Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Terima kasih, Tuan Emran.


__ADS_3

Wajah Dhafi semakin tegang, ketika melihat Aurelia ikut berada di ruang meeting dan Emran melanjutkan meetingnya, secara tidak langsung istrinya akan tahu permasalahan dirinya dengan pekerjaannya.


“Baiklah semuanya saya hanya melanjutkan pembahasan sebentar saja, menyangkut hal korupsi yang baru saja terungkap walau butuh penyelidikan lebih lanjut, dan tetap saya usut sampai tuntas, dengan hal tersebut Pak Dhafi selaku manager marketing akan saya keluarkan SP 1 atas data anggaran yang tidak sesuai, ada selisih 200 juta. Jika hasil pemeriksaan audit internal Pak Dhafi terbukti bersalah, dan stafnya ikut terlibat, maka saya tidak akan segan untuk memecatnya. Sekian dan terima kasih!” ucap Emran menutup rapat dadakan tersebut.


“Interupsi Pak Emran,” sahut Dhafi.


“Ya, silahkan.”


“Mohon maaf Pak Emran, saya tidak terima tuduhan tersebut, semua yang mengerjakan pembayaran dan surat permohonan itu adalah Andi asisten manager, saya hanya tanda tangan saja,” sanggah Dhafi mulai membela diri.


Andi langsung menoleh ke arah Dhafi dan menggelengkan kepalanya. “Pak Dhafi, kenapa jadi mengkambing hitamkan saya. Saya hanya kebagian 50 juta, justru 150 jutanya sudah masuk kantong Pak Dhafi!” seru Andi tidak mau kalah membela dirinya sendiri.


Aurelia dibuat terhenyak dengar apa yang dia dengarkan saat ini, tidak disangka suaminya yang dari keluarga orang kaya dan memiliki jabatan tinggi ternyata main kotor di tempat kerjanya.


Dhafi tampak memerah wajahnya saat Andi buka suara, Emran menyunggingkan senyum kecutnya tanpa disadari ada pihak yang bicarakan masalah uang korupsi tersebut.


“Sepertinya kalian berdua tidak usah saling berkilah, tapi terima kasih Pak Andi atas ucapannya. Kita tunggu hasil auditnya, mungkin staf yang lain juga ikut andil di beberapa anggaran marketing lainnya,” ucap Emran dengan tegasnya. Pria tampan itu lantas bangkit dari duduknya dengan mengendong Athallah.


“Ayo, Sayang ... rapatnya sudah selesai. Anak kita kayaknya sudah lapar,” ajak Emran, tangannya meraih tangan Aurelia agar ikut bangkit dari duduknya.


Tanpa menjawab, wanita itu bangkit dari duduknya dan dia tersenyum penuh makna pada Dhafi. Pria yang ditatap itu mengetatkan rahangnya hingga mengertakkan giginya.


“Adam tutup rapatnya, dan langsung hubungi bagian audit,” perintah Emran sebelum keluar dari ruang meeting.


“Baik Tuan,” jawab patuh Adam.


Emran, Athallah dan Aurelia akhirnya keluar dari ruangan diikuti oleh Tommy, kini semua mata memandang ke arah Dhafi dan Andi, timbullah kerisuhan di ruang meeting sepeninggalnya Emran.


Di sepanjang lorong menuju lift, tak ada suara yang keluar dari mulut Emran dan Aurelia, yang ada kini rasa dingin serta canggung yang menyelimuti mereka berdua. Emran masih memegang tangan Aurelia padahal mereka tidak sedang berada di ruang meeting.


Setibanya di lift, pas sekali pintu liftnya terbuka.

__ADS_1


“Daddy, peluk Mbak ... soalnya tadi Atha peluk Mbak, katanya kakinya gemetelan saat naik lift, kalau ndak pelcaya tanya aja cama Pak Tommy,” celetuk Athallah, saat mereka semua masuk ke dalam lift. Tommy yang ada di belakang mereka hanya bisa berdeham.


“Eh ...,” Aurelia bersuara, lalu melepaskan tangannya dari genggaman tangan Emran, sangking terkejutnya.


“Gak perlu Tuan, kali ini kaki saya tidak gemetaran,” sahut Aurelia dengan mengibaskan kedua tangannya. Emran tampak biasa saja dan menaikkan salah satu alisnya.


“Son, kaki Mbaknya tidak gemetaran lagi, mungkin tadi karena pertama kali masuk lift jadinya grogi,” ucap Emran menjelaskan.


“Oh begitu ya, Dad,” jawab Athallah mengerti.


“Sekarang kita makan siang dulu,” lanjut kata Emran tanpa menatap wajah Aurelia yang berada di sampingnya.


Lift pun turun membawa mereka ke lantai lobby, aura dingin Emran mulai mencuat lagi, itu yang Aurelia rasakan, dan dia tidak mengambil hati atas sikap Emran yang jauh berbeda saat di ruang meeting. Namun, ketika mereka keluar dari lift langkah kaki Emran masih menyejajarkan langkah kaki mungil Aurelia.


Lagi-lagi, Faiza yang melihat dari balik kaca coffe shop dibuat hatinya meradang. “Awas aja kalau kamu pulang nanti, akan aku beri pelajaran kamu! Udah tahu sudah nikah malah main gila dia sama pria lain. Gak punya otak! Mana gak tanggung-tanggung ambil kelas kakap!” gumam Faiza kesal sendiri, melihat Aurelia lebih dekat dengan pria yang baru mau dia incar. Rasa iri dan cemburunya begitu besar sejak dulu kala!


Bersamaan tatapan Faiza tersebut, Aurelia tak sengaja melirik coffe shop tersebut, dan bersitataplah mereka berdua, Aurelia tersenyum tipis membalas tatapan sinis Faiza.


"Oh ternyata yang dimaksud kerja di kantor itu, di coffe shop toh!" batin Aurelia.


30 menit kemudian ...


Mobil yang ditumpangi Emran, Athallah dan Aurelia sudah terparkir rapi di salah satu restoran mewah, Athallah pun bergegas menggandeng tangan pengasuhnya dan mengikuti langkah kaki Emran yang sudah terlebih dahulu jalan.


Emran berjalan menuju salah satu ruang privat yang sudah dipesan oleh asistennya. Posisi Aurelia mulai menjalankan tugasnya sebagai pengasuh majikan kecilnya, dan jaraknya mereka pun mulai berjauhan, wanita muda itu sangat tahu diri akan posisinya.


Emran tidak bertanya menu makanan yang akan dimakan oleh Aurelia, dia langsung memesan makanan untuk mereka semuanya, untuk mempersingkat waktu.


Ujung ekor netra Aurelia sejenak melirik Emran yang tampak sibuk dengan ponselnya semenjak setelah memesan makanan, lalu dia menundukkan wajahnya sejenak untuk mempersiapkan kata-kata yang ingin dia sampaikan pada tuannya.


“Tuan Emran,” panggil Aurelia  dengan rasa kehati-hatiannya.

__ADS_1


“Ehm ...,” gumam Emran tanpa menegakkan kepalanya.


“Saya ini mengucapkan terima kasih atas bantuannya hari ini Tuan Emran.”


Kepala Emran terangkat dan menatap wajah Aurelia.


“Pak Dhafi adalah suami saya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas bantuan Tuan Emran tadi di ruang meeting.”


Emran menatap serius wajah cantik Aurelia, kemudian diletakkan ponselnya di atas meja makan.


Wanita itu merasa canggung ditatap seperti, dan kembali menundukkan wajahnya. “Semoga saya bisa membalas budi baik Tuan Emran, dengan mengasuh tuan muda dengan baik.”


“Jadi Dhafi itu suami kamu?” Pura-pura bertanya Emran.


“Iya dia suami saya, kami berdua menikah di kampung Tuan.”


“Lalu kenapa dia tadi tidak mengakui kamu sebagai istrinya dan bilang ke saya belum menikah?” cecar Emran mengeluarkan rasa ingin tahunya.


Wanita muda itu tersenyum getir saat mengangkat wajahnya, lalu menatap wajah tampan tuannya. “Mungkin Mas Dhafi malu punya istri seperti saya yang kampungan Tuan, tapi saya tidak masalah diakui atau tidaknya sebagai istri,” jawab Aurelia mengandung kesedihan yang begitu dalam.


Disela-sela pembicaraan tersebut, masuklah waiters dengan membawa troly makanan yang di pesan oleh Emran barusan, dan langsung di sajikan di meja makan. Dan bersama kedatangan waiters itu juga, ternyata ada sosok sang mantan istri Emran.


“Halo, Sayang ... ternyata aku tidak salah lihat,” sapa Soraya masuk begitu saja dan langsung menghampiri Emran, kemudian mengecup sekilas bibir pria itu.


Aurelia dan Athallah sama-sama melihatnya, dan secepat kilat dia memalingkan wajahnya.


Emran juga turut terkejut melihat kehadiran Soraya hingga tak sempat menarik dirinya dari serangan kecupan Soraya.


“Halo, anak Mommy,” sapa Soraya begitu lembutnya dan langsung mencium pipi Athallah, tangan mungil itu langsung mengusap pipinya dan minta diangkat oleh Aurelia agar duduk di pangkuan pengasuhnya.


Wanita cantik itu menjatuhkan dirinya di kursi kosong sebelah Emran. “Aku ikut bergabung ya Sayang, kebetulan aku juga mau makan siang, dan pas sekali tadi aku sempat lihat Kak Emran, ternyata betulan Kak Emran,” ucap Soraya begitu manisnya. Lalu pandangannya baru teralihkan dengan wanita mudah yang duduk di seberangnya.

__ADS_1


 bersambung ...


 


__ADS_2