Saksi Bisu

Saksi Bisu
Mengunjungi Hakim (2)


__ADS_3

“Bagaimana kabar Bapak?” Tanya Tito’, ramah.


“Ah… Lebih baik dari yang kuduga.” Jawabnya tertawa kecil. “Aku merasa lebih tenang. Apalagi saat mengetahui bahwa generasi penerusku ternyata dapat diandalkan lebih dari yang kuharapkan.”


“Pak Hakim sungguh hebat. Apa yang mendorong bapak sampai harus memilih anak-anak seperti mereka?” Tanya


Tito’ takjub.


“Itu bukan ideku.” Jawab Hakim.


Aku tahu, hal itu tidak membuatku terkejut. Hakim pernah bercerita padaku tentang itu, namun kemudian dihapus


karena suatu alasan.


“Bukan ide Pak Hakim?” Tanya Tito’ yang terdengar bingung.


“Iya.” Hakim menghembuskan napasnya perlahan, “Terus terang, aku termasuk penentang keras perekrutan


generasi penerus usia 5-15 tahun.”


“Maksud bapak?” Tito’ masih bingung. “Bukankah waktu itu bapak rela ditentang oleh berbagai kalangan


termasuk Dewan Penasihat keluarga sendiri?”


Hening.


“Tapi, jika nyatanya bapak sendiri penentang keras perekrutan usia lima hingga lima belas tahun, lalu kenapa tampil di muka umum dengan pendapat yang sebaliknya?”


Hakim tertawa renyah, “Aah.. Itu masa lalu. Aku justru bersyukur telah mengambil sikap demikian.” Hakim menghela napas, “Sudahlah, masa lalu itu tak perlu dibahas lagi.”


“Tapi..”


“Selamat siang, Ayah.” Sapa Ari, riang.


“Siang.” Jawab Hakim, “Eh.. Kenapa pemimpin keluarga ke tempat seperti ini di saat jam kerja?” tanyanya menggoda.


Dari nada bicaranya, aku yakin Hakim tahu apa yang terjadi. Entah seberapa sering Ari dan Ali mengunjunginya.


“Yaa.. Kami datang untuk bekerja.” Jawab Ari yang meladeni godaan ayahnya.


Mereka bertiga tertawa.


Entah bagaimana ekspresi Tito’.


“Kami datang untuk mendiskusikan sesuatu paman.” Ali berkata serius.


“Loh.. kalian kan punya Dewan Penasihat. Tugas kalian sebagai pemimpin adalah berdiskusi dengan mereka.”


“Tapi Ayah, mereka itu seenaknya sendi..” Kalimat Ari tiba-tiba terpotong.

__ADS_1


“Aaahh.. Ini Tito’. Kalian pasti tahu dia kan? Karena dia salah satu anggota Dewan Penasihat keluarga.”


Kata Hakim menyadari situasi.


Ari dan Ali sepertinya baru menyadari kehadiran Tito’ di sana.


“Dewan Penasihat kenapa?” Tanya Tito’ santai.


“Ehh..” Ari terdengar bingung.


“Jangan khawatir, Tito’ di pihak kalian.” Hakim mencairkan suasana, “Dia bahkan selalu menyempatkan diri


mengunjungiku hampir setiap malam untuk menyampaikan kabar terbaru padaku.”


Jadi, itu alasan kenapa Tito’ tidak pernah membantu Zen mengumpulkan buku?


“Oh..” Ari dan Ali lega.


“Ada masalah apa lagi?” Tanya Hakim.


Sudah kuduga, Ari dan Ali selalu berkonsultasi dengannya.


“Ini Paman, soal Buku Agung.” Kata Ali sambil memelankan suaranya.


Mungkin saja pembahasan tentangku sangat tabu di ruangan ini.


“Kenapa dengan Buku Agung?” Tanya Hakim, tertarik.


“Buku Agung yang asli..” Ali mengambil napas, “dikirim seseorang ke rumah dinas tadi pagi.”


“Benarkah?” Hakim tidak percaya, “Mengapa kamu mengirimkannya Tito’?”


Tito’ diam saja. Aku yakin dia terkejut.


Hening.


“Aku memerintahkanmu untuk menjaganya di rumahmu bukan?”


“Bu.. Bukan aku yang melakukannya.” Tito’ terbata-bata.


“Ya Tuhan.. Siapa lagi yang terlibat?” Hakim bingung.


“Kupikir.. Kak Tito’ yang mengirimkan ke kita.” Kata Ari.


“Bukan aku.” Tito’ mengambil napas berat. “Aku justru kemari untuk meminta maaf karena kehilangan buku itu.”


“Aku sangat takut. Tapi aku tidak punya pilihan lain selain mengakui keteledoranku. Tapi, aku sama sekali tidak menyangka buku itu akan dikirim kepada kalian.” Tito’ berusaha menjelaskan dengan badan yang masih bergetar.


“Aku benar-benar minta maaf.”

__ADS_1


“Sudahlah.” Hakim akhirnya bersuara, pasrah. “Setidaknya, buku itu tidak jatuh ke tangan yang salah.”


“Kak Tito’, aku ingin memberikan ini.” Kata Ali.


“Buku Harianku?” Tito’ berseru kaget.


Sepertinya, kehilangan diriku membuatnya lupa tentang buku hariannya yang juga raib.


“Ya.. Buku itu dikirimkan satu paket dengan Buku Agung.”


“Oh..”


Tito’ meraih ranselnya di punggung dan memasukkan Buku Kecil. Setelah itu, dia mengeluarkanku dari sana. Tidak ada waktu bagiku dan Buku Kecil untuk bercakap-cakap. Kami hanya saling memandang dan tersenyum.


“Aku ingin mengembalikan kertas ini.” Kata Tito’ sambil menyerahkanku pada Ali, “Aku sungguh minta maaf telah mencampuri sejarah keluarga kalian.”


“Kak Tito’ justru sangat membantu kami.” Ali tersenyum tulus, “Ambil saja kertasnya kak. Aku yakin, suatu saat kakak membutuhkannya.” Ali mendorongku kembali ke Tito’ dengan senyum penuh arti.


“Aku sungguh sudah tidak membutuhkannya lagi.” Tito’ menggeleng tegas sambil menyerahkanku kembali pada


Ali, “Aku justru sudah sangat lancang karena berani menulis pada Buku Agung tanpa izin.”


“Lalu bagaimana jika Kak Zen bertanya tentang kertasnya?” Tanya Ali tersenyum simpul.


Tito’ sepertinya teringat sesuatu, “benar juga.” Katanya lemah sambil meletakkanku di pangkuannya.


“Dia pasti akan bertanya padaku tentang kertas ini.” Tito’ menghela napas, “Tapi, bagaimana kamu tahu tentang Zen?” Tanyanya heran.


Ali tersenyum kikuk, “Aku minta maaf, aku membaca buku hariannya.”


Muka Tito’ merah padam.


Jelas sekali dia terlihat malu.


“Aku hanya mencari identitas pengirim paket.” Kata Ali terburu-buru, “Jangan khawatir, aku hanya membaca sampul dan tulisan terakhir tentang Kak Zen. Aku tidak sempat membaca keseluruhan.”


“Oh..” Tito’ tersenyum kikuk, lega.


Tito’ memang menyempatkan diri menulis sesuatu pada Buku Kecil semalam. Sebenarnya aku penasaran, tapi rasa takut menghalangiku bertanya pada Buku kecil.


“Memangnya.. Ada rahasia apa di buku itu kak?” Tanya Ari menggoda.


Tito’ masih terlihat malu. Dia diam saja, enggan menanggapi.


“Ada kisah tentang seseorang yang spesial yah?” Ari tidak menyerah.


Muka Tito’ semakin memerah.


Ali dan Hakim tersenyum simpul.

__ADS_1


__ADS_2