Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Pulang kampung


__ADS_3

Keadaan di restoran sudah mulai kondusif, setelah Soraya diminta oleh kedua temannya untuk lekas meninggalkan restoran, apalagi keadaan tubuh Soraya sudah basah dan kotor. Padahal wanita itu baru saja mau memohon agar mantan suaminya tidak menghancurkan karirnya, tapi sebenarnya dialah yang menghancurkan reputasi dirinya sendiri.


Aurelia masih mengendong Athallah, dipeluk eratlah bocah tampan itu, melihat hal itu Emran merasa bersalah, lantas dia mendekap kedua orang yang sangat dia cintai itu.


“Maafkan aku, Sayang. Bukan bermaksud membuatmu menjadi takut begini.” Kata sesal yang dia ucapkan mengingat saat dia menampar Soraya, tubuh Aurelia gemetar.


Dalam dekapannya dia mengecup ke ujung kepala Aurelia, dan salah satu tangannya membelai punggung Athallah, berharap kedua orang tersebut tenang hatinya.


Aurelia sebenarnya paham jika apa yang dilakukan oleh Emran sebagai bentuk melindunginya, dan bukan berarti suka main tangan begitu saja, tapi ya tetap saja tubuhnya masih bereaksi ketakutan. Namun, pelukan hangat Emran semakin lama membuat tubuhnya kembali rileks dan napasnya mulai teratur kembali. Sedangkan Athallah semakin reda isak tangisnya.


“Mommy, nanti angan jahat kayak Mommy Solaya ya,” ucap Athallah sembari menarik wajahnya dari rebahannya di bahu Aurelia.


Wanita muda itu tersenyum hangat lalu mengusap pipi Athallah. “InsyaAllah tidak seperti itu Abang, Mommy'kan sayang sama Abang, kecuali kalau Abang nakal, bolehkan Mommy tegur?” tutur Aurelia begitu lembut.


Athallah menganggukkan paham, dan tangannya turut mengusap pipinya yang basah. Lalu Aurelia menatap calon suaminya yang masih merangkul pinggangnya.


“Terima kasih Mas Emran telah melindungiku, walau aku sempat takut kembali.”


“Maafkan aku juga ya, Sayang.”


Hal yang terindah Emran rasakan dalam tiap ucapan terima kasih yang selalu diucapkan oleh Aurelia, membuat dirinya sangat dihargai oleh calon istrinya, padahal hanya sekedar ucapannya bukan memberikan barang yang mewah.


Kata maaf, tolong dan terima kasih sangatlah berarti buat seseorang walau terlihat sepele. Karena semakin lama orang sudah banyak melupakan untuk mengucapkan tiga kata tersebut.


“Lanjut kita ketempat bermain, kan?” tanya Emran kepada Athallah.

__ADS_1


“Jadi dong Dad,” sahut Athallah raut wajah kesedihannya mulai memudar, sementara itu Aurelia menatap meja yang masih berisikan dengan beberapa makanan yang belum terhabiskan karena kehadiran Soraya.


“Kalau begitu habiskan makanannya dulu, sayang kalau tidak dihabiskan, mubazir,” ajak Aurelia sembari menurunkan Athallah ke kursinya kembali. Lalu menarik lengan Emran agar kembali duduk.


“Mas, aku masih mau makan dulu,” kata Aurelia dengan menyunggingkan senyumnya.


“Iya Sayang, aku juga masih lapar sebetulnya.”


Permasalahan atau kesedihan bisa datang kapan pun tanpa diduga, tapi jika saling support maka permasalahan atau kesedihan itu tidak akan menjadi beban di pundak seseorang. Justru akan semakin mempererat sebuah hubungan, sama hal yang kini Aurelia rasakan ketakutannya hanya mampir sebentar, dan kembali wajah berseri-seri menatap wajah sang calon suami yang kembali menyuapi dirinya penuh kehangatan.


...----------------...


Tiga bulan sudah berlalu ...


Bu Ida dan Bapak Heri saat ini berada di kampungnya, dan hal tersebut dibuat geger dengan kepulangan mereka berdua. Mobil mewah berwarna hitam terparkir rapi di depan rumah sangat sederhana, dan hal itu memancing para tetangga untuk melihat dan mendekatinya.


Emran pun juga menghadiahkan seperangkat perhiasan lengkap buat Bu Ida saat acara lamaran resmi Emran dengan Aurelia, dan perhiasan itu kini menghiasi cincin, leher dan pergelangan Bu Ida. Bukan maksud untuk menyombongkan diri, tapi menghargai pemberian calon menantunya yang super kaya tersebut.


Selama ini hampir satu RT sudah tahu jika Aurelia sudah jadi janda muda, dari mana desas desus itu beredar? Jelas dari Bu Dillah adiknya Bu Ida, mulutnya dengan setajam silet menggosipkan Aurelia, namun dia menutupi keburukan anaknya sendiri yang kini sudah mendekam di balik jeruji besi.


“Wah kayaknya ada orang yang baru sadar balik ke kampungnya nih, ingat pulang nih Bu Ida,” celetuk salah satu tetangga.


Bu Ida dan Bapak Heri yang baru saja turun dari mobil mengulas senyum tipis.


“Assalamualaikum Bu Sur, piye kabare?” sapa Bu Ida dengan ramahnya.

__ADS_1


Para tetangga yang mengerumuni mereka berdua terlihat kepo dengan penampilan Bu Ida beserta suaminya, ada yang menatap senang bertemu, ada juga menatap sinis. Dan dari kejauhan terlihat sosok Bu Dillah yang semakin mendekati kerumunan, dia ingin mengetahui siapa yang datang.


“Wah, Bu Ida sekarang berubah ya penampilannya kayak orang kaya, eh bukannya si Aurelia sudah jadi janda ya? tapi kok Bu Ida dan Pak Heri jadi berbeda ya?” tanya Bu Risma yang terperangah sembari meraih tangan Bu Ida yang berhiaskan perhiasan.


“Ah gak juga kok Bu Risma, saya biasa saja kok. Iya benar anak saya seorang janda, tapi janda yang terhormat,” jawab Bu Ida merendah sembari menarik tangannya dari tangan Bu Risma yang masih memegangnya.


Bu Ida pun menolehkan wajahnya pada suaminya yang terlihat sedang menurunkan beberapa paper bag serta dus dari dalam mobil dibantu oleh sopir.


“Kebetulan saya bawakan oleh-oleh dari Jakarta dan dari Singapura, kebetulan minggu kemarin kami sekeluarga liburan ke Singapura diajak sama calon besan dan calon menantu saya,” ucap Bu Ida dengan wajah sumringah, dan ucapannya tersebut mematahkan omongan tetangganya yang menggosipkan Aurelia yang telah menjadi janda. Maklum janda itu aib buat di kampung mereka sendiri.


Beberapa ibu-ibu tampak bungkam, namun tangannya menerima beberapa bungkusan yang diberikan oleh Bu Ida.


“Oh iya sekalian juga, saya datang ke sini mau bertemu dengan Pak RT mau mengundang ke acara pernikahan Aurelia, insyaAllah minggu depan akan menikah. Mohon doanya ya Ibu-Ibu,” lanjut kata Bu Ida.


Bu Dillah jelas sangat tidak senang hati mendengarnya, dia pun mendengus kesal saat tidak sengaja tatapan mereka saling bersirobok. Bu Ida pun menyeringai tipis melihat kehadiran adiknya, lalu dia memalingkan wajahnya.


Kedatangan Bu Ida dan Bapak Heri ke kampung bukan buat tinggal kembali di sana, tapi mereka mau menjemput sanak saudaranya untuk menghadiri pernikahan Aurelia. Calon menantunya sudah memfasilitasi saudara Aurelia untuk datang ke Jakarta. Dan hal ini pun jadi ajang buat kedua orang tua Aurelia kembali ke kampungnya.


Bu Ida dan Bapak Heri akhirnya membuka pintu rumahnya yang sudah lama terkunci, dan menerima kedatangan para tetangga yang sungguh ingin tahu tentang keadaan mereka di Jakarta. Dengan senang hati Bu Ida memperlihatkan foto Aurelia bersama Emran calon menantu yang sangat dia banggakan. Dan dia pun tidak menceritakan tentang keluarga Dhafi yang masih berasal dari kampung yang sama. Yang berlalu sudahlah berlalu, sekarang ceritanya sudah berbeda. Masa depan yang kini akan disongsong.


“Bu Ida, saya maulah punya calon menantu setampan dan sekaya ini. Boleh dong bilangin sama calon menantunya punya teman atau saudara yang kayak dia gak. Saya rela deh anak saya jadi janda sekarang,” kata Bu Sur kepengen seperti Bu Ida.


Wanita paruh baya itu hanya tersenyum getir, begitulah orang kalau hanya melihat enaknya saja. Belum tahu saja apa yang telah dilewati oleh anaknya yang hampir saja mati di tangan suaminya sendiri.


 

__ADS_1


 


__ADS_2