Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Keegoisan Bu Hana


__ADS_3

Sikap Emran yang berada di sisi Aurelia, mungkin bisa menimbulkan kesalahpahaman pada Bu Hana selaku mertua wanita muda itu, akan tetapi Emran tidak memedulikannya, jika Bu Hana juga salah kaprah dengan Aurelia maka dia tidak ubahnya dia seperti putranya yang selalu berprasangka buruk terhadap istrinya.


Lirikan Bu Hana agak menajam pada Emran yang sudah duduk di sisi Aurelia bagaikan layaknya seorang suami. Aurelia bisa melihat jelas tatapan itu, hingga dia pun menarik salah satu sudut bibirnya tersebut.


 “Sepertinya Anda terlalu ikut campur dengan masalah menantu saya, rupanya? Atau jangan-jangan kalian berdua ada hubungan dan hal itu menjadi pemantik anak saya memukul istrinya!” tegur Bu Hana dengan tatapan penuh kecurigaan.


Dugaan yang sempat terbesit di benak Aurelia rupanya terwujud juga, hingga terbitlah raut kekecewaan di wajah Aurelia.


“Ibu dan anak biasanya memiliki sifat yang hampir mirip atau bisa dikatakan salah satu sifat seorang ibu akan menurun ke anaknya. Aku tidak menyangka jika Ibu menuding hal yang sama seperti Mas Dhafi tudingkan. Sungguh aku benar-benar menyesal menikah dengan anak ibu. Andaikan aku tahu jika anak Ibu ringan tangan, mungkin aku sudah menolak perjodohan tersebut.”


Sejenak suasana hening di saat Aurelia mulai berkata, dan terdengar suara wanita muda itu agak bergetar dan memaksakan dirinya untuk menjawab dan menyanggah prasangka ibu mertuanya.


Emran melirik wanita muda itu, dan mengambil tangan kiri Aurelia lalu dia genggam dengan eratnya, sesaat wanita itu menatap tangan yang digenggam oleh majikan itu, dan kembali melayangkan pandangannya pada Bu Hana.


“Sejak aku ikut pindah ke Jakarta, sejak itu juga aku menerima siksaan dari Mas Dhafi, segala apa yang aku lakukan selalu salah di depan matanya. Ibu tahu kenapa aku diam dan tidak bercerita pada orang tuaku atau mertuaku, karena aku sangat mencintai Mas Dhafi dan berharap dia akan berubah menjadi baik dan membalas cintaku, tapi apa yang aku dapati, Bu.” Sungguh ini sangat menyesakkan hati Aurelia, dia harus membangkitkan lukanya kembali yang tak ingin dia kenang kembali, demi bercerita pada ibu mertuanya.


Bu Hana mengatup mulutnya, dan melebarkan kedua telinganya untuk mendengar cerita menantunya.


“Tiga bulan aku bertahan menerima semua sabetan tali pinggang dari Mas Dhafi, tiga bulan setiap malam aku merintih kesakitan, tiga bulan aku menahan segala derita saking aku mencintai suamiku, Bu!” tutur Aurelia bergetar hebat, air matanya mulai tergenang kembali.


“Tapi ternyata tidak cukup Mas Dhafi menyiksa tubuhku, hingga aku tidak lagi menerima uang belanja, dan perlu Ibu ketahui bukan hanya siksaan itu saja, aku dengan mata kepalaku sendiri melihat suamiku bersetubuh dengan Faiza, bukankah itu sangat menyakitkan, Bu!” Tetesan air mata terus mengaliri pipi Aurelia seakan tak ada lagi pembatasnya.


Bagaikan petir di siang bolong, tanpa hujan yang menemani, Bu Hana yang masih berdiri akhirnya terduduk di tepi ranjang juga. Sedangkan Aurelia kembali pecah tangisannya, Emran pun langsung memeluknya, begitu pula dengan Athallah ikutan memeluk Aurelia.

__ADS_1


“Cup ... Cup ... Mbak dangan nangis nanti Atha ikutan nangis juga,” tutur Athallah sok dewasa menenangi wanita muda itu.


“Anda sudah mendengarkan ceritanya, sungguh Anda tidak punya rasa empati terhadap Aurelia sebagai korban kekerasan anak Anda. Perlu Anda ketahui saya adalah pemilik perusahaan tempat Dhafi bekerja, dan perlu Anda ketahui juga di depan umum saja Dhafi tidak mengakui telah menikah, dan berpura-pura tidak mengenali Aurelia padahal dia ada di hadapan matanya, coba Anda telaah dan bayangkan bagaimana perasaan Aurelia sebagai istri, dan dari ucapan Anda barusan Anda telah melukai hati Aurelia kembali dengan tudingan yang tidak berfakta!” ucap Emran dengan tegasnya.


Bu Hana ditambah dibuat terkejut dengan fakta yang terbaru tersebut.


“Dan anak Anda pun telah melakukan korupsi di Perusahaan saya, dan anak Anda sudah saya pecat secara tidak hormat semalam, setelah dia menyiksa Aurelia kembali. Untung saja saya berinisiatif berkunjung ke sana, kalau tidak mungkin pengasuh anak saya sudah dimakamkan hari ini!” lanjut kata Emran penuh penekanan dalam setiap ucapnnya.


Tidak bisa dibayangkan bagaimana reaksi Bu Hana, yang jelas wajahnya nampak pias, semua runtutan fakta tentang anaknya mencuat ke permukaan. Bibir Bu Hana pun sejenak tidak bisa berkata. Biarlah Bu Hana bermain dengan pikirannya sejenak.


Di saat itu juga Emran mencoba menenangi Aurelia yang masih menangis dalam pelukannya, sementara itu Bu Tin bergegas mengambil air segelas untuk diberikan pada Aurelia, dan gelas itu diterima oleh Emran. Adam berinisiatif mengajak Athallah untuk bermain di luar ruangan, dan untung saja bocah kecil itu mau nurut sama Adam.


“Saya sangat kecewa dengan tuduhan Ibu, saya yang setiap hari bertemu Neng Aurelia sangat yakin dia wanita baik-baik bukan seperti yang Ibu pikirnya, dia bekerja sebagai pengasuh pun belum lama ini, mana mungkin dia ada main dengan Pak Emran. Dan perlu Ibu tahu, sebelum Neng Aurelia memutuskan bekerja jadi pengasuh, dia sering berhutang di warung saya demi dia bisa makan Bu, sekarang saya baru tahu kenapa dia ingin bekerja, ternyata suaminya sudah tidak kasih uang belanja,” timpal Bu Tin dengan raut wajah kecewanya.


Netra Bu Hana sangat jelas berembun, dia pun menundukkan dirinya karena sudah tidak sanggup menahan rasa malunya sebagai orang tua Dhafi, apalagi barusan telah menuding atasan Dhafi.


Mereka semua dalam beberapa menit tampak terdiam dan tenggelam dalam pemikirannya masing-masing.


“Sebenarnya Ibu mencarimu, juga ada yang ingin Ibu sampaikan ... kalau saat ini suamimu ada di rumah sakit, semalam mengalami kecelakaan mobil, hingga suamimu mengalami koma,” lanjut kata Bu Hana agak berhati-hati menyampaikannya.


Aurelia yang masih terisak menangis menarik tubuhnya dari pelukan Emran yang begitu hangat dan nyaman. Lalu dia menatap wajah Bu Hana yang kini sedang tertunduk.


“Ke-kecelakaan.” Aurelia mengulang kalimat itu.

__ADS_1


“Iya Aurelia, suamimu kecelakaan mobil, kini di rawat di rumah sakit P, dan tidak hanya Dhafi yang di rawat, tapi Faizah juga di rawat di sana,” jawab Bu Hana sembari mengangkat wajahnya agar bisa menatap wajah menantunya.


“Mungkin musibah semalam, azab buat anak Ibu. Ibu gak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar semuanya ini,” lanjut kata Bu Hana dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya.


Aurelia yang pernah mencintai suaminya juga turut terkejut mendengarnya, apalagi kena musibah kecelakaan mobil hingga mengalami koma. Walau rasa cintanya untuk Dhafi mulai terkikis, tetap saja bikin ngilu di hatinya.


Emran memberikan gelas yang dia terima dari Bu Tin pada Aurelia, wanita itu pun mulai meneguknya pelan-pelan, dan kembali memberikannya pada Emran.


Pria tampan itu mengusap air mata di pipi Aurelia dengan sehelai tisu dengan lembutnya. “Sudah tenangan rasa di hatinya?” tanya Emran, suara baritonnya terdengar lembut.


Aurelia hanya bisa mengangguk pelan, dengan menangis terkadang hati terasa ringan walau tangisan tidak bisa menyelesaikan masalah. Kini wanita muda itu kembali menatap ibu mertuanya.


“Mungkin Ibu terkesan egois padamu, Ibu hanya minta kemurahan hatimu untuk menjenguk Dhafi dan kalau bisa turut merawatnya, tolong maafkan kesalahan anak Ibu ... dia sudah menerima karmanya Aurelia, tadi pagi dia sudah tersadar dari komanya, tapi hasil pemeriksaan Dokter, Dhafi mengalami amnesia traumatis. Mungkin saja dengan menderita amnesia Dhafi bisa bersikap baik padamu dan membalas cintamu, Aurelia,” imbuh Bu Hana.


Sontak saja wajah Emran terlihat tidak senang mendengarnya, dia pun kembali meraih tangan Aurelia dan menggenggamnya dengan erat.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2