
Malam pun tiba-tiba ...
Aurelia menatap ponsel pemberian Emran yang sempat dia minta ajarin pakainya oleh Pak Yusuf. Netranya menatap nanar pada jam yang ada di ponselnya sudah menunjukkan jam 7 malam, waktu jam kerjanya sudah selesai, dan sudah waktunya pulang ke rumah.
Segala pikiran kini sedang membayangkan apa yang akan terjadi saat dia pulang ke rumah, bayangan akan disiksa kembali oleh suaminya sudah jelas sangat terbayang di pelupuk matanya, apalagi kejadiannya tadi siang pasti akan menampakkan kemurkaan suaminya. Namun dia harus menemuinya bukankah ini salah satu kesempatan untuk mendapatkan bukti penyiksaan suaminya itu.
Kini dia sudah memiliki ponsel yang bisa merekam semua kejadian yang akan dia hadapi nanti. Sejenak dia menarik napasnya dalam-dalam dan berusaha menguatkan mentalnya sendiri. Sebelum pulang dia mengusap rambut majikan kecilnya yang kini sudah tertidur pulas karena kelelahan, berharap nanti malam tidak rewel. Dengan gerakan perlahan-lahan dia bangkit dari duduknya di tepi ranjang, dan keluar dari kamar majikan kecilnya.
“Sudah mau pulang?” tanya Emran datar, ternyata sudah berada di kamar Athallah.
Aurelia menegakkan wajahnya. “Iya Tuan, saya pamit pulang dulu, assalamualaikum,” pamit Aurelia, dia bergegas mengambil tas kecilnya dan tidak membawa baju yang dibeli Emran dari butik.
“Waalaikumsalam,” jawab Emran, hati kecilnya ingin mengantar Aurelia pulang, tapi takut wanita muda itu salah paham, namun entah kenapa perasaan dia agak tidak enak. Pria itu menatap nanar wanita itu hingga menghilang, keluar dari kamar anaknya.
Satu jam kemudian ...
Ojek yang mengantar Aurelia sudah tiba di depan rumah, jantung Aurelia mulai berdegup cepat, apalagi netranya melihat mobil milik Dhafi sudah berada di garasi rumah mereka.
Aurelia langsung menyalakan kamera ponselnya, dan meletakkannya dalam tasnya kembali. Kakinya mulai melangkah masuk halaman rumah, seiringan dengan batinnya yang berdoa mohon perlindungan.
Kenop pintu telah dia putar dan ternyata tidak terkunci, kepalanya sedikit melongok ke dalam dan yang dia dapati tidak ada satu orang pun di ruang tamu. Aurelia pun masuk mengendap-endap bagaikan maling di rumahnya sendiri, namun netranya menyelisik ke semua sudut tidak ada orang satu pun, sangat sunyi sekali. Ada sedikit perasaan lega, dan langkah kakinya lanjut ke kamarnya.
Tidak mau membuang waktu, sesampainya di kamar dikeluarkannya ponsel dari tasnya, lalu ditaruhnya di atas meja rias dalam kondisi on merekam lalu dia halangi dengan benda yang ada di meja rias tersebut.
BRAK!
Suara bantingan pintu terdengar begitu nyaringnya hingga tubuh Aurelia berjingkat kaget, dia pun memutar balik badannya.
“Ternyata kamu masih ingat pulang juga, Aurelia!” ucap Dahfi menyeringai tipis, dan netranya sudah jelas sangat memerah layaknya orang sedang marah.
GLEK!
Tenggorokan Aurelia tercekat melihat wajah garang suaminya, apalagi pria itu sudah membawa sabuk tali pinggangnya.
“Jadi benar yang dikatakan oleh Faiza kalau kamu selama ini adalah wanita murahan sebelum menikah denganku, hem!” sentak Dhafi, lalu tangannya melempar beberapa lembar foto ke muka Aurelia.
Salah satu foto tertangkap ditangan Aurelia, dan sudah jelas wanita muda itu terkejut melihat foto dirinya setengah telanjang sedang tidur bersama pria lain. Dia menggelengkan kepalanya, tidak percaya atas apa yang dia lihat di foto tersebut.
“Dan karena foto ini, Mas Dhafi sangat membenciku, dan Mas Dhafi mempercayai semua bukti-bukti ini tanpa bertanya terlebih dahulu tentang kebenaran ini!” balas Aurelia meninggikan suaranya.
Aurelia memundurkan langkah kakinya saat langkah kaki suaminya semakin maju mendekatinya. “Semua sudah jelas dengan foto ini, kalau kamu memang wanita murahan sebelum menikah denganku. Semuanya terbukti!”
Ingin menangis rasanya hati Aurelia, dirinya telah difitnah habis-habisan oleh sepupunya sendiri, dan ternyata sudah dilakukan sebelum mereka menikah.
__ADS_1
“Mas Dhafi lebih percaya sama Faiza ketimbang dengan istrimu sendiri Mas! Harusnya Mas bertanya padaku! Aku tidak pernah seperti ini! Aku tidak kenal dengan pria-pria ini. Dan perlu kamu ketahui aku bukan wanita murahan!” sanggah Aurelia, mempertahankan kebenaran yang ada.
Namun, sayangnya pria itu sudah terlalu emosi. Tali pinggangnya mencambuk lemari pakaian yang ada disamping Aurelia.
“Jangan berbohong Aurelia, nyatanya kamu ada main dengan Bosku selama ini! Mana perasaanmu sebagai istriku ... Huh!” bentak Dhafi sudah tersulut api cemburu sejak tadi siang.
“AAWW!” tali pinggang itu melayang di pinggang wanita itu.
“Kamu sengaja bersolek di depan pria lain, sedangkan dihadapanku kamu selalu terlihat kumuh!” teriak Dhafi kesetanan, dia kembali melayangkan sabetannya ke tubuh Aurelia, lalu menarik lengan wanita itu dan mengereknya ke atas kasur, kemudian menghempaskannya.
“AAKHH!”
“Lepaskan aku Mas, TOLONG!” jerit Aurelia.
“Berteriaklah, tidak ada satu pun yang akan menolongmu!” bentak Dhafi, tangannya yang memegang tali pinggang kembali menghujam tubuh Aurelia yang belum sempat mengelak dan menghindar.
“SAKIT ... TOLONG!” jerit Aurelia kesakitan, tubuhya sudah memberontak dan kedua kakinya sudah menendang tubuh pria itu yang semakin kuat tenaganya.
Dhafi menindih tubuh Aurelia, dan mengunci pergerakan wanita muda itu di bawah kungkungannya.
“Jangan berharap dan bermimpi jadi istri bos, kamu akan tetap menjadi istriku, Aurelia!”
“LEPASKAN AKU ... TOLONG!”
“Kamu suruh aku diam!” seru Aurelia, tatapannya mulai menajam dan dia menarik napasnya dalam, lalu kembali memberontak.
Namun yang terjadi Dhafi kembali mengambil tali pinggangnya dan melayangkan ke tubuh istri sahnya.
“TOLONG!” teriak Aurelia sekencang mungkin, saat tali pinggang itu mencambuk dirinya.
BRAK!
BUGH!
Tubuh Dhafi terhempas ke belakang hingga terbentur tembok, wajahnya pun langsung menerima tinjuan bertubi-tubi tanpa henti.
Para tetangga yang sempat mendengar teriakan minta tolong dari rumah Aurelia, mulai berdatangan.
“Dasar pria brengsek, bisanya hanya menyiksa wanita saja!” teriak pria itu dan kembali meninju wajah Dhafi hingga tanpa dia sadari wajah pria itu sudah mengeluarkan dari hidung dan sudut bibirnya.
Faiza yang baru saja balik dari minimarket tampak heran melihat para tetangga berkumpul di depan rumah, dan dia melihat pintu rumah terbuka lebar.
“Ada apa ini? Kenapa pada kumpul disini?” tanya Faiza pada salah satu ibu-ibu yang tidak dia kenal.
__ADS_1
“Kayaknya dari tadi ada yang teriak minta tolong, kayak suara Neng Aurel,” jawab ibu tersebut.
Faiza tampak heran dan bergegas masuk ke dalam, dia melihat ke setiap sudut dan terdengar orang meringis mengaduh kesakitan dari kamar Aurelia.
Netra Faiza terbelalak melihat Emran memukul Dhafi yang sudah mulai terkulai lemas, sedangkan Aurelia meringkung di atas ranjang merasakan tubuhnya kesakitan.
“STOP PAK EMRAN!” teriak Faiza saat melihat tangan pria tampan itu ingin memukul Dhafi kembali.
Pria itu menolehkan wajahnya dan menunjukkan wajah garangnya, lalu dia melepaskan kerah kemeja Dhafi dan sedikit menyentak pria itu ke dinding.
Faiza mendekati Dhafi, terlihat dia ingin melindungi suami sirinya agar tidak dipukuli lagi oleh pria itu.
Emran mengusap peluhnya yang mulai bercucuran di wajahnya. “Mulai hari ini Anda saya pecat dari perusahaan saya, dipecat secara tidak hormat! Dasar suami brengsek!” sentak Emran.
Dhafi hanya bisa tergugu mendengarnya, dia masih tidak menyangka bosnya bisa tiba-tiba datang ke rumahnya.
Kini, Emran memutar balik badannya dan menyentuh bahu wanita itu. Aurelia menolehkan wajahnya, pria itu menatap hangat dan menyelisip kedua tangannya antara bahu dan kedua paha wanita itu.
“Di sini bukan tempat tinggal kamu,” ucap Emran saat mengendong Aurelia ala bride style.
“Sebentar Tuan, tolong ke sana dulu!” pinta Aurelia terdengar lirih, sembari tangannya menunjukkan arah meja rias. Pria itu melangkah ke sana, tangan Aurelia pun menggapai ponselnya di balik barang-barang.
“Sampai ketemu di kantor polisi, Dhafi!” ucap Emran sebelum membawa Aurelia keluar dari kamar.
__ADS_1