
Aurelia sudah kembali tenang dan mulai terlelap ketika Dokter Riri kembali menyuntikkan obat penenang ke dalam infusannya. Emran terlihat merapikan selimut yang dikenakan Aurelia dan sempat mengusap punggung tangan wanita itu, setelah itu dia menghampiri Dokter Riri yang masih menunggu dirinya.
“Bagaimana kesimpulannya Dokter Riri?” tanya Emran turut bergabung duduk di salah satu sofa single yang ada di hadapan Dokter Riri.
“Saya tadi sempat melihat bekas luka yang ada di bagian punggungnya, dan sepertinya sudah sering sekali dia mengalami kekerasan dalam rumah tangganya. Awalnya pasien tidak bisa bercerita, tapi setelah dipancing akhirnya mengatakan semuanya. Dia sangat mencintai suaminya dan bertahan menerima siksaan suaminya, tapi semakin lama dipendam sendiri akhirnya mental dia pun terganggu tanpa dia sadari. Untung saja kekerasan ini baru dalam jangka waktu beberapa bulan, jadi masih bisa kita bimbing untuk menyehatkan kembali kondisi psikisnya. Dan sudah tentu dia membutuhkan keluarga yang bisa mensupportnya,” tutur Dokter Riri menjelas beberapa poin saja.
Emran melayangkan pandangannya ke arah ranjang Aurelia, dan menatapnya dalam persekian menit.
“Selain menerima kekerasan dalam rumah tangga, pasien juga melihat sendiri perselingkuhan suaminya. Dia melihat jelas suaminya berhubungan intim dengan sepupunya, secara fisik mungkin pasien terlihat tegar, tapi secara mental dia sudah dihancurkan dengan perbuatan suaminya. Berdasarkan pengamatan saya, pasien juga mengalami gangguan kecemasan dan biasanya serangannya suka datang tiba-tiba,” lanjut kata Dokter Riri.
Emran mendesah kecewa, lalu dia meraup wajahnya dengan kasar, tak habis pikir demgan keadaan pengasuh anaknya.
“Ya saya juga pernah melihat reaksi tubuhnya. Tapi kalau boleh tahu bisa disembuhkan gangguan tersebut?” tanya Emran kembali menatap lawan bicaranya.
“InsyaAllah Pak Emran, bisa disembuhkan trauma tersebut, belum ada kata terlambat, apalagi kalau banyak yang mendampinginya dan memberikan kembali semangat serta keceriaan dalam hidupnya kedepan, ya walau tidak bisa disembuhkan 100 persen.”
Korban kekerasan dalam rumah tangga baik itu istri, anak atau mungkin korbannya suami, bisa dipastikan akan ada meninggalkan trauma dalam tubuh dan jiwanya, tinggal seberapa tinggi trauma yang mereka hadapi. Dan sudah tentu dalam pemulihannya bukan saja dari pribadi korbannya saja tapi butuh orang yang mendampinginya, seperti orang tua, teman dan dokter yang ahli dalam bidangnya.
Lantas bagaimana dengan kedua orang tua Aurelia yang melihat keadaan putri pertamanya, yang menjadi umpan secara tidak langsung agar mereka bisa menikmati hidup yang lebih baik secara tidak langsung? Menyesalkah melihat anaknya jadi korban KDRT?
Dalam keheningan sesaat ponsel Erman berdering dan terlihat dilayar ponselnya tertera nama Mama Syifa, pria itu permisi pada Dokter Riri untuk menerima telepon tersebut.
“Assalamu'alaikum, Mah,” sapa Emran saat menerima panggilan telepon dari Mama Syifa.
“Waalaikumsalam. Emran dari semalam kamu tidak pulang ya? Kenapa tidak kasih kabar ke Mama, ini Athallah rewel cari Aurelia, Mama gak bisa menenanginya,” tanya Mama Syifa.
Dari sambungan telepon tersebut, Emran bisa mendengar tangisan Athallah serta teriakan memanggil nama Aurelia, dia pun juga merutuki dirinya kenapa semalam sampai tidak kasih kabar sama Mama Syifa jika sedang mengurus Aurelia.
“Maaf Mah, aku sampai lupa kasih kabar semalam. Dari semalam aku ada di rumah sakit, Aurelia masuk rumah sakit karena dianiaya sama suaminya, jadi aku bantu menemani Aurelia di rumah sakit Mah,” jawab jujur Emran.
“Astagfirullah, Mama turut prihatin, dirawat di rumah sakit mana? Mama akan ke sana sekalian ajak Athallah biar gak rewel,” sahut Mama Syifa.
__ADS_1
“Di rumah sakit H, Mah. Ruang Anggrek VIP.”
“Ya sudah Mama segera ke sana, sekalian bawa baju ganti buat kamu.”
“Makasih Mah.”
Mama Syifa mengakhiri sambungan teleponnya, dan mengurut dadanya setelah mendapat kabar buruk yang menimpa Aurelia. “Malang sekali nasibmu Nak, orang edan yang menyiksa kamu,” geram sekali Mama Syifa.
...----------------...
Rumah Sakit P.
Usai tersadar dari pingsannya, kini Bu Hana menjenguk anaknya dengan linangan air mata yang begitu deras. Hati ibu mana yang tidak akan menangis melihat kondisi tubuh anaknya yang dipenuhi dengan segala alat medis dan alat bantu kesehatan. Tangan Bu Hana pun terulur mengusap tangan Dhafi.
“Bangun Nak, ini Ibu,” ucap Bu Hana dalam isak tangisnya.
“Kenapa kamu bisa sampai seperti ini, bangunlah Nak,” kembali berkata Bu Hana.
Cukup lama Bu Hana duduk di samping ranjang Dhafi sembari menceritakan masa kecil putranya tersebut sembari mengusap tangannya, dan semakin lama tangan Dhafi mulai bergerak walau agak lamban, kemudian bola matanya yang masih terpejam itu mulai terlihat bergerak-gerak dibalik kelopak matanya.
Tak lama Dokter datang dan mengecek kondisi Dhafi, sementara Bu Hana diminta menunggu di luar ruang ICU.
Satu jam berlalu, pria yang mengenakan jas berwarna putih itu pun keluar dari ruang ICU, kemudian menghampiri Bu Hana dan Ayah Jafri.
“Bagaimana Dokter keadaan anak saya, dia sudah benar-benar siuman, kan?” tanya Bu Hana dengan penuh pengharapan atas anaknya.
“Alhamdulillah anak Ibu dan Bapak sudah melalui masa kritisnya, tapi pasien mengalami amnesia traumatis. Memori pasien dimasa lalu mungkin ada beberapa yang tidak diingatnya, dan ini biasanya sering terjadi akibat benturan hebat di kepalanya, ini hasil tadi saya mengajukan pertanyaan pada pasien. Untuk selanjutnya nanti kami akan melakukan test yang lainnya, agar lebih memastikan lagi,” ucap sang Dokter.
Bu Hana dan Ayah Jafri terlihat tubuhnya langsung melemas mendengarnya.
“Jadi Ibu dan Bapak harus sabar menghadapinya, dan bisa dibantu dengan menceritakan semua kejadian pada pasien secara perlahan-lahan, agar ingatannya kembali pulih, tapi jangan dipaksa. Dan untuk saat ini pasien akan kami pindahkan ke ruang HCU sebelum dipindahkan ke ruang perawatan,” lanjut kata sang Dokter.
__ADS_1
“Baik Dokter, tolong berikan perawatan yang terbaik buat anak kami,” pinta Ayah Jafri.
“InsyaAllah Pak, kami usahakan yang terbaik.”
Selepas Dokter berpamitan untuk kembali mengurus Dhafi, Bu Hana dan Ayah Jafri kembali menatap kaca untuk melihat keadaan anaknya di dalam sana.
“Bu, kok Ayah dari tadi tidak lihat Aurelia ya? Apa jangan-jangan Aurelia tidak tahu Dhafi kecelakaan?” tanya Ayah Jafri baru menyadari keberadaan menantunya.
Bu Hana baru tersadar juga, sejak awal mereka datang ke rumah sakit tidak melihat keberadaan menantunya.
“Coba Ibu telepon Aurelia, kasih kabar,” pinta Ayah Jafri.
“Sebentar Yah,” jawab Bu Hana, dia merogoh tas jinjingnya untuk mengambil ponselnya, setelah itu dia menghubungi nomor ponsel Aurelia.
Berulang kali Bu Hana coba menghubungi nomor ponsel Aurelia, tapi tetap tidak ada yang menerimanya.
“Yah, kayaknya Ibu samperin ke rumah saja. Ini ponsel Aurelia tidak diangkat juga, Ayah urus Dhafi di sini, bagaimana menurut Ayah?” tanya Bu Hana.
“Ya sudah, Ayah tunggu di sini, Ibu sama sopir ke rumah Dhafi,” balas Ayah Jafri.
Bu Hana menganggukkan kepalanya dan berpamitan pada suaminya. Dengan langkah cepat Bu Hana ingin segera sampai di rumah Dhafi untuk memberitahukan kabar kecelakaan pada Aurelia.
Satu jam kemudian, di rumah Dhafi.
Bu Hana diantar sopirnya sudah tiba di rumah Dhafi, dan wanita paruh baya itu terlihat mengetuk pintu rumah tersebut sembari memanggil nama Aurelia, dan kebetulan sekali Bu Tin dan Lilis yang ingin menjenguk Aurelia ke rumah sakit setelah mendapat kabar terbaru dari Pak Yusuf melewati rumah Aurelia.
“Punten Ibu, cari Neng Aurelia?” tanya Bu Tin mendekati Bu Hana.
Wanita paruh baya itu pun menoleh ke belakang. “Iya Bu, saya mertuanya cari menantu saya, Aurelia,” jawab Bu Hana ramah.
Bu Tin menarik napasnya dalam-dalam setelah mengetahui di hadapannya adalah mertua Aurelia berarti ibu dari pria brengsek tersebut. Wajah Lilis yang mendengarnya tiba-tiba menjadi agak tajam ketika menatap Bu Hana.
__ADS_1