
Terangnya sinar matahari, kini telah tergantikan dengan gelapnya malam. Sinar bulan walau tak seterang sang surya, namun mampu menghiasi gelapnya malam, dengan kerlipan bintang yang tersebar di langit yang gelap.
Malam ini perdana buat Aurelia tinggal di mansion Erman sebagai pengasuh anaknya, sekarang jarum jam di dinding juga menunjukkan pukul 18.30 wib. Aurelia menggandeng tangan simungil bocah tampan itu menuju ruang makan. Dan tampaklah Emran bersama Mama Syifa baru saja duduk di ruang makan tersebut.
“Daddy, Oma!” sapa Athallah terlihat riang, lalu dia melepaskan gandengan tangannya dan langsung menghampiri Emran.
“Halo, Son ... waktunya kita makan malam bersama,” ucap Emran sembari meraih tubuh anaknya lalu mengangkat dan sedikit memberikan kecupan pada pipi Athallah, kemudian dia mendudukkan anaknya di bangku sebelah kanan dekat sisi bangkunya.
Ujung ekor netra Emran sedikit melirik Aurelia yang baru saja menghampiri mereka, lalu tangan wanita muda itu bergegas mendekati piring milik Athallah. Sudah tugasnya untuk menyuapi Athallah makan, dan sudah terbiasa pula duduk di sebelah Athallah.
Pak Yusuf, Rida serta Eka menghidangkan makan malam untuk majikannya, dibalik menghidangkan makan malam tersebut di meja, ada tatapan sinis ke arah Aurelia, namun wanita muda itu pura-pura tidak melihatnya.
“Mbak, tadi jadi macak cop buat Atha ndak?” tanya Athallah sembari melirik makanan yang sudah terhidang di meja makan.
Aurelia menggeser mangkok besar yang berisi sop kimlo ayam agar lebih mendekat, tadi setelah menikmati tidur siang Aurelia menyempatkan untuk memasak untuk majikan kecilnya dengan menggunakan bahan yang ada di lemari pendingin.
“Iya, Mbak jadi masak sop buat Abang, nih sekarang Mbak ambilkan sop-nya buat Abang,” jawab Aurelia, sembari mencentong sop tersebut untuk dipindahkan ke mangkok yang lebih kecil, kemudian dia melanjutkan mencentong sayur sop ke dalam dua mangkok kecil. Setelah itu dia meletakkannya ke sisi Emran dan Mama Syifa.
“Nyonya, Tuan silakan dicoba masakan saya semoga cocok dilidah Nyonya dan Tuan,” pinta Aurelia dengan mengulas senyum tipisnya.
Mama Syifa menerima mangkok sop tersebut dengan senang hati. “Kalau cucu Ibu suka dengan masakanmu, berarti masakan kamu enak,” jawab Mama Syifa. “Ibu coba dulu ya,” lanjut kata Mama Syifa, lalu memulai mencicipinya.
“Iya Nyonya,” jawab Aurelia sembari menatap Nyonya besarnya, sedangkan Emran tidak dia perhatikan.
“Saya coba dulu sop-nya,” sambung Emran yang rupanya agak kesal karena Aurelia tidak memperhatikan dirinya. Wanita muda itu pun menolehkan wajahnya agar bisa menatap tuan besarnya.
“Eh ... iya silakan Tuan, semoga cocok sama rasanya,” jawab Aurelia agak canggung. Setelahnya dia mulai menyuapi majikan kecilnya.
__ADS_1
Mama Syifa terlihat menikmati sop kimlo buatan Aurelia. “Ternyata kamu pandai memasak juga, Aurelia. Rasanya enak dan cocok di lidah Ibu,” ucap Mama Syifa memuji, lalu menuangkan sop kimlonya di atas nasinya.
“Iya Oma, macakan Mbak enak, makanya Atha cuka,” timpal Athallah dengan mengacungkan kedua jempolnya. Aurelia pun mengulas senyum hangatnya, senang dengan pujian tersebut.
“Alhamdulillah jika Nyonya dan Abang suka,” balas Aurelia sembari kembali menyuapi majikan kecilnya.
Sementara itu Emran menyodorkan mangkok sop yang sudah tampak kosong di hadapan Aurelia.
“Tolong isi lagi,” pinta Emran dengan datarnya.
“No Daddy! Enough, itu cop punya Atha, Daddy ndak boleh nambah,” jawab Athallah, tangan mungil itu mendorong mangkok kosong tersebut agar menjauh.
Aurelia menatap majikan kecilnya lalu bergantian melirik majikan besarnya yang sekarang sedang menghela napas panjang.
“Abang, sama Daddy jangan pelit dong, sopnya juga masih banyak, boleh ya berbagi sama Daddy, besok Mbak janji masak lagi buat Abang,” bujuk Aurelia.
Athallah mendengus sebal saat menatap wajah Daddynya. “Ck ... Daddy ini ikut-ikutan aja, kali ini Atha bagi, tapi becok Daddy ndak boleh minta lagi,” ucap bocah tampan itu.
Wanita itu kembali menuangkan sop kimlo ayam pada mangkok kosong tersebut dan memberikan kembali mangkok yang sudah terisi ke Emran.
Tidak ada ucapan terima kasih atau pujian seperti Mama Syifa, yang jelas pria itu menyantapnya dengan lahap bersama lauk pauk lainnya.
“Aurelia, kamu sekalian makan saja di sini, dan mulai besok tidak perlu pakai seragam nannynya, pakai baju yang sudah tersedia di kamar kamu,” ucap Emran di sela-sela dia menyantap makan malamnya dan tanpa menatap wanita itu.
Raut wajah Aurelia agak bingung mendengar perintah Emran, selama ini etika makan maid tidaklah satu meja dengan majikannya, biasanha dia akan makan di dapur setelah selesai mengurus Athallah, dan satu lagi dia juga agak bingung kenapa tidak usah mengenakan seragam mulai esok hari.
“Maaf Tuan, apakah saya dipecat bekerja dari sini, hingga besok saya tidak boleh menggunakan seragam?” tanya Aurelia, dengan netranya yang mulai berembun.
__ADS_1
“Uhuk ... uhuk.” Tiba-tiba saja Emran tersedak dengan makannya sendiri, Pak Yusuf buru-buru menyodorkan air minum pada majikannya, sementara Rida yang standby di ruang makan juga, mendengar hal itu hatinya sudah mulai kegirangan.
“Mampus lo Aurel, kamu dipecat juga akhirnya!” batin Rida sorak bergembira.
Kedua bahu Aurelia yang tegap, akhirnya jatuh melorot, pandangannya pun ditundukkannya. Dia sangat tak menyangka jika nasibnya akan diberhentikan kerja di mansion Emran, apa boleh buat Aurelia hanya bisa pasrah.
Athallah menatap sedih pada pengasuhnya, lalu mengalihkan tatapannya pada Daddynya dengan menunjukkan wajah galaknya.
“Daddy mau pecat Mbak Aulel ya, Daddy jahat! Daddy jahat!” teriak Athallah, bocah kecil itu pun turun dari bangkunya lalu menghentakan kedua kakinya ke lantai, kemudian berlarian.
Melihat hal itu, Aurelia meletakkan piring milik Athallah yang sedari tadi dia pegang ke atas meja makan, lalu dia mengejar majikan kecilnya. Dan Rida pun diam-diam ikut keluar dari ruang makan, lalu mengikuti Aurelia dari belakang, pura-pura ikutan mengejar Athallah. Menurut Rida ini adalah kesempatannya untuk mengambil hati majikan kecilnya.
“SON, bukan begitu maksud Daddy!” sahut Emran agak meninggi suaranya. “Kenapa jadi begini, Mah aku tinggal dulu,” lanjut kata Emran sembari beranjak dari duduknya, makannya pun belum selesai karena Athallah sudah mulai ngambek.
“Abang jangan lari-lari nanti jatuh!” teriak Aurelia, tak disangka bocah kecil itu berlari sekencang mungkin menuju area belakang.
“Atha cebal ama Daddy!” teriak Athalah sambil menangis.
“Tuan Atha, hati-hati nak, nanti kamu bisa terjatuh,” pinta Rida agak sedikit berteriak. Aurelia pun menoleh ke belakang bahunya dan nampaklah Rida dengan senyum sinisnya, Aurelia pun kembali meluruskan pandangannya ke depan. Dan tanpa terasa Athallah sudah berlarian ke area kolam renang.
“Abang stop lari-larinya, Abang nanti ke peleset di kolam renang!” teriak Aurelia berusaha membujuk sembari mengejar.
Rida yang sudah berada di samping Aurelia dengan sengaja menubruk bahu Aurelia, hingga tubuh wanita itu kehilangan keseimbangan, apalagi lantai yang dia pijak sangatlah licin karena percikan air kolam renang. Alhasil ...
Byur!
Aurelia tercebur di kolam renang di bagian paling dalam, kedalamannya 2,5 meter.
__ADS_1