Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Niat baik untuk membantu


__ADS_3

Makanan yang sudah dipesan oleh Aurelia dan Emran sudah terhidang di atas meja, pria itu mempersilahkan untuk menikmati makan siang bersama. Untuk mencairkan suasana yang canggung Bapak Heri yang sedari tadi diam namun banyak pikiran yang terlintas akhirnya buka suara.


“Kalau boleh tahu, anak saya bekerja sebagai apa dengan Tuan?” tanya Bapak Heri dengan rasa kehati-hatiannya, maklum pertama kali berbicara pada pria yang memiliki kedudukan tinggi.


Daddynya Athallah ujung ekor netranya melirik wanita muda yang sedang menikmati makan siangnya. “Aurel baru-baru ini bekerja sebagai pengasuh anak saya Pak, dan kebetulan saya tidak menyangka jika Aurel ternyata istri dari salah satu karyawan saya ... Dhafi,” jawab Emran apa adanya.


Bibir Bu Ida membulat saat mendengarnya. Aurelia menghentikan suapan makanannya dan menatap kedua orang tuanya yang ada di hadapannya.


 “Bapak, aku bekerja juga tahunya dari tetangga yang kasih tahu ada lowongan pekerjaan, dan memang saat itu aku butuh uang buat kebutuhanku, karena aku sudah tidak punya uang, Mas Dhafi tidak kasih uang belanja,” sambung Aurelia.


Bapak Heri mendesah kecewa, begitu pula dengan Ibu Ida. Selama ini pikir kedua orang tua Aurelia kebutuhannya pasti akan terjamin karena melihat besannya kaya dan menantunya memiliki jabatan tinggi di kantor. Bu Ida lantas mengibaskan salah satu tangan ke wajahnya agar tidak meneteskan air mata, dia teringat bagaimana dulu hidupnya sulit saat suaminya tidak memiliki uang sepeser pun, namun kebutuhan perut anak-anaknya butuh diisi.


“Sekarang aku tahu kenapa Mas Dhafi tidak memberikan nafkah buatku, ternyata ada istri lain yang diberikan nafkahnya juga,” lanjut kata Aurelia terdengar menyindir dirinya sendiri.


Bu Ida menatap sendu pada anaknya. “Sudahlah Nak, tidak perlu diingat lagi, Ibu juga minta maaf padamu yang pernah menentang kamu untuk bercerai saat Ibu dan Bapak berkunjung ke rumah. Andai saat itu Ibu peka atas ucapanmu serta kehadiran Faiza, kamu tidak akan dipukuli lagi sama Dhafi.”


Aurelia sejenak menundukkan kepalanya dengan helaan napas kasarnya. “Iya Bu nggak pa-pa, semua sudah suratan takdir aku yang harus menerimanya sikap buruk Mas Dhafi.”


“Aurel, kalau boleh Bapak tahu, benaran kamu sudah mengurus perceraian dengan Dhafi?”

__ADS_1


Aurelia mengangkat wajahnya. “Urusan perceraian anak Bapak dengan suaminya, pengacara saya yang sudah mengurusnya. Semua bukti video kekerasan, hasil visum sudah ada dan menjadi salah satu bukti untuk memudahkan putusan perceraian di pengadilan agama,” jawab Emran yang berbicara terlebih dahulu.


Bapak Heri dan Bu Ida serempak menatap pria yang duduk di samping Aurelia, dan Emran bisa merasakan jika banyak hal yang ingin ditanyakan oleh kedua orang tua Aurelia atas sikapnya tersebut, itu terlihat dari sorot netra mereka berdua.


“Bapak dan Ibu, saya harap tidak ada kesalahpahaman dengan saya. Saya hanya berniat baik untuk membantu menangani masalah Aurelia karena dia salah satu karyawan saya, dan kebetulan pengasuh anak saya. Saya tidak memiliki niatan buruk pada anak Bapak dan Ibu, pure hanya ingin menolong orang yang mengalami kesulitan,” tutur Emran saat ini yang terlintas di benaknya.


Ada hembusan lega yang dirasakan di dada Aurelia ketika mendengar ucapan Emran, untung  saja dia tidak salah mengartikan atas perhatian Emran. Sementara Bu Ida mengangguk pelan namun bukan karena kecewa, tapi dia juga tidak mau lagi berurusan dengan orang yang berduit.


“Terima kasih atas bantuan Tuan untuk anak saya, semoga kebaikan Tuan menjadi berkah buat Tuan,” ucap Bu Ida.


“Sama-sama Bu.”


Sontak saja Emran langsung meletakkan cangkir kopinya lalu menatap Bapak Heri dengan tatapan yang tak terbaca. “Kalau Bapak dan Ibu mengizinkan, aku ingin bekerja dulu di sini, kebetulan aku juga gak enak baru kerja tapi tiba-tiba berhenti, paling tidak untuk beberapa bulan biarkan aku menyibukkan diri di Jakarta, setelah itu baru aku pulang ke kampung,” kata Aurelia apa adanya, memang saat ini sudah tak ada tujuan yang ingin dia lakukan, yang terbesit yaitu tetap menjalankan pekerjaan sebagai pengasuh Athallah sambil memikirkan langkah selanjutnya.


“Bapak lebih setuju kalau kamu nanti kembali ke kampung kalau urusannya sudah selesai semuanya, di sini kita tidak memiliki saudara. Kalau di kampung paling tidak ada kami sebagai orang tuamu, dan adik-adikmu. Nanti kamu juga bisa cari kerjaan di kampung saja,” tutur Bapak Heri yang mengkhawatir keadaan anaknya seorang diri tinggal di Jakarta.


“Bapak tidak perlu khawatirkan dengan keadaan Aurelia selama di sini, saya akan menjamin kehidupan Aurelia sebagai karyawan saya, akan tinggal dalam keadaan nyaman dan baik,” sambung Emran berusaha meyakinkan.


“Terima kasih banyak Tuan Emran.” Hanya itu yang bisa Bapak Heri sampaikan, namun tetap hatinya tidak nyaman.

__ADS_1


Di saat masih berbicara sangat terpaksa Emran menerima panggilan telepon dari kantornya, dan dia pun berpamitan untuk menerimanya di luar ruangan. Mumpung tidak ada Emran, Bu Ida berkesempatan untuk duduk di samping anaknya.


Wanita paru baya itu meraih salah satu tangan anaknya untuk diusapnya dengan lembut. “Aurel, kamu tidak ada hubungan apapun dengan majikanmu, kan?” tanya Bu Ida sangat pelan.


Aurelia menggeleng pelan. “Tidak ada Bu, aku hanya pengasuh anaknya saja, seperti yang Tuan Emran katakan beliau hanya ingin menolongku saja, memangnya kenapa Bu?” Aurelia mempertanyakan perihal tersebut.


“Nak, kamu nanti akan ganti status menjadi janda, pasti akan banyak orang memandangmu sebelah mata. Andaikan Ibu boleh meminta kamu jangan tergesa-gesa mencari pengganti suami. Ibu wiss kapok lihat orang kaya, sudah cukup Ibu terlena dengan keluarga Dhafi, untuk ke depannya Ibu tidak mau berurusan dengan orang kaya, apalagi ternyata orang kaya suka semena-mena sama anak Ibu, apalagi kita bukan orang kaya,” imbuh Bu Ida. Dia melihat penampilan anaknya hari ini memang sangat luar biasa cantik, dia patut bersyukur telah melahirkan keturunan yang sempurna namun dia pula yang mendorong anaknya masuk ke lubang nestapa.


“Ibu sangat menyesal karena harta yang tak seberapa banyaknya tapi anak sendiri tersiksa di tangan suaminya,” lanjut kata Bu Ida agak tersendat, netranya pun mulai berembun.


Aurelia menundukkan kepalanya dan mengusap punggung tangan ibunya dengan lembut. “Terima kasih Ibu sudah menyesalinya, dan Ibu tenanglah ... aku tidak berpikir ke arah ke sana, saat ini tujuanku adalah menyelesaikan perceraianku, dan menikmati pekerjaanku. Aku ingin mengumpuli bekal dulu sebelum pulang kampung. Paling tidak dengan gaji beberapa bulan kedepan, bisa jadi modal usaha di kampung. Aku juga tidak berpikir untuk menikah lagi Bu, lebih baik mengurus diri sendiri, menyibukkan diri dengan segala aktivitas. Mencintai itu sangat menyakitkan,” imbuh Aurelia.


“Syukurlah kalau kamu punya pemikiran seperti itu, Nak,” jawab Bu Ida dengan perasaan leganya. Bu Ida memeluk putrinya lalu membelai lembut punggung anaknya.


Emran yang baru saja mau masuk ke dalam ruang VIP, nampak berdiam saat tak sengaja mendengar ucapan Aurelia.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2