangat familiar bagiku. Langkah kaki tersebut sepertinya menuju ke sebuah kursi dan duduk di sana.
Aku bisa memberitahukan pada kalian bahwa dialah Hakim, pemimpin keluarga saat ini. Beliau adalah ayah Ari. Aku tidak tahu mengapa ditengah-tengah kesibukannya, beliau justru menyempatkan diri untuk datang menyaksikan proses belajar mengajar dua bocah cilik itu.
“Ayah cuma ingin memastikan apakah kalian belajar dengan sungguh-sungguh atau tidak.”
“Ayah, bolehkah mata pelajarannya diganti saja?”
“Iya paman, belajar ekonomi di usia kita terlalu sulit.” Ali terdengar ikut berkomentar.
__ADS_1
“Hehe.. Paman pikir, Ali suka pelajarannya. Guru Agung selalu bilang kalau Ali anak yang pintar dan selalu fokus. Sangaat berbeda dengan yang satu itu.”
Ari terdengar merenggut.
“Aku hanya tidak ingin membuat ayahku marah paman.” Ali merendah.
“Lagipula kenapa harus belajar ekonomi, Ayah? Itu sangat membosankan. Rian bilang, dia tidak pernah belajar ekonomi. Dia justru malah sering jalan-jalan ke banyak tempat wisata di daerah ini. Kenapa kami tidak seperti itu juga?”
“Ari, keluarga Rian memang bertugas di bagian kepariwisataan di daerah kita. Makanya, sebagai generasi penerus dia harus belajar banyak tentang pariwisata. Kalian kan sudah tahu dengan jelas bahwa tugas keluarga kita di daerah ini adalah penanganan ekonomi.”
“Bagaimana kalau kita bertukar tugas saja dengan keluarga Rian ayah?”
“Hmm...” Terdengar desahan napas yang berat dari Hakim saat mendengar permintaan anaknya.
“Kalian ikut aku sebentar.”
Mereka terdengar melangkah semakin dekat menuju ke arahku.
__ADS_1
“Kita mau kemana paman?”
Hakim sepertinya tidak menghiraukan pertanyaan Ali.