
Hotel Mulia
Hari yang dinanti telah tiba, hari yang sangat ditunggu oleh pria yang bernama Emran Fathin, duda tampan beranak satu, akan meminang pujaan hatinya, pujaan yang mampu membuat dirinya kembali tersenyum.
Emran menatap pantulan dirinya di depan cermin, saat ini dia sudah mengenakan baju pengantin khas daerah Jawa Timur, dengan mengambil tema warna putih menyesuaikan baju pengantin wanitanya saat akad nikah. Dan tidak hanya Emran, ada sosok bocah tampan yang ikut menatap dirinya dalam pakaian khas Jawa-nya, walau dia ikutan pakai kain jarik, tetap wajah bocah itu terlihat ceria dan happy.
“Daddy kapan kita ketemu cama Mommy, Atha udah kangen ini?” celetuk Athallah dengan melipat kedua tangannya ke dada.
Sang Daddy dibuat tersenyum, jangankan anaknya yang kangen, dia juga rindu sama calon istrinya setelah seminggu ini Aurelia menjalankan ritual pingitan di rumahnya. Pure mereka hanya berkomunikasi dengan tukar pesan saja, tidak boleh saling menunjukkan wajahnya masing-masing.
“Daddy juga sudah rindu sama Mommy kamu, Son.”
Mohon bersabar ya, sebentar lagi juga akan segera bertemu dan bisa meluapkan segala kerinduan yang masih memenuhi hati.
Sementara itu di kamar hotel yang berbeda. Saudara yang diajak ke Jakarta oleh kedua orang tua Aurelia tampak selalu terpesona dengan tempat mereka menginap, dan agak kelihatan keponya tapi wajarlah, walau Ibu Ida dan Bapak Heri dibuat menggelengkan kepala.
“Waduh sing ayu tenan Aurelia, panglingi loh,” ucap Bude Tias kakaknya Bapak Heri.
Wanita yang dibilang ayu itu hanya mengulas senyum tipisnya, sementara Bu Ida yang sudah rapi dengan makeup dan kebayanya masih saja menitikkan air mata, demi apa pun dia masih tak percaya jika anaknya akan menikah kembali dan dipinang oleh pria kaya melebihi Dhafi.
Bu Ida mengusap lengan wanita itu. “Aurelia, apakah kamu bahagia dengan pernikahan yang sebentar lagi dimulai?” tanya Bu Ida, sejujurnya ada rasa takut akan terulang kembali kejadian yang dulu.
Aurelia menatap teduh ibunya, lalu mengulas senyum tipisnya. “InsyaAllah Bu, untuk kali ini aku merasakan kebahagiaan yang tak terhingga, ada pria yang sangat mencintaiku, pria yang membuat aku nyaman jika dengannya, pria yang sangat menyayangi Ibu, Bapak dan adik-adikku.”
Bu Ida ikutan tersenyum, benar kata anaknya walau Emran dari status sosial yang lebih tinggi, namun attitudenya sangat baik kepada keluarga Aurelia, tidak hanya sekedar mencintai Aurelia, tapi keluarganya pun dihormati dan disayangi bagai keluarga sendiri.
“Ibu sangat berharap inilah jodoh yang terbaik untukmu, suami yang bisa membuatmu bahagia, suami yang bertanggungjawab padamu serta kelak pada anak-anak kalian berdua. Dan ingatlah jadi istri yang terbaik untuk suamimu, Ibu juga berharap tidak ada kasus kekerasan dalam rumah tanggamu,” imbuh Bu Ida.
__ADS_1
“Insya Allah Bu, semoga dijauhkan dari hal-hal seperti itu, cukup itu hanya kisah masa lalu, sekarang di masa depan harus beda ceritanya,” jawab Aurelia.
Memilih Emran menjadi suaminya bukanlah hal yang mudah, Aurelia juga melakukan sholat istikharah agar hatinya mantap sesuai permintaan Emran, walau bagaimanapun pernikahan ini harus melibatkan Allah agar terwujud segala harapan mereka berdua.
“Maaf permisi Bu, acara akan segera dimulai.” Salah satu panitia wedding organizer menghampiri mereka yang masih ada di kamar mempelai wanita.
Jantung Aurelia mulai berdegup cepat, walau sudah pernah menikah tapi untuk kali ini jelas sangat berbeda rasanya. Bu Ida dan Bapak Heri mencium kening putranya terlebih dahulu sebelum digiring oleh panita ke ruangan ballroom, sementara saudaranya dari kampung sudah bergegas ke bawah menuju Ballroom.
Aurelia akan menyusul ke bawah ditemani oleh panitia dan Bude Tias bersama anaknya yang akan mengantar sang pengantin wanita setelah ijab kabul selesai, tapi sekarang sang pengantin wanita akan digiring ke ruangan VIP.
30 puluh menit kemudian di ballroom.
Ruangan yang disewa oleh Emran, dekorasinya sungguh sangat megah layaknya pernikahan mewah pada umumnya. Awalnya Aurelia tidak menyetujuinya, namun setelah diberikan pengertian oleh Emran akhirnya Aurelia mengiyakan keinginan calon suaminya. Mau bagaimanapun pernikahan mereka, Emran mengundang banyak relasi kerja, karyawan serta teman-temannya bukan hanya sekedar saudara saja, jadi Aurelia harus bisa memahaminya.
Kini Emran sudah duduk bersama-sama di meja yang disiapkan untuk akad nikah. Wajah Emran mulai terlihat tegang, jantungnya pun bertalu-talu, padahal dia sudah berusaha menenangkan dirinya, apalagi sudah punya pengalaman mengucapkan ijab kabul, tapi tetap saja dirinya tegang dan gugup.
Pak Penghulu membuka sesinya, dan mulai mengarahkan calon pengantin pria dan ayah kandung dari calon pengantin wanita. Mereka berdua mulai berjabat tangan, Emran mencoba menghilangkan rasa gugupnya, namun tetap tak bisa dihempaskan.
“Saya nikahkan engkau dan kawinkan engkau dengan putriku Aurelia Almashyara, dengan mas kawin uang sebesar 100 juta dan cincin berlian dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Aurelia Almashyara binti Heri Supratman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Dengan sekali tarikan napas Emran mengucapkan ijab kabul, rasa yang mengganjal di dalam hatinya seketika itu lepas dan teras lega.
“Alhamdulillah,” gumam Emran sendiri.
“Bagaimana SAH?” tanya penghulu.
SAH
__ADS_1
SAH
Seluruh undangan serempak mengucapkan kata SAH, membuat ruangan ballroom menggema.
Mama Syifa tak kuasa menahan air matanya, ketika menyaksikan ijab kabul putranya untuk kedua kalinya, begitu juga Bu Ida yang duduk di samping Mama Syifa turut meneteskan air mata bahagianya. Bu Tin, Lilis dan beberapa tetangga yang di undang oleh Aurelia ikutan terenyuh melihat pernikahan kedua Aurelia, sampai mengibaskan mata mereka agar tidak deras air matanya.
Sementara itu Aurelia yang menyaksikan Emran mengikat dirinya dalam akad nikah melalui televisi yang ada di ruangan VIP, terenyuh dan jelas pasti akan mengeluarkan air matanya. Akhirnya dia resmi menjadi istri Emran Fathin.
Setelah selesai mengucapkan ijab kabul, sudah waktunya Aurelia memasuki ballroom. Aurelia di dampingi Bude Tias beserta sepupunya yang sudah menikah, mengiring pengantin wanita itu ke ruang ballroom untuk bertemu dengan suaminya.
MC pernikahan sedang menyampaikan sepatah dua kata ketika pengantin wanita sudah mulai memasuki ruangan ballroom.
Semua para undangan terpesona melihat kecantikan sang pengantin wanita, sudah tidak terlukiskan lagi kecantikannya seperti apa.
Emran tertegun sampai menelan kasar salivanya, sungguh dia sangat terpesona dengan pengantin wanitanya. Pria itu pun beranjak berdiri, dan melangkahkan kakinya menuju Aurelia yang baru saja masuk ke tempat acara. Duh sepertinya memang Emran sudah tak sabar ingin bertemu dengan istrinya.
Biarlah sang MC mengatakan Emran tak sabar ingin menghampiri istrinya dalam sebuah guyunon, walau kenyataannya memang dia sangat merindukan wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
Aurelia mendongakkan wajahnya dan menatap hangat sosok pria yang begitu tampan, yang telah mengikat dirinya dalam sebuah pernikahan.
Emran tersenyum hangat, kemudian meraih tangan sang pengantin wanitanya lalu mengecupnya dengan lembut. “Aku sangat merindukanmu, istriku.”
Pipi Aurelia dibuat merah merona kembali atas sikap hangat suaminya.
__ADS_1