Saksi Bisu

Saksi Bisu
Rapat Keluarga yang Menegangkan (1)


__ADS_3

Rumah Dinas


Aku tengah dibaca oleh Ali saat Ari memasuki ruangan pagi ini.


“Lagi apa, Ali?”


Ali menunjukku, “Baca sejarah.” Jawabnya singkat dan kembali serius membaca.


“Buat apa membaca kebohongan..” Kata Ari ketus.


Dia jelas sekali tak bersemangat pagi ini.


“Ini Buku Agung asli, Ari.”


Ari refleks memandang dan memperhatikanku, “Oh.. Kupikir kamu membaca buku itu.” Katanya sambil menunjuk tiruanku.


Ali menggeleng dan terus membaca.


“Huft.. Ali, kamu tuh selalu saja membosankan setiap kali berhadapan dengan buku.” Ari berkata ketus sambil menghempaskan dirinya di atas kursi.


Ali hanya tersenyum menanggapi.


“Aku sarankan, kamu menikah saja dengan buku nantinya.” Katanya bergurau untuk memancing perhatian Ali, “Jika kamu menikah dengan wanita. Aku yakin, dia akan terus jengkel.”


Ali kembali tersenyum, tidak peduli.


Ari menghela napas. Dia akhirnya memutuskan untuk tidak mengganggu Ali dan melangkah ke arahku. Dia mengambil buku ke XII dariku dan kembali ke kursi untuk membacanya.


Melihat sikapnya yang santai, aku yakin dia sering diperlakukan demikian.


Lihatlah,, Ali bahkan terlihat seperti sedang berada di dunia lain.😄


***


6 Desember 2019


Penulis: Ali dan Ari


Rapat bulanan keluarga dilaksanakan. Temanya tentang pengelolaan tambang nantinya.


Sesuai perjanjian dengan pemerintah, bulan ini adalah bulan terakhir hak pengelolaan tambang daerah di tangan keluarga Husain. Peraturan daerah membenarkan bagi keluarga jika ingin memperpanjang masa pengelolaan. Tentu saja dengan kontrak perjanjian baru.


Pemerintah memberikan hak penuh kepada keluarga untuk memutuskan, apakah akan melanjutkan pengelolaan atau menyerahkannya kepada pemerintah.


Dengan tema yang kontoversial, tentulah membuat rapat kali ini lebih seru. Perdebatan dalam rapat tentulah menarik untuk disimak.


Kami mendatangi ruang rapat dengan tegang. Hari ini, kami harus mengambil keputusan penting.


Sebagai pengambil keputusan, seharusnya kami rileks saja bukan? Toh, kami cukup mengambil pendapat terbaik dalam rapat.


Sayangnya, situasi dan kondisi tidak mendukung hal itu terjadi. Namun lihatlah,, para Dewan Penasihat justru terlihat sangat senang!!


Kegiatan rapat dibuka sesuai formalitas. Pak Arif sebagai ketua, tampil sebagai pengarah kegiatan. Setelah menyampaikan tema rapat, masing-masing peserta dipersilahkan untuk menyampaikan pendapat.


“Melihat kemampuan pemerintah yang ada saat ini. Saya menyarankan agar keluarga besar Husain, mau mengambil keputusan besar untuk kembali bertanggung jawab dalam pengelolaan tambang. Kita tentu sangat mengetahui bahwa, keluarga ini telah berpengalaman di dalamnya..”


“..Saya tahu, resiko pertanggung jawaban memang besar. Tapi ingatlah, bahwa kita melakukan semua ini untuk rakyat juga.” Kak Zen yang merupakan anggota dewan menyampaikan pendapatnya dengan semangat.


Semua anggota dewan yang diberi kesempatan bersuara, menyatakan pendapat yang sama, keluarga mesti kembali mengelola tambang.


Meski mereka menggunakan rangkaian kalimat yang berbeda-beda, alasannya sama, pemerintah belum mampu. Seakan-akan alasan itu sama sekali tidak bisa dihilangkan atau disiasati.

__ADS_1


Kami menarik napas dengan berat. Telah berlalu sepuluh orang anggota dewan yang menyampaikan pendapat.


Tak satu pun dari mereka yang menginginkan hal yang sama dengan kami.


Saat tiba giliran Kak Tito’, kami memandangnya dengan penuh pengharapan.


Pak Hakim selalu berkata kalau Kak Tito’ berada di pihak kami. Namun, diluar dugaan, Kak Tito’ justru berpendapat yang sama dengan anggota dewan semuanya.


Tentu saja kami sangat kecewa. Kak Tito’ memandang kami dengan tatapan sayu. Ada rasa bersalah di sana.


Lalu bagaimana urusan ini?


Dua bocah ‘ingusan’ kini harus berani berhadapan dengan dua belas anggota dewan yang memiliki pendapat berbeda.


Apa yang harus kami lakukan untuk menghadapi kemarahan mereka?


“Demikianlah,, Semua anggota dewan penasihat telah menyampaikan pendapatnya. Namun, sebijak apapun pendapat mereka, tentulah hal itu bukan keputusan akhir.


Kita semua sudah tahu, anggota dewan berperan untuk menyampaikan pendapat. Pengambil keputusan tetaplah hak prerogatif generasi penerus.” Pak Arif tersenyum memandangi kami, pandangan yang menyiratkan tuntutan.


“Sekarang,, waktu dan tempat kami berikan kepada generasi penerus untuk menyampaikan pendapat mereka, serta pengambilan keputusan yang sekiranya dapat memuaskan berbagai pihak.”


Sebelum memutuskan untuk berbicara, kami memandang semua peserta. Mereka semua menatap penuh tuntutan. Kecuali Kak Tito’ yang memilih menundukkan kepala.


Kami sadar, jika kami berani melawan arus, maka ke-sebelas dewan penasihat kami akan menjadi lawan dalam sekejap.


Oleh Ari:


Sebagai wakil dari generasi penerus, memberi pendapat serta membantu pemimpin merumuskan keputusan merupakan hak istimewa yang baru di keluarga ini. Aku tentu harus bangga dengan hal itu.


Namun, melihat kondisi rapat yang berpotensi kacau jika kami tampil berbeda membuatku urung untuk berpendapat.


Meski aku tahu, Ali pasti akan membereskan masalah yang kubuat seperti yang sering dilakukannya.


Tapi kali ini, aku memilih diam.


Oleh Ali:


Demi menjaga situasi, Ari memilih untuk tidak berpendapat. Ia hanya memandang dan tersenyum padaku.


Jika bukan dalam kondisi formal seperti ini, maka dia akan berkata, “kamu saja, Ali. Kamu lebih mampu menjaga emosi.”


Jika sudah demikian, meski berat, aku tetap melakukannya. Untunglah, Ari selalu memberikan dukungan untukku.


“Aku sangat berterima kasih atas semua saran yang telah diberikan.” Kataku setelah beberapa kalimat pendahuluan.


Kutatap seluruh anggota dewan yang semakin antusias.


Aku mulai menelan ludah, bagaimana ini?


“Aku dan wakil telah sering mendiskusikan masalah tambang ini. Yah.. tentu saja, itu tugas kami sebagai generasi penerus.


Kami sudah membandingkan berbagai kondisi yang mungkin saja akan terjadi. Sebelum memberi keputusan, akan lebih baik jika kondisi-kondisi tersebut diuraikan terlebih dahulu.” Aku memaksakan diri tersenyum dengan santai.


Wajah antusias anggota dewan masih bertahan. Mereka mengangguk setuju atas usulku.


“Pilihan keluarga atas tambang ada dua, terus mengelola atau menyerahkan kepada pemerintah.


Berdasarkan saran dari para dewan penasihat, keputusan terbaik adalah terus mengelola.


Aku sangat mengerti bahwa, pertimbangannya sangatlah masuk akal.” Aku menyapukan pandangan kepada seluruh dewan.

__ADS_1


Mereka terlihat senang.


“Pemerintah belum sanggup untuk mengelola tambang. Sebagai pihak pengelola selama ini, tentulah kita lebih kompeten.” Para anggota dewan mengangguk membenarkan dengan antusias.


“Adapun kondisi kedua, yakni kondisi yang mungkin terjadi saat kita menyerahkan tambang kepada pemerintah. Kita memang tahu, pemerintah belum kompeten.”


Aku kembali menyapukan pandangan ke seluruh anggota rapat. “Namun, kita tentu tidak boleh meremehkan mereka.” Wajah antusias itu sudah mulai memudar.


“Apa maksudmu nak? Kamu ingin menyerahkan tambang kepada amatiran?” Pak Arif sepertinya sudah mengerti maksudku.


“Beri kesempatan padaku untuk menjelaskan dulu, Pak!” Aku berusaha tegas.


“Kamu sudah sangat tahu tentang risiko menyerahkan tambang kepada pemerintah. Lagipula, kamu sudah berjanji untuk..”


“Meski anak kecil, Ali adalah pemimpin generasi pak. Hargailah ia!!” Ari yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata ketus. Perkataannya sontak membuat Pak Arif terdiam. Mukanya berang.


“Aku mengerti, memberikan tambang kepada pemerintah memang sangat berisiko. Namun, kita bisa saja menghindari risikonya jika kita mau.” Aku kembali mengedarkan pandangan ke seluruh peserta.


Wajah-wajah tidak puas jelas sekali terlihat di sana-sini. Namun, aku tidak punya pilihan lain, selain bertahan dengan pandapatku yang telah kurancang dengan Ari jauh-jauh hari.


“Aku dan Ari sebagai generasi penerus punya pendapat berbeda.” Aku menelan ludah.


Kata ‘berbeda’ yang kuucapkan sontak membuat beberapa peserta mengerutkan dahi.


Muka sebagian dari mereka justru terlihat merah padam. Wajah antusias itu sempurna menghilang. Namun tak satupun dari mereka yang terlihat mohon izin untuk berkomentar. Mungkin saja mereka ingin menghindari kata-kata ketus Ari yang selalu saja dilontarkannya setiap kali aku terlihat diremehkan.


“Aku tidak pernah meremehkan kemampuan keluarga ini dalam mengelola tambang. Pengalaman memang selalu menjadi guru terbaik.” Aku terdiam sebentar, menghela napas.


“Aku tidak berniat untuk memendam kemampuan keluarga ini. Aku ingin kitalah yang tetap mengelolanya.” Wajah-wajah terlipat dan marah itu sudah mulai memudar.


“Namun, aku ingin urusan pengawasan dan pertanggungjawaban kita serahkan kembali kepada pemerintah.” Wajah-wajah kembali merah padam menahan amarah.


Aku meneruskan ucapanku dengan cepat, “Meski tambang berada di tangan pemerintah sekalipun, kita harus memastikan bahwa pemerintah akan memberikan wewenang pengelolaan pada kita. Dengan demikian, pengelolaan tambang tetap berada di tangan ahlinya.”


Aku menelan ludah. Aku sangat berharap kalimat terakhirku bisa memperbaiki situasi.


“Kau akan menjadikan kita buruh?” Seorang dewan penasihat berkata dengan tegang, menahan amarah. Yang lainnya mengangguk tegas, menatap tajam ke arahku.


Ini diluar dugaanku.


“Aku tidak mengatakan begitu.” Jawabku cepat.


“Jika pengawasan dan pertanggungjawaban di tangan pemerintah. Meskipun kita menjadi pengelola tunggal. Itu tidak menghapus fakta bahwa kita bekerja di bawah naungan. Dengan kata lain, kita buruh. Kau tahu artinya buruh kan?” seorang lagi berkata dengan geram.


Ari terlihat tidak tahan dan hendak berbicara. Namun, aku mengisyaratkan agar diam. Mulutnya yang setengah terbuka kembali tertutup.


“Pekerja.” Jawabku tanpa pikir panjang.


“Iya. Apa kau tahu dampaknya di depan keluarga terhormat lainnya?” Peserta tadi kembali menyalak. “Keluarga kita akan otomatis beralih status dari terhormat menjadi hina!!!”


Peserta lain kecuali Kak Tito’ dan Ari mengangguk membenarkan. Aku menelan ludah.


Apa yang harus kulakukan?


.


.


.


Cerita berlanjut pertengahan Juli, Insyaa Allah

__ADS_1


__ADS_2