Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Dhafi terpesona


__ADS_3

Handle pintu sudah diputar oleh Adam, dengan mengucapkan salam Aurelia pun masuk ke dalam ruang rawat didampingi oleh Emran.


“Waalaikumsalam,” jawab serempak yang ada di dalam kamar sembari menolehkan wajahnya ke arah pintu.


Bu Ida nampak terkejut melihat siapa yang datang, hingga mulutnya mengangga melihat penampilan anaknya yang begitu cantik dan berkelas, serta pria tampan dengan gagahnya berdiri di belakang Aurelia. Melihat Emran, Bu Ida berasa melihat orang paling kaya yang ada di film-film.


Wanita paruh baya itu pun lantas bangkit dari duduknya untuk menghampiri putri pertamanya. Aurelia sebagai anak langsung mencium tangan ibunya.


“Ini beneran kamu, Nak ... Kok Ibu pangling ya, kamu sangat berbeda?” tanya Bu Ida saat anaknya mencium tangannya, lalu ujung ekornya diam-diam melirik Emran.


“Siapa dia? Kalau lihat penampilannya seperti orang kaya,” batin Bu Ida mulai bertanya-tanya.


Bu Hana yang melihat kedatangan Aurelia tampak berseri-seri wajahnya, namun wajah serinya cepat meredup melihat kehadiran Emran, sedangkan Ayah Jafri hanya mengamatinya saja.


“Iya Bu ini aku Aurelia,” jawab Aurelia, lalu dia lanjut bersalaman dengan Bu Hana dan Ayah Jafri. Emran hanya berdiri dan sengaja tidak memperkenalkan dirinya, rasanya Bu Ida ingin tahu namun terlihat enggan, karena melihat aura karisma Emran yang tak tersentuh.


Dhafi yang berada di atas ranjang, semula sempat memejamkan matanya, namun sekarang dia membuka matanya dan melihat siapa yang datang.


Bu Hana yang melihat anaknya membuka matanya langsung menghampiri ranjang Dhafi. “Dhafi, lihatlah istrimu yang cantik sudah datang,” ucap Bu Hana sengaja meninggikan suaranya. Ranjang Dhafi pun agak ditinggikan bagian atasnya jadi agak setengah berbaring.


Aurelia dari kejauhan mulai melangkah mendekati ranjang yang ditempati oleh suaminya, mereka berdua pun saling bersitatap. Dhafi tampak terpesona dengan kehadiran Aurelia, sementara Aurelia terlihat biasa saja.


Aurelia melihat kondisi tubuh suaminya yang sudah mendapatkan beberapa luka di bagian tubuhnya, terlihat dari perban yang melekat, ada yang di kepala, tangan dan di kaki.


“Aku turut berduka atas kejadian yang menimpamu, Mas Dhafi,” ucap Aurelia begitu dingin, dan terlihat sikapnya tidak seperti istri yang mengkhawatirkan suaminya yang sedang tertimpa musibah.

__ADS_1


“Kamu Aurelia, benar istri aku?” tanya Dhafi dengan tatapannya yang sangat menyelidik.


Wanita muda yang kini berdiri di tepi ranjang itu mengulas senyum tipisnya saat Dhafi menanyakan statusnya.


“Aku dengar dari Bu Hana, kalau Mas Dhafi mengalami amnesia. Aku rasa tidak perlu lagi menanyakan status aku Mas. Sudah tak ada gunanya juga Mas Dhafi mengingatkan status aku, karena selama ini Mas Dhafi tidak pernah menganggap aku sebagai istri,” jawab Aurelia dengan tenangnya.


Kebetulan bersamaan itu masuklah Kakek Dwi dan bapaknya Aurelia setelah menghabiskan sebatang rokok di luar rumah sakit.


Bu Hana yang ada di sisi ranjang yang lain menatap kecewa pada menantunya. “Aurel, kamu jangan membuat Dhafi bingung dengan ucapanmu, dia bertanya kamu istrinya, ya jawab saja kamu memang masih istrinya,” sahut Bu Hana, agak memaksa.


“Aurel, sungguh aku memang tidak mengingat apa pun, aku hanya memastikan kalau kamu adalah istriku. Lantas kenapa kamu baru datang sekarang, ke mana saat aku tidak sadarkan diri?” cecar Dhafi mempertanyakan.


Lagi-lagi Aurelia dibuat tersenyum, namun kali ini senyuman itu terasa kecut tak ada manisnya.


Dhafi mengamati wajah wanita cantik yang berada di sisinya, kenapa sangat jauh berbeda dengan foto yang diperlihatkan oleh ibunya, dan dia tak menyangka memiliki istri yang sangat cantik. Pria itu meraih tangan istrinya, lalu tiba-tiba mengecup tangan Aurelia.


Aurelia sempat terkejut mendapatkan tangannya dicium oleh Dhafi, jantungnya sempat bertalu-talu dibuatnya, namun secepat kilat dia menguasai hatinya, dan melepaskan tangannya dari tangan Dhafi.


“Mas Dhafi bertanya kenapa aku baru menemuimu? Karena Mas amnesia makanya tidak tahu, aku doakan semoga Mas Dhafi cepat pulih keadaan ingatannya serta luka yang ada di badannya,” jawab Aurelia sembari melangkah mundur agar tidak terlalu dekat dengan suaminya, dan Dhafi terlihat heran kenapa istrinya malah menjauhinya.


Bu Hana terlihat geram dengan sikap menantunya, sedangkan Bu Ida turut heran, sama seperti Kakek Dwi.


Aurelia melayangkan pandangannya ke semua orang yang ada di ruang rawat Dhafi, lalu dia mengatur napasnya dalam-dalam sebelum kembali berbicara, dan dia kembali menatap suaminya itu.


“Mas Dhafi mumpung semuanya berkumpul di sini, aku ingin menyampaikan jika hubungan antara kita telah usai Mas, aku sudah melayangkan gugatan cerai di pengadilan agama. Berhubung Mas Dhafi mengalami amnesia, aku minta kerjasamanya,” tutur Aurelia dengan tenangnya. Namun tak lama ...

__ADS_1


PLAK!


Ternyata Bu Ida menghampiri anaknya, lalu melayangkan tamparan pada putrinya tersebut dengan netranya yang membeliak. Sontak saja Aurelia terkejut, tangannya pun terulur menyentuh pipinya yang terasa pedih itu.


“Dasar anak tidak tahu diri, suami kamu lagi kena musibah, malah kamu mengajukan cerai! Otak kamu kemana Aurelia! Jangan bikin Ibu dan Bapakmu malu di kampung, jangan sampai kamu jadi janda!” maki Bu Ida di depan orang banyak.


Aurelia berusaha terlihat tegar, namun tidak bisa dipungkiri hatinya amat pilu melihat sikap ibu kandungnya yang mencaci maki tanpa meminta penjelas terlebih dahulu. Netra Aurelia kembali berembun, namun berusaha untuk tidak meneteskan air matanya.


“Dengar kata Ibumu, Aurelia, suami kamu lagi sakit, jangan gegabah ambil keputusan,” timpal Bu Hana, agak memanasi keadaan. Aurelia pun menolehkan wajahnya dan menatap nanar ibu mertuanya.


“Aurelia, memang ada apa dengan rumah tangga kita? Bisakah menunggu aku pulih, dan baru membicarakannya, pasti kita bisa memperbaiki rumah tangga kita, kan?” tanya Dhafi dengan ingatan yang memang tidak dia ingat sama sekali, dan dia merasa gak mungkin dia memiliki masalah dengan istrinya yang terlihat cantik itu, pikir dia pasti rumah tangganya sangat harmonis dengan Aurelia.


“Mas bilang menunggu! Jelas aku tidak akan menunggumu Mas sampai pulih dan kembali ingatannya!” jawab Aurelia dengan tegasnya.


Lalu, dia kembali menatap wajah Bu Ida yang terlihat masih marah, kemudian dia mengambil ponsel miliknya dan membuka galeri videonya.


“Aku tetap teguh dengan pendirianku Bu, mau Ibu dan Bapak akan membenciku selamanya, aku terima!  Lihatlah video ini!” pinta Aurelia menunjukkan suara tegasnya, dan menyodorkan ponselnya.


Bu Ida menerima ponsel tersebut, lalu menatap dengan seksama video yang ada di ponsel tersebut. Netranya membulat saat melihat menantunya mencambuk anaknya pakai tali gesper.


“Aku selama ini diperlakukan seperti itu Bu oleh Mas Dhafi semenjak tinggal di Jakarta! Jika Ibu tidak percaya, Ibu bisa melihat semua bekas luka dipunggungku!”


Tangan Bu Ida agak gemetar, wajahnya yang sempat agak tertunduk kini ditegakkannya agar bisa menatap wajah putrinya.


Bu Ida bergeming, sementara ayahnya Aurelia yang agak penasaran atas yang dilihat oleh istrinya, langsung meraih ponsel tersebut, dan kembali mereplay video tersebut.

__ADS_1


Tak lama ...


“DASAR MENANTU BEJAT! KAMU MAU BUNUH ANAK SAYA, YA!” maki Bapak Heri, wajahnya sudah nampak merah padam.


__ADS_2