
Ali akhirnya menyelipkan tulisan
tangan itu pada diriku yang berjudul Generasi XIII. Dia berhasil menemukanku di
samping Buku Agung penggantiku.
“Dasar, Ari. Buku Agung asli kok
disimpan di sini?” Umpatnya pelan. Tapi dia tetap menyimpanku kembali di tempat
itu.
Sekilas kulirik Buku Agung
penggantiku. Dia kembali bersedih mendengar perkataan Ali. Aku memilih diam.
Menatap empati padanya.
Ari memasuki ruangan dengan muka
kusut khas bangun tidur. Dia menuju sofa dan duduk di sana dengan santai. Sama
sekali tidak peduli pada tatapan tajam Ali yang lurus tepat ke arahnya.
“Ali, jangan suka marah. Nanti kamu
cepat tua.” Katanya santai sambil menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, duduk
bersila.
“Dasar.. Santai sekali kamu.
Setelah membuat keributan.” Ali menggerutu sambil berjalan mendekat ke arahnya.
Dia ikut duduk di sofa lainnya.
“Keributan apa?” Tanya Ari tanpa
dosa.
Ali hanya mendelik tajam, tapi tidak
menanggapi.
“Ali.. Kenapa lama sekali di ruang
rapat? Aku sampai ketiduran menunggumu.”
“Ketiduran atau memang sengaja
ingin tidur?”
Ari cengengesan.
“Anak usia kita memang membutuhkan
banyak istirahat, Ali. Jangan terlalu serius, nanti pertumbuhan kita melambat.”
Dia kini mengarahkan tubuhnya condong ke arah Ali. “Kamu mau, disepanjang
hidupmu menjadi cebol?”
“Teori dari mana itu?!” Ali
menanggapinya dengan ketus.
Ari tertawa.
“Kamu ngapain di ruang rapat?
Kenapa lama sekali?” Ari kembali bertanya. Kali ini, dia terlihat serius.
“Emang ngapain lagi?” Menghela
napas kasar. “Aku harus membereskan dulu kekacauan yang kamu buat!”
“Benarkah?” Mata Ari berbinar.
“Sudah beres?”
Ali berdecak kesal.
Ari malah kembali tertawa. Tidak
ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.
“Lagipula..” Kalimat Ari
menggantung. “Kamu kenapa memilih mempertahankan tambang, Ali?”
Ali menjadi salah tingkah. Dia
memilih menatap ke arah lain.
“Kita berdua kan sudah sepakat
untuk mengembalikan ke pemerintah?” Ari terlihat menuntut jawaban. Namun, tidak
terlihat rasa penasaran di wajahnya.
Tentu saja, dia tahu alasan Ali.
Ali memilih diam.
“Tadi.. Aku melihat Pak Agung di
luar ruang rapat.” Perkataan Ari sukses membuat Ali kembali fokus padanya. “Dia
terlihat marah. Dia bahkan tidak menyapaku.”
Ari menautkan kedua alisnya sebagai
ekspresi penasaran. Tapi Ali masih tetap diam. Dia enggan menanggapi.
__ADS_1
“Apa kamu bertemu dengannya juga,
Ali?” Bertanya hati-hati, meski jawabannya sudah dia duga.
“Hmm.. I..Iya.”
“Apa dia mengancammu lagi?”
Pertanyaan Ari membuat Ali sangat
terkejut. Dia bahkan refleks berdiri tanpa sadar dan melotot ke arah Ari.
“Heii.. Jangan menakutkan begitu.”
Ari tertawa. “Kau memang benar-benar menyeramkan akhir-akhir ini, Ali.”
“Kau.. Tahu?” Ali terduduk lemas.
Ari mengangguk. Dia terlihat
santai. Tidak ada rona takut di wajahnya sedikitpun.
“Aku mendengar pembicaraan kalian
dua malam lalu.” Katanya santai.
“Ali, kamu jangan mudah
terprovokasi. Kamu mudah sekali takluk hanya karena ancaman kecil.”
Ali melotot, “Hei.. Apa kamu masih
sayang pada hidupmu? Kamu tahu kan, siapa yang menjadi korban jika aku tidak
memenuhi keinginannya?”
“Aku, kan?” Tebaknya dengan santai.
Setelah itu, Ari mengibaskan
tangannya tanda tidak peduli, “Aku justru sangat berharap ancaman itu segera terealisasi,
Ali.”
Dia tertawa. Mengabaikan Ali yang
sudah seperti ingin melahapnya hidup-hidup karena kesal.
“Kau.. Tidak takut?”
“Apa yang harus kutakutkan, Ali?”
Yaa.. Dia memang tidak menunjukkan
rasa takut sedikit pun.
“Apa permintaan Pak Agung kali ini?”
Tanya Ari. Dia terlihat penasaran. Sepertinya, dia tidak mengintip keduanya
“Dia ingin aku mencabut hak suaramu
yang 30% itu.”
“Hahaha.. Pak Agung sepertinya
takut sekali jika gagal.” Ari tertawa sinis. “Aku sangat penasaran, siapa yang
mendukung di belakangnya sampai dia seberani itu?”
“Menurutmu.. Aku harus bagaimana,
Ari?” Tanya Ali serius. Masih tersisa raut cemas di wajahnya.
“Jangan mengikutinya!” Ari tegas.
“Lagipula kamu tidak bisa mencabut hak suaraku begitu saja.”
Ari tersenyum penuh kemenangan. Ali
menatapnya dengan bingung.
“Ali, apa karena ancaman yang kau
terima membuatmu lupa berpikir jernih?” Dia sepertinya memahami kebingungan
Ali. “Hak suara yang kamu miliki sama dengan hak suaraku. Posisimu sudah tidak
bisa lagi memutuskan sesuatu secara sepihak.”
Ali menyandarkan dirinya dengan
lemas di sofa. Dia menyadari kesalahan fatalnya. Sekarang, dia bahkan tidak
bisa melindungi Ari karena peraturannya sendiri.
“Jangan mengkhawatirkan diriku.
Bersikap tegaslah seperti biasanya.” Ari tersenyum. “Ambillah keputusan yang
menurutmu benar, Ali.”
“Sejak kapan kamu bisa bijak
seperti itu?” Ali bertanya dengan nada ejekan.
“Ah.. Dua hari terakhir kamu selalu
sibuk, Ali. Tidak ada yang bisa kujahili selama itu. Jadi aku memutuskan untuk
mempelajari kata-kata bijak.” Ari tertawa lepas mencerna kalimatnya sendiri.
“Bagaimana? Kau tercerahkan?”
__ADS_1
Ali gemas. Dia bahkan berdiri
menghampiri Ari dan menjitak pelan kepalanya.
“Tapi.. Bagaimana jika mereka
benar-benar memenjarakanmu?” Ali masih cemas.
“Hei.. Aku justru ingin dipenjara
tahu.” Tertawa.
Ali menatap bingung, “Kenapa?”
“Hidup di penjara itu enak. Tidak
pusing.” Katanya santai.
Ali melotot.
“Lagipula, aku ingin memperbaiki
gizi, Ali.” Ari menerawang. “Pekerjaan di sana hanya makan dan tidur. Tidak perlu
pusing untuk mencari penghidupan.”
Ali semakin melotot.
“Kau lihat kan? Berat badan ayah
bahkan naik beberapa kilo saat dipenjara.” Tertawa keras. “Aku ingin menaikkan
berat badanku yang kecil ini.” Melihat ke arah badannya sendiri yang kecil,
pendek dan kurus.
Ali kembali menjitaknya. Kali ini
keras.
“Aduh..” Memegang kepalanya.
“Selain muka yang menyeramkan. Kali ini kau juga sudah bisa main tangan.”
Menggerutu.
“Ali, jangan menjadi pemimpin yang
kejam.” Dia menatap Ali dengan serius. “Dengarkan kata bijak dari penasihatmu
ini.”
Ali berdecak.
“Aku sudah memiliki banyak
penasihat. Aku tidak mau ditambah lagi. Yang sudah ada saja membuatku pusing.
Apalagi ditambah seorang amatiran sepertimu.”
Ari tertawa.
“Kau meminta bantuan Kak Tito’?”
Tanya Ali menebak.
“Iya.” Menarik napas berat. “Kau
tahu, suaraku tidak cukup jika tidak mendapat bantuan.”
“Aku khawatir dengan Kak Tito’.
Tapi aku tidak punya pilihan.” Lanjutnya lemah.
“Ya.. Kau sudah menyeretnya ke
dalam bahaya.” Kata Ali santai. Dia tidak peduli pada raut wajah Ari yang
semakin terlihat bersalah.
“Aku ngantuk, Ali.” Kata Ari sambil
beranjak dari tempat duduknya.
“Ambil keputusan yang menurutmu
benar. Jangan pusingkan aku.”
Dia menatap Ali kemudian tersenyum,
“Aku menunggu kabar tentang ruang penjara istimewa untukku. Jangan lama-lama.”
Tertawa sambil melangkah keluar
ruangan.
Ali kesal, “Segitu inginnya kau
dipenjara. Apa kau tidak takut jenuh di sana?”
“Tidak. Aku selalu tahu cara
menghibur diri.” Dia kembali berbalik ke arah Ali dan tersenyum. “Lihat saja.. Sebulan
di penjara, kau sudah mendengar bahwa aku telah membentuk boy band di sana.”
Ali mengacak rambutnya frustrasi.
Sedangkan Ari berlari menuju kamarnya dengan tertawa lepas.
Ali menyandarkan dirinya di sofa
sambil memejamkan mata selepas kepergian Ari. Sejurus kemudian, dia duduk tegak
__ADS_1
sambil mengeraskan rahang dengan kedua tangan terkepal erat.
Dia telah memutuskan..