
Perusahaan Indo Pasific
Ruang meeting.
Masih dalam hitungan menit suasana ruang meeting sunyi senyap, padahal ada 20 orang yang berada di dalam ruangan tersebut. Semua mata menuju pimpinan perusahaan, Dhafi mulai awas menatap Emran.
Berkas yang sejak tadi dipegang dan dibaca oleh Emran disentaknya di atas meja, dan tak lama Adam memberikan ponselnya yang sepertinya habis menghubungi seseorang.
“Halo selamat siang Pak Adi, apa kabarnya?” sapa Emran melalui sambungan telepon, dan membiarkan dia bercakap di depan staf marketingnya.
“Selamat siang juga Pak Emran, sudah lama kita tidak komunikasi, kira-kira ada perihal apa nih Pak, sampai sang pemillik perusahaan menelepon saya nih,” jawab Adi dari ujung teleponnya.
Emran menyunggingkan senyum tipis dibalik teleponnya, memang benar yang Adi katakan jika seorang atasan atau pemilik usaha jika sudah menghubungi, berarti tandanya ada sesuatu yang salah.
“Begini Pak Adi, saya langsung saja mau kroscek, memangnya tarif biaya pasang iklan di stasiun T apakah sudah naik harganya? Kebetulan di sini saya lihat biayanya sampai 2 milyar untuk di jadwal prime time, bukannya dua bulan ya lalu masih 1,5 milyar?” tanya Emran, tatapannya sangat tajam ketika melirik Dhafi.
DEG!
Kembali lagi wajah Dhafi pias, dan jantungnya mulai berlarian dari tempatnya, lalu satu persatu bagian tubuhnya menegang. Andi yang duduk di samping Dhafi mengusap keringat yang mulai bermunculan di keningnya.
“Pak Emran, sebentar saya cek data terlebih dahulu, mohon menunggu sebentar,” pinta Adi, kebetulan ada di meja kerjanya dia langsung membuka file kliennya, lalu mengecek data nama perusahaan milik Emran, dan tiba-tiba dia mengerutkan dahinya.
“Baik Pak Adi, saya tunggu.”
Jemari Emran mengetuk-ngetuk meja meeting, semua yang ada di sana tidak ada yang berani mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
“Sialan kenapa Pak Emran pakai menghubungi Pak Adi, wah kacau kalau begini!” batin Dhafi mulai ketar ketir, dibalik meja kedua kakinya sudah bergoyang tandanya sudah gusar. Dia pikir pemilik perusahaan tidak akan sedetail dan securiga itu dengan laporan anggaran serta cashflow marketing.
“Matilah aku!” kembali membatin Dhafi.
Emran mengendurkan dasinya sembari menunggu Pak Adi menjawab pertanyaan, lalu menatap satu persatu yang ada di dalam ruang meeting dengan tatapan menyelidik.
“Halo Pak Emran,” sapa kembali Pak Adi.
“Ya bagaimana Pak Adi?” tanya Emran, dengan sengaja ponsel yang dia gunakan sekarang diloudspeaker.
“Bulan lalu staf saya sudah mengirimkan surat pemberitahuan untuk kenaikan tarif pasang iklan untuk slot prime time selama sebulan yaitu 2 milyar, tapi kami juga menerima surat permohonan potongan harga yang ditandatangani oleh Dhafi Basim Manajer Marketing dan saya juga sudah membalas surat permohonan tersebut, dan memberikan potongan harga sebesar 10 persen dari harga 2 milyar. Pembayaran 1,8 milyar sudah kami terima, jadi bukan sebesar 2 milyar, bukti terima uangnya bisa kami kirim kembali ke perusahaan Pak Emran,” jawab Adi memberikan penjelasan berdasarkan data.
Well, kedua alis Emran jelas naik, dahinya pun mengerut halus sembari menganggukkan kepalanya, dan salah satu sudut bibirnya naik sebelah hingga nampak tersenyum miring. Lalu, semua staf yang mendengarnya menatap ke arah Dhafi sang tersangka. 200 jutanya kemana?
“Baik Pak Adi, terima kasih atas informasinya yang sangat berharga ini. Selamat siang.” Emran mengakhiri pembicaraannya, lalu meletakkan ponsel di atas meja, kemudian dia menegakkan punggungnya dan aura dingin kembali terpancar dari wajah Emran hingga menyeruak memenuhi isi ruangan, teganglah semua karyawan yang ada di ruang meeting tersebut.
“Mau siapa pun pelakunya itu baik manajer maupun staf, akan saya tindak sesuai SOP perusahaan. Dan mulai detik ini team audit internal akan mengaudit semua team marketing terutama Pak Dhafi. Tolong jangan menutupi apapun lagi, sepintar-pintar tupai meloncat tinggi, dia bisa terjatuh!” lanjut kata Emran meninggi dan tegas.
Dhafi hanya bisa terdiam, namun kedua tangannya terkepal dengan kuatnya, hatinya tidak terima dipermalukan di depan stafnya. Pikir dia harus membersihkan namanya tersebut saat itu juga.
Ketika ruang meeting masih dalam keadaan tegang buat semua staf marketing, sementara itu di lobby perusahaan, degup jantung Aurelia berdebar-debar rasanya campur aduk setelah dia melihat dan menapaki gedung menjulang tinggi di salah satu kawasan perkantoran di Jakarta. Demi apapun ini pengalaman pertamanya, dan mohon maaf kalau kesannya kayak orang ndeso, ya memang dari ndeso.
Tangan mungil itu menggandeng tangan wanita muda itu, wajah Athallah tampak berseri-seri menatap Aurelia. Tommy yang ada di depan mereka berdua menggiring untuk masuk ke dalam lobby dan menuju lift khusus CEO.
Dibalik kaca coffe shop, Faiza yang sedang menyiapkan minuman yang akan diantarnya ke ruang meeting, mengedipkan matanya berulang kali.
__ADS_1
“Itu siapa ya, kok kayak mirip seseorang, tapi ini mah cantik banget,” gumam Faiza sendiri saat melihat Aurelia bersama Athallah yang dikawal oleh pria berjas warna hitam lalu disusul oleh salah satu sekuriti perusahaan.
“Apa jangan-jangan keluarga Pak Emran ya, soalnya kelihatan kayak orang kaya, ah jadi pengen tahu, siapa tahu dengan kenal saudaranya bisa dekat sama Pak Emran,” kembali berkata sendiri Faiza dengan tingkat keponya yang sangat tinggi.
Aurelia berusaha menutupi rasa gugupnya, dan netranya benar-benar memperhatikan suasana baru baginya sepanjang menuju lantai 10, dan berusaha tidak terlalu terlihat kampungan saat masuk ke lift yang bisa naik dan turun, maklumlah ini pertama kalinya dia naik lift. Nikmati dan mulai belajarlah Aurelia.
“Mbak, ini kantor Daddy loh, kelen kan,” ucap Athallah memberitahukan.
“Iya Abang, kantor Daddy keren, ini aja kaki Mbak sampai gemetaran loh naik ini,” jawab Aurelia apa adanya, tangannya saja sudah pegang handle yang ada di dalam lift. Athallah pun jadi tertawa dan langsung memeluk badan Aurelia sesuai tinggi badannya yang belum ada semeter.
“Cini Atha peluk, biar gak gemetelan kaki Mbak,” ucap Athallah dengan suara gemasnya itu.
Hati yang menghangat, ini yang dia rasakan semenjak mengasuh anaknya Emran, sedikit demi sedikit luka batin yang digoreskan suaminya, terobati dengan sikap Athallah, bagaikan dia menemukan sosok seorang anak untuknya.
Anak kecil akan tahu mana yang tulus memberikan kasih sayang padanya, dan tahu mana yang berpura-pura sayang padanya. Inilah yang Athallah rasakan, bocah kecil yang haus akan kasih sayang seorang ibu, sedikit demi sedikit dia dapatkan dari sosok Aurelia, bukan hanya sekedar sosok pengasuh.
Ting!
Pintu lift akhirnya terbuka, Tommy mengarahkan Aurelia dan Athallah untuk keluar dari lift lalu diantarnya ke ruang meeting.
Bersambung ...
Mau tahu kelanjutannya, tungguin ya ... Kita lihat apa yang terjadi di ruang meeting selanjutnya.
__ADS_1