
Ruangan Tito’
Tito’ lebih banyak termenung
akhir-akhir ini. Aku yakin, hal ini pasti berkaitan dengan ucapan Zen beberapa
hari yang lalu. Dia memang memutuskan untuk menanggung semua konsekuensi dari
perbuatannya. Namun sepertinya, semua ini terjadi dengan sangat cepat.
“Aku bisa menjadi ancaman?”
Tanyanya lirih pada diri sendiri.
Dia menyandarkan dirinya di atas
kursi meja kerjanya. Napasnya terhembus secara perlahan.
“Hhh.. Sudahlah. Lagipula, memang
sejak awal aku memilih semua resiko inikan?” Katanya lirih pada diri sendiri.
Sejurus kemudian, dia tersenyum lebar.
“Selagi aku punya kesempatan, aku
harus membantu dua anak hebat itu.” Dia berdiri dan melangkah ke pintu sambil
tertawa kecil. “Aku sudah terlanjur basah, kenapa aku tidak mandi saja
sekalian?”
Wajah suram yang tertekuk
belakangan ini, kini tersenyum lebar membuka pintu ruangan untuk keluar. Tidak
terlihat lagi jejak beban yang menghantuinya sedikit pun.
“Bukankah dia terlihat kering?”
Ilmu Politik bertanya bingung.
Kami semua menatap lebih bingung
lagi ke arahnya.
“Maksudnya?” Motivasi memilih
bertanya untuk mewakili kebingungan kami.
“Maksudku.. Bukankah Tito’ terlihat
kering?” Tanya Ilmu Politik bahkan terlihat lebih bingung daripada kami.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
Novel ikut bertanya bingung.
“Tadi Tito’ bilang kalau dia sudah
terlanjur basah, makanya mau sekalian mandi, kan?” Ilmu Politik menjelaskan
dengan gemas.
Kami lebih gemas lagi dengan
keluguannya..
Buahaha...
Kami semua refleks tertawa keras
karenanya. Tentu saja tanpa memedulikan Ilmu Politik yang tambah bingung karena
tawa kami yang tiba-tiba dan keras itu.
“Hei.. Aku bertanya, kenapa kalian
malah tertawa?!!!” Gusar.
“Hhh.. Pahamilah.. Isinya tidak
__ADS_1
berisi candaan. Apalagi perumpamaan segala. Apa yang tertulis padanya memang
seperti itulah adanya. Kalian tidak diberi kesempatan untuk mengartikan lain.”
Surat akhirnya berkata simpati untuk membela Ilmu Politik setelah berhasil
menguasai tawanya.
Masih tersisa gelak kecil di antara
kami. Namun, kami mengangguk memahami kondisi Ilmu Politik.
“Jadi, maksud Tito’ apa?” Ilmu
Politik menahan malu. Jika dia manusia, aku yakin wajahnya saat ini sudah
menyerupai kepiting rebus.
“Maksudnya, dia sudah terlajur ikut
melakukan kejahatan. Maka, daripada berhenti dan bingung, lebih baik dia
lanjutkan.” KBBI berusaha menjelaskan sesederhana mungkin.
Ilmu Politik manggut-manggut. Kami
tertawa kecil melihatnya.
“Oh iya, bagaimana kabar Keluarga
Husain?” Ilmu Politik bertanya padaku menutupi sisa malu yang masih terlihat
jelas di wajahnya.
“Aku tidak tahu..” Jawabku lesu.
Pertanyaan Ilmu Politik sontak
membuatku kehilangan semangat. Seolah mengerti, semua teman-teman memilih diam.
Mereka ikut larut dalam drama kesedihan yang tiba-tiba melingkupiku. Tidak ada
“Bersabarlah Emas, Ali dan Ari
pasti bisa mengatasinya.” Setelah ruangan hening beberapa menit, Motivasi
akhirnya bersuara.
“Iya, bukankah mereka selalu bisa
diandalkan, bahkan lebih dari yang kita duga?” Buku Kecil ikut menyemangatiku.
Benar, diantara semuanya, Buku
Kecil-lah yang paling mengetahui tentang kedua anak itu.
Mendengar nama Ali dan Ari malah
membuatku semakin diam tergugu. Buku Kecil terlihat bingung, responku di luar dugaannya.
Dia pasti menginginkan aku bahagia alih-alih memilih terdiam seperti ini.
“A..ada apa?” Tanyanya hati-hati.
Butuh beberapa saat bagiku untuk
dapat merespon pertanyaan itu dengan layak.
“Sesuatu yang membingungkan
terjadi.” Kataku lemah.
Teman-teman hanya memandangiku
dengan kadar kebingungan yang semakin bertambah.
“Aku yakin.. Sesuatu itu akan
berdampak buruk.” Kataku lagi seolah mendramatisasi keadaan.
Wajah-wajah jengkel bercampur
__ADS_1
bingung kini menghiasi wajah teman-teman. Namun, aku tidak peduli.
“Hei.. Kita benar-benar penasaran.
Jangan bercanda!” Ilmu Politik berteriak tidak tahan.
Aku tetap terdiam, murung. Aku
sedang tidak bercanda. Aku benar-benar serius.
“Emas..” Panggil Buku Kecil
khawatir.
Meski jengkel, Ilmu Politik dan
yang lainnya memilih diam. Mereka menunggu responku dengan sabar setelah
melihat raut wajahku yang tidak dibuat-buat.
“Ali dan Ari..” Aku terdiam, tidak
sanggup melanjutkannya.
“Mereka kenapa? Mereka baik-baik saja kan? Mereka
tidak terseret kasus kan?” Buku Kecil memberondongiku dengan banyak pertanyaan.
Dia terlihat sangat khawatir.
“Mereka baik-baik saja. Mereka juga
tidak terseret kasus.” Kataku pada akhirnya.
“Lalu???!!!”
Percayalah, bukan cuma Buku Kecil
yang berteriak bingung sekaligus jengkel padaku. Tapi semua teman-teman bahkan
berteriak dengan kata yang sama bak mengikuti arahan komando. Aku tertawa kecil
karenanya, sejenak lupa bahwa aku sedang bersedih.
“Jadi.. Sedari tadi, kamu hanya
bercanda dengan wajah polosmu itu?” Ilmu Politik protes. Dia geram. Hal yang
sama ditunjukkan oleh teman-teman yang lain.
“Aku benar-benar serius. Terjadi
sesuatu yang aku yakin akan berdampak buruk.” Aku menjawab cepat, takut melihat
sorot mata tajam teman-teman yang semakin menusuk.
“Apa itu?!” Ilmu Politik bertanya
ketus.
“Ali dan Ari..” Menghela napas
berat. “Mereka sepertinya memutuskan untuk bertindak masing-masing.”
“Maksudnya?” Buku Kecil bingung.
“Mereka tidak lagi bekerja sama.
Mereka saling merahasiakan aktivitas masing-masing.” Kataku lemah. “Sialnya,
aku sendiri bahkan tidak tahu apa rencana mereka masing-masing.”
Aku semakin sedih.
“Ya Tuhan!!!”
Buku Kecil melotot kaget.
Ini semua benar-benar di luar
dugaannya.
__ADS_1