
Dhafi sudah dipersilahkan untuk presentasi laporan kerja teamnya, sementara Emran sorot matanya masih tertuju dengan lembaran-lembaran kertas yang sudah dia terima, terutama angka anggaran yang terpampang jelas, satu persatu item bagiannya dia telusuri tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.
“Pak Emran bisa saya mulai presentasinya?” tanya Dhafi begitu sopannya walau kerongkongannya tiba-tiba terasa kering.
“Dimulai saja, apalagi yang kamu tunggu,” jawab Emran dingin, tanpa mendongakkan wajahnya, netranya masih menatap laporan.
“B-baik Pak Emran, kalau begitu saya mulai,” jawab Dhafi agak terbata, karena harapan untuk membuyarkan fokus Emran gagal saat itu juga.
Pria itu pun bergerak maju ke depan tepatnya di samping layar proyektor, dia pun mulai membuka presentasi lapor kerjanya itu dengan menunjukkan kewibawaannya sebagai manajer. Semua mata staf tertuju pada Dhafi, namun berbeda dengan Emran justru masih fokus membaca dan kelihatan dia berbincang pada Adam dengan jemarinya yang menunjuk ke beberapa poin yang telah ditandai sebelumnya di berkas laporan tersebut.
Keringat berukuran sebiji jagung mulai bermunculan saat Dhafi mulai memaparkan laporannya, pikirannya jadi bercabang ketika Emran mengangkat wajahnya lalu menatap tajam padanya.
Sekitar 30 menit Dhafi menjelaskan laporan kerja team marketingnya, tepuk tangan riuh dilayangkan oleh para staf marketing tanda puas atas laporan divisi mereka. Namun berbeda hal dengan sikap Emran yang tidak mengekspresikan apapun, tidak dengan tepuk tangannya seperti yang lain.
Dhafi mengusap peluhnya dengan sapu tangan, kemudian kembali duduk di kursinya. Emran menaikkan salah satu sudut bibirnya, dan semua menghentikan tepuk tangannya dan kembali mengalihkan pandangannya pada sang pemilik perusahaan.
Sementara itu di sekolah Athallah dalam waktu yang sama, utusan Emran sudah datang bertepatan dengan jam pulang sekolahnya Athallah, untuk menjemput Aurelia bersama majikan kecilnya.
Wanita muda itu menggandeng tangan mungil Athallah, untuk saat ini dia tidak berani mengangkat Tau mengendong majikan kecil, takut pinggangnya kembali kram.
Mobil yang membawa Aurelia dan Athallah melaju menuju butik Sabrina sesuai pesan tuan besarnya.
“Loh kok, kita ke sini Pak, kenapa tidak langsung pulang ke mansion saja?” tanya Aurelia dengan tatapan herannya, ketika mobil mewah itu terparkir di depan butik Sabrina. Tommy salah satu ajudan Emran menoleh ke belakang.
“Saya menjalankan perintah tuan besar, mari saya antar ke dalam dulu. Karena setelah ini Mbak sama Tuan muda ditunggu kedatangannya di perusahaan.”
Wajah Aurelia mulai tampak kebingungan, sementara Athallah mendengar akan ke kantor daddynya tampak girang.
“Hole, mau main ke kantol daddy, Atha cenang,” sahut Athallah dengan merentangkan kedua tangannya ke atas. Aurelia hanya bisa tersenyum tipis saja, mau bagaimana lagi ini salah satu bagian dari kerjanya yang harus dilaksanakan.
__ADS_1
Pintu mobil terbuka, “Ayo Abang ... kita turun dulu ya,” ajak Aurelia menuntun majikan kecilnya keluar dari mobil. Tommy bergegas mengendong Athallah dan membawanya ke dalam butik dan disusul oleh Aurelia.
Sang pemilik perusahaan ternyata sudah menunggu kehadiran Aurelia sesuai pesan Adam.
“Selamat datang,” sapa Febby, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan modis itu menyambut Aurelia dengan ramahnya.
Aurelia menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat. “Terima kasih Bu,” ucap Aurelia dengan sopannya, walau kedua tungkai kakinya sudah gemetaran saat masuk ke dalam butik yang tampak mewah dan berkelas. Ini untuk pertama kalinya dia menginjakkan kakinya ke butik mewah bukan pasar tradisional seperti di kampungnya.
“Perkenalkan saya Febby, yang akan membantu Mbak-nya, namanya Aurelia, kan?” tanya Febby sembari mengulurkan tangannya.
Aurelia menyambut tangan tersebut. “I-iya Bu, saya Aurelia,” jawab Aurelia dengan tatapan bingungnya. Setelah itu dia mencari keberadaan majikan kecilnya ternyata sudah duduk manis dengan Tommy ditemani berbagai cemilan yang sudah disuguhi oleh karyawan butiknya.
“Mari ikut saya ke dalam,” ajak Febby mengarahkan tangannya.
“Eeh iya, tapi saya kok jadi bingung sebenarnya ada apa ya, Bu?” tanya Aurelia untuk membuang kebingungannya.
“Pak Emran telah menyiapkan beberapa baju untuk Mbak Aurelia coba, dan segera mengganti pakaiannya, itu pesan yang saya terima. Jadi mohon kerjasamanya,” balas Febby.
“Tuan Emran,” gumamnya, ah semakin bingung dengan maksud dari pria tersebut. Namun dia tetap mengikuti langkah wanita paruh baya itu, menuju salah satu ruang.
Di sanalah beberapa baju dalam segala model tergantung di rak gantung. Sungguh netra Aurelia tampak terpesona dengan baju-baju yang ditunjukkan oleh Febby.
“Sekarang Mbak bisa coba satu persatu biar saya lihat pas atau tidaknya, bisa ganti di kamar ganti,” pinta Febby dengan ramahnya.
“Ba-baik Bu Febby,” jawab Aurelia nurut, walau tangannya sudah gemetaran membawa beberapa stel pakaian ke kamar ganti.
Satu persatu dia mencoba pakaian yang sangat indah dan bagus itu, Aurelia melihat pantulan dirinya di cermin besar itu, sungguh dia terkesima melihat dirinya langsung tampak berbeda karena pakaian yang dia kenakan itu, namun lagi-lagi hatinya jadi sedih kenapa tuan besarnya menyiapkan pakaian untuknya, sementara suaminya tidak pernah peduli dengan kebutuhan pakaiannya. Satu jam telah berlalu, Aurelia berkali-kali memperlihatkan pakaian yang dia kenakan pada Febby, dan sang pemilik tampak puas. Dan kali ini Aurelia bergeming melihat dirinya yang sudah di make over dari ujung kaki sampai ujung rambut oleh team Febby.
Sosok Aurelia terlihat berbeda, aura kecantikannya baru keluar, padahal MUAnya hanya memoleskan tipis make-up. Siapa disangka jika Aurelia tidak terlihat sebagai baby sitter tapi cenderung ke anak kuliahan dan terkesan memiliki wajah orang kaya.
__ADS_1
Konsep stlye yang dipilih oleh Febby membuat Aurelia sesuai dengan usianya yang masih muda. Celana jeans warna denim lalu dipadu dengan blouse putih dengan lipatan renda besar, serta sepatu heals warna ten dengan tinggi hak 5 cm. Untuk rambut panjangnya digerai dan diberikan sentuhan gelombang.
“That's perfect, kamu sangat cantik. Pesan saya kalau di rumah sering bersihkan wajahnya biar semakin terawat, kulit wajahmu sudah bagus,” puji Febby.
Wanita muda itu tersenyum, “Terima kasih, Bu atas segalanya,” ucap Aurelia.
“Sama-sama, sekarang berangkatlah nanti terlambat,” pinta Febby.
“Iya Bu Febby, tapi masalah ini semua bagaimana?” tanya Aurelia, melihat baju yang dia coba ternyata sudah dibungkus ke dalam paperbag dan juga sudah diboyong ke mobil Emran.
Wanita paruh baya itu menepuk lembut lengan wanita itu. “Ini sudah dibayar oleh Tuan Emran, kamu tidak perlu khawatir.” Semakin tercengang dibuatnya, sungguh hal ini menjadi beban buat Aurelia menerima kebaikan tuannya.
Dengan penampilan barunya, dia kembali masuk ke dalam mobil, dan pikirannya nanti akan mencoba bicara dengan Emran. Kini, mobil itu melaju menuju perusahan Emran.
Bola mata mungil Athallah sejak tadi setia menatap pengasuhnya. “Mbak, tantik deh, Atha cuka lihatnya,” ujar polos Athallah.
Aurelia jadi tersipu malu-malu, gak enak hati dibilang cantik sama majikan kecilnya. “Makasih Abang, sayangnya Mbak gak punya permen buat Abang.”
“No, makan pelmen bikin cakit gigi, mending Mbak peluk Atha aja,” pinta Athallah dengan menunjukkan senyum gemasnya.
Aurelia semakin terharu, dan langsung merangkul bahu bocah tampan itu. “Mbak sayang sama Atha.”
“Atha juga cayang cama Mbak, semoga aja Daddy cayang juga sama Mbak,” jawab Athallah dengan polosnya.
Sontak saja Aurelia melongo!
Bersambung ...
__ADS_1