Saksi Bisu

Saksi Bisu
Ketahuan


__ADS_3

“Kenapa manusia rata-rata ngotot dengan pendapatnya meskipun tidak tahu persoalan?” Tanya Buku Komputer.


“Manusia itu punya ego. Mereka cenderung mementingkan diri sendiri. Jika ingin mempengaruhinya, cukup ambil hatinya dulu.” Kata buku Pikiran.


“Mengambil hatinya? Bukankah melakukan itu bisa membunuhnya?” Buku Komputer terlihat bingung.


Kami semua tersenyum karena keluguannya.


“Maksudnya, buat dia terlebih dahulu merasa nyaman dan mempercayaimu. Setelah itu, kamu bebas menyampaikan maksudmu padanya. Rata-rata manusia akan ikut denganmu jika mereka mempercayaimu.” Jelas Buku Pikiran.


Tito’ meninggalkan ruangan dengan santai. Mengabaikan Adi yang bersungut-sungut karena tak digubrisnya.


“Kakak mau kemana? Ada yang ingin kutanyakan.” Teriak Adi.


Tito’ tetap melangkah dengan santai tanpa menoleh sedikit pun. Adi menjadi jengkel. Mungkinkah dia memancing Adi agar keluar dari ruangan ini seperti yang pernah dilakukannya?


Adi memang terpancing untuk ikut keluar ruangan. Tapi kali ini dia tidak keluar dengan tangan kosong. Dia sempat menyambar kertas kosong diriku di atas cetakan dan membawanya pergi bersamanya.


Tentu saja, dengan kepergian bagian diriku meski hanya kertas kosong membuatku bisa mengetahui dunia luar melalui kertas itu.


“Hei!!” Teman-teman buku berteriak panik.


Mereka berniat mencegah Adi. Tapi sungguh, itu usaha yang sia-sia. Adi tidak mendengar apapun. Teman-teman semua tahu, bahwa aku harus disembunyikan dari dunia luar. Kepergian bagian diriku meninggalkan ruangan tentu saja mengundang masalah.


“Kak, aku ingin bertanya soal kertas ini.” Kata Adi sambil mengikuti langkah Tito’ hingga teras rumah.


“Kertas apa?” Tanya Tito’ sebelum melihat ke arah Adi.


Dia terlihat terkejut saat berbalik dan melihatku.

__ADS_1


“Ke..kenapa dengan kertas itu?” Tanyanya gagap.


“Kakak kenapa sih? Kok gagap mulu?” Tanya Adi penuh selidik.


“Tidak kok.” Jawabnya berusaha santai.


“Pasti ada apa-apa.” Adi tidak menyerah.


Dia kembali memandangi Tito’ penuh selidik.


“Hanya masalah pekerjaan. Anak kecil tidak usah tahu.” Tito’ bersikap sesantai mungkin.


Adi terlihat berpikir sejenak.


Percayakah dia?


“Ya sudah. Mintalah kak Zen untuk membantu.”


“Kenapa dengan kertas ini?” tanya Tito’ setelah berhasil mengambilku dari tangan Adi tanpa perlawanan.


“Aaa...” Adi sadar akan pokok persoalannya.


“Kak Zen bilang, dia tidak punya kertas seperti itu. Saat kuberitahu ciri-ciri kertasnya, dia bilang itu kertas Buku Agung, buku Keluarga Husain yang hilang itu.”


Tito’ terlihat membeku. Apa yang akan dikatakannya?


“Untuk apa kamu membicarakan kertas ini pada Zen?” Tanyanya berusaha menyembunyikan ketakutannya.


“Kata kakak, semua anggota dewan penasihat boleh memiliki kertas seperti itu. Makanya aku bertanya pada Kak Zen. Tapi, Kak Zen bilang tidak punya. Padahal dia anggota Dewan Penasihat seperti kakak.”

__ADS_1


“Kak Zen bahkan bilang, Dewan Penasihat pun tidak boleh memiliki kertas itu.” Lanjutnya.


Tito’ semakin takut.


“Lagipula, kenapa kamu bilang tentang kertas ini ke Zen?” Tito’ tidak dapat menyembunyikan kekesalannya.


 “Aku hanya ingin minta kertasnya. Kakak kan pelit.” Adi bersungut-sungut.


Di depan rumah berhenti sebuah mobil dinas daerah. Aku tidak tahu siapa yang mengendarainya. Meski belum terlihat siapa pengendara mobil tersebut, entah mengapa Tito’ kelihatan sangat panik.


Ada apa dengannya?


Dari balik pintu mobil keluar sosok yang kukenal. Sekarang aku tahu alasan Tito’ terlihat panik.


“Hai kawan, apa kabar?” Zen melangkah masuk ke arah kami dengan senyum mengembang.


“Eh.. Hai.” Tito’ menjawab dengan gagap.


Adi mendelik ke arahnya dengan bingung.


“Oh.. Kertas ini yang dimaksud Adi ada padamu?”


Zen terlihat heran saat melihatku berada di tangan Tito’.


Gawat.. Tito’ tidak sempat menyembunyikanku.


“Oh.. Ini..”


Tito’ terlihat bingung dan takut. Alasan apa yang akan dikatakannya?

__ADS_1


Mungkinkah kali ini kedoknya akan terbongkar?


__ADS_2