Saksi Bisu

Saksi Bisu
Ari yang Tidak Terduga


__ADS_3

Ali akhirnya menyelipkan tulisan


tangan itu pada diriku yang berjudul Generasi XIII. Dia berhasil menemukanku di


samping Buku Agung penggantiku.


“Dasar, Ari. Buku Agung asli kok


disimpan di sini?” Umpatnya pelan. Tapi dia tetap menyimpanku kembali di tempat


itu.


Sekilas kulirik Buku Agung


penggantiku. Dia kembali bersedih mendengar perkataan Ali. Aku memilih diam.


Menatap empati padanya.


Ari memasuki ruangan dengan muka


kusut khas bangun tidur. Dia menuju sofa dan duduk di sana dengan santai. Sama


sekali tidak peduli pada tatapan tajam Ali yang lurus tepat ke arahnya.


“Ali, jangan suka marah. Nanti kamu


cepat tua.” Katanya santai sambil menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, duduk


bersila.


“Dasar.. Santai sekali kamu.


Setelah membuat keributan.” Ali menggerutu sambil berjalan mendekat ke arahnya.


Dia ikut duduk di sofa lainnya.


“Keributan apa?” Tanya Ari tanpa


dosa.


Ali hanya mendelik tajam, tapi tidak


menanggapi.


“Ali.. Kenapa lama sekali di ruang


rapat? Aku sampai ketiduran menunggumu.”


“Ketiduran atau memang sengaja


ingin tidur?”


Ari cengengesan.


“Anak usia kita memang membutuhkan


banyak istirahat, Ali. Jangan terlalu serius, nanti pertumbuhan kita melambat.”


Dia kini mengarahkan tubuhnya condong ke arah Ali. “Kamu mau, disepanjang


hidupmu menjadi cebol?”


“Teori dari mana itu?!” Ali


menanggapinya dengan ketus.


Ari tertawa.


“Kamu ngapain di ruang rapat?


Kenapa lama sekali?” Ari kembali bertanya. Kali ini, dia terlihat serius.


“Emang ngapain lagi?” Menghela


napas kasar. “Aku harus membereskan dulu kekacauan yang kamu buat!”


“Benarkah?” Mata Ari berbinar.


“Sudah beres?”


Ali berdecak kesal.


Ari malah kembali tertawa. Tidak


ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.


“Lagipula..” Kalimat Ari


menggantung. “Kamu kenapa memilih mempertahankan tambang, Ali?”


Ali menjadi salah tingkah. Dia


memilih menatap ke arah lain.


“Kita berdua kan sudah sepakat


untuk mengembalikan ke pemerintah?” Ari terlihat menuntut jawaban. Namun, tidak


terlihat rasa penasaran di wajahnya.


Tentu saja, dia tahu alasan Ali.


Ali memilih diam.


“Tadi.. Aku melihat Pak Agung di


luar ruang rapat.” Perkataan Ari sukses membuat Ali kembali fokus padanya. “Dia


terlihat marah. Dia bahkan tidak menyapaku.”


Ari menautkan kedua alisnya sebagai


ekspresi penasaran. Tapi Ali masih tetap diam. Dia enggan menanggapi.

__ADS_1


“Apa kamu bertemu dengannya juga,


Ali?” Bertanya hati-hati, meski jawabannya sudah dia duga.


“Hmm.. I..Iya.”


“Apa dia mengancammu lagi?”


Pertanyaan Ari membuat Ali sangat


terkejut. Dia bahkan refleks berdiri tanpa sadar dan melotot ke arah Ari.


“Heii.. Jangan menakutkan begitu.”


Ari tertawa. “Kau memang benar-benar menyeramkan akhir-akhir ini, Ali.”


“Kau.. Tahu?” Ali terduduk lemas.


Ari mengangguk. Dia terlihat


santai. Tidak ada rona takut di wajahnya sedikitpun.


“Aku mendengar pembicaraan kalian


dua malam lalu.” Katanya santai.


“Ali, kamu jangan mudah


terprovokasi. Kamu mudah sekali takluk hanya karena ancaman kecil.”


Ali melotot, “Hei.. Apa kamu masih


sayang pada hidupmu? Kamu tahu kan, siapa yang menjadi korban jika aku tidak


memenuhi keinginannya?”


“Aku, kan?” Tebaknya dengan santai.


Setelah itu, Ari mengibaskan


tangannya tanda tidak peduli, “Aku justru sangat berharap ancaman itu segera terealisasi,


Ali.”


Dia tertawa. Mengabaikan Ali yang


sudah seperti ingin melahapnya hidup-hidup karena kesal.


“Kau.. Tidak takut?”


“Apa yang harus kutakutkan, Ali?”


Yaa.. Dia memang tidak menunjukkan


rasa takut sedikit pun.


“Apa permintaan Pak Agung kali ini?”


Tanya Ari. Dia terlihat penasaran. Sepertinya, dia tidak mengintip keduanya


“Dia ingin aku mencabut hak suaramu


yang 30% itu.”


“Hahaha.. Pak Agung sepertinya


takut sekali jika gagal.” Ari tertawa sinis. “Aku sangat penasaran, siapa yang


mendukung di belakangnya sampai dia seberani itu?”


“Menurutmu.. Aku harus bagaimana,


Ari?” Tanya Ali serius. Masih tersisa raut cemas di wajahnya.


“Jangan mengikutinya!” Ari tegas.


“Lagipula kamu tidak bisa mencabut hak suaraku begitu saja.”


Ari tersenyum penuh kemenangan. Ali


menatapnya dengan bingung.


“Ali, apa karena ancaman yang kau


terima membuatmu lupa berpikir jernih?” Dia sepertinya memahami kebingungan


Ali. “Hak suara yang kamu miliki sama dengan hak suaraku. Posisimu sudah tidak


bisa lagi memutuskan sesuatu secara sepihak.”


Ali menyandarkan dirinya dengan


lemas di sofa. Dia menyadari kesalahan fatalnya. Sekarang, dia bahkan tidak


bisa melindungi Ari karena peraturannya sendiri.


“Jangan mengkhawatirkan diriku.


Bersikap tegaslah seperti biasanya.” Ari tersenyum. “Ambillah keputusan yang


menurutmu benar, Ali.”


“Sejak kapan kamu bisa bijak


seperti itu?” Ali bertanya dengan nada ejekan.


“Ah.. Dua hari terakhir kamu selalu


sibuk, Ali. Tidak ada yang bisa kujahili selama itu. Jadi aku memutuskan untuk


mempelajari kata-kata bijak.” Ari tertawa lepas mencerna kalimatnya sendiri.


“Bagaimana? Kau tercerahkan?”

__ADS_1


Ali gemas. Dia bahkan berdiri


menghampiri Ari dan menjitak pelan kepalanya.


“Tapi.. Bagaimana jika mereka


benar-benar memenjarakanmu?” Ali masih cemas.


“Hei.. Aku justru ingin dipenjara


tahu.” Tertawa.


Ali menatap bingung, “Kenapa?”


“Hidup di penjara itu enak. Tidak


pusing.” Katanya santai.


Ali melotot.


“Lagipula, aku ingin memperbaiki


gizi, Ali.” Ari menerawang. “Pekerjaan di sana hanya makan dan tidur. Tidak perlu


pusing untuk mencari penghidupan.”


Ali semakin melotot.


“Kau lihat kan? Berat badan ayah


bahkan naik beberapa kilo saat dipenjara.” Tertawa keras. “Aku ingin menaikkan


berat badanku yang kecil ini.” Melihat ke arah badannya sendiri yang kecil,


pendek dan kurus.


Ali kembali menjitaknya. Kali ini


keras.


“Aduh..” Memegang kepalanya.


“Selain muka yang menyeramkan. Kali ini kau juga sudah bisa main tangan.”


Menggerutu.


“Ali, jangan menjadi pemimpin yang


kejam.” Dia menatap Ali dengan serius. “Dengarkan kata bijak dari penasihatmu


ini.”


Ali berdecak.


“Aku sudah memiliki banyak


penasihat. Aku tidak mau ditambah lagi. Yang sudah ada saja membuatku pusing.


Apalagi ditambah seorang amatiran sepertimu.”


Ari tertawa.


“Kau meminta bantuan Kak Tito’?”


Tanya Ali menebak.


“Iya.” Menarik napas berat. “Kau


tahu, suaraku tidak cukup jika tidak mendapat bantuan.”


“Aku khawatir dengan Kak Tito’.


Tapi aku tidak punya pilihan.” Lanjutnya lemah.


“Ya.. Kau sudah menyeretnya ke


dalam bahaya.” Kata Ali santai. Dia tidak peduli pada raut wajah Ari yang


semakin terlihat bersalah.


“Aku ngantuk, Ali.” Kata Ari sambil


beranjak dari tempat duduknya.


“Ambil keputusan yang menurutmu


benar. Jangan pusingkan aku.”


Dia menatap Ali kemudian tersenyum,


“Aku menunggu kabar tentang ruang penjara istimewa untukku. Jangan lama-lama.”


Tertawa sambil melangkah keluar


ruangan.


Ali kesal, “Segitu inginnya kau


dipenjara. Apa kau tidak takut jenuh di sana?”


“Tidak. Aku selalu tahu cara


menghibur diri.” Dia kembali berbalik ke arah Ali dan tersenyum. “Lihat saja.. Sebulan


di penjara, kau sudah mendengar bahwa aku telah membentuk boy band di sana.”


Ali mengacak rambutnya frustrasi.


Sedangkan Ari berlari menuju kamarnya dengan tertawa lepas.


Ali menyandarkan dirinya di sofa


sambil memejamkan mata selepas kepergian Ari. Sejurus kemudian, dia duduk tegak

__ADS_1


sambil mengeraskan rahang dengan kedua tangan terkepal erat.


Dia telah memutuskan..


__ADS_2