
Rumah Dhafi ...
Suami Aurelia dari semalam sudah frustrasi karena perabotannya tidak juga bangun, berulang kali dia berteriak di dalam kamar mandi setelah mencoba untuk bersolo karir, tapi hasilnya tetap tidak bereaksi alias loyo.
“Aku doakan semoga burungmu tidak akan pernah bisa berdiri lagi, Mas Dhafi!” Sepintas ucapan Aurelia tempo hari terlintas diotaknya. “Gak mungkin ucapan dia terkabulkan ... gak mungkin! Aku harus ke dokter untuk mengeceknya!” gumam Dhafi begitu geram dan takut, lalu tidak lama wajahnya tersenyum getir saat kembali melihat perabotannya yang masih tertidur pulas.
Di dapur nampak Faiza sedang berkutat masak sarapan pagi untuk dirinya dan suami sirinya.
“Ck ... enak banget sudah mau jam 7 masih saja belum keluar dari kamar, disangka aku babu apa ... siapin sarapan terus tiap hari di sini!” gerutu Faiza sembari melirik pintu kamar Aurelia, dia tidak tahu saja kalau sepupunya dari jam 5 sudah berangkat kerja. Tak lama kemudian ...
“Aurel!” teriak Dhafi saat menuruni anak tangga dengan wajahnya terlihat suntuk, namun penampilannya sudah rapi siap untuk berangkat kerja.
“Aurelia!” kembali lagi dia memanggil nama istrinya untuk ke dua kalinya dengan suaranya sedikit berteriak, dan langkah kakinya bergegas mendekati kamar Aurelia. Sementara Faiza yang merasa dengar suara Dhafi ikutan mendekati pria itu.
“Ada apa sih Mas, pagi-pagi udah panggil Aurelia saja!” celetuk Faiza terlihat kesal ketika dia menghampiri suami sirinya.
Dhafi menolehkan wajahnya sebelum memutar handle pintu kamar tersebut. “Bukan urusan kamu!” jawab Dhafi dengan ketusnya.
Di saat memutar handle pintu kamar tersebut, netra Dahfi melihat tidak ada Aurelia. “Kemana dia!” sentak Dhafi sendiri.
Faiza ikutan melirik kamar Aurelia yang sudah terlihat rapi dan ternyata tidak ada sang pemilik kamarnya.
“Oh ternyata dia tidak ada di kamar, aku pikir masih tidur ... mungkin gak sih Mas kalau dia dijemput sama pria yang kemarin jemput,” ucap Faiza memprovokasi kembali.
Jangan ditanya bentuk wajah Dhafi saat ini seperti apa, sudah semerah kepiting rebus tinggal menunggu meledak saja.
“Sialan!” umpat Dhafi agak meninggi, lalu pria itu menubruk tubuh Faiza saat ingin keluar dari kamar Aurelia.
__ADS_1
“Mas ... Mas kok kasar banget sih!” keluh Faiza saat dia hampir saja jatuh karena tubuh besar suami sirinya itu.
Dhafi hanya melirik tajam lalu mendengkus kesal, ternyata semakin lama pria yang selalu meratukan dan selalu bersikap lembut pada Faiza, semakin hari mulai kasar.
...----------------...
Kembali ke Mansion Emran.
Setelah hatinya mulai terasa tenang, Aurelia berpamitan pada Mama Syifa untuk mengurus majikan kecilnya, apalagi sebentar lagi harus berangkat sekolah. Sesampainya di kamar Athallah, ternyata majikan kecilnya sudah terlihat tampan mengenakan seragam sekolahnya yang berwarna biru.
Aurelia terlihat sangat tidak enak hati, karena telat mengurus majikan kecilnya, dan dia pun dapat tatapan sinis dari Rida, sementara Emran yang ada di dalam kamar tersebut terlihat biasa saja.
Wajah Athallah merengut saat kedatangan pengasuhnya sangat telat. “Mbak kok balu datang, tau ndak dali tadi Atha tungguiin,” ucap Athallah dengan ketusnya.
“Sengaja buat cari perhatian Daddy kamu kali,” batin Rida. Maid satu ini masih bertahan di kamar tersebut, pengen tahu ada apa selanjutnya.
“Rida kalau kamu sudah selesai bisa segera turun, dan suruh siapkan sarapan pagi,” perintah Emran tanpa menatap wajah Rida, masih sibuk dengan ponselnya.
“B-baik Tuan,” jawab Rida, tangannya segera membawa keranjang kain kotor, sebelum keluar tak sengaja Rida dan Aurelia bersitatap, maid itu pun melirik tajam, Aurelia membalasnya dengan tatapan santainya.
Langkah kaki wanita muda itu semakin mendekati majikan kecilnya, lalu merendahkan dirinya agar tingginya sama dengan Athallah. “Mbak minta maaf ya, tadi Mbak ngobrol sebentar sama Oma Abang ... jangan ngambek ya Abang ... nanti gantengnya luntur,” jawab Aurelia dengan lembut.
“Ck ... mana ada ganteng luntur, Mbak ada-ada aja,” jawab Athallah masih mode ngambek.
Aurelia mengusap lembut pipi bocah tampan itu. “Biar gak ngambek lagi, bagaimana kalau besok Mbak beliin anak ayam lagi yang warna biru. Mau gak?” rayu Aurelia.
Netra bulat kecil nan jernih itu berkedip-kedip sembari mengangguk cepat kepala kecilnya. “Mau Mbak, bial kandang ayamnya penuh ya,” jawab Athallah mulai luluh tak jadi ngambek.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum lebar dan memeluk majikan kecilnya, Emran hanya meliriknya diam-diam yang kebetulan sedang duduk di tepi ranjang sembari memainkan ponselnya.
“Ayo Son, kita ke bawah sarapan, setelah itu Daddy antarkan ke sekolah, pagi ini Daddy harus segera ke kantor,” ajak Emran, sembari beranjak dari duduknya.
Aurelia tidak berani menatap wajah tuan besar, dan sedikit menjaga jarak, sudah cukup dirinya yang ditegur oleh Rida, selanjutnya dia tidak mau dapat prasangka buruk dari maid yang lainnya. Di sini dia ingin bekerja tenang bukan cari perhatian sama tuan besarnya. Wanita itu langsung mengambil tas sekolah majikan kecil, lalu mengendong majikan kecilnya.
“AAKKKHH ... Sakit!” tersentak Aurelia saking kagetnya, tangannya pun langsung menyentuh lengan Emran sebagai penahan tubuhnya yang mencoba berdiri tegak. Pinggangnya berdenyut hebat saat mau mengangkat Athallah. Dengan tenangnya Emran menurunkan Athallah dari gendong pengasuhnya, sementara Aurelia diam tidak bergerak menahan rasa sakit di bagian pinggangnya, efek benturan semalam.
Setelah itu salah satu tangan Emran bergantian pegang lengan Aurelia, lalu dia memutar balik badannya ke belakang Aurelia, lalu salah satu tangan besar Emran mengusap pinggang wanita muda itu, membulatlah netra Aurelia saat merasakan sentuhan lembut itu.
“Diamlah jangan bergerak, saya hanya ingin membantu meredakan sakit di pinggangmu, jangan berpikir yang aneh-aneh!” kata Emran dengan hawa dingin yang keluar dari mulut pria tampan itu.
Aurelia hanya bisa menundukkan kepalanya seraya memejamkan netranya sejenak, sungguh dia sangat malu, walau keadaan dia sekarang memang membutuhkan orang lain agar tasa sakit dan kram di pinggangnya hilang. Tapi kenapa tuannya tahu kalau yang sakit pinggangnya, pikir Aurelia.
“Tarik napas dalam-dalam, Aurel!” perintah Emran saat tangannya masih memijat.
“I-Iya Tuan,” jawab patuh Aurelia, dan mulai melaksanakan perintah tuannya, dengan menarik napas lalu hembuskan berulang kali.
Athallah si bocah tampan hanya mengaruk-ngaruk kepalanya melihat kedua orang dewasa itu.
“Daddy, Mbak kenapa?” tanya Athallah, rasa ingin tahunya terpancar dari sorot matanya.
“Mbak, pinggangnya sakit Son, nanti jangan minta gendong sama Mbak dulu ya,” pinta Emran memberikan pengertian. Athallah mengangguk mengerti, dan setia menunggu kedua orang tersebut.
Sumpah demi apa pun, Aurelia ingin sekali cepat keluar dari keadaan ini agar tidak timbul fitnah jika ada salah satu maid yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar, tapi apa daya dia sedang tak bisa melarikan dirinya.
Yang ada kini hanya menutup matanya dan merasakan pinggangnya disentuh lembut oleh pria yang bukan suaminya, sungguh sesak hati Aurelia dibuatnya, kenapa harus pria lain yang memberikan perhatian, sementara suaminya tidak sama sekali.
__ADS_1
Sebaik-sebaiknya tempat berharap yaitu Allah, dan jangan sesekali naruh harapan kepada manusia, nanti hatimu akan tambah kecewa.
Bersambung ...