
Aurelia yang kebetulan langkah kakinya baru saja mau keluar, terhenti sejenak, kemudian menolehkan wajahnya ke belakang bahunya agar leluasa melihat wajah memelas Dhafi dengan mengulurkan tangannya menuju arah pintu.
“Aurelia jangan tinggalkan aku, aku mohon! Aku sedang kesakitan, berikan aku waktu untuk mencerna semuanya, ini pasti ada kesalahan dari semua yang aku lakukan, tolong maafkan aku,” ucap Dhafi menunjukkan wajah menyedihkannya.
Aurelia hanya menatap dan tidak bereaksi apapun.
“Agar kamu percaya, aku akan menjatuhkan talak tiga pada wanita itu, sekarang juga!” seru Dhafi sembari menahan rasa sakit di kepalanya.
“Mas Dhafi jaga ucapanmu itu, kamu salah jika ingin menceraikanku. Yang harus kamu ceraikan adalah Aurelia bukan aku! Kamu juga sudah berjanji padaku akan menceraikan Aurelia jika pernikahan kalian sudah setahun, dan kamu sudah mendapatkan tanah warisan dari kakek. Mas Dhafi harus ingat janjimu itu! Hanya aku istri yang kamu cintai bukan dia!” seru Faiza menggebu-gebu, ya sudah pasti dia emosi karena takut diceraikan oleh Dhafi.
Kakek Dwi menyunggingkan senyum miring, dan meraup wajahnya dengan kasar. Ternyata ada udang dibalik batu, dan salahnya juga Kakek Dwi memberikan iming-iming hartanya untuk diberikan pada cucunya jika menikahi Aurelia.
Alias mata Aurelia saling bertautan, sudut bibirnya pun terangkat hingga berbentuk seringai cemooh, apalagi gerangan yang terjadi.
Dhafi menatap tajam pada Faiza, emosinya rasanya ingin meledak pada wanita berkaki satu itu. “Mungkin dulu aku pernah berkata mencintaimu, tapi kenapa hatiku seakan tidak merasakan hal itu Faiza?” tanya Dhafi, lalu dia melayangkan tatapannya ke Aurelia kembali.
“Aurelia demi apapun aku tidak akan bercerai denganmu. Dan mulai hari ini aku Dhafi Basim menjatuhkan talak tiga pada Faiza, jika memang di masa lalu aku pernah menjadi suamimu, maka mulai detik ini aku bukan suamimu lagi Faiza!” seru Dhafi dengan tegasnya.
“TIDAK!!” teriak Faiza, wanita itu menghentakkan tubuhnya di atas kursi rodanya, lalu mencoba lebih dekat dengan ranjang yang ditempati oleh Dhafi.
“TIDAK MAS DHAFI ... JANGAN TALAK AKU MAS! AKU INI ISTRI YANG KAMU CINTAI, TARIK UCAPANMU ITU!” pekik Faiza tidak terima, kedua tangannya pun bergerak memukul tubuh Dhafi.
Emran hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu dia menyentuh tangan Aurelia. “Ayuk, buat apa kamu di sini, ibu dan ayahmu sudah menunggu di luar,” ajak Emran.
__ADS_1
Aurelia pun menoleh. “Eh ... iya Tuan,” jawab Aurelia jadi kagok.
Tidak perlu menanggapi ucapan Dhafi, dia hanya tersenyum getir, dan kembali berjalan keluar dari ruangan, sementara itu Dhafi kembali meneriaki namanya hingga sekencang mungkin.
“Ya Allah, hanya Engkaulah yang bisa membolak balikkan hati seseorang. Andaikan boleh aku memohon, aku ingin suamiku membalas cintaku dan dia sangat mencintaiku.”
Doa yang selalu Aurelia panjatkan setiap dia bersujud. Mungkinkah Allah sedang membalikkan keadaannya? Hanya Allah yang tahu. Yang jelas langkah kakinya sudah keluar dari ruang rawat, dan tak peduli dengan kegaduhan yang sangat terdengar jelas hingga keluar ruangan.
Bapak Heri, Ibu Ida, Aurelia, Emran beriringan berjalan menuju lantai lobby. Setibanya mereka di lantai lobby, Bapak Heri dan Bu Ida saling bersitatap dan kedua wajah mereka nampak sedikit bingung dan hal itu terlihat jelas oleh Emran.
“Bapak, Ibu berhubung baru tiba di Jakarta, bagaimana kalau beristirahat dulu di hotel, pasti sangat lelah dan besok baru kembali ke desa?” tawar Emran dengan sopannya.
Ibu Ida langsung menatap Aurelia yang keberadaannya tidak jauh dari sisi Emran, tatapannya seakan membutuhkan jawaban dari Aurelia, sementara Aurelia juga ikutan bingung.
Pria tampan itu mengulas senyum tipis dan kembali menatap kedua orang tua Aurelia. “Ibu dan Bapak tidak perlu khawatir, tidak dipungut biaya, saya menawarkannya dengan senang hati.”
Netra Aurelia mendelik mendengar ucapan majikannya dengan rasa tak percaya. Bu Ida kembali menatap suaminya seakan minta persetujuan, lagian dia juga belum pernah merasakan menginap di hotel.
“Kami tidak mau merepotkan Tuan, sebaiknya kami langsung ke terminal untuk pulang ke desa,” tolak Bapak Heri secara halus, walau sebenarnya badan dia juga lelah, butuh beristirahat.
“Saya tidak merasa direpotkan Pak, jadi mari saya antar ke hotel,” ajak Emran ramah, dan kebetulan sekali mobil mewah milik Emran sudah menghampiri mereka yang sudah berada di luar lobby rumah sakit.
“B-baiklah kalau begitu,” jawab Bu Ida terbata-bata, apalagi melihat pintu mobil milik Emran terbuka, terlihatlah interior mobil jauh berbeda dengan mobil milik besannya.
__ADS_1
Dengan rasa kikuk Bu Ida dan Bapak Heri masuk terlebih dahulu ke dalam mobil, selanjutnya disusul oleh Aurelia dan Emran. Emran langsung koordinasi dengan Adam yang duduk di sebelah sopir untuk menuju salah satu hotel bintang 5 yang ada di Jakarta, dan tak jauh dari mansionnya.
Selama perjalanan suasana di mobil benar-benar hening, tidak ada yang buka suara termasuk Aurelia, begitu juga dengan Bu Ida, hatinya sebenarnya sudah banyak pertanyaan namun ada rasa segan karena ada sosok Emran. Memang kalau aura seorang pengusaha itu pasti sangat berbeda dan tak bisa dianggap remeh.
40 menit akhirnya mobil Emran sudah tiba di hotel, lagi-lagi dengan ramah dan sopannya Emran mempersilahkan orang tua Aurelia untuk masuk ke dalam hotel. Jangan ditanya bagaimana reaksi Bu Ida dan Bapak Heri, ya jelas mereka terpesona dengan hotel yang mereka datangi, harap maklum mereka tidak pernah menginjakkan kakinya ke tempat yang mewah, termasuk Aurelia yang belum pernah ke hotel.
Adam sudah pergi duluan menuju resepsionis untuk mengambil kunci kamar yang sudah dia reservasi by online.
“Aurel, bagaimana kalau kita ajak ibu dan bapak kamu makan siang dulu? sekarang sudah waktunya makan siang. Kamu juga harus segera makan biar bisa minum obatnya kembali,” ucap Emran, suara baritonnya yang tegas tapi terdengar lembut.
“Eh ... ah iya Tuan, terserah Tuan,” jawab Aurelia agak gelagapan, jujur Aurelia agak bingung dengan sikap majikannya yang memperlakukan kedua orang tuanya dengan baik.
Dengan persetujuan Aurelia, Emran menggiring mereka semua ke restoran yang ada di hotel tersebut, Bu Ida dibuat takjub kembali dan tak bisa banyak komentar, walau dibenaknya mulai agak takut dengan hal-hal kemewahan.
Kini, mereka berlima sudah duduk bersama di ruang privat yang sengaja Emran pilih, beberapa waiters pun tampak mengantarkan menu, serta menghidangkan welcome drink.
“Kamu pilih makanan untuk ibu dan bapakmu, di sini ada menu Indonesianya,” pinta Emran sembari menunjukkan halaman yang ada di buku menu tersebut. Begitu dekatnya Emran mencondongkan dirinya ke arah samping Aurelia, hingga terlihat intim jika orang melihatnya. Bu Ida sampai menahan napasnya saat melihat sikap Emran pada anaknya.
__ADS_1