
“Waahh.. Buku harian kakak tertinggal.” Adi menghampiri meja dan mengambil Buku Kecil dengan riang.
“Apes deh..” Buku Kecil berkata lemah.
“Dia adalah wanita tercantik yang pernah kulihat.. Hahaha..” Adi tertawa keras saat membaca potongan kalimat dari Buku Kecil. Dia bahkan tertawa sambil memegangi perutnya.
Buku Kecil terlihat malu.
Adi terus saja tertawa keras sambil memegangi perutnya saat membaca Buku Kecil. Dia bahkan sudah tidak sanggup membaca Buku Kecil dengan keras. Kami saling memandang heran.
Apa sih isinya?
“Buku Kecil, dia baca apa sih?” Tanyaku penasaran.
Yang ditanya malah diam dan terlihat semakin malu.
Percuma..
Jika Buku Kecil diam, maka kita tidak bisa berharap banyak.
Tapi tiba-tiba, Adi menjadi sangat serius.
“Jadi.. Kak Tito’..” Adi menggumam.
Wajahnya terlihat sangat tegang.
“Tito’ kenapa?” Zen tiba-tiba muncul dan melangkah dengan santai ke dalam ruangan.
Adi buru-buru memasukkan Buku Kecil ke dalam tas sekolah yang masih dibawanya.
“Eh,, Kak Zen.” Adi menyapa.
Mencoba memasang wajah senormal mungkin.
“Lama sekali aku mengetuk pintu. Kupikir tidak ada orang. Daripada balik, mending aku masuk untuk menunggu. Ternyata pintunya tidak terkunci.” Kata Zen sambil tersenyum.
“Eh,, Iya. Maaf kak, aku tidak mendengar saat kakak datang.”
“Lagi baca apa tadi? Terus, Tito’ kenapa?”
“Baca novel kak.” Adi berbohong. Namun, ekspresi mukanya meyakinkan. “Selama ini aku penasaran, Kak Tito’ dapat kata-kata indah untuk gebetannya itu darimana. Ternyata terinspirasi dari novel.”
Adi kembali tertawa.
“Kamu pikir, kakakmu itu bisa membuat kata-kata indah untuk wanita? Nggak! Orang kaku seperti dia, mana mungkin bisa melakukannya.” Zen ikut tertawa.
“Dimana dia? Susah sekali dia ditemui hari ini. Waktu di kantor, aku hanya melihatnya saat datang dan pulang. Saling bertegur sapa bahkan tidak sempat.”
“Aku juga tidak tahu. Terakhir bertemu saat pagi tadi, waktu berangkat sekolah.”
Terdengar salam Tito’ dari pintu depan. Selang beberapa menit, dia sudah bergabung di ruangan.
“Sudah lama?” Tanyanya ramah pada Zen.
__ADS_1
“Baru saja.”
“Kamu darimana?” Tanya Zen.
Tito’ malah tersenyum malu, “dari pasar.” Keduanya menertawakannya.
“Sudah seharusnya kamu menikah, kawan.”
“Hhh.. Katakan itu pada dirimu sendiri.” Balas Tito’.
“Aku mending. Punya pacar. Kamu?”
“Sudah berapa kali kukatakan. Pacaran itu HARAM dalam Islam. Mending langsung dihalalin aja.” Tito’ menjawab ketus.
Zen lantas berdiri dan membungkukkan badan. “Iya, Pak Ustadz.”
Adi dan Tito’ sontak tertawa.
“Ada apa?” Tito’ terlihat serius, “tidak biasanya kamu minta waktu untuk bertemu. Biasanya kita bertemu tanpa rencana kan?”
“Aku ingin tahu, dimana kamu menyimpan kertas Buku Agung.”
“Oh.. Sudah kuduga. Aku sengaja meninggalkan ruangan ini tanpa terkunci. Seperti yang kamu lihat.” Menunjuk ke arahku, “aku selalu menyimpannya di ruangan ini.”
Zen menoleh ke arahku, lantas berbalik ke arah Tito’, “bukankah kamu sangat ceroboh? Meninggalkan kertasnya di atas meja dalam ruangan yang tidak terkunci?”
“Kertas kosong itu tidak bisa membuktikan apa-apa. Sudahlah, jangan terlalu khawatir. Lagipula tidak ada pencarian Buku Agung asli hingga kini, kan?” Kata Tito’ dengan santai.
Zen menghela napas.
“Maksudnya?” Tito’ bingung.
“Pagi tadi, Pak Arif mendatangiku. Beliau marah-marah tak jelas di kantor. Saat kutanya kenapa. Beliau bilang, Buku Agung dipajang oleh Ali di ruangannya di rumah dinas.” Tawanya semakin keras.
“Ruangan yang digunakannya untuk menerima tamu itu?” Tito’ berseru tidak percaya.
Zen mengangguk.
Tito’ ikut tertawa, “Pantas saja, Pak Arif pasti sangat marah.”
“Tito’, ada yang ingin kutanyakan padamu.” Zen terlihat sangat serius.
“Ada apa?”
“Tadi,, Bos menelponku.” Diam sejenak, “pesannya singkat. Katanya, kamu bisa menjadi ancaman serius buat rencananya. ”
Tito’ melongo.
“Aku tidak tahu,, Apa yang telah kamu lakukan sehingga dia berkata seperti itu?” Zen bertanya heran, “Mungkinkah dia melihat kertas Buku Agung padamu?”
Tito’ terlihat berpikir, serius. “Tidak pernah. Aku sangat yakin.” Jawabnya tegas.
“Lalu kenapa?” Zen terlihat berpikir keras. “Pokoknya,, Besok lusa, mungkin saja aku akan diperintahkan untuk mengawasimu. Jika itu terjadi, maka persahabatan ini bisa menjadi permusuhan.”
__ADS_1
Zen menatap Tito’ dengan serius, “Tidak ada upaya pengkhianatan yang kamu lakukan selama ini kan?”
Tito’ patah-patah mengangguk.
Menghela napas, “Ya sudah, hanya itu yang ingin kusampaikan. Aku berharap, bos secepatnya sadar bahwa itu hanya dugaan.” Bergegas berdiri, “Tito’, aku percaya padamu.”
Zen melangkah pergi.
“Kamu.. Tidak ikut makan malam bersama kita?” Kata Tito’ saat Zen telah berada di dekat pintu.
Zen menoleh dan tersenyum, “Masakanmu tidak enak.”
Tito’ dan Adi tertawa.
“Aku pergi.” Kata Zen sambil berlalu.
“Kak, ruangannya sengaja tidak dikunci kan?” Tanya Adi selepas kepergian Zen.
Tito’ mengangguk.
“Berarti kakak memang sengaja, membiarkan siapa pun masuk?”
Tito’ mengangguk lagi.
“Membiarkan apapun yang dilakukan oleh si pengunjung?”
Tito’ mengangguk lagi, heran. “Tidak ada hal yang perlu kurahasiakan di sini. Buat apa dikunci?” Mengangkat bahu, “ruangan ini sekaligus perpustakaan. Kamu tahu itu kan? Aku malah berharap, kamu rajin-rajin kemari untuk belajar.”
“Oke. Jadi tidak apa-apa kalau aku membaca..” Mengeluarkan Buku Kecil dari tas, “Buku ini, kan?”
Wajah Tito’ seketika merah padam karena malu. Adi malah tertawa keras.
Tito’ merampas Buku Kecil, “Kamu membacanya?” Tanyanya panik.
Adi mengangguk dengan santai, “Aku tidak membaca semuanya kok. Kak Zen keburu datang. Jadi kusembunyikan saja ke dalam tas. Untung, aku sedang tidak ingin jahil. Kalau iya, mungkin saja kuperlihatkan pada Kak Zen.”
Tito’ mengambil buku KBBI di rak, bersiap melempar. KBBI adalah buku terbesar di ruangan ini.
Menyadari bahaya yang mengancam, Adi bergegas berlari keluar ruangan.
“Siapa wanita tercantik itu?” Adi menyempatkan diri bertanya jahil sebelum menghilang di balik pintu.
KBBI sempurna melayang. Berdebuk menyentuh dinding dan jatuh ke lantai dengan keras.
“Aawww..” KBBI berseru tertahan.
Kami semua memandang prihatin.
Tito’ menatap kepergian Adi dengan gusar. Dia terlihat malu. Namun, dibalik semua itu, ada ketakutan di sana. Aku sangat yakin, dia takut Adi mengetahui segalanya. Dia meninggalkan ruangan dengan dongkol.
“KBBI, kau tidak apa-apa?” Tanyaku cemas.
“Apanya yang tidak apa-apa?” Sahut Motivasi, “Lihat saja, dia bahkan ditinggal begitu saja. Dibiarkan saja tanpa dibaca sudah cukup membuat kita sakit dan merasa tak berguna. Apalagi jika dilemparkan seperti itu.”
__ADS_1
Diluar dugaan, KBBI tertawa pelan, “Motivasi, sepertinya kamu harus berganti nama. Bukannya membangkitkan semangatku, kamu malah membuatku semakin merasa tak berguna.” Kembali tertawa kecil, “Tapi kamu benar. Aku bahkan belum selesai dibaca olehnya. Sepertinya aku lebih berguna jika dijadikan alat untuk melempar.”
Seharusnya kata KBBI itu membuat kami tertawa. Tapi kami hanya menanggapinya dengan diam sambil tertunduk. Kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong KBBI. Sepanjang malam, dia terus tergeletak di lantai dalam posisi terbuka.