Saksi Bisu

Saksi Bisu
Cerita Tito'


__ADS_3

Ruangan Tito’


Tito’ lebih banyak termenung


akhir-akhir ini. Aku yakin, hal ini pasti berkaitan dengan ucapan Zen beberapa


hari yang lalu. Dia memang memutuskan untuk menanggung semua konsekuensi dari


perbuatannya. Namun sepertinya, semua ini terjadi dengan sangat cepat.


“Aku bisa menjadi ancaman?”


Tanyanya lirih pada diri sendiri.


Dia menyandarkan dirinya di atas


kursi meja kerjanya. Napasnya terhembus secara perlahan.


“Hhh.. Sudahlah. Lagipula, memang


sejak awal aku memilih semua resiko inikan?” Katanya lirih pada diri sendiri.


Sejurus kemudian, dia tersenyum lebar.


“Selagi aku punya kesempatan, aku


harus membantu dua anak hebat itu.” Dia berdiri dan melangkah ke pintu sambil


tertawa kecil. “Aku sudah terlanjur basah, kenapa aku tidak mandi saja


sekalian?”


Wajah suram yang tertekuk


belakangan ini, kini tersenyum lebar membuka pintu ruangan untuk keluar. Tidak


terlihat lagi jejak beban yang menghantuinya sedikit pun.


“Bukankah dia terlihat kering?”


Ilmu Politik bertanya bingung.


Kami semua menatap lebih bingung


lagi ke arahnya.


“Maksudnya?” Motivasi memilih


bertanya untuk mewakili kebingungan kami.


“Maksudku.. Bukankah Tito’ terlihat


kering?” Tanya Ilmu Politik bahkan terlihat lebih bingung daripada kami.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”


Novel ikut bertanya bingung.


“Tadi Tito’ bilang kalau dia sudah


terlanjur basah, makanya mau sekalian mandi, kan?” Ilmu Politik menjelaskan


dengan gemas.


Kami lebih gemas lagi dengan


keluguannya..


Buahaha...


Kami semua refleks tertawa keras


karenanya. Tentu saja tanpa memedulikan Ilmu Politik yang tambah bingung karena


tawa kami yang tiba-tiba dan keras itu.


“Hei.. Aku bertanya, kenapa kalian


malah tertawa?!!!” Gusar.


“Hhh.. Pahamilah.. Isinya tidak

__ADS_1


berisi candaan. Apalagi perumpamaan segala. Apa yang tertulis padanya memang


seperti itulah adanya. Kalian tidak diberi kesempatan untuk mengartikan lain.”


Surat akhirnya berkata simpati untuk membela Ilmu Politik setelah berhasil


menguasai tawanya.


Masih tersisa gelak kecil di antara


kami. Namun, kami mengangguk memahami kondisi Ilmu Politik.


“Jadi, maksud Tito’ apa?” Ilmu


Politik menahan malu. Jika dia manusia, aku yakin wajahnya saat ini sudah


menyerupai kepiting rebus.


“Maksudnya, dia sudah terlajur ikut


melakukan kejahatan. Maka, daripada berhenti dan bingung, lebih baik dia


lanjutkan.” KBBI berusaha menjelaskan sesederhana mungkin.


Ilmu Politik manggut-manggut. Kami


tertawa kecil melihatnya.


“Oh iya, bagaimana kabar Keluarga


Husain?” Ilmu Politik bertanya padaku menutupi sisa malu yang masih terlihat


jelas di wajahnya.


“Aku tidak tahu..” Jawabku lesu.


Pertanyaan Ilmu Politik sontak


membuatku kehilangan semangat. Seolah mengerti, semua teman-teman memilih diam.


Mereka ikut larut dalam drama kesedihan yang tiba-tiba melingkupiku. Tidak ada


“Bersabarlah Emas, Ali dan Ari


pasti bisa mengatasinya.” Setelah ruangan hening beberapa menit, Motivasi


akhirnya bersuara.


“Iya, bukankah mereka selalu bisa


diandalkan, bahkan lebih dari yang kita duga?” Buku Kecil ikut menyemangatiku.


Benar, diantara semuanya, Buku


Kecil-lah yang paling mengetahui tentang kedua anak itu.


Mendengar nama Ali dan Ari malah


membuatku semakin diam tergugu. Buku Kecil terlihat bingung, responku di luar dugaannya.


Dia pasti menginginkan aku bahagia alih-alih memilih terdiam seperti ini.


“A..ada apa?” Tanyanya hati-hati.


Butuh beberapa saat bagiku untuk


dapat merespon pertanyaan itu dengan layak.


“Sesuatu yang membingungkan


terjadi.” Kataku lemah.


Teman-teman hanya memandangiku


dengan kadar kebingungan yang semakin bertambah.


“Aku yakin.. Sesuatu itu akan


berdampak buruk.” Kataku lagi seolah mendramatisasi keadaan.


Wajah-wajah jengkel bercampur

__ADS_1


bingung kini menghiasi wajah teman-teman. Namun, aku tidak peduli.


“Hei.. Kita benar-benar penasaran.


Jangan bercanda!” Ilmu Politik berteriak tidak tahan.


Aku tetap terdiam, murung. Aku


sedang tidak bercanda. Aku benar-benar serius.


“Emas..” Panggil Buku Kecil


khawatir.


Meski jengkel, Ilmu Politik dan


yang lainnya memilih diam. Mereka menunggu responku dengan sabar setelah


melihat raut wajahku yang tidak dibuat-buat.


“Ali dan Ari..” Aku terdiam, tidak


sanggup melanjutkannya.


“Mereka  kenapa? Mereka baik-baik saja kan? Mereka


tidak terseret kasus kan?” Buku Kecil memberondongiku dengan banyak pertanyaan.


Dia terlihat sangat khawatir.


“Mereka baik-baik saja. Mereka juga


tidak terseret kasus.” Kataku pada akhirnya.


“Lalu???!!!”


Percayalah, bukan cuma Buku Kecil


yang berteriak bingung sekaligus jengkel padaku. Tapi semua teman-teman bahkan


berteriak dengan kata yang sama bak mengikuti arahan komando. Aku tertawa kecil


karenanya, sejenak lupa bahwa aku sedang bersedih.


“Jadi.. Sedari tadi, kamu hanya


bercanda dengan wajah polosmu itu?” Ilmu Politik protes. Dia geram. Hal yang


sama ditunjukkan oleh teman-teman yang lain.


“Aku benar-benar serius. Terjadi


sesuatu yang aku yakin akan berdampak buruk.” Aku menjawab cepat, takut melihat


sorot mata tajam teman-teman yang semakin menusuk.


“Apa itu?!” Ilmu Politik bertanya


ketus.


“Ali dan Ari..” Menghela napas


berat. “Mereka sepertinya memutuskan untuk bertindak masing-masing.”


“Maksudnya?” Buku Kecil bingung.


“Mereka tidak lagi bekerja sama.


Mereka saling merahasiakan aktivitas masing-masing.” Kataku lemah. “Sialnya,


aku sendiri bahkan tidak tahu apa rencana mereka masing-masing.”


Aku semakin sedih.


“Ya Tuhan!!!”


Buku Kecil melotot kaget.


Ini semua benar-benar di luar


dugaannya.

__ADS_1


__ADS_2