Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Sidang mediasi


__ADS_3

Rumah Dhafi


Ketimbang pulang ke rumah orang tua, suami Aurelia meminta untuk diantarkan ke rumah dia sendiri sesuai cerita Bu Hana jika mereka memberikan rumah saat dia sudah menikah dengan Aurelia. Pria itu berharap jika tinggal di sana, ingatannya akan pulih kembali.


Setibanya di rumah, ternyata sudah ada Mang Dadi salah satu pembantu di rumah orang tuanya sedang berbenah dan ke depannya akan membantu Dhafi di rumah tersebut.


Ayah Jafri dan sopir membantu Dhafi untuk turun dari mobil dan duduk kembali di kursi rodanya, dia terpaksa harus duduk di kursi roda karena kaki kanannya patah.


Di saat Dhafi akan diantarkan masuk ke dalam rumahnya, ternyata ada beberapa tetangga yang kebetulan sedang ada di luar.


“Oh teryata suaminya Aurelia masih hidup toh, kenapa gak mati aja sekalian. Dasar suami biadab!” celetuk salah satu ibu mata bulat.


“Ck ... udah selingkuh di depan istri, main tangan, untung aja gak kayak suaminya si Ima, langsung digerek ke kantor polisi,” sambung si ibu bertubuh gempal.


Dhafi yang mendengar nada-nada sumbang tersebut hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam, lalu menundukkan kepalanya, sementara Bu Hana dan Ayah Jafri pura-pura tidak tahu, ya mau bagaimana lagi kejadian di rumah ini sudah jelas menjadi bahan gosip satu RT.


Dari dalam Mang Dadi bergegas keluar dari rumah untuk menyambut majikannya.


“Selamat datang kembali Mas Dhafi,” sapa Mang Dadi ramah, sembari mengambil tas yang dijinjing oleh Bu Hana lalu bergegas masuk ke dalam


Ketika masuk Dhafi menelisik ruang utamanya, dan masih terpajang bingkai foto pernikahannya dengan Aurelia, entah kenapa rasanya amat menyesakkan.


Tak lama kemudian Mang Dadi membawakan tiga cangkir teh untuo majikannya. Bu Hana dan Ayah Jafri sama-sama menjatuhkan bobotnya ke atas sofa. Sementara Dhafi dengan mengemudikan kursi rodanya mulai bergerak.

__ADS_1


“Maaf Mas Dhafi tadi pagi ada orang antar surat, katanya buat Mas Dhafi,” ucap Mang Dadi sembari menyodorkan amplop berlogo.


Tanpa banyak menjawab tangan Dhafi meraihnya dan sudah sangat jelas tatapannya menajam saat melihat logo pengadilan agama. Pria itu tak menyangka sebegitu cepat dan serius istrinya menginginkan perceraian.


Amplop putih itu dibukanya dengan cepat, dan membacanya dengan cepat pula, diam-diam Bu Hana juga memperhatikan surat yang dibaca oleh Dhafi. Pria itu pun tersenyum getir membaca surat tersebut, yang berisikan panggilan mediasi yang terjadwalkan lusa.


Dhafi berdecak kecewa, lalu meremas surat tersebut sampai tak berbentuk lagi.


“Ayah, Ibu bisa carikan aku pengacara untuk mendampingiku di pengadilan agama?”


“Bisa, tapi bukan untuk membela dirimu yang telah berbuat kasar pada Aurelia. Tapi hanya mendampingimu mengurus perceraianmu dengan Aurelia. Janganlah kamu egois untuk mempertahankan pernikahanmu dengan Aurelia. Nasi sudah menjadi bubur, yang tak mungkin kembali menjadi beras. Semua yang terjadi itu juga hasil kamu selama ini. Jadi sangatlah telat jika kamu ingin mempertahankan Aurelia sebagai istrimu, karena sudah banyak luka yang kamu gores untuknya,” tutur Bu Hana berusaha bijak.


Dhafi kembali menarik napasnya dalam-dalam, lalu meraup wajahnya dengan kasar. Kekecewaan menyelinap di relung hatinya, yang entah mengapa membuat dadanya terasa sesak.


**


Pengadilan Agama


Hari yang di tunggu oleh Aurelia, walau selama masa menunggu banyak kebimbangan dan kegelisahan pada dirinya, sampai-sampai dia menjaga jarak pada Emran yang selalu berusaha ada di sampingnya.


Wanita muda itu sudah banyak diskusi dengan pengacara Louis agar dia bisa tampak tenang menjalankan sidang pertamanya. Hari ini Emran menemaninya, sekaligus saksi yang menyaksikan Aurelia mengalami KDRT.


Pagi ini pun Aurelia terlihat anggun dengan dress motif floral kecil sepanjang lutut dipadu dengan sepatu flatshoes berwarna nude, sungguh selera Emran sangat pas di tubuh mungil Aurelia. Kedua orang tua Aurelia belum pulang ke kampung, Emran membujuk mereka untuk tinggal sementara di Jakarta sampai permasalahan Aurelia selesai, dan hal tersebut di sambut baik oleh Ibu Ida, apalagi dirinya sangat dimanjakan oleh karyawan Emran selama tinggal di hotel. Anggap saja liburan dulu kata Emran.

__ADS_1


Bu Ida dan Bapak Heri mendamping putrinya untuk masuk ke dalam ruang mediasi 1. Dan tak sengaja pula mereka berpapasan dengan Dhafi bersama kedua orang tuanya.


Pria yang duduk di atas kursi roda menatap sendu wajah istrinya yang begitu cantik itu, dia merutuki dirinya jika memang dulunya begitu jahat pada Aurelia, namun sayang pecahan memori dia belum terkumpul di otaknya.


Aurelia sejenak menatap pria yang dulu amat dia cintai, setelah itu dia duluan masuk ke dalam ruang mediasi diikuti orang kedua orang tuanya.


Tarikan nafas kasar terlihat dari dada Dhafi yang mulai naik turun, hingga dia pun meraba dadanya agar bisa tenang. Kursi rodanya pun menyusul masuk ke ruang yang tak pernah dia bayangkan, tapi pernah direncanakan akan menceraikan Aurelia setelah pernikahannya berjalan satu tahun.


Dalam sidang mediasi, biasanya Hakim menerima semua bukti gugat mengapa sampai ada perceraian, dan sidang mediasi ini juga Hakim akan mendamaikan pasangan suami istri tersebut untuk mempertahankan rumah tangganya.


Namun, wanita tua yang bertugas sebagai kepala hakim berulang kali mengernyitkan keningnya setelah melihat bukti dan mendengar alasan Aurelia ingin menggugat suaminya bercerai. Dan semua bukti tersebut sangat kuat untuk jadi alasan perceraian, karena ada dasar hukum dan pasalnya.


“Saya mohon Bu Hakim, saya tidak ingin bercerai dengan istri saya. Saya ingin memperbaiki semuanya, dan memulai dari awal pernikahan kami. Maka dari itu saya datang ke mediasi ini, berharap tidak ada perceraian, “ tutur Dhafi memelas, dan menunjukkan netranya yang mulai berembun.


Wanita muda itu tersenyum kecut. “Saya menolak dengan tegas atas rujukan tersebut Bu Hakim, saya tetap pada pendirian untuk berpisah dari suami saya, saya ingin berpisah!” jawab Aurelia dengan tegasnya, dan tetap menatap lurus ke depan Hakim berada.


Dalam perdebatan Dhafi dan Aurelia yang alot, Bu Hakim meminta kedua pengacara yang mendampingi mereka berdua untuk ke meja hakim. Langsung saja pengacara Louis mengeluarkan pamungkasnya untuk mengkick balik pengacara Dhafi hingga tidak bisa mengelak lagi, dan tidak bisa memakai alasan Dhafi masih sakit dan mengalami amnesia, hingga sang istri tidak bisa menggugat cerai.


Alhasil Bu Hakim mengetuk palunya jika gugatan Aurelia diterima, dan akan dilanjutkan di sidang berikutnya untuk putusan resmi perceraiannya.


Aurelia bernapas lega, keinginannya dimudahkan. Begitu pula dengan kedua orang tua Aurelia, apalagi pria tampan yang duduk di belakang, dia mengulas senyum tipisnya sembari selalu memperhatikan Aurelia dari kejauhan.


Sementara Dhafi hanya bisa menatap nanar wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi mantan istrinya.

__ADS_1


“Salahkah aku mencoba untuk mencintaimu, Aurelia?” batin Dhafi terpuruk.


Bersambung ...


__ADS_2