
Athallah sudah diantar ke sekolah oleh Emran dan Aurelia, sesuai dengan janji setelah pulang sekolah mereka bertiga akan jalan-jalan, tapi kenyataannya Emran sudah tidak sabar ingin mengajak jalan-jalan calon istrinya.
“Mas Emran sekarang kita mau ke mana?” tanya Aurelia melihat tangannya sudah digandeng kembali dan diajak ke dalam mobil.
“Kita cicil persiapan pernikahan kita ya Sayang, sekarang aku mau ajak kamu ke butik Sabrina biar kita bisa pesan baju untuk kita berdua,” jawab Emran dengan santainya.
Netra Aurelia nampak tercengang mendengarnya, wajahnya pun tampak pias.
“Aku ingin mengelar moments terindah kita yang terbaik Sayang, walau aku duda dan kamu janda, aku ingin kamu menjadi ratu di hari bahagia kita, kamu mau, kan?” Entah ini sebuah pertanyaan atau sebuah permintaan. Namun yang jelas dia memang ingin hari bahagia bersama Emran lebih baik dari pernikahan sebelumnya, tapi bukan dalam sebuah kemewahan.
“Dinikahi oleh pria yang mencintaiku saja, sudah membuat aku bahagia Mas dan mungkin saja nanti akan menjadi hari yang paling indah melebihi pernikahan sebelumnya. Itu sudah cukup kok Mas, tidak perlu berlebihan.”
Pria itu mengulas senyum hangat, lalu mengecup lembut punggung tangan wanita itu.
“Seorang pria jika sudah berani mengambil keputusan ingin menikahi wanita yang dicintainya, maka dia juga akan memberikan yang terbaik buat wanita itu, sebagai bentuk dia sangat menghargai wanita itu. Maka dari itu biarkan aku memberikan yang terbaik buat calon istriku ini ya,” ungkap Emran.
“Tapi Mas, jangan terlalu berlebihan ya Mas, aku malu, nanti aku disangka ce—“
“Hush.” Jari telunjuk Emran menempel di bibir Aurelia agar berhenti berbicara dan berhenti negatif thinking.
“Sayang pantas mendapatkan yang terbaik ... jangan menolaknya ya,” pinta Emran dengan lembutnya.
Aurelia hanya bisa mengangguk pasrah, mau bagaimana lagi sudah jadi kehendak calon suaminya. Sebenarnya dia ada perasaan tidak enakkan, nanti disangka cewek matre. Dan buat Emran sendiri dia bisa menilai jika calon istrinya memang tidak mata duitan.
Perjalanan menuju butik kali ini tampak hangat suasananya di dalam mobil, Emran selalu mengajak Aurelia berbicara agar semakin saling mengenali dan hal ini sangat Aurelia sukai, apalagi dulu hampir jarang ngobrol secara intens dengan sang mantan suami.
Setibanya di butik pun Aurelia tetap diperlakukan hangat oleh Emran. Kedatangan mereka berdua disambut hangat oleh sang pemilik butik.
“Selamat datang Tuan Emran dan Nona Aurelia,” sapa Bu Febby dengan senyum hangat.
__ADS_1
“Terima kasih, tolong Bu Febby tunjukan desain kebaya pernikahan untuk calon istri saya dan beberapa jas untuk saya,” pinta Emran.
Dengan senang hati pemilik butik mengajak mereka berdua ke salah satu ruangan yang memajang beberapa koleksi kebaya desain terbaru untuk dicoba, dan sudah tentu membuat netra Aurelia sangat terpesona melihat begitu banyak kebaya, serta gaun pernikahan yang terpajang.
“Sayang, coba beberapa ya, nanti kasih lihat ke aku,” pinta Emran sembari melepaskan genggaman tangannya yang sejak tadi tidak lepas.
Aurelia menatap suaminya. “Mas, pasti harganya sangat mahal.”
“Sayang, kenapa bilang seperti itu. Jangan pikirkan harganya, masih ingatkan pesan aku tadi? Aku ingin memberikan yang terbaik buat kamu, jadi jangan khawatir ya, jangan pikirkan masalah harganya ” Emran mengusap lembut pipi Aurelia, dan kembali meyakinkan wanita muda itu.
Setelah Emran berhasil meyakinkan calon istrinya, akhirnya wanita itu mau mencoba beberapa kebaya yang sudah dipilihkan oleh Febby menyesuaikan postur tubuh Aurelia. Hingga beberapa menit kemudian wanita itu keluar dari kamar ganti dengan tubuhnya yang sudah mengenakan kebaya berwarna putih dengan potongan yang sangat pas di tubuhnya dipadu dengan kain jarik, hingga menampakkan keindahan tubuh Aurelia yang sangat jarang mengenakan pakaian ketat.
Saliva Emran terasa tercekat saat wanita itu sudah berdiri di hadapannya, sampai-sampai dia bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati calon istrinya.
“Sayang, kalau kayak begini kita menikah sekarang saja,” kata Emran dengan tatapan memesonanya pada calon istri, tanpa berkedip.
Aurelia jadi melongo mendengarnya, dan sedikit mendongakkan wajahnya agar bisa menatap jelas wajah Emran.
Ada ******* yang keluar dari bibir Emran. “Kamu terlalu membuat aku terpesona sayang, rasanya ingin cepat-cepat menikahi kamu, takut ada pria lain yang culik kamu. Andaikan tidak ada masa iddah udah aku panggil penghulu biar langsung sah hari ini juga,” jawab Emran agak memelas.
Wanita muda itu akhir terkekeh kecil mendengarnya, apalagi wajah Emran persis ketika Athallah mengambek dengan dirinya.
Tangan wanita itu terulur mengusap salah satu calon suaminya. “Sabar ya Mas, sebentar lagi masa iddah ku selesai, lagian pria mana yang mau culik aku kalau Mas Emran selalu berada di sisiku? Aku'kan sudah 50% milikmu, ya kan?” Aurelia memperlihatkan cincin yang Emran kenakan di jemari manisnya.
Seketika itu juga Emran meraih tangan Aurelia, lalu mengecup tangan tersebut dengan lembutnya.
“Semoga apa yang kita rencanakan berjalan lancar, dan dimudahkan ya. Jangan sampai ada yang menghalangi sampai hari pernikahan kita,” tutur Emran.
“InsyaAllah Mas, semoga niat baik kita dilancarkan.”
__ADS_1
Pria itu lantas merangkul pinggang wanita itu, dan memeluk hangat. “Aku mencintaimu, jangan berpaling pada yang lain ya.”
“InsyaAllah, Mas Emran.”
Kata pepatah jika pasangan ingin menikah, pasti ada saja masalah yang akan datang, semoga saja Emran dan Aurelia bisa menghadapinya bersama-sama.
Urusan pakaian pernikahan mereka telah selesai setelah Aurelia mencoba beberapa kebaya dan gaun pengantin, dan gara-gara hal tersebut Emran semakin deket dengan Aurelia, takut kehilangan calon istrinya kalau jaraknya berjauhan. Untuk urusan pakaian seragam keluarga, Erman telah menugasi Adam untuk membawa keluarga Aurelia ke butik.
Usai itu mereka kembali menjemput Athallah di sekolahan, dan waktunya jalan-jalan.
“Daddy, Mommy, Atha mau main di tempat belmain di mall ya,” pinta Athallah sembari sedang digantikan pakaiannya di dalam mobil sama Aurelia.
“Ya Son, oke kita ke sana. Sayang gak pa-pa kan kita jalan-jalan ke mall aja?” Emran minta persetujuan calon istrinya.
“Terserah Mas saja, tapi nanti Atha makan siang dulu ya Mas, biar perutnya gak kosong.”
“Oke Mommy, kita makan siang dulu,” jawab Emran semangat.
Sebenarnya Emran sangat jarang membawa anaknya main ke tempat bermain umum, lebih sering ke tempat wisata di luar negeri sekalian liburan. Dan kali ini mereka bertiga akan ke sana.
Mobil yang membawa mereka bertiga pun berhenti di lobby salah satu mall terbesar di Jakarta, tampak Athallah menggandeng tangan Emran dan Aurelia dengan wajah penuh suka cita.
“Sayang, mau makan apa?”
Aurelia yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di salah satu mall mewah tersebut nampak terpesona sekaligus bingung.
“Mas, aku gak ngerti makan apa di sini. Aku ikut aja, yang terpenting Athallah suka Mas.”
Pria itu tersenyum mendengar jawabannya yang masih sempat memikirkan anaknya ketimbang dirinya sendiri.
__ADS_1
Bersamaan itu dari kejauhan ada beberapa wanita cantik sedang berjalan dengan keanggunannya, tapi tak lama langkah kaki mereka berhenti saat melihat Emran membelai rambut panjang Aurelia.