
Emran sudah ada niatan ingin membantu pengasuh anaknya, akan tetapi langkah kakinya tidak berkehendak lebih maju ke arah pintu, justru bukan seperti itu caranya membantu Aurelia. Kini, netranya mengarah ke salah satu wanita yang berdiri mendekati Aurelia, dia mengayunkan tangannya ke arah Aurelia, tapi sayangnya tangan Aurelia meninju wajah Faiza dengan sekuat tenaganya.
“AAUUWW,” pekik Faiza kesakitan saat pipinya menerima tinjuan dari Aurelia.
“Di sangka aku diam saja dengan segala tuduhan kalian berdua. Dan kamu Mbak Faiza! Mulutmu memang jahat sekali! Tak punya akhlak!” kata Aurelia meninggikan suaranya, sambil menunjuk-nunjuk wajah saudara sepupunya itu.
“Dan kamu Mas, semakin kamu sering berbuat kejam padaku, aku takkan segan melaporkanmu ke pihak berwajib serta mengadu pada orang tuamu dan kakekmu! Dan sungguh lucu sekali kamu Mas, kenapa peduli dan marah denganku yang sering kamu tuduh sebagai wanita jalaang! Seharusnya orang yang memiliki jabatan tinggi di kantor punya otak yang cerdas, tidak termakan dengan omongan yang tidak terbukti!” bentak Aurelia menunjuk wajah garangnya, puas meluapkan amarahnya wanita muda itu, melangkahkan kakinya bergegas masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Sementara Dhafi yang masih tampang garang dan geram ingin menyusul Aurelia, namun tangan Faiza menahan. “Cukup Mas ngapaiin juga dikejar istri sialanmu itu, mending obatin mukaku ini Mas, dia tadi meninju pipiku, sakit rasanya,” keluh Faiza dengan wajahnya yang meringis, kemudian dia memeluk Dhafi dengan eratnya.
“Eeerggh ... bikin repot saja!” geram Dhafi saat menatap sebal istri sirinya.
Netra Emran kembali melebar saat melihat sosok wanita yang berada di samping Dhafi. “Bukannya dia wanita yang kerja di coffe shop!” batin Emran mulai semakin penasaran, tapi untuk malam ini sudah cukup rasa penasarannya, dengan mengendap-endap dia meninggalkan teras rumah Dhafi lalu bergegas menuju mobilnya, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Dhafi.
“Jadi Aurelia istrinya Dhafi, suami yang memiliki gaji besar membiarkan istrinya bekerja sebagai pengasuh lalu menghina istrinya sendiri sebagai wanita jalaang. Jangan-jangan Aurelia juga mengalami KDRT, kasihan. Ada apa sebenarnya dengan pernikahan mereka berdua!” gumam Emran sendiri, sepanjang perjalanan menuju mansionnya banyak hal yang nyangkut di dalam pikirannya.
Sementara di dalam kamar Aurelia untuk saat ini lega bisa terhindar dari amukan Dhafi, dan sejenak dia berpikir mungkin lebih baik dia tinggal di mansion, tapi jika dia tinggal di mansion akan susah mengumpulkan bukti kekejaman suaminya. “Untuk sementara aku harus kuat tinggal di rumah ini dulu sampai aku merekam kejahatan dan zinahnya mereka untuk dilaporkan ke kantor polisi, bukankan aku sudah punya ponsel baru yang bisa merekamnya.” Terbesit akan ponsel pemberian Emran yang bisa dia gunakan.
Sebelum dia merebahkan dirinya, Aurelia menyingkap kaosnya dan melihat bagian pinggangnya yang semakin berdenyut akibat benturan, luka memar bekas sabetan Dhafi tempo hari saja masih membekas, sekarang bertambah lagi sakitnya. Dia pun meringis melihatnya dari pantulan cermin meja rias, lalu dia mengambil salep untuk dioleskan ke bagian pinggangnya.
Faiza mengajak paksa Dhafi untuk naik ke lantai 2 dan tidak membiarkan suami sirinya menyusul madunya walau katanya hanya ingin minta penjelasan lebih lanjut serta ingin memarahinya, mau apa pun bentuk alasan Dhafi tetap saja itu ancaman bahaya buat Faiza, karena menurut dia semakin intens bertemu dan hanya berduaan maka pasti suaminya akan tergoda dengan Aurelia, apalagi kakeknya Dhafi sudah minta cicit pada Dhafi dan Aurelia. Secara tidak langsung dia sudah membantu Aurelia untuk tidak disiksa oleh suaminya, tapi tetap saja pikiran Dhafi masih menyangkut istri sahnya, terutama egonya yang ingin tahu siapa pria yang mengantar dia pulang.
Sesampainya mereka berdua dikamar Dhafi, Faiza langsung pasang badan mendorong tubuh pria itu agar terhempas di atas ranjang kemudian dia menaiki tubuh Dhafi, dengan menunjukkan liukan bentuk tubuhnya dia melahap bibir suami sirinya.
Sebenarnya Dhafi agak jijik melihat wajah istri sirinya, tapi karena liukan tubuh serta keganasan bibir Faiza yang masih melumaat bibirnya, dia jadi terbuai, apalagi bagian intimnya di gesek-gesek oleh bagian intim Faiza.
__ADS_1
“Aku akan memuaskan Mas malam ini,” ucap Faiza setelah melepaskan pagutannya, lalu dia menatap penuh damba suami sirinya, Dhafi hanya bergumam pasrah, dan membiarkan istri sirinya memuaskan dirinya, lagi pula otaknya kini butuh healing sejenak dengan cara kepuasan di atas ranjang.
Melihat Dhafi tak berdaya dan menurut, dia merayap bagaikan cicak turun ke bawah, tangannya pun bergerilya membuka tali gesper dan resleting celana panjang Dhafi. Setelah berhasil tangannya dengan lincah mengeluarkan perabotan Dhafi. Dirabanya, dielusnya, dikulumnya perabotan suaminya yang masih layu, ada sekitar lima menit dia mencoba membangunkan perabotan yang selalu memberikan kenikmatan pada tubuhnya.
Dhafi mulai agak heran kenapa perabotannya gak bangun-bangun dan tak ada rasa geli atau sensasi apapun, biasanya kalau sudah di rangsang oleh Faiza semakin lama akan bangun dan berdiri kokoh.
Faiza mendongakkan wajahnya dan menatap Dhafi. “Mas Dhafi kok barangmu gak berdiri-diri?”
Wajah pria itu mulai panik, lalu bangun dari pembaringannya dan menyingkirkan Faiza yang masih berada di atas pinggangnya. Tangannya mulai mengurut perabotannya dengan gerakan naik turun, dan tetap tidak ada respon. Netra Faiza juga masih melihat perabotan suaminya dengan wajah cemasnya.
“Jangan-jangan barang Mas Dhafi mulai impoten!” seru Faiza.
Dhafi menegakkan kepalanya dan menatap tajam Faiza. “Jangan asal bicara ya kamu, keluar dari kamarku juga!” teriak Dhafi emosi, tidak tanggung-tanggung marahnya hingga wajahnya memerah. Pria mana yang tidak sakit hati kalau dibilang perabotannya impoten.
“Tapi Mas.”
Jantung Dhafi sudah tidak karuan rasanya, selepas Faiza keluar dari kamarnya dia mencoba bersolo karir di kamar mandi, untuk meyakinkan kalau perabotannya baik-baik saja.
“Aarggh ... Ayolah kamu harus bisa bangun, mana mungkin aku tiba-tiba impoten!” seru Dhafi sendiri sembari mengurut perabotannya.
Selang beberapa menit kemudian. “AAKHH!” teriak frustrasi Dhafi melihat perabotannya belum bangun juga.
...----------------...
Keesokan hari ...
__ADS_1
Jam 5 pagi, Aurelia sudah terlihat siap-siap untuk bekerja, hari ini dia sengaja berangkat lebih cepat demi menghindari suami bersama sepupunya. Aurelia sengaja membawa tas kecil berisikan baju gantinya, buat jaga-jaga kalau dia ingin menginap di mansion. Ketika dia keluar dari kamar dia bersyukur keadaan rumah masih sepi, jadi dia bisa keluar rumah dengan aman.
Sekitar jam 6 pagi Aurelia sudah sampai di mansion Emran, wanita muda itu pun bergegas masuk melalui di pintu samping, dan segera ke kamar untuk mengambil seragamnya yang akan dicucinya di ruang laundry.
“Wow hebat nih, sepertinya ada pengasuh yang mencari perhatian tuan besar di sini rupanya!” celetuk Rida yang tatapan tidak bersahabat.
Aurelia menoleh ke belakang bahunya, dan menatap aneh ke arah Rida. “Maksud Mbak Rida apa ya?” tanya Aurelia yang memang tidak tahu apa-apa.
Wanita yang tidak terlalu cantik itu mengikis jaraknya sembari berkacak pinggang. “Kamu semalam godaiin Tuan Emran supaya kamu diantar pulang, kan?” tanya Rida sinis.
Aurelia mendesah panjang. “Maaf Mbak Rida sepertinya salah sangka, saya tidak menggoda Tuan Emran sama sekali. Tapi memang benar Tuan Emran mengantar saya pulang, tapi sebelumnya saya sudah menolaknya,” jawab Aurelia begitu jujurnya.
Rida tersenyum sinis, dan menepuk bahu sebelah kanan Aurelia. “Jangan menyanggahlah Aurelia, kamu gak beda jauh dengan pengasuh tuan muda sebelumnya, dengan wajah memelasmu ini digunakan untuk mencari belas kasih dari tuan besar saja! Memangnya saya tidak tahu tipu muslihatmu! Percuma saja status sudah punya suami tapi ternyata wanita gatal yang mau cari pria lain! Memangnya masih kurang dengan garukan suaminya sendiri!” ucap Rida begitu pedasnya.
Wanita muda itu meluruskan pandangannya, dan memperhatikan wajah Rida, dia tak menyangka akan menemukan orang yang sejenis dengan Faiza.
“Saya di sini untuk bekerja, bukan untuk menggoda pria manapun yang ada disini, apalagi menggoda Tuan Emran, saya masih tahu etika dan posisi saya disini! Camkanlah itu, Mbak Rida!” jawab tegas Aurelia.
Wanita muda itu lantas keluar dari kamar itu dengan sengaja menyenggol bahu Rida, dan tak peduli lagi dengan tatapan sinis rekan kerjanya itu.
Bersambung ...
__ADS_1