
Lantunan lagu yang mengiringi acara resepsi pernikahan Emran dengan Aurelia tambah menyemarakkan kebahagian kedua mempelai, apalagi Emran mengundang beberapa artis ibukota untuk memeriahkan repsesi mereka berdua.
Wajah Emran dan Aurelia terlihat memancarkan kebahagiaan di sepanjang acara, Emran pun tak segan-segan menunjukkan kemesraannya pada Aurelia di sela-sela menerima ucapan selamat dari para undangan.
Namun, dibalik senyuman bahagia serta wajah cantik yang selalu membuat para tamu undangan berdecak kagum, tampaklah sosok pria yang menggunakan tongkat untuk membantu dia bisa berdiri dan berjalan. Tatapannya begitu sendu, hatinya pun sangat sedih melihat kebahagiaan tersebut. Wanita paruh baya yang berdiri di samping pria itu membelai punggungnya dengan lembut.
“Penyesalan memang selalu datang belakangan, istri yang telah kamu sia-siakan adalah sosok berlian yang tidak pernah kamu poles. Dan kilauan berlian itu akan terpancar cahayanya jika bertemu dengan orang yang tepat,” tutur Bu Hana, mereka sama-sama sedang mengantre untuk memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai.
Bu Hana dengan kebesaran hatinya menerima niat baik mantan besannya mengundang ke acara pernikahan Aurelia, yang berlalu sudahlah berlalu, Bu Ida hanya berharap hidupnya tidak ingin memiliki musuh termasuk pada mantan besannya. Dan dengan langkah yang ringan Bu Hana sekeluarga datang memenuhi undangan mantan besannya.
Bu Hana sempat tersenyum kecut melihat begitu megah dan mewahnya pernikahan kedua Aurelia, sangat berbeda dengan pernikahan Aurelia bersama Dhafi yang tidak terlalu mewah.
Dhafi sejenak menundukkan kepalanya, lalu mengusap ujung ekor netranya yang mulai basah. Benar kata ibunya, penyesalan memang datangnya belakangan. Memori masa lalu semakin lama mulai muncul, dan ingatan saat dia bersikap kasar pada Aurelia kemudian pengkhianatannya yang menikahi Faiza, jelas tidak bisa dimaafkan oleh Aurelia.
“Andaikan waktu bisa dimundurkan, aku ingin mengulangi dan memperbaiki rumah tangga kita. Tapi sepertinya sudah tidak ada kesempatan kedua, kamu terlihat sangat bahagia sekali dengan suami barumu,” batin Dhafi terasa pilu.
Antrean para undangan mulai semakin maju, begitu juga dengan langkah kaki Dhafi yang kini sudah menapaki panggung pelaminan. Untuk sekian lama Dhafi menyapa mantan mertuanya, Bapak Heri menunjukkan senyum ramahnya saat mereka berdua bersalaman.
“Terima kasih sudah mau datang,” ucap Bapak Heri.
“Sama-sama Pak.”
Dhafi lanjut bersalaman dengan Bu Ida. “Alhamdulillah, sudah menyempatkan untuk datang,” kata Bu Ida dengan ramahnya, tak ada dendam.
__ADS_1
“Iya Bu, alhamdulillah bisa menghadiri undangannya,” jawab Dhafi berusaha tenang, tapi hatinya sangat galau, jantungnya berdegup cepat karena sebentar lagi dia akan menyapa mantan istrinya yang kini sudah resmi menjadi milik orang lain.
Langkah kakinya mulai mendekati kedua mempelai pengantin, Dhafi melihat jelas saat tangan Emran mengusap kening istrinya yang berkeringat dengan sehelai tisu, dan bersamaan itu pula Aurelia melihat kedatangan mantan suaminya.
“Pak Emran, Aurelia,” sapa Dhafi berusaha untuk tersenyum, dan mengulurkan tangannya.
Emran menyambut uluran tangan mantan suami istrinya sembari mengulas senyum tipisnya. “Terima kasih sudah berkenan datang,” ucap Emran, mereka pun berjabat tangan, dan Dhafi tampak menguatkan hatinya, ternyata dirinya tidak sekuat yang dia bayangkan, tetap saja hatinya hancur melihat Aurelia jadi istri orang lain.
Netra Dhafi tampak berembun, apalagi ketika Dhafi dan Aurelia saling bertemu pandang. “Se-selamat atas pernikahanmu, semoga kamu bahagia bersama Pak Emran,” ucap Dhafi dengan mengulurkan tangannya.
Wanita itu tersenyum ramah, lalu menyambut uluran tangan Dhafi. “Terima kasih, semoga Mas Dhafi cepat sembuh dan semoga menemukan jodohnya kembali,” jawab Aurelia tulus.
Dhafi melipat bibirnya, menahan diri untuk tidak terlihat sedih, tapi rupanya air matanya tidak mampu diajak kerja sama. “Ma-maafkan aku, a-aku benar-benar menyesal, Aurelia,” ucap Dhafi dengan suaranya yang mulai terdengar serak.
Pria itu ingin sekali memeluk mantan istrinya, namun sayangnya Emran tidak melepaskan rangkulannya yang sejak tadi tangannya melingkar di pinggang Aurelia, lagi pula Aurelia juga tahu diri jika sekarang dirinya sudah ada yang memilikinya. Akhirnya Dhafi berusaha tersenyum walau terlihat sangat terpaksa dan meninggalkan pelaminan.
Sepeninggalnya Dhafi, Aurelia bernapas lega dan bangga dengan dirinya bisa begitu tenangnya menghadapi mantan suami kejamnya, walau dia juga turut sedih dengan keadaan mantan suaminya.
“Masa lalu yang tak perlu dikenang kembali, semoga Mas Dhafi semakin baik keadaannya. Aku tak bisa berkata banyak Mas, namun yang jelas aku berterima kasih padamu, mungkin jika aku tidak pernah menikah denganmu, mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan cinta sejatiku yang sesungguhnya,” batin Aurelia.
Wanita itu kembali menatap hangat suaminya, dan Emran pun membalas tatapan hangat istrinya. “Aku akan selalu mencintaimu, Sayangku,” ungkap Emran sedikit berbisik. Sudah berapa kali pria itu mengungkapkan isi hatinya pada istrinya, dan Aurelia tidak pernah bosan mendengarnya.
Kalau ada yang cariin Soraya di resepsi, mohon maaf dia tidak diijinkan masuk ke dalam ballroom setelah sempat buat keonaran kembali di luar ballroom.
__ADS_1
...----------------...
Acara resepsi pernikahan yang digelar dari jam 11 sampai 4 sore akhirnya selesai juga. Athallah terlihat masih segar, berlarian bersama kedua adik Aurelia. Sementara Emran dan Aurelia beserta keluarga besarnya menikmati makan menjelang sore bersama-sama sambil berbincang hangat.
“Nak Emran, lusa kita jadi semuanya ikut kalian berdua honeymoon ke Eropa?” tanya Bapak Heri memastikan kembali, takut telinganya salah dengar.
“Iya Pak, lusa kita berangkat semuanya keliling Eropa, istriku yang cantik ini minta semuanya ikut, kalau enggak nanti aku bisa dijewer sama Nyonya Emran Fathin,” ucap Emran sembari melirik usil pada istrinya.
Sontak saja Aurelia menepuk bahu suaminya. “Mas Emran kok bilangnya begitu sih, aku’kan hanya tanya aja boleh ajak semuanya gak? kata Mas boleh,” jawab Aurelia agak merengek, bibirnya pun mencebik.
Emran sungguh gemas melihat istrinya yang sudah tidak terlalu kaku dengannya, mulai ada manja-manjanya dibalik sikapnya yang dewasa.
“Cup ... cup jangan marah dong Sayang, tapi aku gemas kalau lihat kamu ngambek begini,” goda Emran, lalu mengecup pipinya di depan keluarga besarnya, mohon maklum ya pemirsa dunia seraya milik berdua.
Ah, Bu Ida sama Bapak Heri jadi malu lihat pengantin baru, sementara Mama Syifa berceletuk dengan santainya, “Tahan sebentar Emran, sebentar lagi malam tiba kok.”
Langsung memerah wajah Aurelia karena menahan malu dan dia kembali menepuk bahu suaminya. “Tuhkan Mas, jadi digodain sama Mama, kan.”
Erman tertawa kecil melihat wajah istrinya sudah cemberut dan memerah, dan dia langsung merangkul bahu Aurelia lalu mencium kening istrinya, kemudian turun ke pipi.
“Maaaaasss, maluuuuu iiih.”
bersambung ...
__ADS_1
Ayo tunjuk tangan siapa yang mau ngintip malam pertama Emran sama Aurelia???