
Keajaiban yang tak di duga, Athallah semakin lama tangisannya reda di gendongan Aurelia, ajaib sekali bukan dan tidak bisa disangkal oleh siapa pun. Emran sedikit tertegun melihat sikap putranya, kerewelannya yang semalaman mengganggu waktu istirahatnya tergantikan dengan ketenangannya, hanya bertemu dengan Aurelia saja.
Emran menarik napasnya dalam-dalam dan menyugarkan rambutnya ke belakang lalu mencoba menyegarkan netranya dengan mengucek mata yang terasa perih karena menahan rasa kantuknya. Pak Yusuf bernapas lega melihat Athallah tidak rewel lagi, sementara Lilis hanya bisa berdiam melihatnya, mau berkomentar apapun juga bingung.
Dibalik kejadian ini, ada 3 pasang mata menatap dari ambang pintu, jangan ditanya cara menatap mereka. Yang usia muda rasa iri dan rasa ingin tahunya sudah ada di atas ubun-ubun kepalanya. Sedangkan sang ibu kandung memicingkan netranya dan hanya berani melangkah beberapa langkah kakinya, maklum tidak enak dengan besan yang ada di sampingnya, sementara sang mertua menatap kecewa sekali pada menantunya.
Lalu, kemana sang suami? Pria yang baru saja menerima tendangan maut sedang tertatih-tatih turun ke bawah mencari keberadaan istri sahnya di bawah, berharap wanita itu masih ada di rumahnya, dan rencananya dia akan menegur Aurelia di depan ibunya, biar tahu jika menantu yang dipilihnya sudah lalai menjalankan kewajibannya sebagai istri, dan tidak menurut padanya.
“Wow menarik nih, ternyata menantu Ibu ada main sama pria beristri, masa pagi-pagi begini sudah bertamu ke rumah istri orang,” celetuk Faiza dengan sengajanya berkata seperti itu berhubung ibu mertua ada di sampingnya. Netra Bu Hana langsung melirik dengan tatapan menyelidik.
“Jangan asal bicara kamu!” tegur Bu Hana terlihat tidak suka.
Faiza tersenyum tipis. “Saya hanya menduga saja kok Bu, aneh aja pagi-pagi ada yang bertamu ternyata suami orang, dan lihat saja Aurelia langsung mengendong anak pria itu, jadi itu artinya mereka ada sesuatu kan,” lanjut kata Faiza, terkesan tenang saat berbicara tapi dia mengiring ombak yang bisa menerpa orang yang hanya berdiam diri.
Cukup lama Emran dan Aurelia berdiri di depan pintu mobil, dan dirasa sudah cukup berdiri di sana. “Sebaiknya kita ke mansion, bukannya kamu mau ke mansion saya kan?” tanya Emran, seperti biasa wajahnya sangat datar tidak ada ekspresinya.
“Iya Tuan, memang saya mau berangkat kerja, kalau begitu saya pamitan dulu sama orang rumah,” pinta Aurelia.
“Tidak pakai lama, saya tunggu di dalam!” perintah Emran, ya iya kali bos suruh nungguin anak buahnya lama-lama, kali ini dia rela melakukannya demi apa! Demi Athallah, padahal dia gengsinya sangat luar biasa, tapi wajar sih jika punya value yang tinggi sangat sesuai dengan embel-embel yang ada di belakangnya.
Wanita muda itu menghampiri Lilis masih dalam keadaan mengendong Athallah karena bocah itu tak mau lepas darinya.
“Bu Lilis, saya makasih banyak ya udah merepotkan pagi-pagi,” ucap Aurelia.
“Iya gak pa-pa,” jawab Lilis sembari mengusap lengan Athallah. Selanjutnya dia menghampiri ketiga orang yang berada di teras rumah.
__ADS_1
“Bu, aku pergi dulu,” pamit Aurelia, mencium satu persatu tangan wanita paruh baya itu. Sedangkan netra Faiza masih memantau pergerakan pria itu yang kini masuk ke dalam mobil mewah itu, dan tetap tidak menolehkan wajahnya ke rumah Dhafi, ah jengkel sekali perasaan Faiza rasanya ingin berlari mendekatinya tapi dia harus menjaga imagenya sebagai wanita baik-baik di hadapan Bu Hana. “Pasti pria itu orang kaya, dilihat dari mobilnya pasti harga milyaran!” batin Faiza menerka-nerka.
Setelah itu Faiza menatap sinis Ke arah Aurelia. “Wah sudah dijemput langganan kamu rupanya ya, ternyata kamu mainan orang kaya ya, kasihan sekali Mas Dhafi ... istrinya punya kelakuan kayak begini rupanya!” sindir Faiza dengan seenaknya berkata seperti itu. Aurelia menatap tajam lalu menampar bibir Faiza begitu saja, tanpa banyak kata.
Faiza terkejut dan langsung menutup mulutnya dengan tangannya, Bu Hana dan Bu Ida terlihat tercengang dengan sikap Aurelia yang terbilang berani untuk ukuran wanita yang memiliki hati lembut. Bersamaan itu dari kejauhan Aurelia melihat Dhafi yang mulai mendekati ambang pintu.
“Terima kasih atas penghinaan kamu, Mbak Faiza!” Aurelia berbalik badan lalu meninggalkan rumahnya, Athalla dalam gendong Aurelia menatap orang-orang tersebut, siapa yang tak menyangka jika bocah yang digendong Aurelia sangat tampan, sudah bisa dipastikan jika pria bertubuh tegap itu memiliki paras yang tampan, semakin membatin Faiza melihatnya.
“Anak siapa itu! Aurelia!” teriak Dhafi yang baru saja lihat keberadaan istrinya, dan melihat Aurelia masuk ke dalam mobil mewah itu, lalu pintu mobil itu tertutup. Hatinya jangan ditanya saat Aurelia masuk ke dalam mobil mewah, marah campur! Campur apa Dhafi?
Melepas kepergian mobil mewah tersebut dengan seribu pertanyaan yang ada dibenak masing-masing orang, Dhafi pun tidak menyangka jika istrinya masuk ke dalam mobil mewah itu, pikiran sudah pasti negatif thinking. Buat Faiza sendiri ini kesempatan bagus untuk menjelekkan Aurelia di depan Bu Hana dan Kakek Dwi.
Dalam mobil Emran barulah kembali melihat rumah yang ditempati oleh Aurelia yang menurut dia termasuk mewah untuk kalangan menengah ke bawah, lalu dia melihat ada dua mobil di garasi rumah tersebut, secara kesat mata berarti memiliki ekonomi yang bagus.
Selama Aurelia memangku Athallah, tak sadar lengan kaosnya ketarik ke atas, Emran yang diam-diam masih melirik pengasuh anaknya tertangkap ada bekas luka lebam, tapi setelah itu dia pura-pura tidak melihatnya.
“Lengannya kenapa? Ah kenapa aku harus tahu, ck,” batin Emran, membuang rasa penasarannya.
Kembali ke rumah Dhafi ...
“Siapa yang datang tadi, kenapa Aurelia masuk ke mobil tadi?” tanya Dhafi entah kepada siapa.
“Aaw ... bibirku sakit habis ditampar Aurelia,” keluh Faiza memelas, biasa cari perhatian sama Dhafi, sedangkan pria itu hanya melirik sejenak, lalu kembali menatap ke arah luar.
Bu Hana jelas sekali menatap tajam ke arah Dhafi dan Faiza, sementara Bu Ida yang tidak tahu jawabannya memilih masuk ke dalam.
__ADS_1
“Dhafi, kamu tahu istri kamu bekerja di mana?” tanya Bu Hana.
Dhafi mengusap tengkuknya, terlihat sekali jika pria itu tidak tahu jawabannya. Bu Hana tersenyum miring atas sikap Dhafi, lalu dia layangkan tatapan tajamnya pada Faiza yang kini berdiri di samping putranya.
“Sepertinya mulut kamu mudah sekali menjudge seseorang, padahal dia adalah saudaramu sendiri. Pantas saja Aurelia menampar mulutmu yang tidak pernah disekolahkan. Kamu pikir saya bisa ke makan dengan fitnahan kamu tersebut. Sungguh picik sekali kamu!” tegur Bu Hana, tak segan-segan dia menoyor kening Faiza di depan Dhafi, lalu masuk ke dalam rumah. Ingin sekali Faiza meneriaki Bu Hana, tapi dia membuat air mukanya menyedihkan pada Dhafi, agar dikasihani oleh suami sirinya.
“Sudah aku bilang jangan buat masalah Faiza!” ucap Dhafi begitu lirihnya. Wanita itu membalasnya dengan menghentakkan kedua kakinya, kesal.
Kakek Dwi ternyata sejak tadi ada di luar rumah karena tadi sholat shubuh di masjid dan setelah itu berkeliling komplek, pria tua itu melihat jelas pria yang keluar dari mobil itu, dan melihat interaksi mereka berdua, terkesan tidak terlalu akrab karena Aurelia fokus dengan anak kecil tersebut bukan pada pria dewasa itu. Dan dari tempat dia berdiri, Kakek Dwi melihat jelas tingkah laku Faiza dan Dhafi yang terlihat berbeda.
Pria tua itu menyeringai tipis, dan kini menyadari jika ada yang aneh dengan pernikahan cucunya. Kakek Dwi melangkahkan kakinya, suara gesekan sendal jepitnya terdengar jelas ketika masuk ke dalam halaman rumah. Dhafi dan Faiza berhenti berbicara dan menolehkan wajahnya ke halaman.
Lagi-lagi pria tua menyeringai kembali dan menatap dalam wajah cucunya. “Sepertinya Kakek mencium gelagat yang pernah dialami oleh ibumu,” sindir Kakek Dwi saat sudah mendekati mereka berdua.
Mendadak wajah Dhafi menegang, sementara Faiza terlihat kikuk. Tangan tua itu menepuk pundak pria muda itu. “Sepertinya kakek harus mencari alih waris yang lain!”
Sontak saja netra Dhafi membulat, seakan bola matanya ingin keluar dari sarangnya, Kakek Dwi membalasnya dengan senyum miringnya dan melangkah masuk ke dalam rumah.
“Kakek!” panggil Dhafi.
Bayangan akan menerima tanah perkebunan berpuluh-puluh hektar, seakan melayang dari impiannya.
“Ini semuanya pasti gara-gara kamu! Aku bilang kamu jangan ada di sini! Awas saja kalau aku sampai dicoret dari surat wasiat, aku ceraikan kamu saat itu juga!” Pria itu mendengkus kesal pada Faiza, lalu dia masuk ke dalam rumah untuk menyusul Kakek Dwi.
Bersambung ...
__ADS_1