Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Istri kedua Mas Dhafi!


__ADS_3

 Lain Bapak lain Ibu, jika Bu Ida masih tampak diam dan tenggelam dengan pemikirannya setelah melihat video kekerasan yang dialami oleh Aurelia, maka berbeda dengan Bapak Heri, dia tidak pernah menyakiti fisik anak-anaknya, namun di saat melihat fisik anaknya teraniaya, hati orang tua mana yang tidak akan sakit hati melihatnya.


Usai Bapak Heri mengumpat, dia mengepalkan kedua lengannya dan melangkah maju agar lebih dekat dengan keberadaan Dhafi, akan tetapi dengan sigapnya Bu Hana menghalanginya, karena tahu jika Bapak Heri pasti ingin memukul putranya.


“Sabar Pak Heri, jangan terbawa emosi,” pinta Bu Hana untuk meredam kemarahan yang sudah membuncah itu.


“Bu Hana minta saya untuk menahan emosi setelah saya melihat anak saya dipukuli! Gak waras Bu Hana!” Bapak Heri kembali menunjukkan emosinya, Ayah Jafri pun mendekati istirnya untuk berjaga-jaga. Dhafi terlihat bingung dengan kemarahan ayah mertuanya.


“Pak Heri, sebaiknya kita bicarakan masalah ini baik-baik, mungkin saja saat Dhafi melakukannya kondisinya sedang khilaf,” pinta Ayah Jafri.


Aurelia yang mendengar ucapan ayah mertuanya menyunggingkan senyum miringnya. “Ayah bilang khilaf, khilaf selama tiga bulan memukul aku!” ucap Aurelia agak meninggikan suaranya.


“Memukul,” gumam Dhafi sendiri, dan mencoba untuk mengingat-ingat tapi tetap tidak muncul memorinya yang terdahulu.


Bapak Heri memundurkan langkah kakinya untuk mendekati anaknya, dengan tatapan yang sangat sendu, dia memeluk putri pertamanya. “Maafkan Bapak, Nak ... kenapa tidak pernah bercerita dengan Bapak?” suara Bapak Heri terdengar serak, menahan rasa kekecewaan yang paling dalam. Tak bisa dielakkan, inilah yang Aurelia harapkan dari orang tuanya, pembelaan diri untuknya.


Bu Ida yang masih menundukkan kepalanya, sebenarnya netranya sudah berlinang namun dirinya masih saja gengsi untuk mengakui jika hatinya juga sangat kecewa dengan musibah yang menimpa anaknya, kini yang Bu Ida lakukan hanyalah mengusap lengan putrinya dengan lembut dan masih dalam diamnya.


Setiap orang pasti ingin memiliki ekonominya stabil dalam hidupnya, baru dalam beberapa bulan ini Bu Ida merasakan kebutuhan keluarganya tercukupi semenjak anaknya menikah dengan anak orang kaya, hingga dia tidak menginginkan adanya perceraian dalam rumah tangganya. Namun, apa yang ada di benak Bu Ida saat ini? Masihkah membiarkan anaknya tetap berumah tangga dengan suaminya yang kejam!”


“Mas Dhafi hampir pernah membunuhku Pak, dia mencekik leherku,” ucap Aurelia dalam pelukan Bapak Heri.


Netra Emran langsung melotot, begitu pula Bapak Heri. “BANGSAT!” umpat Bapak Heri saat mengurai pelukannya dan ingin kembali mendekati Dhafi. Akan tetapi, kedua orang tua menghalangi Bapak Heri, tapi mereka lupa dengan keberadaan Emran, melalui sisi yang lain.


BUGH!

__ADS_1


Emran sudah memberikan tinjuan pada wajah Dhafi. “SUAMI BIADAB!” maki Emran, dia pun menarik dirinya dari sisi ranjang, dan sontak saja semua orang menatap kaget ke arah Dhafi dan Emran secara bergantian.


Bu Ida jelas terhenyak melihat sosok Emran tersebut, sampai mau memukul wajah Dhafi.


Dhafi yang masih memegang wajahnya setelah ditinju oleh Emran, menatap pria itu. “Anda siapa? Berani sekali memukul saya?”


Emran menyunggingkan senyum sinisnya. “Saya mantan bos kamu! Sayang sekali kamu lagi lupa ingatan, padahal semalam kita bertemu di rumahmu!” sentak Emran.


Dhafi rasanya ingin berteriak frustrasi, karena tidak bisa mengingat apa pun ditambah lagi dengan kejadian yang sekarang.


“A-apa mantan bosnya Dhafi, jadi pria yang menemani Aurelia mantan bosnya Dhafi,” batin Bu Ida terkejut.


Bapak Heri kembali menatap putrinya. “Bapak setuju kamu bercerai dengan Dhafi, tidak pa-pa Bapak malu di kampung, ketimbang Bapak kehilangan anak Bapak di tangan suami bejatnya!” ucap Bapak Heri dengan tegasnya.


Aurelia terharu hingga netranya kembali berembun, dan dia kembali memeluk Bapaknya yang sejak kecil selalu menyayanginya. “Alhamduliilah, makasih banyak Bapak,” ucap Aurelia begitu lirih dalam pelukan Bapak Heri.


Di saat yang agak kurang menyenangkan, pintu kamar terbuka dan masuklah kursi roda yang ditempati oleh Faiza serta di dorong oleh Bu Dilla ibunya Faiza.


Semua orang yang ada di ruangan jelas menatap kehadiran Faiza. Aurelia tercengang melihat kondisi Faiza yang sudah kehilangan satu kakinya, dan hal itu sama dirasakan oleh yang lainnya.


Wajah Faiza tampak sembab sepertinya habis menangis, namun dalam wajahnya yang sembab itu terlihat lirikan tajam pada Aurelia.


Bu Dilla mengiring kursi roda Faiza mendekati ranjang yang di tempati Dhafi. Aurelia menarik napasnya dalam-dalam sebelum dia berkata.


“Satu lagi yang perlu Ibu dan Bapak, serta semuanya tahu. Wanita yang baru saja masuk itu adalah kekasih Mas Dhafi, mereka berdua sudah menjalin hubungan dan sepertinya sudah lama terjadi,” ucap Aurelia datar.

__ADS_1


“APA!” teriak Bu Ida kaget, dan langsung melotot pada Dilla adik kandungnya sendiri.


Faiza pun menyeringai mendengarnya dan dia menatap wajah suami sirinya tersebut.


“Sepertinya di sini aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu Aurelia, perlu kamu ketahui jika aku adalah istri kedua Mas Dhafi, kami menikah seminggu setelah Mas Dhafi menikahimu!” sahut Faiza dengan suaranya agak meninggi.


Wajah Aurelia tiba-tiba pias dan memucat, Emran bergegas mendekati Aurelia dan langsung merangkul pinggang wanita itu takut jatuh pingsan. Sedangkan Bu Ida jelas sudah melorotkan tubuhnya ke lantai dengan tatapan nanarnya.


Bu Hana pun berpegangan pada lengan suaminya, mendadak kepalanya pusing seketika.


“Ya, anak saya sudah dinikahi oleh Dhafi seminggu setelah pernikahan Aurelia!” Bu Dilla menegaskan status anaknya.


“AARGHH!” teriak Dhafi frustrasi.


Dhafi sudah tak sanggup lagi mendengar hal yang baru dia dengarkan, apalagi saat melihat wajah Faiza, dia merasa benci dan tidak suka, berbeda saat melihat Aurelia yang langsung terpesona dan jantungnya berdegup cepat.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2